Psikosomatik, Sakit Pikiran yang Bikin Sakit Fisik

Psikosomatik, Sakit Pikiran yang Bikin Sakit Fisik
Ilustrasi psikosomatis. Getty Images/iStockphoto
Reporter: Aditya Widya Putri
10 Januari, 2018 dibaca normal 2:30 menit
Individu dengan sakit pikiran sering mendapat penanganan kurang tepat sehingga diberi obat-obatan pereda nyeri jangka pendek.
tirto.id - Pernahkah merasa sedih teramat sangat sehingga membikin dada sesak? Pusing karena tekanan kerja, atau sakit perut karena gugup? Yang paling jamak mungkin patah hati, membuat orang pusing, sesak di dada, dan demam.

Gejala di atas merupakan tanda psikosomatik. Orang-orang lazim menyebutnya sebagai “sakit pikiran”. Beragam ekspresi sedih, marah, gugup, patah hati, atau stres membuktikan bahwa sakit psikis dapat menimbulkan ragam penyakit fisik yang menyiksa tubuh.

Penelitian Edward E. Smith, dkk, pada tahun 2011 menunjukkan hubungan antara keduanya. Mereka melakukan pengamatan pada 40 orang responden yang mengalami patah hati selama 6 bulan terakhir. Pada percobaan pertama, responden diminta memandang foto mantan orang terdekat untuk mengukur rasa sakit psikis. Perlakuan tersebut bertujuan memunculkan efek penolakan di benak responden.

Lalu pada percobaan kedua, mereka diberi rangsang panas di lengan sebagai parameter rasa sakit fisik. Hasilnya menunjukkan jaringan di daerah otak yang merespon rangsang sensorik sakit fisik (korteks somatosensori sekunder dan insula posterior dorsal) aktif pada percobaan pertama.

Pengukuran oleh MRI menyatakan rasa sakit psikis akibat penolakan mantan setara dengan rasa sakit akibat kulit terbakar. Artinya, otak merespon rasa sakit psikis serupa dengan respon rasa sakit fisik di tubuh.

“Hubungan antara fisik dengan emosional erat sekali. Individu yang tak bisa mengekspresikan emosinya mengalihkan ke kondisi fisik,” jelas DR. dr. Fidiansjah, Sp.KJ, MPH, psikiater sekaligus Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza di Kementerian Kesehatan kepada Tirto.

Alan Fogel, Ph. D., seorang profesor psikologi di Universitas Utah mengatakan depresi, kegelisahan, dan ragam penyakit psikologis lainnya berhubungan dengan saraf tertentu. Mekanisme ini yang sering diabaikan para psikolog : bahwa otak terhubung dengan saraf ke bagian tubuh lainnya– di mana ekspresi yang ingin dimunculkan gagal terwujud –.

“Misalnya ketika menahan jeritan marah maka saya masih merasakan sisa ketegangan otot leher dan rahang,” kata Alan.

Penyakit pikiran juga membikin jantung dan napas tidak selaras sehingga mengaktifkan sistem saraf simpatik. Seolah sedang menghadapi ancaman, denyut jantung dan tekanan darah akan meningkat, menciptakan rasa sakit di dada.

“Ini alasan orang yang memiliki hubungan buruk cenderung punya masalah kardiovaskular.”

Di Indonesia, meski prevalensi penduduk yang mengalami sakit psikis (gangguan mental emosional ringan dan sedang) berdasar Riskesdas 2013 hanya sebesar 6,0 persen. Namun dr Fidiansjah meyakini ketika diuji dengan metodologi yang lebih tajam dan melibatkan pakar khusus, maka realitasnya bisa mencapai sekitar 20 persen.

“Survei nasional hanya menggunakan pertanyaan standar dan tidak harus psikiater yang melakukannya.”

Psikosomatik, Sakit Pikiran yang Bikin Sakit Fisik

Pasien Sakit Psikis Salah Penanganan

Lantaran memiliki gejala yang mirip satu sama lain, individu dengan sakit pikiran seringkali mendapatkan penanganan kurang tepat. Mereka jamaknya pergi berobat ke dokter umum dan mendapatkan terapi layaknya pasien sakit fisik. Meski gejala sakitnya mereda, tapi kondisi ini tak akan bertahan lama.

“Bisa kambuh sakitnya,” kata Fidiansjah.

Penelitian lain oleh C. Nathan DeWall, dkk, tahun 2010, memang pernah menjajal metode penyembuhan sakit pikiran dengan obat-obatan sakit fisik. Obat itu adalah parasetamol (asetaminofen), analgesik atau obat untuk mengurangi rasa nyeri seperti sakit kepala, gigi, demam, nyeri haid, atau nyeri sendi.

Percobaan ini mengikutsertakan 62 partisipan yang dibagi dalam dua kelompok. Masing-masing mengkonsumsi asetaminofen dan plasebo setiap hari selama 3 minggu. Hasil pengukuran aktivitas otak dengan MRI menemukan bahwa asetaminofen efektif mengurangi respons aktif korteks somatosensori sekunder dan insula posterior dorsal pada responden yang menerima penolakan sosial.

Dalam ulasan di Psychology Today, dijelaskan bahwa evolusi membuat sistem tubuh mengambil mekanisme yang sama dengan menggunakan satu sistem saraf untuk mendeteksi sakit. Namun, tak direkomendasikan pemberian asetaminofen jangka panjang untuk menghilangkan sakit pikiran.

Idealnya, ketika individu merasakan sakit fisik dan dokter tak menemukan gejala biologis yang menjadi penyebabnya. Maka, harus dilakukan adalah terapi psikologis kepada pasien. Hal ini dilakukan untuk mengurai akar masalah dari penyakit pikiran yang diderita sehingga bisa meminimalkan penyakit fisiknya kambuh.


“Kita beri terapi perilaku buat mengekspresikan diri, manajemen emosi, memberi pemahaman kepada keluarga, dan meyakinkan spritualitas mereka,” kata dr. Fidiansjah.

Karena sakit pikiran memiliki efek ganda, usahakan menghindari stres. Karena jika mengalaminya, kita bisa mendapatkan dua kesakitan sekaligus.

Baca juga artikel terkait PSIKOLOGI atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - adi/msh)

Keyword