Menuju konten utama

BPBD Ungkap Langkah Mitigasi Hadapi Abu Vulkanik Anak Krakatau

Pemprov DKI meminta warga waspada terhadap abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Warga diminta memakai masker dan mengurangi aktivitas di luar rumah.

BPBD Ungkap Langkah Mitigasi Hadapi Abu Vulkanik Anak Krakatau
Lava pijar dari Gunung Anak Krakatau terlihat dari Pasauran, Kabupaten Serang, Banten, Sabtu (5/9/2026). ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/agr
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan menyusul potensi sebaran abu vulkanik dari aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Warga diminta tetap tenang dan melakukan sejumlah langkah mitigasi untuk melindungi kesehatan serta mengurangi dampak abu vulkanik.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi DKI Jakarta, Marulitua Sijabat, mengatakan masyarakat tidak perlu panik, tetapi tetap perlu mengikuti perkembangan informasi resmi dari pemerintah.

"Yang paling penting, masyarakat tidak perlu panik. Tetap tenang, tetapi tingkatkan kewaspadaan dan ikuti informasi resmi dari pemerintah," kata Marulitua di Jakarta, Minggu (6/9/2026).

Berdasarkan informasi resmi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, status Gunung Anak Krakatau saat ini masih berada pada Level III atau Siaga.

Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau telah berlangsung sejak Jumat malam, 4 September 2026. Hingga Minggu (6/9), belum terdapat peningkatan status gunung api tersebut.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat adanya sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau pada Minggu sekitar pukul 05.00 WIB.

Sebaran abu pada ketinggian hingga 20.000 kaki bergerak ke arah timur laut–selatan dan berpotensi mencakup sebagian wilayah Jakarta, Banten, serta Jawa Barat.

Di wilayah Jakarta, intensitas abu diperkirakan tipis. Namun, kondisi tersebut dapat berubah mengikuti arah dan kecepatan angin.

Marulitua menjelaskan, abu vulkanik berbeda dengan debu biasa karena partikelnya sangat halus dan dapat mengiritasi saluran pernapasan, mata, serta kulit, terutama pada kelompok rentan.

Karena itu, BPBD DKI memberikan sejumlah langkah mitigasi dan hal-hal yang perlu dilakukan masyarakat untuk menghadapi sebaran abu vulkanik. Di antaranya sebagai berikut:

  1. Gunakan masker saat berada di luar rumah.
  2. Kurangi aktivitas di luar ruangan jika tidak mendesak.
  3. Tutup pintu, jendela, dan ventilasi untuk mengurangi abu masuk ke dalam rumah.
  4. Gunakan kacamata pelindung untuk mencegah iritasi mata.
  5. Jangan mengucek mata jika terkena abu. Segera bilas dengan air bersih.
  6. Tutup makanan dan minuman agar tidak terkontaminasi abu.
  7. Bersihkan abu dengan cara basah. Hindari menyapu dalam kondisi kering agar abu tidak kembali beterbangan.
  8. Pengendara sepeda motor agar lebih berhati-hati karena abu dapat mengurangi jarak pandang dan membuat jalan licin.
  9. Segera cari pertolongan medis jika mengalami sesak napas, iritasi mata berat, atau keluhan kesehatan lainnya.
  10. Pantau informasi resmi dari BMKG, PVMBG, BPBD, dan pemerintah daerah untuk mengetahui perkembangan terbaru.

Pemprov DKI juga mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah percaya atau menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan kondisi sebaran abu hendaknya dipantau melalui sumber resmi, seperti PVMBG, BMKG, BNPB, BPBD, dan Pemprov DKI Jakarta.

Pemprov DKI, lanjut Marulitua, terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memantau perkembangan kondisi Gunung Anak Krakatau dan dampaknya terhadap wilayah Jakarta.

"Jakarta tetap beraktivitas seperti biasa dengan kewaspadaan yang proporsional. Ikuti informasi resmi, lindungi diri dan keluarga, tetap tenang, tetap waspada," tutur Marulitua.

Baca juga artikel terkait LATEST NEWS atau tulisan lainnya dari Alfitra Akbar

tirto.id - Flash News
Reporter: Alfitra Akbar
Penulis: Alfitra Akbar
Editor: Hendra Friana