Bisakah Jokowi-Ma'ruf Menang Pilpres di Jawa Barat?

Oleh: Lalu Rahadian - 13 November 2018
Dibaca Normal 2 menit
TKN Jokowi-Ma'ruf menyiapkan sejumlah strategi untuk memenangkan calonnya di Jawa Barat pada pilpres mendatang. Efektifkah?
tirto.id - Calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin menargetkan menang di Jawa Barat yang menjadi basis Prabowo-Sandiaga. Keseriusan itu nampak dari banyaknya wacana dan pernyataan soal kampanye yang dihembuskan Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf. Sebagai cawapres, Ma'ruf juga mengaku akan lebih banyak berkampanye di provinsi terpadat di Indonesia itu.

“Saya akan keliling Jawa Barat. Sekarang Jawa Timur sudah tinggi [elektabilitasnya], Jawa Tengah paling tinggi, Jawa Barat masih di bawah. Di Jakarta juga Banten sudah menang tipis” kata Ma'ruf di kediamannya, Senin (12/11/2018).

Wakil Ketua TKN Abdul Kadir Karding mengklaim, saat ini elektabilitas Jokowi-Ma'ruf di Jawa Barat sudah unggul tipis dari Prabowo-Sandiaga. Menurutnya, keunggulan itu terlihat dari survei internal yang sudah mereka lakukan.

Menurut Karding, elektabilitas Jokowi-Ma'ruf di Jawa Barat saat ini 47 persen. Angka itu mengalahkan Prabowo-Sandiaga yang mendapat elektabilitas 42 persen.

Provinsi Jawa Barat mendapat perhatian serius dari Jokowi-Ma'ruf lantaran pada Pilpres 2014, suara petahana kalah dibanding Prabowo yang berpasangan dengan Hatta Radjasa. Kala itu, Jokowi dan Jusuf Kalla mendapat 9.333.315 suara. Jumlah itu berselisih 4 juta suara dengan Prabowo-Hatta yang meraih dukungan 13.723.780 suara.

Strategi yang Disiapkan

Sekretaris Tim Kampanye Daerah (TKD) Jokowi-Ma'ruf, Abdy Yuhana menyebut elektabilitas pasangan yang ia dukung masih lemah di sejumlah daerah di Jawa Barat. Lemahnya suara Jokowi-Ma'ruf terasa di klaster Priangan Barat dan Timur.

Wilayah Priangan Barat meliputi Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Cianjur, dan Kota Sukabumi. Sementara wilayah Priangan Timur mencakup Garut, Tasikmalaya, Ciamis dan Pangandaran.

“Berdasarkan pemetaan itu, tentu Pak Jokowi dan Pak Ma'ruf Amin harus banyak melakukan sosialisasi dan kampanye di wilayah itu. Sebab kalau program-program yang dilakukan Pak Jokowi, kan, sudah cukup dan bagus, diterima masyarakat. Tinggal bagaimana supaya di sana tingkat elektoralnya tinggi,” kata Abdy saat dihubungi wartawan, Selasa (13/11/2018).

Abdy mengatakan, kampanye Jokowi-Ma'ruf di Priangan Barat dan Timur harus dilakukan dengan pendekatan berbeda. Dia mengakui masih kentalnya pengaruh tokoh agama bagi masyarakat di dua klaster wilayah itu. Karena itu, kampanye di sana diharap mampu melibatkan pemuka agama.



Infografik CI suara jokowi maruf di jawa barat


Menurut Abdy, lemahnya elektabilitas Jokowi-Ma'ruf di sejumlah daerah Jawa Barat karena imbas dari Pilpres 2014. Hal ini terjadi, kata dia, karena tingginya loyalitas masyarakat di sana terhadap Prabowo.

“Tugas TKD menyampaikan saat ini, kan, petanya berubah. Petanya itu beberapa parpol yang di [Pilpres] 2014 tidak di Pak Jokowi sekarang, kan, [dukung] Pak Jokowi. Golkar, PPP, kan, sudah bergeser. Ini juga memiliki pengaruh,” kata Abdy.

Karena itu, Abdy menyebut, timnya akan fokus menggerakkan para caleg, relawan, dan tokoh masyarakat serta agama untuk berkampanye di Jawa Barat. Kampanye akan langsung dilakukan dari pintu ke pintu.

Menurut Abdy, selain di Priangan Barat dan Timur elektabilitas Jokowi-Ma'ruf juga masih lemah di Kabupaten Bogor. Namun, ia optimistis Jokowi-Ma'ruf mampu menang dan unggul atas Prabowo-Sandiaga pada Pilpres 2019.

Abdy mengatakan, ada 6 klaster yang harus didekati dengan pendekatan berbeda-beda. Klaster-klaster itu adalah Cekungan Bandung (Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Bandung Barat, Cimahi, Sumedang), Priangan Barat, Priangan Timur, Cirebonan (Cirebon, Indramayu, Kuningan, Majalengka), Karawangan Karawang dan Purawakarta), Megapolitan ( Bekasi, Bogor, Depok).

“Dari situ yang sampai kini kami masih kurang dukungan di Priangan Barat dan Timur. Tentunya harapan kami karena wilayah itu basisnya agama, ya kami dorong agar Pak Ma'ruf agar terus turun ke wilayah itu,” kata Abdy.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review Ujang Komarudin menilai pasangan Jokowi-Ma'ruf bisa saja menang atas Prabowo-Sandiaga di Jawa Barat pada pemilu mendatang. Dia mendasarkan argumennya pada fakta “parpol pemenang pemilu di Jawa Barat selalu berubah tiap periode.”

"Masyarakat Jawa Barat dari pemilu ke pemilu selalu berubah pilihan. Lihat saja di Pileg 2004, Golkar menang di Jabar. Tahun 2009 Demokrat menang, dan di 2014 yang lalu yang menang PDIP,” kata Ujang kepada reporter Tirto.

Menurut Ujang, pemenang pemilu di Jawa Barat akan mendapat gengsi tersendiri, terlebih jika status menang dimiliki pasangan Jokowi-Ma'ruf. Sebab, kata dia, Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah pemilih terbanyak di pemilu. Daerah itu juga dikenal sebagai lumbung suara kubu Prabowo.

“Jadi bagi Jokowi-Ma'ruf memenangkan pertarungan di Jabar adalah harga mati,” kata dia.

Baca juga artikel terkait PILPRES 2019 atau tulisan menarik lainnya Lalu Rahadian
(tirto.id - Politik)

Reporter: Lalu Rahadian
Penulis: Lalu Rahadian
Editor: Abdul Aziz
DarkLight