Menuju konten utama
Expose

Hapus Stigma, Membantu Para Ibu Keluar dari Lubang Hitam Depresi

1 dari 5 perempuan mengalami masalah kesehatan mental selama masa perinatal, 20% di antaranya memiliki pikiran bunuh diri atau menyakiti diri sendiri.

Hapus Stigma, Membantu Para Ibu Keluar dari Lubang Hitam Depresi
Header Expose Perinatal Depression. tirto.id/Ecun

tirto.id - “Mungkin bayi ini akan sehat, akan lebih bahagia, jika saya enggak ada.”

Demikian pikiran Yana (36) saat bayinya yang baru berumur 6 bulan terus sakit-sakitan. Jauh sebelum itu, ia yang baru keguguran harus menghadapi kehamilan baru. Dan kehamilannya tersebut justru dihantui rasa cemas, takut, dan gelisah mengingat pengalaman traumatis di kehamilan pertamanya.

Pikiran bunuh diri itu terus berlangsung hingga anaknya berusia sembilan bulan.

“Saya merasa gagal, merasa bersalah, saya seorang ahli gizi tapi anak saya berat badannya tidak kunjung naik,” cerita perempuan bernama lengkap Nur Yanayirah pada Tirto, Kamis (7/9/2023).

Yana beberapa kali melakukan upaya bunuh diri. Suatu sore yang berhujan, ia keluar bersama bayinya yang berusia sembilan bulan. Ia berniat memberikan bayi itu ke orang lain, sementara ia berencana pergi dari dunia.

Beruntung, pada upaya terakhirnya ia dan bayinya dapat diselamatkan.

Setelah beberapa tahun bergulat melawan depresinya dengan berkonsultasi dengan psikolog dan psikiater, ia pun mengikuti pelatihan pembentukan komunitas dari Postpartum Support International. Ia mendapat dukungan dari rekan psikolog, penyintas dan suaminya untuk mendirikan Mother Hope Indonesia (MHI) pada 2015.

“Jadi memang Mother Hope Indonesia ini lebih kepada memberikan dukungan emosional kepada ibu hamil dan pascamelahirkan dan edukasi soal kesehatan jiwa ibu. Memberikan akses informasi untuk menghubungkan ibu dengan fasyankes tedekat," terang Yana.

Hingga saat ini, MHI berhasil merengkuh lebih dari 56 ribu anggota di grup Facebook, 7.400 pengikut di akun Instagram serta 1.200 anggota yang tergabung dalam support group di Whatsapp.

Dalam sebuah survey di 2022, MHI menyebut 80 persen dari total 3.595 partisipan belum pernah mencari bantuan profesional, 11 persen mencari bantuan ke psikolog klinis, dan 9 persen mencari pertolongan psikiater.

Multifaktor Penyebab Depresi

Berkaca dari kasus Yana, Nadia dan Tita, depresi perinatal (perinatal depression) atau depresi pada ibu hamil dan pascapersalinan memang kerap dialami para ibu baru.

Data WHO menyebut 1 dari 5 perempuan mengalami masalah kesehatan mental selama masa perinatal. Sementara 20 persen di antaranya memiliki pikiran bunuh diri atau menyakiti diri sendiri.

Ahli kesehatan jiwa, dr. Satti Raja Sitanggang, SpKJ menjelaskan bahwa depresi, termasuk pada masa perinatal, tidak pernah disebabkan oleh faktor tunggal.

Ada multifaktor yang dapat menyebabkan depresi yakni faktor biologis, yang berarti pasien memang memiliki bawaan penyakit kejiwaan atau pengaruh hormonal, kemudian ada faktor psikologis seperti adanya trauma pascapersalinan, hingga faktor sosial, seperti kemiskinan, lingkungan yang tidak suportif, beban ganda dan sebagainya.

Pada kondisi pascamelahirkan, terdapat penyesuaian hormon progesteron dan estrogen pada ibu yang sebelumnya pada kondisi hamil sangat tinggi kembali ke normal. Ketidakseimbangan ini yang menyebabkan perubahan mood, kelelahan, dan kecemasan.

“Kondisi inilah yang disebut Baby Blues Syndrome. Ini berlangsung selama kurang dari dua minggu pascapersalinan. Dan ini normal, belum dapat disebut gangguan,” jelas dr. Satti.

Namun jika kondisi tersebut atau pasien menunjukkan gejala yang berlangsung lebih dari dua minggu dan terus menerus, itulah yang dinamakan postpartum depression atau depresi pascamelahirkan.

Namun, lanjut dr. Satti, jika seorang ibu sudah mengalami halusinasi, mendengar suara-suara, misalnya yang menyuruh menyakiti diri atau bayinya, atau bahkan sampai dorongan bunuh diri, “Itu sudah postpartum psikosis, gangguan jiwa berat.”

Data global menyebut prevalensi depresi postpartum secara global sekitar 13 persen dengan proporsi kejadian lebih tinggi di negara-negara berkembang sebesar 20 persen.

Sementara untuk angka kejadian depresi postpartum di Asia cukup tinggi yakni 26 sampai 85 persen. Di Indonesia, angkanya bahkan mencapai 50-70 persen. Kendati demikian, Kementerian Kesehatan mengakui belum ada data resmi dari pemerintah terkait fenomena ini.

Data global lain menyebut, 1 dari 10 perempuan mengalami post-traumatic stress disorder (PTSD) atau gangguan stres pascatrauma setelah persalinan. Tiga puluh persen ibu baru yang alami komplikasi kehamilan juga diketahui mengalami PTSD.

Perempuan yang memiliki riwayat bipolar disorder, 40 persen berisiko alami PPD. Dan mereka yang mengalami PPD berisiko 10 hingga 50 persen kembali mengalaminya.

Sedangkan 1-2 dari 1.000 perempuan sudah mencapai tahap postpartum psychosis, dan 10 persen di antaranya berujung pada suicide atau infanticide.

Angka-angka ini menunjukkan bahwa depresi pascamelahirkan tak bisa dianggap sepele. Kendati tak bisa langsung ditarik garis lurus, namun PPD juga berkontribusi bagi angka kematian ibu dan anak.

Di Indonesia, angka kematian ibu mencapai 305 kematian per 100 ribu kelahiran hidup (SUPAS 2015). Sementara itu, angka kematian neonatal sebanyak 15 per 1.000 kelahiran hidup dan angka kematian balita sebesar 32 per 1.000 kelahiran hidup (SDKI 2017).

Infografik Expose Perinatal Depression

Infografik Expose Perinatal Depression. tirto.id/Ecun

Melawan Stigma

Kentalnya stigma di masyarakat yang masih menyebut depresi sebagai akibat kurangnya iman dan norma-norma agama lainnya, menjadi tantangan dalam penanganan pasien depresi postpartum, terutama di Indonesia.

Minimnya informasi dan edukasi mengenai penyebab depresi membuat para ibu kerap disalahkan dan dihakimi.

"Kamu nggak bersyukur, kamu lima tahun nunggu-nunggu anak, kok jadi seperti ini?"

"Lho, kamu sudah melahirkan punya anak, kenapa harus sedih sih?"

"Yah, ibunya gimana sih jahat banget, kurang iman".

Suara-suara sumbang itu, nyatanya tak membantu penyembuhan sang ibu, dan bahkan dapat memperburuk keadaan.

Faktanya, terang dr. Satti, ibu hamil jarang sekali diurus dan diperhatikan masalah kesehatan jiwanya.

“Perempuan hamil pas kontrol, ditanya tidak tidurnya gimana? Ditanya tidak perasaannya setelah melahirkan? Status emosinya.”

Padahal, lanjutnya, depresi ini dapat dicegah melalui deteksi dini sejak masa kehamilan. Kedua, pola makan dan asupan gizi. Peran nutrisi dalam kesehatan ibu hamil dan menyusui menjadi amat penting sekali, termasuk sebagai faktor pelindung kesehatan jiwa. Peran suami, menjadi sangat krusial dalam hal ini.

Mengamplifikasi pernyataan dr. Satti, psikiater dr. Gina Anindyajati SpKJ juga menekankan bahwa depresi dan bunuh diri dapat dicegah. Hal sederhana yang paling bisa dilakukan orang sekitarnya ialah dengan memberikan bantuan emosional.

“Ibu-ibu itu tidak berharap untuk dinilai pikirannya, perasaannya, atau cara pandangnya pada saat itu. Jadi usahakanlah kita untuk tidak menghakimi. Kita fokus pada keinginan dan kebutuhan ibu tersebut,” jelas dr. Gina pada webinar Maternal Suicide yang digelar MHI dan Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI), Minggu (10/9/2023).

Selain itu, bantuan berupa layanan kesehatan juga bisa dilakukan dengan mencarikan bantuan ahli kesehatan jiwa. Ada beberapa terapi yang dapat dilakukan seperti antenatal care di bidan, konseling, hingga terapi obat-obatan.

Di sisi lain, masyarakat juga diharapkan dapat berperan dan berempati bagi mereka yang tengah mengalami krisis kesehatan jiwa.

Mental Health Promotion Specialist KPSI, Agus Sugianto menyebut masyarakat dapat meningkatkan kesadaran dan kepedulian dengan cara menggali informasi dan pengetahuan mengenai kesehatan jiwa terutama yang berkaitan dengan bunuh diri.

“Penelitian menunjukkan, pembicaraan tentang bunuh diri tidak akan memberikan ide tentang bunuh diri pada seseorang. Ada gejala-gejala yang bisa kita lihat untuk dapat mencegahnya,” terang Anto, Minggu (13/9/2023).

Persalinan, bagi para Ibu adalah peristiwa besar. Hidupnya berubah sama sekali mulai dari tubuh, keseharian, hingga tanggung jawab yang harus diembannya seumur hidup. Beberapa pekerjaan fisik, mungkin bisa didelegasikan. Namun beban-beban mental yang tak mungkin dibagi, sangat mungkin menjadi salah satu penyebab depresi sang Ibu.

Pekerjaan rumah, kebutuhan rumah tangga, pengeluaran bulanan yang harus dihemat, menu makan setiap harinya, kebutuhan gizi anak, kebutuhan afeksi anak, kebutuhan afeksi suami, belum lagi jika sang Ibu juga bekerja. Hal-hal tadi, yang terjadi terus-menerus membikin beban mental para ibu menjadi sesuatu yang tak terbayangkan. Bantuan sekecil apapun, menjadi amat berarti bagi kewarasan mereka.

=========

Depresi bukanlah persoalan sepele. Jika Anda merasakan tendensi untuk melakukan bunuh diri, atau melihat teman atau kerabat yang memperlihatkan tendensi tersebut, amat disarankan untuk menghubungi dan berdiskusi dengan pihak terkait, seperti psikolog, psikiater, maupun klinik kesehatan jiwa.

Baca juga artikel terkait KESEHATAN MENTAL atau tulisan lainnya dari Restu Diantina Putri

tirto.id - Kesehatan
Reporter: Restu Diantina Putri
Penulis: Restu Diantina Putri
Editor: Muhammad Taufiq