Obituari

Bob Hasan, si "Raja Hutan" Kepercayaan Soeharto sejak Dulu Kala

Sejumlah pelayat mengantre untuk mengucapkan belasungkawa kepada keluarga Muhammad Bob Hasan di rumah duka di Kebayoran Baru, Jakarta, Selasa (31/3/2020). ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/nz.
Oleh: Petrik Matanasi - 1 April 2020
Dibaca Normal 3 menit
Bob Hasan dikenal sebagai cukong kayu dan berpengaruh di masa Orba. Dipercaya Soeharto sejak 1950-an.
Meski bukan Tarzan, Bob Hasan dijuluki sebagai "Raja Hutan". Laki-laki kelahiran Semarang, 24 Februari 1931 ini adalah pengusaha pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) yang berpengaruh di masa Soeharto berkuasa.

Menurut Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia, pada 1980-an Bob setidaknya punya saham di 20 sampai 30 perusahaan. Penguasaan saham Bob di antaranya meliputi PT Kalimanis Plywood, PT Pasopati Holding Company, PT Wasesa Lines, PT Karana Shipping Lines, PT Hutan Nusantara, dan PT Lifetime Assembly of Watch and Electrical Equipment. Bob pernah menjadi Ketua Masyarakat Perkayuan Indonesia (MPI), Ketua Asosisasi Panel Kayu Indonesia (Apkindo), dan Ketua Asosiasi Mebel Indonesia (Asmindo).

Sebagai orang yang dipercaya Soeharto, Bob Hasan pernah menjadi Menteri Perindustrian dalam Kabinet Pembangunan VII—meski hanya dari Maret hingga Mei 1998.

Kenal Soeharto sejak Dulu

Bob bukan orang mujur yang dikenal Soeharto setelah dirinya menjabat presiden. Mereka berdua sudah saling kenal sejak Soeharto jadi pejabat militer di Jawa Tengah, waktu pangkatnya masih kolonel. Sekitar akhir 1950-an Bob Hasan sudah jadi orang kepercayaan Soeharto. Kala itu Yayasan Pembangunan Teritorium Empat diirikan dan Bob Hasan terlibat dalam pendiriannya.

Saya dibantu oleh beberapa kawan dalam hal ini, antara lain Letkol. Munadi, Mayor Sudjono Humardani, dan Bob Hasan. Maka kami berhasil memberikan alat pertanian, bibit, dan pupuk kepada para petani, membagikan bahan pangan, sandang untuk keluarga prajurit yang juga merupakan kegiatan yayasan itu,” aku Soeharto dalam autobiografi Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya (1989: 90) yang disusun Ramadhan K.H.

Ketika Soeharto terlibat barter beras dengan gula, Bob Hasan juga terlibat. Soeharto, dalam autobiografinya (hlm. 92), mengaku, ”Saya tugasi Bob Hasan melaksanakan barter ke Singapura dengan catatan, beras harus datang di Semarang lebih dahulu, baru gula bisa diangkut.” Liem Sioe Liong juga dekat dengan Bob Hasan dan Soeharto kala itu dan terlibat bisnis pula dengan tentara.


Ketika Soeharto ditendang dari posisi panglima di Jawa Tengah—karena kegiatan bisnisnya dipermasalahkan dan ia nyaris dipecat—hukuman keras untuknya tidak terjadi. Mayor Jenderal Abdul Haris Nasution sebenarnya berkeinginan menyetrap Soeharto dengan hukuman berat.

"Tapi kemudian [hukuman untuk Soeharto] diperingan oleh Gatot Subroto sebagai sama-sama orang dari Korps Diponegoro. Akhirnya, Soeharto pun dikirim ke SSKAD Bandung. Pada waktu itu, saya adalah salah seorang guru SSKAD,” aku M. Jasin dalam autobiografi
Saya Tidak Pernah Minta Ampun Kepada Soeharto: Sebuah Memoar (1998: 196).

Gatot Subroto yang dimaksud adalah Pahlawan Nasional Letnan Jenderal Gatot Subroto. Bagi Soeharto dan Bob Hasan, Gatot Subroto bukan orang lain. Soeharto pernah menjadi anak buah Gatot, sementara Bob Hasan adalah anak angkat Gatot.


Meski banyak buku—tanpa sumber yang jelas—menyebut Bob Hasan adalah anak angkat, sebuah buku dengan nuansa konspiratif berjudul Jaringan Zionis van der Plas Jatuhkan Bung Karno (2002: 70) menyebut Bob Hasan adalah anak kandung Gatot Soebroto dengan wanita keturunan Cina.

"Nama kecilnya The Kian Seng lahir di Semarang dan ikut ibunya. Setelah umur 10 tahun baru ikut Gatot Subroto, diakui anak angkat,” tulis buku tersebut. Cerita ini tentu saja kurang bukti.

Tapi pada 1931, ketika Bob lahir, menurut Moh. Oemar dalam biografi bertajuk
Jenderal Gatot Subroto (1976: 31), Gatot baru saja jadi sersan KNIL di sekitar Magelang dan hendak dikirim ke Padang Panjang.

Versi lain soal asal-usul Bob Hasan diceritakan Sri Bintang Pamungkas dalam Ganti Rezim Ganti Sistim-Pergulatan Menguasai Nusantara (2014: 37). Disebutkan dalam buku itu bahwa "[Bob Hasan jadi] anak angkat Pak Gatot Soebroto, sesudah mobil Sang Jenderal menabraknya, lalu merasa iba; Soeharto dimintanya untuk memperhatikan anak angkatnya yang asal Semarang itu."

Jika apa yang disebutkan Sri Bintang bersifat faktual, maka Soeharto benar-benar melaksanakan amanat Gatot Subroto itu. Bob Hasan bahkan lebih dari sekadar hidup nyaman. Ia kaya raya dan jago berbisnis.

“Pada awal 1958 Mayor (Soedjono) Hoemardani atas nama Diponegoro masuk dalam kemitraan bisnis dengan Bob Hasan dan Sukatia, dua pengusaha Tionghoa, membentuk PT Pangeran Line, yang pada 1960 menjadi PT Wasesa Line,” tulis Richard Robison dalam Indonesia: The Rise of Capital (2009: 260).

Setelah ayah angkat Bob Hasan meninggal di tahun 1962, Bob terus membangun bisnisnya.
Di masa awal menjadi pengusaha, tentu saja kelas Bob Hasan tak sepadan dengan Agoes Moesin Dasaad atau Teuku Markam. Tapi pelan-pelan ia berhasil memanfaatkan kepiawaiannya dalam berbisnis dan merawat jaringan.

“Begitu Soeharto menjadi pejabat Presiden pada 1967, Bob Hasan [...] mendorong Soeharto untuk mengelola bisnis kehutanan di Luar Jawa. Pada tahun 1971 Bob Hasan diberi kepercayaan Soeharto untuk menjadi agen tunggal bagi perusahaan-perusahaan asing yang mau menanam modalnya di bidang kehutanan di Kalimantan dan tempat-tempat lainnya,” tulis Sri Bintang Pamungkas (hlm. 40).



Insiden Sup Menjangan

Setelah Soeharto mengalami “kejatuhan pertama”, yaitu ketika ia didepak dari Semarang, Bob Hasan masih menjaga hubungan dengan bekas panglima itu. Menjelang G30S 1965, menurut pengakuan Probosutedjo, adik tiri Soeharto, dalam Saya dan Mas Harto: Memoar Romantika Probosutedjo (2010), Bob Hasan pernah mengirimkan sesuatu untuk kakaknya.

“[Bob Hasan] mengirim daging menjangan hasil buruannya ke rumah, dan Mbakyu Harto (Tien Soeharto) segera mengolahnya menjadi sup,” kenang Probosutedjo (hlm. 250).

Sup panas itulah yang kemudian tumpah dan menyiram Hutomo Mandala Putra (Tommy) kecil yang sedang bermain dengan adiknya, Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek). Tien tentu menangis sambil memeluk anak kesayangan suaminya itu. Tommy kemudian dirawat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) pada malam G30S.


Kejadian lain yang bermula dari kebaikan Bob Hasan tapi jadi apes bagi Soeharto dan istri, selain insiden sup menjangan, adalah ketika Bob Hasan hendak mendekatkan Soeharto dengan Sukarno lewat Ratna Sari Dewi.

“Anak angkat Gatot Subroto ini lalu melakukan inisiatif untuk merapatkan kembali Mas Harto dan Bung Karno. Ia mengundang Ratna Sari Dewi, istri termuda Bung Karno bermain Golf di Rawamangun. Nah, pada saat yang sama ia mengundang Mas Harto bermain di lokasi yang sama,” tutur Probosutedjo (hlm. 298).

Sepengakuan Probo, acara main golf itu bikin Tien cemburu. Semua orang yang pernah melihat Ratna Sari Dewi tahu ia adalah perempuan yang memikat. Dewi memiliki jaringan luas di kalangan pengusaha Jepang yang punya kepentingan bisnis di Indonesia. Probo kemudian komplain kepada Bob: “Aduh buat apa sih dipertemukan segala. Itu Bu Harto jadi marah.”

Bob dan Probo pun menghadap Tien. Bob minta maaf dan menjelaskan maksudnya hingga akhirnya istri daripada Soeharto itu mengerti.

Setelah “kejatuhan kedua” Soeharto, kali ini dari kursi kepresidenan di tahun 1998, Bob Hasan masih tetap kaya meski dirinya kena jerat kasus korupsi dana HPH. Jaksa Agung yang menjeratnya hingga masuk ke penjara Nusakambangan pada 2001 adalah Baharuddin Lopa. Di penjara itu, pernah meringkuk pula Tommy Soeharto.

Di tengah wabah Covid-19, Bob Hasan tutup usia pada Selasa (31/3/2020) pukul 11.00 di RSPAD Gatot Subroto. Menurut Sekretaris Menpora Gatot S. Dewa Broto, Bob Hasan meninggal bukan karena terserang virus corona, tapi lantaran faktor usia.

Baca juga artikel terkait BOB HASAN MENINGGAL DUNIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Ekonomi)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight