Biomassa Bisa Hemat Biaya Industri Sampai Rp13,23 Trilliun

Reporter: Mutaya Saroh, tirto.id - 8 Nov 2016 10:07 WIB
Dibaca Normal 1 menit
Pemanfaatan biomassa dari minyak kelapa sawit dan kompos sebagai pelengkap penggunaan energi industri pulp dan kertas nasional bisa menghemat biaya industri sampai Rp13,23 trilliun atau sekitar 10-20 persen.
tirto.id - Pemanfaatan biomassa dari minyak kelapa sawit dan kompos sebagai pelengkap penggunaan energi industri pulp dan kertas nasional bisa menghemat biaya industri sampai Rp13,23 trilliun atau sekitar 10-20 persen.

Hal itu disampaikan oleh anggota Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Hendri Saparini, Selasa (8/11/2016). Ia menambahkan manfaat penggunaan biomassa dari minyak kepala sawit, black liquor, bark atau kulit pohon, serbuk kayu dan kompos ini sudah dirasakan oleh industri pulp dan kertas nasional.

"Pemanfaatan biaya energi dari pemanfaatan biomassa tersebut sangat besar, yaitu Rp13,23 triliun pada Tahun 2020 dan Rp14,97 triliun pada 2025," ujar Hendri dari Yogyakarta, Selasa, (8/11/2016) seperti dilaporkan oleh kantor berita Antara.


Lebih lanjut ia menegaskan, secara umum pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT) dalam sektor industri, terutama manufaktur, memang bisa mengurangi biaya produksi atau menghemat biaya energi perusahaan dengan asumsi ada efisiensi penggunaan bahan bakar energi dengan menggunakan biomassa dan dibarengi dengan akselerasi.

"Antara lain, penambahan hutan tanaman industri (HTI) pada 2012-2018, dan tingkat utilisasi pulp 90 persen per tahun dan kertas 90 persen per tahun," kata dia.

Ia menjelaskan penghematan biaya energi sebesar 10-20 persen jelas bukan angka yang kecil.

Dengan menghemat penggunaan energi, kata dia, produk-produk yang dihasilkan industri kertas dan pulp nasional bisa bersaing dengan perusahaan-perusahaan dari negara lain, khususnya ASEAN.

Di samping itu, sebelumnya ia juga mengatakan diperkirakan Indonesia akan mengalami krisis listrik sebesar 1.000 megawatt (MW) pada tahun 2018.

"Setiap tahun, tambahan kebutuhan listrik masyarakat sekitar 5.000 MW, sementara Perusahaan Listrik Negara (PLN) hanya mampu menyediakan pasokan listrik sekitar 4.000 MW setiap tahunnya," ujar Hendri.

Menurut dia, ada defisit pasokan listrik 1.000 MW per tahun. Bila tidak ada langkah nyata, Indonesia akan mengalami krisis listrik pada tahun 2018, yang nantinya akan menyebabkan sebagian wilayah di Indonesia sering terkena pemadaman listrik bergilir, dan kondisi ini umumnya terjadi di luar Pulau Jawa, seperti Sumatera dan Kalimantan.


Banyak mesin pabrik tidak bisa berproduksi karena tidak ada pasokan setrum, katanya.

Baca juga artikel terkait ENERGI BARU TERBARUKAN atau tulisan menarik lainnya Mutaya Saroh
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Mutaya Saroh
Penulis: Mutaya Saroh
Editor: Mutaya Saroh

DarkLight