STOP PRESS! Jadi Saksi di Sidang E-KTP Hari Ini, Setnov Sibuk Acara HUT Golkar

Carlos Caszely Melawan Kediktatoran dengan Sepakbola

Carlos Caszely Melawan Kediktatoran dengan Sepakbola
Carlos Caszely, 2013. FOTO/Wikicommon image
12 Oktober, 2017 dibaca normal 2:30 menit
Delapan puluh ribu penonton memadati stadion untuk melepas sosok bernomor punggung sembilan itu.
tirto.id - Tubuhnya sedikit gempal. Dengan rambut dan kumis yang lebat, sepintas ia mirip perpaduan pemain sepak bola Diego Maradona dan bandar narkoba Pablo Escobar. Namanya Carlos Caszely, pemain sepakbola Cile yang dikenal berani menentang diktator Augusto Pinochet.

Pada 11 September 1973 pemerintahan sosialis Salvador Allende digulingkan oleh Jenderal Augusto Pinochet. Sekitar tujuh ribu orang dikumpulkan di Stadion Nasional Santiago untuk diinterogasi—dan tak jarang ada yang langsung dieksekusi. Puluhan ribu pendukung Allende dibunuh dan dilenyapkan kala Pinochet berkuasa. Perasaan was-was seketika menyusup ke urusan sepakbola.

Beberapa minggu setelah kudeta, tim sepakbola Cile dijadwalkan bertanding melawan Uni Soviet dalam babak penyisihan akhir Piala Dunia Jerman 1974. Pertandingan akan diselenggarakan di Stadion Nasional Santiago. Tapi masalah muncul; bagaimana menyelenggarakan pertandingan jika stadion diubah jadi kamp tahanan?

Baca juga: Rahasia Jerman Banyak Cetak Pelatih Sepakbola Mumpuni

Uni Soviet melayangkan protes. Otoritas sepakbola dunia, FIFA turun tangan dan mengirimkan utusan. Mendengar kabar FIFA akan datang mengunjungi Cile, para tahanan disembunyikan. Citra Cile harus terlihat baik di mata dunia, begitu pikir Pinochet. Walhasil, FIFA yang memeriksa stadion dan tak menemukan tahanan, memutuskan bahwa pertandingan dapat digelar.

Meski demikian, Uni Soviet menolak bertanding sebagai aksi solidaritas. Saat hari pertandingan tiba, mereka tak datang sehingga kesebelasan Cile otomatis menang tanpa harus bersusah payah. Tiket Piala Dunia 1974 berhasil mereka peroleh.

Caszely sebetulnya ingin menolak bermain. Tetapi faktor keamanan keluarga membuatnya bimbang. Caszely tak ingin membahayakan keluarganya yang bisa ditangkap aparat akibat penolakan tersebut. Caszely menambahkan pertandingan yang terjadi saat itu merupakan “tindakan konyol dan memalukan.”

Rasa frustasi Caszely memuncak pada 1974. Ketika tim nasional Cile hendak berangkat ke Jerman, Pinochet melepas mereka dalam sebuah jamuan. Satu per satu pemain Cile berjabat tangan dengan Pinochet—kecuali Caszely.

Baca juga: Diskriminasi Suporter Perempuan Iran di Stadion Sepakbola

“Ada getaran dingin turun dari punggungku. Aku melihat sosok seperti Hitler dengan lima orang di belakangnya. Ketika dia mendekat, aku sembunyikan tanganku di belakang. Dia tak kusalami,” papar Caszely.

Butuh nyali besar (dan kesembronoan) untuk menampik jabat tangan diktator. Namun, Caszely tak ambil pusing. Dengan menolak jabat tangan Pinochet, Caszely ingin meluapkan protes terhadap pemerintahan yang otoriter dan semena-mena. Keputusan Caszely harus dibayar mahal: ibunya ditangkap dan ditahan aparat.

Carlos Caszely Melawan Kediktatoran dengan Sepakbola

Pertandingan Akhir yang Mengubah Cile

Caszely lahir pada 5 Juli 1949. Ia tumbuh di keluarga dengan tradisi kiri yang kuat. Dari lingkungan tersebut, pandangan politik Caszely ikut terasah. “Sejak bisa berpikir sendiri, aku menyukai (pandangan) kiri dan tidak pernah berencana berubah haluan,” aku Caszely.

Karier sepakbola Caszely berlangsung sejak 1969 sampai 1986. Menempati posisi penyerang, Caszely mengalami masa keemasan ketika membela klub papan atas Cile, Colo-Colo. Selama di Colo-Colo, gelar liga Cile, pencetak gol terbanyak kompetisi lokal hingga regional ia dapatkan.

Sayangnya kesuksesan Caszely bersama Colo-Colo tak menular ke tim nasional. Dua kali tampil di Piala Dunia, dua kali pula Cile gagal lolos ke babak berikutnya. Pada edisi 1974, Cile bermain tanpa meraih kemenangan. Bahkan, Caszely mendapatkan kartu merah di pertandingan pembuka melawan Jerman Barat. Empat tahun berselang, Caszely tak dipanggil tim nasional karena intervensi Pinochet. Lalu pada 1982 ia lagi-lagi gagal membawa Cile lolos ke babak selanjutnya.

Sosok Caszely boleh dibilang tanpa prestasi bersama tim nasional Cile. Namun, cinta masyarakat Cile terus mengalir untuknya. Tatkala pertandingan perpisahan dirinya dihelat pada 1986, sekitar 80 ribu orang memadati Stadion Nasional; bersorak dan mengelu-elukan nama Caszely.

Baca juga: 11 September 1973: Kudeta Berdarah Cile Tiru Indonesia

Selain menjadi ajang perpisahan Caszely, pertandingan waktu itu juga digunakan sebagai ajang protes terhadap kepemimpinan Pinochet. Teriakan "Nunca mas!" ("Jangan sampai terulang lagi!")—yang kelak menjadi slogan populer di Cile—memenuhi seisi stadion di samping mendesak Pinochet untuk mundur. Peristiwa yang terjadi di Stadion Nasional saat itu disebut sebagai aksi pembangkangan massal pertama terhadap rezim Pinochet. Hal lain yang tak kalah penting ialah stadion kembali ke fungsi semula; untuk olahraga, bukan kamp tahanan.

Pertandingan perpisahan Caszely yang mendatangkan banyak massa berdampak riil bagi kondisi dalam negeri Cile dan membangkitkan sentimen anti-Pinochet. Dua tahun setelahnya, para tahanan yang ditangkap rezim Pinochet dibebaskan, termasuk ibunya. Puncaknya, pada 1990 Pinochet turun dari singgasana, setelah keok dalam sebuah referendum.           

Pelanggaran HAM, penculikan, sampai pembunuhan telah menyelimuti kehidupan Cile selama Pinochet berkuasa. Caszely adalah salah satu yang melawan, bahkan terpaksa mengorbankan orang-orang tercinta. Dengan menampik jabat tangan Pinochet, menyuarakan sikap kritis, hingga menghimpun massa kala pertandingan terakhir, Caszely lebih dari pemain sepakbola. Ia simbol keberanian.

Baca juga artikel terkait DIKTATOR atau tulisan menarik lainnya M Faisal Reza Irfan
(tirto.id - fri/win)

Keyword