Menuju konten utama

Dan (Turis) Cina Mulai Menyerbu Indonesia

Secara statistik jumlah kunjungan turis Cina ke Indonesia memang meningkat. Namun, di saat bersamaan muncul isu peningkatan jumlah tenaga kerja asing (TKA) asal Negeri Tirai Bambu ke Indonesia.

Dan (Turis) Cina Mulai Menyerbu Indonesia
Ilustrasi wisatawan asal Cina. FOTO/thepolitic.org

tirto.id - Belakangan, media sosial di Indonesia sangat sering dihebohkan dengan foto-foto warga Cina. Konteksnya: kecurigaan. Yang terbanyak ialah desas-desus masuknya para pekerja ilegal asal Cina ke Indonesia. Dalam atmosfer yang penuh syak wasangka, kerumunan warga Cina bisa saja langsung dipotret dan lantas disebarkan sebagai: Cina mulai menguasai Indonesia.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah membantah desas-desus serbuan pekerja ilegal dari Cina. Menurut Jokowi, jumlah pekerja asal Cina di Indonesia hanya mencapai 21 ribu orang. Ini tidak seberapa dibandingkan dengan para pekerja Indonesia di negara lain.

“Jumlah itu sangat kecil dibandingkan jumlah tenaga kerja Indonesia di negara lain. Di Malaysia, misalnya, TKI mencapai 2 juta orang. Adapun di Hong Kong mencapai 153.000 orang,” kata Jokowi.

Peringkat Dua Mengirim Turis ke Indonesia

Satu yang sudah cukup jelas adalah jumlah turis asal Cina memang terus melonjak. Pertumbuhannya sangat signifikan. Pada bulan-bulan tertentu, jumlah turis Cina yang bepergian ke Indonesia bahkan melampaui turis asal Australia.

Misalnya pada Februari 2016. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Bali, turis asal Cina yang berkunjung ke Bali mencapai 114.414 kunjungan, sedangkan turis asal Australia hanya mencapai 68.269 kunjungan. Pada Februari 2016 itu, total turis asing di Bali mencapai 338.991 orang. Artinya, Cina memasok 30,45 persen kunjungan turis asing ke Pulau Dewata.

Jepang sudah lama digeser oleh Cina dalam hal memasok turis ke Indonesia. Padahal Jepang selama ini menjadi salah satu sumber devisa yang signifikan bagi Indonesia dari sektor pariwisata, selain negara ASEAN dan Australia.

Jumlah turis asal Cina melampaui turis asal Jepang pertama kali terjadi pada 2010. Saat itu, jumlah kunjungan turis Jepang ke Indonesia mencapai 418.971 kunjungan. Sedangkan kunjungan turis asal Cina yang berlibur ke Indonesia saat itu sudah mencapai 469.385 kunjungan. Sejak 2010 itulah, jumlah turis asal Cina terus meningkat dan semakin meninggalkan turis Jepang.

Lonjakan jumlah turis asal Cina ke Indonesia dimulai pada 2008. Saat itu, turis asal Cina mencapai 337.082 kunjungan. Jumlah itu naik hampir 50 persen dibandingkan jumlah turis Cina ke Indonesia pada 2007 yang hanya mencapai 230.476 kunjungan.

Sejak 2011 hingga 2014, jumlah kunjungan turis asal Cina ke Indonesia juga naik. Pada 2010, turis asal Cina “hanya” sebanyak 469.365 kunjungan, namun pada 2011 angka itu sudah melonjak sampai 574.179 kunjungan.

Pada 2012, jumlah kunjungan turis asal Cina kembali naik mencapai 686.779 kunjungan. Setahun berikutnya, pada 2013, jumlahnya menjadi 807.429 kunjungan. Dan kembali naik pada 2014 menjadi 926.750 kunjungan. Pada 2015, jumlahnya naik dari 926.750 kunjungan di 2014 menjadi “hanya” 1,14 juta kunjungan di tahun berikutnya.

Pada 2016 ini, jumlah kunjungan turis asal Cina sudah bisa dipastikan meningkat signifikan dari tahun sebelumnya. Selama Januari-Oktober saja, kunjungan turis asal Cina yang masuk ke Indonesia sudah mencapai 1,22 juta kunjungan. Melihat tren pertumbuhannya, jumlah turis asal Cina pada November-Desember bisa bertambah 250-300 ribu orang. Jika itu terjadi, maka jumlah kunjungan turis asal Cina ke Indonesia tahun ini diperkirakan sekitar 1,5 juta kunjungan

Jumlah kunjungan turis dari Cina sudah melampaui jumlah turis Australia pada 2014 dan 2015 yang hanya mencapai 1,12 juta kunjungan dan 1,03 juta kunjungan. Padahal selama ini turis asal Australia selalu menempati peringkat tiga besar setelah Singapura dan Malaysia.

Selain Jepang dan Australia, jumlah kunjungan turis asal Cina ke Indonesia pun tampaknya tahun ini akan melewati jumlah turis asal Malaysia. Turis asal Malaysia yang berkunjung ke Indonesia sepanjang Januari-Oktober 2016 hanya mencapai 984.040 kunjungan, lebih sedikit dibanding kunjungan turis asal Cina pada periode Januari-Oktober 2016.

Jumlah kunjungan turis Cina hanya belum bisa melampaui Singapura yang sepanjang periode Januari-Oktober 2016 sudah ada 2,01 juta kunjungan turis. Singapura memang tak terkalahkan dalam soal ini. Sejak 2002, mereka sudah memasok lebih dari sejuta kunjungan turis setiap tahunnya. Hanya saja, mengingat jumlah penduduk Singapura yang relatif kecil, bukan tidak mungkinkan Cina dalam waktu dekat akan bisa melampaui Singapura.

Infografik Diaspora Cina

Cina Diincar Semua Negara

Cina memang tumbuh sebagai raksasa ekonomi pada abad-21. Inilah yang memungkinkan Cina menjadi negara dengan jumlah terbanyak memasok kunjungan turis.

Pada 2015, berdasarkan data China National Administration of Tourism jumlah turis asal Cina yang melakukan perjalanan ke luar negeri mencapai 120 juta orang. Angka itu menjadikan Cina sebagai negara yang paling banyak mengirimkan turis. Sudah 3 tahun berturut-turut, sejak 2013, Cina menempati peringkat pertama. Para turis asal China itu sepanjang 2015 silam menghabiskan 194 juta dolar selama berwisata ke berbagai belahan dunia.

Nyaris tidak ada satu pun negara di kolong langit ini yang tidak menerima kunjungan turis asal Cina. Wolfgang Georg Arlt, pendiri dan direktur China Outbound Tourism Research Institute, memberikan ilustrasi: bahkan jumlah turis Cina yang bepergian ke Islandia pada 2016 jauh lebih banyak dibandingkan turis yang berasal dari negara tetangga di Skandinavia. Tidak ada satu pun negara yang tidak mengincar turis asal Cina. Hampir setiap negara, termasuk negara-negara besar Eropa, menjadikan Cina sebagai salah satu target pasar pariwisata, termasuk Indonesia, tentu saja.

Berbagai terobosan dan promosi dilakukan pemerintah Indonesia untuk meningkatkan jumlah kunjungan turis asal Cina. Kementerian Pariwisata mengandalkan betul promosi melalui medium digital. Pada 2014, Menteri Pariwisata Arief Yahya pernah mengungapkan bahwa medium digital dipilih karena 70 persen turis asal ina mencari dan mendapatkan informasi tentang Indonesia melalui internet.

Pemerintah mesti lebih serius jika ingin lebih banyak mendatangkan jumlah turis Cina. Kendati angkanya terus melonjak, tapi jumlah kunjungan turis Cina ke Indonesia masih kalah jauh dibandingkan Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Sepanjang triwulan III-2015, Indonesia hanya berhasil menarik 2 persen kunjungan turis asal Cina yang berwisata melalui agen perjalanan. Dari 13,8 juta turis Cina sepanjang September-Desember 2015, terbanyak berkunjung ke Thailand yang mencapai 15 persen. Berikutnya adalah Hong Kong 13 persen, Korea Selatan 12 persen, dan Jepang 11 persen. Indonesia bahkan masih kalah dari Singapura yang berhasil meraih 4 persen, dan Malaysia 3 persen, mengacu dari data yang dilaporkan oleh China Tourism Research Institute.

Pada 2016, jumlah turis asal Cina yang berwisata ke berbagai belahan dunia lagi-lagi dipastikan akan meningkat. September lalu, China Tourism Academy dan UnionPay International menyebutkan akan ada 133 juta turis asal China yang akan bepergian sampai akhir tahun ini. Angka ini meningkat sekitar 13 juta orang dibandingkan tahun lalu yang mencapai 120 juta orang.

Jika sampai Oktober ini saja Indonesia telah memikat 1,22 juta kunjungan turis asal China, atau katakanlah 1,5 juta kunjungan sampai akhir Desember 2016, angka itu masih terbilang kecil dibandingkan estimasi 133 juta di seluruh dunia. Jumlah itu tidak sampai 2 persen dari total keseluruhan kunjungan turis asal Cina di dunia.

Dengan persentase porsi jumlah turis asal Cina yang masih relatif kecil saja kehebohan di media sosial tentang “bahaya Cina” sudah demikian hebat. Apa jadinya bila Indonesia mampu meningkatkan jumlah kunjungan turis Cina, katakanlah hingga 5 persen saja, bisa jadi bakal membuat kehebohan makin besar.

Baca juga artikel terkait WISATA atau tulisan lainnya dari Zen RS

tirto.id - Sosial budaya
Reporter: Zen RS
Penulis: Zen RS
Editor: Suhendra