Amankah Produk Pembersih Khusus Area Vagina?

Ilustrasi kesehatan vagina. Getty Images/iStockphoto
Oleh: Widia Primastika - 3 September 2018
Dibaca Normal 2 menit
Basuhlah organ intim Anda dengan air bersih.
tirto.id - Membersihkan area vagina dengan sabun kewanitaan adalah hal yang sering dilakukan oleh Widia Tersianinta sejak SMA. Ia mengaku melakukannya lantaran kerap mengalami keputihan.

“Aku biasanya pakai sabun sirih yang umum dijual di pasaran. Aktivitasku banyak banget. [...Sabun] itu buat menghindari bau [akibat keputihan],” kata perempuan berumur 22 tahun yang akrab dipanggil Chelsy ini.

Chelsy tidak menggunakan sabun pembersih setiap hari. Produk itu hanya digunakannya setelah menstruasi dan saat keputihannya banyak. Meski pernah mendengar pro-kontra penggunaan pembersih kewanitaan, Chelsy tak merasa khawatir. Selama ini, ia tak pernah mengalami gangguan kesehatan akibat penggunaan sabun itu, katanya.

Alasan Olivia (30) memakai sabun kewanitaan lain dengan Chelsy. Menurut wanita yang biasa dipanggil Oliv ini, ia dulu sering menggunakan cairan itu di masa-masa awal pernikahan. “Kalau pakai sabun, harapannya waktu berhubungan seksual itu baunya wangi, terus juga kesat," akunya.

Namun, ternyata, setelah beberapa minggu ia menggunakan sabun tersebut, Oliv merasa tak nyaman. Ia kemudian menggunakan merek lain. Namun, lagi-lagi rasa gatal tetap datang setiap ia menggunakan produk pembersih.

“Terus aku ke dokter. Di situ, aku tahu kalau pakai sabun pembersih kewanitaan itu enggak dianjurkan. Kata dokter, organ kewanitaanku itu infeksi akibat penggunaan sabun kewanitaan,” ungkap Oliv.

Sang dokter pun menyarankan agar Oliv cukup membasuh organ intimnya dengan air, kemudian dikeringkan untuk menjaga kesehatan vaginanya.

Amankah?

Dewasa ini kita mengenal berbagai macam produk kewanitaan yang digunakan untuk membersihkan organ intim. Ditulis dalam artikel “Products Used on Female Genital Mucosa” (PDF) oleh Miranda A. Farage bersama dua rekannya, produk kewanitaan terdiri dari pembersih dan pewangi organ kewanitaan seperti sabun, douche, tisu basah, bedak, dan deodoran.

“Kategori produk lain adalah produk penyerap cairan seperti tampon, pembalut, dan pantyliners. Selain itu juga obat untuk pengobatan infeksi jamur,” kata Farage, dkk.

Dalam studi Ana C. Pontes, dkk yang berjudul “A systematic review of the effect of daily pantyliner use on vulvovaginal environment” (PDF), menuliskan bahwa penggunaan zat kebersihan berpengaruh terhadap mikroorganisme yang ada pada vagina.


“Perubahan dalam komposisi dan keseimbangan mikroflora dapat menyebabkan infeksi dan peradangan, dengan cara mendorong kolonialisasi pada vagina dengan mikroorganisme yang bukan mikroorganisme normal, dan menyebabkan pertumbuhan organisme yang berlebih,” ujar Pontes.

Mereka mengatakan bahwa penggunaan produk kewanitaan seperti pantyliners bisa mengubah suhu, pH, mikroflora pada kulit vagina dan kulit vulva, sehingga menyebabkan vulvovaginitis dan infeksi.

Aliyu M.S., dkk pernah melakukan studi berjudul “Effects of Feminine Wash (Soap) on Some Pathogenic Bacteria Causing Urinary Tract Infections (UTIS)”. Dalam penelitian itu, mereka meneliti 200 pasien dengan infeksi vagina di Ahmadu Bello University, Zaria dan Ahmadu Bello University Teaching Hospital (PDF).

Hasilnya, dari 200 sampel, 133 di antaranya menghasilkan pertumbuhan bakteri yang signifikan usai menggunakan sabun pembersih vagina.

“Dari semua isolat, Candida albicans merupakan bakteri yang paling banyak tumbuh (45,11%), hal ini disebabkan karena bakteri Candida merupakan floral vagina,” tutur Aliyu M.S., dkk.

Selain itu, mereka juga menemukan bahwa bakteri patogen seperti Staphylococcus aureus menduduki peringkat kedua terbanyak di vagina, dan disusul oleh bakteri E. Coli.




Meski kita mengenal berbagai macam produk perawatan kebersihan organ kewanitaan, rupanya tak semua produk aman digunakan. Sara E. Crann, dkk pernah melakukan penelitian berjudul “Vaginal health and hygiene practices and product use in Canada: a national cross-sectional survey” (PDF), untuk meneliti dampak penggunaan produk pembersih kewanitaan pada 1435 responden di Kanada.

Hasilnya, lebih dari 95 persen responden pernah menggunakan setidaknya satu produk kewanitaan yang digunakan di vagina, baik itu pelembab vagina, krim anti-gatal, tisu kewanitaan, semprotan, bedak, atau krim cukur rambut kemaluan.


“Mayoritas sampel (80 persen) melaporkan adanya dampak yang kurang baik terhadap penggunaan produk tersebut. Peserta yang menggunakan produk kewanitaan pada vagina, tiga kali lebih tinggi peluangnya terhadap kondisi kesehatan yang kurang baik,” papar Crann.

Crann menyebutkan, dampak buruk dari penggunaan zat pembersih kewanitaan itu diantaranya gatal (74,5%), terbakar (50,2%), kemerahan (34,9%), iritasi (21,3%), pembengkakan (17,9%), dan luka (10,7%).

Saran Dokter

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin, dr. Retno Indrastiti, Sp.KK tidak menganjurkan penggunaan sabun pembersih organ kewanitaan. Ia menyampaikan bahwa membersihkan vagina cukup menggunakan air bersih.

“Sabun itu sebenarnya tidak perlu, karena pH vagina itu kan 4,5. Nah kalau sabun itu kan pH-nya basa, di atas 7. Kalau menggunakan sabun, justru akan mengacaukan pH. Akibatnya justru akan banyak jamur dan menyebabkan keputihan,” tuturnya. “Cukup dituangi atau disemprot pakai air bersih. Kalau tempat tidak jelas, seperti di toilet umum, alangkah baiknya [dibersihkan] dengan air [kemasan].” Tutur Retno.

Selain itu, Retno juga menyarankan jika toilet yang baik adalah toilet dengan semprotan ke dalam.

“Kan sekarang banyak toilet entah di mall, rumah sakit besar menggunakan toilet yang disiram dari belakang. Itu sebenarnya nggak boleh. Sebaiknya menyiram vagina itu pakai semprotan depan. Kalau semprotan belakang, maka kotoran dari belakang [anus] akan masuk ke vagina,” tandas Retno.

Meski tidak familiar di Indonesia, Retno pun juga tidak menganjurkan penggunaan tampon. Di Amerika, penggunaan tampon justru menyebabkan penyakit akibat timbulnya reaksi toksik.

“Kalau pantyliners itu sebenarnya tidak apa-apa. Namun setiap selesai buang air besar atau buang air kecil harus diganti. Selain itu, kalau memilih pantyliners, cari yang bawahnya dari kapas, bukan plastik,” ujar dr. Retno.

Baca juga artikel terkait KESEHATAN REPRODUKSI atau tulisan menarik lainnya Widia Primastika
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Widia Primastika
Penulis: Widia Primastika
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight