Menuju konten utama

BRIN Goes to Industry 4 Dukung Sektor Kreatif Lewat Riset Budaya

BRIN Goes to Industry 4 menghidupkan riset arkeologi, bahasa, dan sastra untuk mendukung perkembangan sektor ekonomi kreatif di Indonesia.

BRIN Goes to Industry 4 Dukung Sektor Kreatif Lewat Riset Budaya
Sambutan oleh Wakil Menteri Kebudayaan RI, H. Giring Ganesha Djumaryo, S.Ikom. dalam BRIN Goes to Industry ke-4 di Jakarta. (Sumber Foto : Kanal Youtube BRIN Indonesia).
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar pagelaran tahunan BRIN Goes to Industry ke-4 di Jakarta. Mengusung tema “Pasar Festival Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (ARBASTRA) untuk Ekonomi Kreatif,” ajang ini difokuskan untuk menghilirkan hasil riset humaniora menjadi produk industri bernilai ekonomi tinggi yang berakar pada jati diri bangsa.

Langkah strategis ini merupakan implementasi nyata dari arah kebijakan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, di mana BRIN berkontribusi dalam mempercepat transformasi sosial dan membangun SDM unggul berdaya saing global yang tetap berakar pada nilai budaya.

Wakil Menteri Kebudayaan RI, H. Giring Ganesha Djumaryo, S.Ikom., menegaskan bahwa di era perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, narasi kebudayaan tidak boleh lagi sekadar bersandar pada asumsi romantis masa lalu. Narasi sejarah harus ditopang riset ilmiah mutakhir seperti carbon dating, arkeometri, hingga filologi agar validitasnya kokoh secara ilmiah.

"Kita tidak ingin aset-aset budaya menjadi dead monument. Museum dan situs sejarah harus mampu menghadirkan manfaat nyata bagi ekonomi kreatif. Kebudayaan adalah source code bangsa yang harus menjadi inspirasi penciptaan bagi para seniman, animator, konten kreator, hingga pelaku industri digital," ujar Giring.

Upaya ini dinilai sangat relevan dengan lonjakan kesadaran budaya publik saat ini. Data Kementerian Kebudayaan mencatat kenaikan signifikan pada jumlah kunjungan museum dan cagar budaya sebesar 86%, yakni dari 2.254.384 pengunjung pada tahun 2024 menjadi 4.210.089 pengunjung pada tahun 2025.

Tren positif ini diperkuat oleh dominasi pasar film lokal serta data riset yang menunjukkan bahwa 70% anak muda Indonesia kini lebih memilih mendengarkan musik dalam negeri dibanding K-Pop maupun lagu Barat.

Sementara itu, Wakil Kepala BRIN, Prof. Dr. Ir. Amarulla Octavian, S.T., M.Sc., DESD., ASEAN Eng., menjelaskan bahwa potensi pasar komoditas berbasis industri budaya sangat masif. Produk lokal UMKM terbukti mampu menembus transaksi Rp100 miliar pada pameran INACRAFT 2024, serta menghasilkan penawaran senilai 775.000 USD dalam ajang pameran dagang internasional di Jerman pada tahun lalu.

Oleh karena itu, BRIN memfokuskan komersialisasi dan penyediaan ide baru hasil riset Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (OR ARBASTRA) ke dalam empat kluster industri kreatif.

Pertama, rumpun budaya warisan nusantara yang mengeksplorasi motif gabah, relief candi, iluminasi manuskrip kuno, dan bahasa daerah sebagai aset desain produk fisik.

Kedua, rumpun digital kreasi audio-visual yang mentransformasikan tradisi lisan nusantara menjadi materi film, animasi, buku, game, hingga podcast.

Ketiga, rumpun gastronomi dan kesehatan yang mengembangkan pangan lokal, minuman tradisional, dan pengobatan kuno untuk industri kuliner.

Terakhir, rumpun wisata yang mengangkat potensi sejarah, religi, petualangan, serta wisata berbasis narasi (storytelling) budaya Indonesia.

Acara yang berlangsung interaktif ini turut diwarnai dengan momen bersejarah berupa penyerahan sertifikat Guinness World Records untuk kategori Oldest Painting-non-figurative Art (Lukisan Gua Tertua), penandatanganan naskah kerja sama strategis, pertunjukan musik tradisional Dendang Jo Saluang, serta kunjungan ke stan inovasi. Melalui sinergi erat antara periset, pemerintah, dan sektor swasta, Indonesia bersiap memimpin pasar global lewat produk ekonomi kreatif yang autentik dan berbasis riset kuat.

Penulis: Tim Media Servis