Menuju konten utama

Debat Capres-Cawapres di Kampus untuk Migrasikan Pemilih Awam

“Seperti di Amerika, debat capres dilakukan di kampus dan media massa dapat menyebarkan itu kepada masyarakat,” terang Gun Gun.

Debat Capres-Cawapres di Kampus untuk Migrasikan Pemilih Awam
Pengundian Nomor Urut Pilpres 2019. tirto.id/Andrey Gromico

tirto.id - Dosen Komunikasi Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Gun Gun Heryanto mengatakan jika kampus berperan sebagai fasilitator debat capres-cawapres, maka dapat menjadi katalisator masyarakat soal program yang ditawarkan para kandidat.

“Lewat desain kampanye yang tidak konservatif, maka dapat memigrasikan pemilih awam ke pemilih yang lebih perhatian,” kata dia di Jakarta, Kamis (15/11/2018).

Namun, ia berpendapat debat capres-cawapres yang berada di kampus jangan bersifat linier atau bergaya satu arah seperti pidato. Menurut dia, kampus dapat membuka diri untuk menjadi fasilitas debat. “Seperti di Amerika, debat capres dilakukan di kampus dan media massa dapat menyebarkan itu kepada masyarakat,” terang Gun Gun.

Silang pendapat soal konsep debat kandidat Pilpres 2019 belum tuntas. Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI kompak melarang debat kandidat digelar di dalam kampus, tapi pendukung kedua kontestan pemilu dan para peneliti memandang agenda itu perlu dilakukan.

Koordinator Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Dahnil Anzar Simanjuntak tak mempersoalkan jika debat kandidat dilarang digelar di lingkungan kampus. Namun, kampus menjadi bagian yang penting jika dilibatkan dalam dinamika politik praktis.

"Masalah tempat bisa disesuaikan. Mengapa saya mengusulkan di kampus? Karena kampus simbol rasionalitas, di mana para cerdik pandai berkumpul dan terbiasa beradu gagasan dan ide menggunakan nalar sehat secara ilmiah," kata Dahnil kepada reporter Tirto, Selasa (23/10/2018).

Sementara itu, Wakil Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Raja Juli Antoni menganggap, format debat kandidat selama ini terlalu formal dan elitis. Dia ingin acara tersebut nantinya digelar di lokasi yang terjangkau masyarakat daerah.

"Saya usul ke KPU agar debat diselenggarakan di desa dengan audien rakyat biasa, di Papua, Kalimantan, Sulawesi, Aceh dan Jawa," kata Antoni kepada wartawan.

Baca juga artikel terkait PILPRES 2019 atau tulisan lainnya dari Adi Briantika

tirto.id - Politik
Reporter: Adi Briantika
Penulis: Adi Briantika
Editor: Alexander Haryanto