Benarkah Sering Konsumsi Keju Sebabkan Sakit Jantung?

Oleh: Tony Firman - 14 September 2018
Dibaca Normal 3 menit
Temuan ilmuwan: konsumsi keju dan produk susu lainnya setiap hari justru menyehatkan jantung.
tirto.id - Bagi para penikmatnya, keju sangat digemari karena cita rasanya yang khas nan lezat. Keju bisa dikonsumsi secara tunggal atau dicampur dengan bahan makanan lainnya sebagai topping pelengkap. Ada banyak sekali produk kuliner yang dijajakan secara khusus dengan sajian keju, dari bakso keju, pisang keju, hingga ayam keju.

Meski begitu, keju dinilai tak selalu menyehatkan. Kandungan lemak jenuh dalam keju dianggap dapat memicu serangan jantung, stroke dan penyakit kardiovaskular lainnya. Pandangan ini sedikit banyak menghantui baik para penikmat keju maupun mereka yang awam.

Namun, sejumlah penelitian terbaru mungkin bisa menenangkan hati penikmat keju. Pasalnya, berbagai hasil penelitian tersebut meruntuhkan anggapan bahwa keju membahayakan kesehatan jantung.

Dalam "Serial measures of circulating biomarkers of dairy fat and total and cause-specific mortality in older adults: the Cardiovascular Health Study" (2018) yang diterbitkan di The American Journal of Clinical Nutrition, Marcia C. de Oliveira Otto dkk meneliti 2.907 orang dewasa berumur 65 tahun ke atas selama 22 tahun. Mereka semua awalnya tidak memiliki penyakit kardiovaskular.

Otto dkk awalnya mempelajari konsentrasi asam lemak dalam plasma ribuan subjek penelitian mereka. Ketika penelitian berakhir, hampir 2.428 orang responden sudah meninggal dunia.

Dari ribuan kasus kematian tersebut, sebanyak 833 meninggal karena penyakit kardiovaskular. Ketika dicek hasil pengamatan asam lemak, peneliti menyimpulkan mereka yang punya tingkat asam lemak tinggi justru punya risiko kematian akibat penyakit stroke yang lebih rendah.

Selain temuan bahwa asam lemak tinggi ternyata tidak berhubungan langsung dengan kematian, studi Otto dkk juga menunjukkan bahwa asam lemak yang dapat ditemukan dalam susu dan produk olahannya justru dapat menurunkan resiko kematian akibat stroke.



"Temuan kami tidak hanya mendukung, tetapi juga secara signifikan memperkuat banyak bukti yang menunjukkan bahwa lemak susu tidak meningkatkan risiko penyakit jantung atau kematian pada orang dewasa dan lansia," kata Marcia Otto dilansir dari The Independent.

Infografik Mitos Keju bikin sakit jantung

Mitos Keju Penyebab Sakit Jantung

Dalam artikel berjudul "Cheese consumption and risk of cardiovascular disease: a meta-analysis of prospective studies" yang diterbitkan di European Journal of Nutrition, Guo-Chong Chen dkk menunjukkan sejumlah kandungan keju yang bermanfaat seperti kalsium, protein dan probiotik. Dalam artikel itu, disebutkan bahwa orang-orang yang mengonsumsi sedikit keju tiap harinya justru memiliki peluang terserang penyakit jantung atau stroke yang lebih kecil dibanding mereka yang tak rutin konsumsi keju.

Studi Guo Chong dkk adalah penelitian gabungan oleh para ilmuwan Cina dan Belanda. Keduanya menggabungkan dan menganalisis data dari 15 penelitian observasional yang melibatkan lebih dari 200.000 orang responden.

Hasil penelitian tersebut mengundang komentar dari Allan Stewart, direktur bedah aorta di Ichan School of Medicine di Mount Sinai Medical Center. Ia memperingatkan bahwa bukan berarti melahap keju dalam jumlah banyak itu baik. Dilansir dari Time, Stewart mencontohkan bahwa orang-orang yang punya risiko penyakit jantung rendah mengonsumsi rata-rata sekitar 40 gram keju per hari. Stewart berharap studi lanjutan bisa menguraikan jenis keju apa saja yang sebenarnya mengandung lebih banyak risiko serta jenis keju mana pula yang manfaat kesehatannya lebih besar.

Analisis serupa baru-baru ini juga dirilis oleh Mahshid Dehghan dkk. Dalam "Association of dairy intake with cardiovascular disease and mortality in 21 countries from five continents (PURE): a prospective cohort study" yang diterbitkan di The Lancet pada 11 September 2018, Dehghan dkk menguji klaim bahwa produk susu rendah lemak lebih baik dari susu berlemak jenuh.

Penelitian tersebut melibatkan 136.384 responden berusia 35 sampai 70 tahun yang tersebar di 21 negara, terutama yang berpenghasilan rendah dan menengah di mana asupan susu harian cenderung rendah.



Asupan makanan (termasuk konsumsi susu) dan riwayat tidak punya penyakit kardiovaskular dari para responden dicatat pada awal dimulainya penelitian. Para responden diteliti kembali sembilan tahun kemudian. Selama rentang waktu ini, ada 6.796 kematian dan 5.855 diantaranya disebabkan oleh penyakit kardiovaskular.

Dari data tersebut, didapati bahwa dibanding orang yang tidak mengonsumsi susu, mereka yang mengonsumsi rata-rata 2,9 porsi susu berlemak per hari memiliki tingkat kematian yang lebih rendah (3,3 persen dibandingkan 4,4 persen). Mereka juga memiliki tingkat penyakit kardiovaskular yang lebih rendah (3,7 persen versus 5,0 persen) dibandingkan dengan mereka yang mengonsumsi kurang dari 0,5 porsi susu per hari.

"Temuan kami mendukung bahwa konsumsi produk susu berlemak mungkin bermanfaat untuk menekan kematian dan penyakit kardiovaskular, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah di mana konsumsi susu jauh lebih rendah daripada di Amerika Utara atau Eropa," kata Mahshid Dehghan dilansir dari EurekAlert.

Namun Dehghan juga tidak menganjurkan konsumsi produk susu dalam jumlah yang besar untuk tujuan mencegah penyakit kardiovaskular. Menurutnya, overnutrisi sama bermasalahnya dengan kekurangan nutrisi. Mengonsumsi produk susu secara berlebihan bisa jadi justru meningkatkan risiko obesitas dan segudang penyakit baru.

Penyakit kardiovaskular yang meliputi stroke dan jantung koroner adalah penyumbang kematian terbesar di seluruh dunia. Data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyebutkan, sekitar 610.000 orang meninggal karena penyakit jantung di Amerika Serikat setiap tahunnya. Artinya 1 dari 4 kematian di AS disebabkan oleh penyakit jantung.

Di Indonesia sendiri, penyakit jantung koroner menjadi penyebab kematian tertinggi di semua umur setelah stroke, menurut survei Sample Registration System (SRS) pada 2014, dikutip dari Departemen Kesehatan.

Sedangkan salah satu pemicu penyakit kardiovaskular adalah lemak jenuh yang banyak terkandung dalam produk susu. Karenanya, banyak beredar produk susu dengan embel-embel rendah lemak.



Namun, dengan berbagai penelitian yang justru menunjukkan bahwa konsumsi produk susu termasuk keju justru bagus untuk menekan penyakit kardiovaskular, muncul pula dorongan untuk meriset beberapa kandungan dalam susu yang mungkin bermanfaat untuk kesehatan kardiovaskular.

Sejauh ini, produk susu mengandung segudang senyawa bermanfaat, misalnya asam amino khusus, lemak tak jenuh, vitamin K1 dan K2, kalsium, magnesium, kalium, dan probiotik.

Sebagai produk olahan susu, keju sudah dinikmati oleh manusia selama ribuan tahun. Keju sudah muncul dalam catatan orang-orang Sumeria kuno pada 4000 SM, sementara di Mesir kuno ada sejak 2300 SM. Dikutip dari Forbes, beberapa ahli memperkirakan bahwa keju kemungkinan tercipta karena secara tak sengaja saat disimpan di dalam rumen (kulit lambung domba atau kambing) dan kemudian mengental bersama enzim yang terdapat di lapisan rumen.

Yang lain berspekulasi bahwa keju ditemukan ketika susu ditaburi asam dari buah-buahan. Dua proses ini memang menyebabkan susu menjadi kental sehingga tak mudah rusak.

Ribuan tahun berlalu sampai detik ini, keju tetap digemari oleh banyak orang terutama di negara-negara Barat. Ada ratusan jenis keju yang beredar saat ini, mulai dari keju Asiago, keju Cheedar, keju biru, keju krim, keju Feta, keju kambing, keju Swiss, hingga keju vegetarian. Di Perancis, negeri yang konon punya jenis keju terbanyak di dunia, Presiden de Gaulle pernah mengeluh pada 1962 : "Bayangkan betapa pusingnya Anda memimpin negeri yang punya 246 variasi keju?"



Dari semua varian keju ini, mana yang benar-benar baik untuk kesehatan jantung? Penelitian-penelitian selanjutnya nampaknya penting untuk menjawab pertanyaan ini.

Baca juga artikel terkait PENYAKIT JANTUNG atau tulisan menarik lainnya Tony Firman
(tirto.id - Kesehatan)


Penulis: Tony Firman
Editor: Windu Jusuf