Buffalo Boys: Gado-Gado Western dan Epos Jawa yang Membingungkan

Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 21 Juli 2018
Dibaca Normal 4 menit
Cukup nikmati aksi laga, tampilan visual, dan kostum para pemain. Alur dan konfliknya tak menggigit. Dialognya bikin tak nyaman sebab hasil terjemahan.
tirto.id - Menaruh dua karakter bergaya koboi di tengah pedalaman Pulau Jawa perlu dasar yang kuat. Inspirator cerita dan sutradara Mike Wiluan pun mengawali film Buffalo Boys dengan menerangkan asal-usul Jamar (Ario Bayu) dan Suwo (Yoshi Sudarso), yang tumbuh besar di California era 1850-an.

Keduanya adalah anak laki-laki Sultan Hamzah (Mike Lucock) dari Jawa. Sultan memberontak kepada Belanda yang proyek kolonialismenya menyengsarakan rakyat. Saat berupaya kabur dari kejaran Belanda bersama adiknya Arana (Donny Alamsyah), Jamar, dan Suwo, Sultan terbunuh.

Pelakunya adalah Kapten Van Trach (Reinout Bussemaker). Arana tak akan pernah lupa saat Van Trach menembak kepala Sultan yang sudah tidak berdaya. Untungnya ia mampu menyelamatkan diri bersama dua keponakan kecilnya, lalu kabur ke Amerika Serikat.

Jamar dan Suwo terbentuk menjadi lelaki yang tangguh, piawai bela diri dan bermain senjata api. Meski bukan penggembala sapi sebagaimana makna “cowboy” itu sendiri, mereka mengenakan topi, pakaian, dan sepatu yang khas. Dari gerak-geriknya pun terlihat Mike ingin sekali memproyeksikan Jamar dan Suwo sebagai koboi sejati.

Tahun 1860 mereka kembali ke Jawa. Mereka menemukan Belanda masih berkuasa dan sedang kejam-kejamnya. Niat Jamar-Suwo adalah untuk membalas dendam kepada Van Trach. Namun mereka dipaksa terseret dalam upaya warga desa bertahan hidup dari kekejaman rezim Belanda, yang juga dipimpin oleh Van Trach.


Tentu saja ada romansa. Suwo menjalin hubungan mesra dengan Kiona (Pevita Pearce), anak kepala desa. Arana tua (Tio Pakusadewo) bertemu dengan istri lamanya (Happy Salma). Sang istri yang dikira sudah meninggal ternyata bertahan hidup dan disekap oleh Van Trach.

Pada akhirnya masing-masing karakter protagonis di sisi Jamar-Suwo memang menyimpan kebencian yang bermuara pada sosok Van Trach. Ada adik Kiona, Sri (Mikha Tambayong), ayahnya Sakar (Dony Damara), juga kakeknya Suroyo (El Manik).

Di sisi seberang, sebagai antagonis, Van Trach punya anak buah dengan dandanan tak kalah komikal. Ada Fakar (Alex Abbad), Leung (Zack Lee), Adri (Hannah Al Rasyid), dan Drost (Daniel Adnan). Merekalah yang jadi tukang pukul; melakukan pembunuhan, perampokan, monopoli, dan lain sebagainya.

Sesekali perwakilan kedua belah pihak bertarung baik dengan tangan kosong maupun dengan senjata. Aksi laga adalah salah satu elemen utama yang dijual dalam film ini. Koreografinya cukup matang dan tidak pelit menyuguhkan adegan penuh darah.

Kepala yang terpotong (tidak secara eksplisit), tangan buntung, luka menganga, dialami pihak-pihak yang kalah dan dalam adegan penyiksaan warga desa oleh Drost dan komplotannya. Harap berhati-hati bagi Anda yang ingin mengajak anak untuk menonton film ini.


John Radel selaku penanggung jawab sinematografi cukup sukses memanjakan mata penonton. Film ini digarap oleh tim produksi dan talenta kreatif dari Singapura, Indonesia, Thailand, dan Australia. Buffalo Boys diproduksi sepanjang empat tahun dengan berkali-kali mengalami perombakan rancangan skenario.

Film ini mengambil sebuah tantangan berat, yakni mengawinkan kultur film western ke dalam latar masyarakat Jawa era kolonial. Bentuknya bukan banyolan seperti yang tersaji dalam Tiga Janggo (1976), misalnya, sebagai salah satu film Indonesia pertama yang mengadopsi gaya western.

Tiga Janggo dimaksudkan sebagai sebuah parodi, yakni bentuk seni untuk mengimitasi dan membuat lelucon atas sebuah karya orisinal dengan cara meniru secara ironis.

Benny (Benyamin S), Man (Mansjur Sjah), dan Gommy (Eddy Gombloh) adalah koboi yang kebetulan sama-sama bernama belakang “janggo” serta berkeinginan menjadi seorang 'sherrif' di Bero City. Mereka bisa diharap mampu menumpas gerombolan Do Lego (Muni Cader) dan anak buahnya yang meresahkan warga.

Para tokoh di film tersebut berupaya menjadi western dengan berpakaian ala koboi, meski lebih nampak seperti Woody dari trilogi Toy Story alih-alih Clint Eastwood dari Dollars Trilogy. Komedi turut lahir secara slapstick kala para tokoh berkelahi satu sama lain.


Namun itulah fokusnya: mereka ingin penonton tertawa. Mereka juga ingin penonton tertawa dengan dialog yang campur-aduk.

Sebagian bahasa Indonesia, sebagian bahasa Inggris, ada juga bahasa Betawi (terutama oleh Benyamin S), dan sesekali bahasa Jawa (terutama oleh Eddy Gombloh). Bahkan dalam satu kalimat mereka sering memakai lebih dari dua-tiga bahasa yang berbeda.

Buffalo Boys, di sisi seberang, ingin menampilkan kisah koboi yang serius. Dengan demikian, model seni yang dijajaki bukan parodi, melainkan tribute. Tribute lahir melalui proses imitasi. Bukan untuk mencemooh, melainkan merayakan dan mengapresiasi sumber karyanya.

Film-film koboi Quentin Tarantino seperti Django Unchained (2012) atau The Hateful Eight (2015), misalnya, meniru sejumlah elemen khas dari film-film Sergio Leone selaku sutradara Dollars Trilogy. Karya Leone tersebut juga tribute dari film-film western yang mewarnai sinema Hollywood era 1950-an dan 1960-an.

Gado-gado kultural dalam tribute ala Buffalo Boys tergambar di banyak elemen. Pakaian Jamar dan Suwo cukup meyakinkan sebagaimana gaya Django (Jamie Foxx). Senjata pun demikian. Baik senjata api yang dibawa para tokoh protagonis maupun pedang ala Jawa yang dipakai oleh anak buah Van Trach.


Permasalahannya ada pada bahasa. Saya banyak tertawa sekaligus merasa cringy pada dialog antarpemain. Bukan karena dipaksakan untuk campur-aduk sebagaimana dialog di Tiga Janggo, tetapi karena mayoritas terdengar seperti terjemahan kasar dari naskah berbahasa Inggris.

Hasilnya adalah perasaan bingung sekaligus tidak nyaman. Perlu ada penyesuaian, meski pada akhirnya bagi saya tetap terasa tidak natural.

Misalnya saat Jamar dan Suwo sedang belanja di sebuah toko. Pemiliknya yang seorang keturunan Cina menawarkan minuman penambah stamina dengan kalajengking utuh di dalam botolnya. Jamar kaget, kemudian marah “Kalau ada satu hewan yang saya tidak suka, itu kalajengking!”.

Kalimat "If there is one thing I don't like, that is bla bla” tersebut bukan frasa yang sering dipakai orang Indonesia, tapi biasa digunakan oleh penutur bahasa Inggris—setidaknya di dialog di film.

Contoh lain yang Jamar ucapkan adalah “aku tidak sebodoh itu” atau “I'm not that stupid”. Atau Leung, pemilik bar yang pada suatu hari melarang Fakar menembak kepala Suwo sebab ”kalau otaknya menyebar di bar saya, kamu harus berpikir dua kali”, atau “If his brain scatters all over my tavern, you need to think twice”.


Awalnya saya menduga dialog tersebut hanya diucapkan oleh tokoh yang diproyeksikan sebagai orang Belanda. Juga Jamar dan Suwo yang tumbuh sebagai penutur bahasa Inggris namun dilatih bahasa Indonesia oleh Arana untuk dipakai selama berada di Jawa. Namun, rupanya para tokoh asli Indonesia juga mempraktikkannya.

Saat diinterogasi Fakar, Kiona berujar “Kamu tidak akan mendapatkan apa-apa dariku,” atau “You will get nothing from me”. Fakar, sembari menyiksa, turut berujar “Kamu tidak sedang buru-buru, bukan” atau “You're not in hurry, are you?”.

Saya makin bingung dengan keputusan menjadikan Van Trach dan tokoh Belanda lain sebagai penutur bahasa Inggris.

Apa dasarnya? Apakah agar lebih ramah bagi penonton berbahasa Inggris sebab sebelum tayang di Indonesia Buffalo Boys terlebih dahulu diputar di Fantasia International Film Fesival di Montreal, Kanada?

Hal lain yang melahirkan pertanyaan tak terjawab ada pada keputusan Arana untuk membawa Jamar dan Suwo kecil ke Amerika Serikat.

Represi Van Trach memang berat, namun apakah harus sejauh itu untuk mencari keamanan? Setahu saya sejarah tidak menyebutkan AS sebagai wilayah tujuan para pemberontak nusantara pada era 1830-an. Kehidupan di AS seakan-akan dipaksa ada untuk membentuk ke-koboi-an duo Jamar dan Suwo. Tak lebih.


Secara teknis, suntingan film ini juga masih kasar. Editor seperti ingin memampatkan beragam emosi secara bergantian dalam film sepanjang 1 jam 42 menit ini. Namun transisi antar adegan utama kurang halus.

Misalnya, dari satu adegan dengan nuansa romantis sekaligus lucu tiba-tiba dialihkan ke kejadian berdarah-darah. Atau dari adegan berdarah-darah namun dijejalkan sejumlah dialog humoris. Modal dramatisasi masing-masing adegan juga cuma musik latar yang berlebihan—sebuah teknik lawas yang ujung-ujungnya bikin tidak nyaman.

Infografik Misbar Buffalo Boys


Sejak menonton trailer-nya saya sebenarnya berharap Buffalo Boys tidak cuma menjual tampilan (visual) dan aksi laga. Sayangnya cerita yang diangkat tipikal “pahlawan mengalahkan musuh” pada umumnya.

Tidak ada jalinan konflik yang kompleks dan memikat untuk diikuti hingga akhir, sebab sejak awal hasilnya sudah bisa ditebak: protagonis menang, antagonis musnah. Jamar dan Suwo sukses menuntaskan dendamnya, Kiona dan sisa penduduk desa aman—setidaknya untuk sementara.


Bak sinetron India, pembagian kubunya amat hitam putih. Jamar dan Suwo adalah pahlawan yang awalnya punya misi tunggal, tapi lama-kelamaan menemukan motif humanis: membela rakyat yang tertindas. Van Trach dan komplotannya, di sisi seberang, digambarkan serupa binatang buas yang tuntas mempraktikkan isi buku “Lebih Baik Ditakuti Ketimbang Dicintai 101”.

Beberapa karakter pendukung ada yang terasa mubazir, kebanyakan ada di pihak Van Trach. Ada yang didandani dengan menyeramkan seperti tokoh dalam komik namun tak punya kedalaman karakter yang membuat mereka jadi penting.

Di bagian pengantar film muncul semacam “disclaimer”, yang baru saya sadari sebagai hal yang kocak usai keluar dari bioskop, bahwa Buffalo Boys adalah pertemuan antara dongeng dan kenyataan. Sayangnya, kelindan antarkeduanya tidak selalu berbuah karya sinema yang bermutu. Tidak semua sineas mampu mengolahnya dengan baik.

Saya justru menyarankan Anda untuk mengabaikan pesan tersebut. Daripada nanti bingung saat memilah mana yang faktual dan mana yang fantasi, cukuplah Anda menikmati aksi laga yang jadi jualan utama film ini.

Baca juga artikel terkait FILM INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Film)


Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Windu Jusuf