










tirto.id - Banjir menerjang Aceh dan sebagian Pulau Sumatera pada akhir November 2025. Bencana ini tak sekadar meninggalkan kerusakan fisik dan korban jiwa, tetapi juga memicu trauma psikologis mendalam. Dampaknya terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan perempuan. Mereka yang rentan, harus bertahan dalam situasi darurat di tempat pengungsian yang penuh keterbatasan.
Namun di tengah kondisi itu masih banyak masyarakat yang peduli. Mereka memberi harapan dan cinta untuk para pengungsi banjir bandang Sumatra. Dari "sekadar" membacakan cerita lucu bermain bersama, memberi makanan, hingga bantuan air bersih yang cukup juga sangat membantu para pengungsi. Mereka digerakkan bahasa universal bernama kemanusiaan.
FOTO/ANTARA FOTO
Masuk tirto.id






























