Berat Badan Naik adalah Masalah Sejuta Umat Selama WFH

Oleh: Aditya Widya Putri - 21 Februari 2021
Dibaca Normal 3 menit
Selama menjalani WFH, banyak orang mengeluh mengalami lonjakan berat badan. Solusinya, lakukan pola hidup sehat dan batasi konsumsi gula, garam, dan lemak.
tirto.id - “Saya naik 4 kilogram selama masa work from home (WFH) ini. Parah, melonjak drastis karena otomatis jarang bergerak,” kata Yovi Andre.

Keluhan Yovi itu mungkin adalah keluhan banyak orang juga. Kondisi pandemi membuat sebagian besar orang menghabiskan waktu di rumah. Pergerakan dan aktivitas fisik pun jadi terbatas. Padahal, menurut rekomendasi WHO, seseorang setidaknya perlu melakukan olah fisik selama 150 menit per minggu atau 30 menit setiap hari untuk mendapat kesehatan prima.

Meski melakoni WFH, Yovi yang seorang speed runner mengaku tetap aktif olah fisik dengan bersepeda selama pandemi. Yovi juga membatasi asupan gula, garam, dan lemak (GGL). Namun, tetap saja pola gerak dan tidurnya jadi berantakan sehingga penambahan berat badannya tak lagi terkontrol.

Kegemarannya menonton drama korea membikin waktu tidur Yovi berantakan. Dia setidaknya butuh waktu tiga hari untuk menamatkan satu judul drama korea. Padahal, seturut National Sleep Foundation, durasi tidur bagi orang dewasa sebaiknya antara 7-9 jam per hari.

Intinya, selain ancaman COVID-19, risiko kesehatan juga bisa berasal dari rutinitas buruk, seperti jarang berolahraga, kurang waktu tidur, dan tidak mengontrol konsumsi GGL.

“Fenomena kenaikan berat badan saat ini dialami banyak orang, termasuk kelompok anak sekolah,” tutur Manajer Nutrifood Research Center Felicia Kertawidjaja dalam webinar bertajuk #BatasiGGL bersama Nutriclass X AJI beberapa waktu lalu.

Felicia juga mengingatkan bahwa sebanyak 80 persen penyakit tidak menular (PTM) disebabkan perilaku tidak sehat. Terlebih, PTM kini juga lazim ditemukan pada kelompok usia muda di bawah 35 tahun.

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan, 34,1 persen penduduk Indonesia yang berusia lebih dari 18 tahun tercatat memiliki hipertensi. Kemudian, sebanyak 10,9 persen penduduk berusia lebih dari 15 tahun tercatat menderita diabetes melitus.

Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) juga mencatat, ada 1,5 persen penduduk yang menderita penyakit penyerta kardiovaskular. Kemudian, sebanyak 3,7 persen penduduk menderita gangguan paru-paru kronis dan 3 persen lagi mengidap autoimun. Sementara itu, rasio jumlah kasus kanker kini tercatat 1,8 per satu juta penduduk.

Di masa pandemi seperti sekarang, mereka termasuk kelompok komorbid yang berisiko lebih besar mendapat perawatan berat jika terinfeksi SARS-CoV-2.

Perhatikan Konsumsi GGL

Camilan apa yang sering Anda pesan selagi mengerjakan tugas kantor di rumah? Makanan gurih semacam keripik kentang, bakso, pizza, tahu isi, martabak telur, atau biskuit? Lalu, apakah Anda juga biasa memesan minuman manis, seperti boba, kopi, es krim, atau thai tea?

Menu-menu itu memang sangat memanjakan lidah dan terlihat “ringan”. Namun, hati-hatilah karena makanan dan minuman itu bisa jadi bom waktu bagi kesehatan Anda.

Sebelum memesan makanan atau minuman sebagai kawan WFH, pertimbangkanlah beberapa rambu berikut ini. Idealnya, batas konsumsi gula harian hanya sebesar 50 gram atau setara 4 sendok makan (sdm). Lalu, batas konsumsi garam harian adalah 5 gram atau setara 1 sendok teh (sdt), sementara konsumsi lemak maksimal adalah 67 gram atau setara 5 sendok makan.

“Minuman seperti boba dan kopi populer rata-rata mengandung 3 sdm gula, semangkuk bakso 1 sdt garam, sementara setiap potong martabak telur dan tahu mengandung 1 sdm lemak,” terang Felicia.

Konsumsi gula berlebih berkaitan erat dengan obesitas yang merupakan faktor risiko diabetes. Di Indonesia, satu dari 16 orang mengidap diabetes. Indonesia secara global pun bertengger di peringkat tujuh negara dengan pasien diabetes terbanyak.


Sementara itu, peningkatan konsumsi garam terkait dengan peningkatan tekanan darah. Rata-rata penduduk Indonesia mengonsumsi 12 gram garam per hari. Kebanyakan konsumsi didapat dari penambahan garam saat memasak. Kemudian, lemak berlebih terkait dengan ancaman obesitas dan penyakit kardiovaskular.

Membatasi konsumsi GGL dan dan beraktivitas fisik yang cukup adalah cara terbaik menghindari rentetan risiko terkena PTM. Dan lagi, di masa pagebluk seperti sekarang, pembatasan GGL juga dapat membantu memperkuat sistem imun untuk melawan COVID-19.

Infografik Kegemukan Selama WFH
Infografik Kegemukan Selama WFH. tirto.id/Quita


“Ringkasnya jaga pola makan sehat, termasuk batasi GGL, olahraga teratur, istirahat cukup, dan jaga kesehatan mental,” pungkas Felicia.

Jangan Korbankan Kesehatan Mentalmu

Pandemi COVID-19 menjelma teror bagi banyak orang sampai-sampai menimbulkan paranoia massal. Kondisi psikologis dan fisiologis terganggu akibat bombardir berita tentang wabah ini. Akibatnya, muncul gejala semu mirip infeksi virus korona (psikosomatik) hingga gangguan mental.

Gangguan psikosomatik adalah keluhan sakit fisik yang timbul atau dipengaruhi oleh pikiran atau emosi, bukan oleh alasan fisik yang jelas, seperti luka atau infeksi. Ia terjadi akibat perbedaan aktivitas sistem saraf taksadar dan respons biokimia tubuh.

Ketika cemas, amygdala—pusat rasa cemas pada otak, merespons dengan mengaktifkan sistem saraf otonom secara berlebihan. Tubuh dibuat seolah sedang menghadapi ancaman sehingga selalu siaga. Akibatnya, muncullah gejala psikosomatik, seperti denyut jantung dan tekanan darah meningkat atau rasa sakit di dada.


Stres gara-gara pandemi tak hanya memicu gangguan psikosomatik, tapi juga memicu pola hidup tidak sehat seperti makan berlebih, merokok, dan aktivitas sedenter

“Beberapa orang yang sulit beradaptasi pada hal baru atau punya gangguan mental bisa mengalami kecemasan dan depresi (ketika menghadapi pandemi),” jelas Andri, Psikiatris dari RS Omni Alam Sutera, kepada Tirto.

Studi Kaushal Shah dkk. yang terbit dalam jurnal Cureus (2020) menyebut, fenomena gangguan psikis seperti ini pernah terjadi pada saat SARS dan MERS mewabah. Gangguan stres pascatrauma menyerang 25 persen penyintas SARS dan 15,6 persen lainnya mengalami depresi berat. Ada pula laporan komorbiditas psikiatrik seperti bunuh diri, depresi, serangan panik, kecemasan, delirium, dan gejala psikotik.

“Beri jeda,” kata Andri saat ditanya soal solusi menjaga kesehatan mental selama pandemi. “Kita tahu otak manusia berproses. Orang yang cukup sehat jiwanya akan berupaya (beradaptasi), makanya ada konser daring dan semacamnya.”.

Memberi jeda pada rutinitas harian—apalagi yang berlebihan—juga perlu dilakukan agar angka di timbangan berat badan tetap seimbang. Sekali lagi, bertambahnya berat badan bukan cuma perkara membatasi konsumsi GGL saja, tapi juga musti diikuti istirahat cukup dan terjaganya kesehatan mental.

Baca juga artikel terkait BERAT BADAN NAIK atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
DarkLight