Memantik Wisatawan Melalui Atraksi Panas Bumi

Oleh: Suhendra - 26 Desember 2016
Dibaca Normal 2 menit
Kawasan panas bumi atau geothermal bisa dimaksimalkan untuk pembangkit listrik dan wisata. Lokasi panas bumi sebagai tempat wisata yang dikelola secara serius di Indonesia masih terbatas. Ini jadi tantangan untuk membuatnya mendunia.
tirto.id - Alkisah seorang gadis menolak dilamar tuan tanah yang kaya raya beristri empat. Ia memilih melarikan diri dari rumah orang tuanya menuju ke hutan, hingga tak ditemukan lagi keberadaannya. Hutan itu kini dikenal sebagai Kawah Kamojang yang berasal dari asal kata "mojang" yang berarti gadis belia.

Kawah Kamojang di Garut, Jawa Barat, merupakan kawah gunung berapi yang masih aktif. Kawah Kamojang mencakup 23 kawah yang sebagian mengepul mengeluarkan asap. Bila mengunjungi kawasan ini, pengunjung akan disuguhkan dengan pipa-pipa besar, yang merupakan bagian dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) yang dikelola PT Pertamina.

Belum lama ini, PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) menandatangani Nota Kesepahaman dengan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) dalam menggenjot pengembangan Kawah Kamojang sebagai desa wisata panas bumi atau geothermal.

”Ini wujud kepedulian kami untuk kemandirian masyarakat di sekitar lingkungan operasi perusahaan, kami akan terus bersinergi dengan Kemenpar dalam mengembangkan kearifan lokal yang dikelola dalam kawasan Desa Wisata Geothermal," kata Direktur Utama PGE Irfan Zainuddin.

Wisata Geothermal Kamojang termasuk yang sudah berjalan dan berpotensi mendunia. Kawasan ini jadi pusat pengetahuan dalam bidang pengembangan energi geothermal dilengkapi juga dengan sarana laboratorium lapangan dan Geothermal Information Center (GIC). Wisata geothermal Kamojang merupakan bagian kecil dari kawasan panas bumi di Indonesia yang mulai dikembangkan serius.

INFOGRAFIK HL WISATA Geothermal


Potensi yang Besar

Kawah Kamojang hanyalah satu dari pelbagai titik kawasan panas bumi yang tersebar di Indonesia. Diperkirakan ada 256 lokasi daerah panas bumi yang sudah teridentifikasi. Ini merupakan potensi yang besar, bila mengacu catatan total 1.500 gunung api yang masih aktif di seluruh dunia.

Khusus di Jawa Barat saja ada 52 potensi lokasi panas bumi. Kebanyakan lokasi ini diincar hanya untuk pengembangan PLTP yang total potensinya di Jabar mencapai 6.101 MW, termasuk di Kamojang. Ini dapat dibuktikan dari kajian dinas energi sumber daya mineral (ESDM) Jawa Barat 2013 lalu, dari 52 potensi lokasi panas bumi, yang direkomendasikan untuk wisata hanya satu lokasi yaitu di kawasan Ciheuras, Tasikmalaya.

Beberapa wilayah di Indonesia seperti Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat juga menyimpan kawasan panas bumi dan berpotensi dijadikan objek wisata. Di Jawa Tengah ada dataran tinggi Dieng yang juga menjelma sebagai pusat PLTP dan wisata alam. Selain itu, Kota Tomohon, di Sulawesi Utara, mulai melek terhadap potensi wisata panas bumi. Pemda setempat menggelar festival panas bumi di lokasi wisata Danau Linou Agustus tahun lalu. Kawasan ini juga memiliki museum panas bumi di Lahendong, Kecamatan Tomohon Selatan.

Apa yang dilakukan di Tomohon dan Garut menjadi kabar baik bagi pengembangan wisata panas bumi di Indonesia. Pengembangan panas bumi yang cukup sukses sebagai wisata bisa merujuk dari pengalaman negara lain. Beberapa nama seperti Hokaido dan Akita Hotspring di Jepang, The Vulkaneifel di Jerman, The Blue Lagoon di Islandia, dan Geothermal Parks di Selandia Baru, adalah sederet nama wisata panas bumi yang telah mendunia.

Di Amerika Serikat (AS) ada Taman Nasional Yellowstone begitu mendunia sebagai kawasan panas bumi dengan kaldera yang menyuguhkan atraksi air panas yang menyembur dari perut bumi, tempat ini dikunjungi sedikitnya 3-4 juta pelancong per tahun. Yellowstone hanya satu dari 11 kawasan panas bumi yang sukses dikembangkan oleh AS. AS berhasil mengemas Yellowstone sebagai “supervolcano” yang mendunia dengan 100 lebih titik air panas. Padahal di Indonesia juga punya supervolcano yang tak kalah menarik, yaiu Danau Toba lengkap dengan danau vulkanik purba dan kawasan panas bumi.

Jepang termasuk yang paling sukses mengemas wisata geothermal dan gunung api, Fuji-Hakone-Izu National Park setiap tahunnya dikunjungi sedikitnya 100 juta pengunjung. Kawasan ini jadi contoh memadukan wisata panas bumi dengan wisata budaya dan religi.

Dalam tulisan Volcano and Geothermal Tourism yang disunting Patricia Erfurt-Cooper and Malcolm Cooper, dituliskan mengenai sepuluh kategori atraksi yang bisa dijual dalam sebuah kawasan gunung api dan panas bumi untuk pengembangan wisata, yaitu aliran lahar, erupsi, geyser dan air panas, danau lava, danau kawah, kolam mendidih, kolam lumpur panas, sungai air panas, lubang semburan air panas, hingga terasering sedimen aktivitas vulkanik (sinter terraces).

Dari semua kategori itu, Indonesia memiliki semuanya. Persoalannya adalah bagaimana pintar-pintar mengemasnya. Kawasan panas bumi di Indonesia yang lebih banyak disasar untuk sumber energi listrik justru jadi kekuatan yang tak banyak dimiliki oleh negara lain, menyajikan wisata panas bumi tak hanya melulu menampilkan bentangan dan fenomena alam yang indah, tapi juga pipa-pipa raksasa dan pembangkit yang bisa dikemas sebagai wisata edukasi berbalut panas bumi dan tentunya cerita-cerita legenda lokal yang jadi bumbunya. Ini sudah dimulai dari Kawasan Kamojang.

Baca juga artikel terkait WISATA atau tulisan menarik lainnya Suhendra
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Suhendra
Penulis: Suhendra
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
Artikel Lanjutan