Bolehkah Daging Kurban Dibagikan Setelah Dimasak dan Apa Hukumnya?

Oleh: Syamsul Dwi Maarif - 23 Juli 2021
Dibaca Normal 1 menit
Bagaimana hukum dalam Islam tentang membagikan daging hewan kurban dalam bentuk masakan?
tirto.id - Ibadah kurban pada saat Iduladha dan hari Tasyrik perlu dijalankan sesuai dengan ketentuan yang harus dipenuhi supaya mencapai kesempurnaan dalam pelaksanaannya. Salah satu ketentuan itu berkaitan dengan cara menyedekahkan (membagikan) daging kurban.

Pada dasarnya daging hewan kurban dibagikan dalam kondisi mentah. Lantas, bagaimana dengan pembagian daging kurban dalam bentuk sudah dimasak (matang)? Mengenai hal ini, para ulama berbeda pendapat.

Ulama mazhab Syafi’i, seperti Syekh Khatib al-Syarbini berpendapat bahwa daging hewan kurban yang disedekahkan kepada para fakir miskin harus dalam keadaan mentah. Hal ini agar para fakir dan orang miskin lebih leluasa dalam memanfaatkanya, sehingga tidak harus memakannya tetapi juga bisa menjual atau lainnya. Sebab, hak fakir miskin atas daging kurban ialah memilikinya, tak hanya memakannya.


Dikutip dari laman Nu Online, Syekh Muhammad al-Ramli dalam kitab Nihayah al-Muhtaj menulis bahwa “wajib memberikan kadar daging yang wajib disedekahkan dalam bentuk mentah, bukan berupa dendeng."

Sementara apabila merujuk pada pendapat dari mazhab Malikiyah, diperbolehkan menyedekahkan daging kurban dalam bentuk yang sudah diolah (masakan). Sebagian daging hewan kurban boleh dimakan oleh orang yang berkorban, dan yang sebagian lagi disedekahkan dalam bentuk matang maupun mentah.

Pendapat dari mazhab Malikiyah tersebut dikatakan oleh Syekh Ibnu al-Hajib dalam kitab Jami’ al-Ummahat sebagai berikut:

“Dan sebaiknya mudlahhi (pelaku kurban) memakan dan memberi makan dalam bentuk mentah atau masak, ia boleh menyimpan dan menyedekahkannya. Bila hanya melakukan salah satunya, maka boleh meski meninggalkan yang lebih utama.”

Dikutip dari laman NU Online, Syekh Abdul Aziz bin Muhammad bin Ibrahim al-Kanani dalam kitab Hidayah al-Salik Ila al-Madzahib al-Arba’ah fi al-Manasik, dengan mengambil beberapa pendapat lintas mazhab, menyampaikan penjelasan sebagai berikut:

“Bila kita mewajibkan bersedekah dengan sebagian kurban, maka sebagaimana dikatakan ulama Syafi’iyyah tidak boleh mengundang orang-orang fakir untuk memakannya dalam keadaan masak, sebab hak mereka adalah memilikinya, bukan memakannya. Apabila menyerahkan kurban dalam bentuk masak, maka tidak boleh, bahkan harus dibagikan mentah. Ulama Hanafiyyah memutlakan tentang menyedekahkan kurban dalam bentuk masak. [Adapun] Menurut mazhab Malikiyyah boleh menyedekahkan kurban dalam bentuk masakan.”

Jadi, sebagaimana dijelaskan M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pondok Pesantren Raudlatul Quran, Arjawinangun, Cirebon, Jawa Barat, dalam artikel di NU Online yang bertajuk "Membagikan Daging Kurban dalam Bentuk Masak atau Kemasan Kornet (I)," hukum membagikan daging kurban dalam bentuk masakan dapat diperbolehkan jika sebagian sudah ada yang disedekahkan ke orang fakir dan miskin dalam bentuk mentah.



Baca juga artikel terkait IDUL ADHA 2021 atau tulisan menarik lainnya Syamsul Dwi Maarif
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Syamsul Dwi Maarif
Penulis: Syamsul Dwi Maarif
Editor: Addi M Idhom
DarkLight