Menuju konten utama

'Depresi Postpartum, Sisi Muram Kehamilan yang Harus Diwaspadai'

Dukungan orang terdekat menjadi sangat berpengaruh dalam mencegah depresi pascapersalinan.

'Depresi Postpartum, Sisi Muram Kehamilan yang Harus Diwaspadai'
Header dr Satti Raja Sitanggang. tirto.id/Tino

tirto.id - Pada Sabtu (2/9/2023), seorang ibu yang membawa bayi hendak melakukan upaya bunuh diri di perlintasan kereta api (KA) di Stasiun Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Kejadian ini pun viral di media sosial.

Awalnya perempuan tersebut hendak membuang bayi ke perlintasan KRL. Namun, digagalkan petugas KRL. Polisi menduga perempuan tersebut mencoba bunuh diri lantaran mengalami stres. Sementara itu PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) menuturkan menurut keterangan yang diperoleh, ibu itu disebutmengalami masalah rumah tangga.

Sementara dalam keilmuan kejiwaan, keinginan bunuh diri seseorang tak pernah disebabkan oleh faktor tunggal. Ada multifaktor yang bisa mendorong keinginan bunuh diri tersebut.

Hal ini kemudian dikaitkan dengan postpartum depression (PPD) atau depresi pascamelahirkan yang banyak dialami oleh para ibu. Merujuk data WHO, sekitar 10% wanita hamil dan 13% wanita yang baru melahirkan mengalami gangguan mental, terutama depresi. Sementara depresi pascapersalinan, prevalensi secara global diperkirakan 100‒150 per 1000 kelahiran.

Depresi pascapersalinan merupakan fenomena gunung es yang hanya tampak sedikit di permukaan, namun banyak yang belum terungkap. Terlebih dengan masih lekatnya stigma bagi penderita kesehatan mental di masyarakat.

Tirto berdiskusi dengan Spesialis Kedokteran Jiwa (Psikiater), dr. Satti Raja Sitanggang, SpKJ dari Mother Hope Indonesia terkait kesehatan mental ibu pascapersalinan dalam wawancara khusus pada Selasa, 5 September 2023.

Dari kasus tersebut, apa yang terjadi dengan para ibu sehingga mengalami postpartum depression (PPD) atau depresi pascamelahirkan. Apakah murni ada pemicu dari luar atau ada faktor lainnya?

Kalau secara kedokteran jiwa, semua penyakit kita lihat dari aspek biologi, psikologi, sama sosial, jadi biopsikososial. Jadi tidak hanya masalah kemiskinan, konflik, tapi ada juga masalah biologi. Ada masalah depresi, memang seorang ibu sudah ada bawaan depresinya, atau masalah hormonal.

Kalau untuk kondisi depresi pascamelahirkan, jadi karena apa, karena secara biologi ada gangguan hormonal. Ketika hamil, ada hormon estrogen dan progesteron yang sebenarnya dipersiapkan untuk persalinan. Pada saat hamil, hormon progesteron dan estrogen tinggi sekali, hormon ini diperlukan untuk janin dan bayi pada saat lahir.

Nah pada saat lahir, yang tinggi itu akan kembali normal. Sementara itu fungsi progesteron dan estrogen ini bagus untuk persalinan dan kehamilan, jadi berfungsi mood stabilizers, mood perempuannya jadi enak. Itu yang menjelaskan ketika perempuan lagi haid, kadar estrogennya menurun, sehingga menjadi uring-uringan.

Biasanya dua minggu awal pascabersalin penyesuaian tubuh karena kadar hormon yamg tinggi sekali itu masih normal, kondisi itulah yang dinamakan baby blues. Jadi itu reaksi normal tubuh pada perempuan ketika baru bersalin, mengembalikan kondisinya yang dulu ketika penuh dengan hormon, sekarang kembali ke normal. Nah, baby blues itu belum disebut gangguan. Yang disebut gangguan itu, atau depresi, ketika baby blues terjadi lebih dari dua minggu. Karena kriteria waktu untuk depresi itu dua minggu minimal, jadi depresi itu sebenarnya ada gejala-gejala yang harus dipenuhi.

Pertama, ada tiga gejala yang utama. Pertama, mood-nya yang depresi banget, turun, low sekali. Kedua, dia merasa tidak bersemangat, yang menyenangkan dia, yang disukai, tidak tertarik lagi. Ada yang bilang misalnya kehidupan hedon, nah orang depresi itu kebalikannya, anhedonia. Dia tidak bisa menikmati apapun. Kemudian seperti tidak punya tenaga sama sekali, kadang bangun dari tempat tidur pun tidak bisa. Jadi seperti tidak punya tenaga sama sekali sehingga orang bilang orang depresi itu malas. Sebenarnya bukan malas, itu lah gejala dari depresi.

Kemudian gejala tambahan seperti konsentrasi menurun, pesimis, makan kurang, tidur terganggu, uring-uringan, pikiran bunuh diri, segala macam-macam. Jadi sebenarnya, depresi tiga gejala utamanya harus sesuai dengan dua gejala tambahan, dan itu berlangsung minimal dua minggu, hampir sepanjang hari, hampir setiap hari.

Depresi itu disebabkan oleh multifaktor: ada biologis, psikologis, misalnya ibu yang kehilangan anak, janinnya, seperti itu. Situasi sosial misalnya banyak faktor seperti pandemi, dan sebagainya yang membuat setiap orang tidak bisa menjalani segala sesuatu.

Sepanjang menangani kasus postpartum, sebanyak apa kasusnya di Indonesia yang pernah dokter tangani. Apakah angkanya cukup tinggi?

Yang datang ke saya waktu itu saya di Banjarmasin ya, yang saya dapatkan ada beberapa kasus, ada yang sampai rawat inap dua orang, karena depresi postpartum. Itu biasanya terjadi karena persalinan. Jadi memang kebanyakan mungkin karena tidak mengerti, yang datang ke kami itu kaya fenomena gunung es, dianggap jadi karena kondisi kurang iman, segala macam, pendapat orang seperti itu. Bahwa mereka mengabaikan depresi postpartum itu terjadi karena faktor-faktor tadi gitu.

Ada tiga [Pasien] gitu yang pernah datang ke saya. Ketika dia sudah datang masa satu tahun setelah bersalin, dia kembali ke normal biasanya. Kalau dia kalau sudah lewat setahun dan dia masih depresi, jadi bukan depresi postpartum, tapi dia punya depresi yang disebabkan oleh persalinan.

Jadi depresi postpartum itu dia akan reda ketika masa bersalinnya setelah satu tahun, itu sudah lewat, karena tubuhnya sudah menyesuaikan. Nanti ketika dia bersalin lagi, ada kemungkinan dia mengalami hal yang sama. Jadi dasar dari depresi postpartum adalah dari persalinan itu sendiri gitu.

Apakah ada perbedaan antara kasus di Indonesia dengan kasus di luar, dalam hal gejala dan pemicu?

Kurang lebih sama, karena itu secara umum ya. Ada memang dari [ketiga] faktor itu ada yang lebih berat. Secara umum yang dinamakan postpartum itu adalah kesepakatan secara global sebenarnya, jadi gejala-gejala itu memang sudah seragam, sama. Cuma masing-masing individu apakah itu penyebabnya, itu kembali ke biopsikososial itu, mana yang lebih dominan, jadi itu berkaitan satu sama lain.

Dalam konteks Indonesia, tantangannya ada stigma yang masih kental di masyarakat. Apakah itu yang membuat fenomena ini jadi gunung es dan tidak diselesaikan dengan baik?

Jadi tidak semua orang paham dengan depresi postpartum. Persoalan kita sendiri, kehamilan, itu satu peristiwa besar untuk perempuan dan keluarga. Satu sisi itu peristiwa yang menggembirakan untuk keluarga. Tapi di sisi lain, itu tantangan. Tahu sendiri bagaimana rasanya mengurus anak, tidurnya akan terganggu, harus bekerja, suami harus diurus, sementara perempuan masih harus bekerja, itu jadi beban. Dalam hal ini, itu jadi faktor sosial juga, faktor psikologis juga. Di sisi lain perempuan yang punya anak juga tantangannya besar sekali. Jadi antara excitement dan kondisi yang menantang, itu suatu yang harus dipahami.

Orang berpikir persalinan itu suatu yang menyenangkan. Nah itu, sehingga orang-orang di Indonesia itu kurang paham, "Sudahlah yang penting udah lahiran anak". Yang dipentingkan anaknya, mamanya kadang tidak terlalu dipedulikan.

Misalnya perempuan baru lahiran, yang bawa hadiah untuk perempuan itu berapa banyak sih? Nah, itu yang perlu diperhatikan selain anak, ya ibunya juga. Mungkin budaya di Indonesia, dan masalah spiritual masalah kesehatan jiwa dengan norma agama seperti itu, itu yang menjadi tantangan, itu stigma. "Lho, kamu sudah melahirkan punya anak, kenapa harus sedih sih?". Mereka yang ngomong seperti itu tidak tahu kalau ada faktor biologis yang saat persalinan bisa timbul depresi itu.

Misalnya ada orang yang bilang "Kamu nggak bersyukur, kamu lima tahun nunggu-nunggu anak, kok jadi seperti ini". Jadi bukannya ditanya soal masalahnya, tapi malah disalah-salahkan. Itu yang memicu PPD.

Kalau ibu di Pasar Minggu itu kita tidak tahu apa yang dialaminya. Apa dia menghadapi permasalahan di rumah, atau suaminya juga tidak peduli, atau bagaimana. Apa tipe pernikahan yang toxic, bisa jadi mertua. Jadi banyak faktor yang belum kita pahami dari situasi ini.

Itu yang menjadi tantangan di Indonesia. “Kenapa setelah lahiran malah gitu, bukannya senang”. Seolah tidak boleh ada cerita sedih dan muram. Sebenarnya kita harus tahu ada sisi lain dari kehamilan, dan apa yang harus kita waspadai dan kita lakukan bersama-sama, jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan. Hampir setiap tahun kan ada berita seperti ini, tahun ini saja sudah berapa banyak. Itu saja yang muncul, nah itu saya bilang, ketika itu muncul, yang disalahkan siapa? Ibunya. Selalu yang disalahkan ibunya. "Yah, ibunya gimana sih jahat banget, kurang iman".

Itu yang membuat saya pribadi sebagai dokter kesehatan jiwa merasa miris. Kamu cuma bisa menghujat, kamu sudah bisa melakukan apa, itu yang parah di Indonesia.

Itu alasan saya terlibat di Mother Hope Indonesia (MHI) ini karena saya berpikir ini tantangan, bagaimana kita membuka cakrawala masyarakat tentang bahwa ada kesehatan jiwa itu penting. Bayangkan setiap tahun kalau setiap bulan ada berita seperti ini, ibu yang bunuh diri, buang anak. Ini miris sekali, sebenarnya ini hal yang bisa dicegah.

Soal pencegahan, apa yang bisa dilakukan oleh orang-orang sekitar?

Pertama edukasi, penyuluhan, itu sudah kami lakukan MHI melibatkan bidan. Ibu hamil itu jarang sekali diurus masalah kesehatan jiwanya. Misalnya perempuan hamil pas kontrol, ditanya tidak tidurnya gimana? Ditanya tidak perasaannya setelah melahirkan? Status emosinya.

Waktu hamil misalnya, ada perasaan uring-uringan tidak, karena ada deteksi, ada screening sebenarnya yang bisa dilakukan oleh bidan atau dokter spesialis kebidanan waktu hamil untuk melihat. Apalagi kalau pada saat kehamilan dan kelahiran sebelumnya punya riwayat depresi postpartum, ini ada kemungkinan nanti akan mengalami hal yang sama. Itu jarang sekali diperhatikan oleh bidan.

Jadi pada saat kehamilan sudah bisa dideteksi adakah risiko PPD pada ibu?

Iya benar, sebenarnya ada buku panduan terbaru ini dari Kemenkes, terpadu dan diperiksa juga kondisi kesehatan jiwa dari ibu hamil. Pernah tidak dicek bagaimana tidurnya, sebenarnya ada screening-nya itu. Kalau itu diperiksa, itu akan membuka cakrawala bidan-bidannya. Sebenarnya bidan itu kan tidak mesti menangani juga. Nanti bisa dirujuk ke psikolog atau psikiater yang memerlukan.

Nah pencegahan itu tadi edukasi. Karena kalau ini bisa dicegah, kalau masalah biologi, kita pakai pengobatan. Kalau psikologis, ikut terapi dengan psikologi atau psikiater. Kalau sosial atau masalah kemiskinan, bagaimana kita berikan dukungan kepada keluarga ini biar dia tidak dalam kondisi buruk. Kalau sudah terjadi, kita jelaskan bahwa gangguan jiwa depresi postpartum itu dicover BPJS, bukan masalah biaya lagi.

Pertama, jadi dilihat gini juga, apakah kehamilannya kehamilan yang diinginkan. Ada yang kebobolan, inseskah, atau mungkin korban kekerasan seksual. Itu kan sangat berat dan bisa jadi faktor.

Kedua, apakah dia cukup makan, faktor gizi tercukupi. Peran nutrisi dalam kesehatan ibu hamil dan menyusui penting sekali. Zat gizi penting sekali menjadi faktor pelindung kesehatan jiwa. Dukungan keluarga dan sekitar. Jadi kalau dibilang pencegahan itu bukan hanya masalah fisik, tapi mentalnya juga harus dari awal .

Kalau dilihat big picture-nya, secara tidak langsung, juga memicu anak-anak jadi stunting. Ini kan menjadi masalah generasi. Apakah bisa dibilang darurat?

Memang ada kaitannya masalah stunting dengan kesehatan ibu, termasuk kesehatan mentalnya. Kalau kita bahas itu, nanti ujung-ujungnya kita menyalahkan ibu lagi, padahal tidak adil. Padahal ibunya mengalami kesehatan jiwa itu karena faktor biologis, psikologis, dan sosial. Apakah keluarga nya mendukung dia, memberikan nutrisi yang cukup ketika hamil, tidak mengalami kejadian traumatis. Kita lihat ke hulu banyak hal yang perlu kita perbaiki. Nah stunting ini yang perlu diperhatikan kesehatan ibunya.

Ada contoh kasus di Malang mengalami gangguan jiwa dan tidak ditangani dia melakukan bonding dengan anaknya. Dan anaknya ketika bonding-nya tidak bagus, mungkin ketika dia mengasuh dan memberikan makanan, gizi pada anaknya, itu bisa jadi salah satu faktor penyebab stunting karena kesehatan jiwa.

Kalau darurat sih tidak ya. Kalau dibilang faktor yang berkontribusi, kalau ini tidak dibereskan, masih akan ada lubang stunting yang tidak akan pernah beres. Karena yang paling dekat urus anak itu di ibunya. Ibunya adalah kunci, Ibu harus bahagia, sehat jiwa dan raga, dan dukungan. Dan suami perannya penting di sini

Jadi main system ya, bukan support system?

Betul, jadi suami yang benar. Jadi istilah suami siaga itu ya g benar-benar perlu digencarkan lagi. Suami itu perlu diperankan sejak masa kehamilan, bersalin, hingga kelahiran. Tapi kan kita lihat sekarang banyak yang mengakibatkan suami jadi tidak siaga ya. Kemarin dari Mother Hope Indonesia sering kali membuat kegiatan yang melibatkan suami, dan saya dalam hal ini sangat apresiasi dengan Mother Hope, tidak hanya soal depresi, tapi suami juga masak, bikin MPASI, itu sangat membantu. Ketika istri baru melahirkan, peran suami di mana, nah itu perlu ditekankan lagi. Bahwa rumah tangga itu kan dua orang itu harus bersama-sama, bukan cuma satu.

Berarti ada hubungannyakah postpartum depression ini dengan kita yang disebut fatherless country?

Fatherless itu [dampaknya] ke anak. Kalau husbandless baru ke PPD ini. Kalau suami tidak berperan itu sangat berpengaruh, kalau fatherless itu nanti dampaknya pada tumbuh kembang anak, figur ayah, dan sebagainya. Kalau itu peran suami yang utama, kalau suami suportif, mendampingi istri, risiko PPD itu dapat diminimalisir karena secara psikologis, sosial, si Ibu akan merasa aman. Kalau suaminya berada di sekitar mendampingi dia, sedikit banyak akan memberikan rasa aman buat dia. Jadi ketika stabil, dikompensasi dan faktor-faktor dan psikologis akan berpengaruh.

Kalau di kelompok masyarakat bawah atau akar rumput yang edukasinya kurang, bagaimana pendekatannya?

Salah satu pendekatannya tadi, apa yang dilakukan itu perlu banyak kegiatan tadi. Kami juga melakukan edukasi ke suami bahwa suami juga mengalami depresi postpartum, dalam hal ini juga suami perlu diperhatikan. Makanya kita perlu edukasi suami dengan cara melakukan kegiatan ke akar rumput, harus memang ada.

Tapi ini bukan tentang level pendidikan dan ekonomi, banyak golongan menengah atas yang tidak tahu, baby blues apa, depresi postpartum itu apa, mereka tidak tahu kenapa itu terjadi. Kadang-kadang semua yang terjadi seperti ibu-ibu di Pasar Minggu itu karena depresi, padahal belum tentu kan, bisa jadi hal yang lain. Perlu ada rekam klinisnya juga. Tapi kalau dari kejadiannya, dia mengalami kejadian situasi yang tidak baik terhadap psikisnya.

Di beberapa kasus, ada ibu yang sampai membunuh bayi atau anaknya, apa yang terjadi dengan mereka?

Kalau dia membunuh anaknya, kembali lagi kalau misalnya dia depresi berat sendiri, tiga gejala utama dan pikiran bunuh diri, itu bagian dari depresinya. Kalau dia sampai melakukan itu, infanticide namanya, itu bukan bunuh diri bersama, tapi dia bunuh diri dan membunuh bayinya. Kita lihat apakah pada saat itu dia bunuh diri karena apa. Ketika ada bisikan ilusinasi atau depresi itu bukan lagi depresi bisa jadi dalam kondisi psikosis, gangguan jiwa berat.

Karena dalam beberapa kasus kan karena memang ada bisikan yang menyuruh saya "Karena anakmu itu tidak berharga, jadi dibunuh saja". Tapi itu terjadi bukan karena depresi, tapi lebih berat lagi, gangguan jiwa berat atau psikosis, di mana dia tidak punya kemampuan membedakan yang mana yang nyata dan tidak. Jadi suara-suara yang bisikan dia itu kan secara fakta tidak ada, tapi dia itu di dalam panca indranya menerima itu, dan buat dia itu nyat. Itu terjadi karena ada gangguan menerima realita. Jadi biasanya dia bunuh diri, kalau ada tulisannya pesan wasiat, kalau di situ dituliskan sudah tidak kuat segala macam, dan tidak ada yang menyuruh, itu bisa disebut depresi.

Kalau dia bilang dalam dua minggu ini ada suara-suara yang menyuruh saya bunuh anak saya , berarti dia dalam kondisi gangguan jiwa berat, psikosis postpartum. Jadi istilahnya apa, ‘daripada nanti anak ku menderita, jadi aku ajak saja anak ku mati’, jadi lebih kepada depresi karena keputusasaan.

Dengan meningkatnya kasus-kasus depresi pascamelahirkan ini, sebagai dokter apa harapannya kepada masyarakat?

Karena memang hal-hal seperti ini bisa semakin tereduksi, selama orang belum mendapatkan informasi yang benar, akan selamanya orang itu akan melekat. Nanti ibunya disalahkan. Kalau seperti itu kan nanti orang merasa kalau itu ada orang sakit dan perlu ditolong. Kalau orang melihat gejala-gejala seperti ini, itu tidak bisa dibiarkan, harus segera dikenali masalahnya dan diobati. Kalau ini diobati, itu bisa pulih.

Jadi deteksi dini gejala-gejalanya. Misalnya istri saya uring-uringan ya, kenapa nih, harus segera dibawa ke dokter, disampaikan apa yang dirasa. Jadi itu dari awal sampai akhir. Jadi harus dibawa ke dokter dan itu dicover BPJS. Kalau ditangani akan pulih. Yang penting jangan denial [menyangkal]. Keluarganya juga jangan sampai denial.

===========

Depresi bukanlah persoalan sepele. Jika Anda merasakan tendensi untuk melakukan bunuh diri, atau melihat teman atau kerabat yang memperlihatkan tendensi tersebut, amat disarankan untuk menghubungi dan berdiskusi dengan pihak terkait, seperti psikolog, psikiater, maupun klinik kesehatan jiwa.

Baca juga artikel terkait KESEHATAN MENTAL atau tulisan lainnya dari Riyan Setiawan

tirto.id - Hard news
Reporter: Restu Diantina Putri
Penulis: Riyan Setiawan
Editor: Restu Diantina Putri