Serangan Jantung Yang Tak Pandang Bulu

Michael Prabawa Mohede atau yang terkenal dengan Mike Idol meninggal dunia di usia 32 tahun karena serangan jantung. [ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal]
Oleh: Aqwam Fiazmi Hanifan - 1 Agustus 2016
Dibaca Normal 3 menit
Serangan jantung yang mematikan mengintai generasi muda. Penyakit ini sudah tak pandang bulu lagi. Ia sulit dideteksi hingga tiba-tiba si penderita tumbang.
tirto.id - Mike Mohede masih terlihat sehat pada Sabtu (30/7/2016). Ia sempat menjadi salah satu penyanyi yang mengisi acara perayaan 40 tahun pernikahan mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Mengenakan jas berwarna hitam, Mike Mohede melantunkan tembang lawas Juwita Malam dengan suaranya yang merdu. Penampilannya masih prima.

Minggu (31/7/2016), Mike masih beraktivitas seperti biasa. Pemenang kontes Indonesian Idol 2005 itu bahkan sempat main Play Station bersama manajernya. Sore hari, Mike ditemukan tertidur dengan bibir yang membiru. Ia sudah tidak sadarkan diri ketika dibawa ke Rumah Sakit Bintaro, Jakarta Selatan. Dokter menyatakan Mike sudah meninggal dunia setengah jam sebelum sampai di rumah sakit. Mike meninggal di usia ke-32 akibat serangan jantung.

Mike bukan satu-satunya anak muda yang meninggal karena serangan jantung. Para akhir Mei lalu, artis muda Irene Justine juga mendadak meninggal akibat serangan jantung. Irene juga terlihat sehat. Dengan riang, dia tertawa terbahak-bahak dan aktif mengikuti arahan pembawa acara Denny Cagur dalam taping kuis Baper yang tayang di RCTI pada 26 Mei 2016.

Tiba-tiba saja, Irene yang berdiri diapit peserta lainnya jatuh ambruk layaknya pohon dihembus badai. “Jatuhnya ke depan kayak pohon tumbang. Kaku banget, enggak kayak orang yang pingsan,” ucap Indah Rahadjo, teman Irene yang juga jadi peserta kuis.

Selang beberapa jam kemudian, Irena dinyatakan meninggal dunia. Diagnosis dokter menyebutkan Irene terkena serangan jantung. Banyak orang awam tak percaya dengan pernyataan dokter, mengingat secara usia, umur dara kelahiran Bandung ini relatif muda, baru 22 tahun.

Di samping itu, pola hidup Irene pun terlihat sangat sehat. Dari akun media sosialnya, Irene terlihat rutin fitness di pusat kebugaran. Ragam hidup ini yang membuat postur tubuhnya tetap terjaga, tetap kurus tinggi langsing dengan perut sixpack layaknya seorang atlet. Dari kondisi fisik ini kita bisa memastikan bahwa kadar kolesterol dan lemak darah di tubuh Irene masih dalam batas normal.

Jauh sebelum kasus Irene, ada Adjie Masaid yang juga meninggal secara mendadak. Sebabnya sama yakni serangan jantung. Adjie meninggal beberapa jam usai bermain bola di Stadion Lebak Bulus.

Ketika meninggal usianya menginjak 43 tahun. Meski relatif tak terlalu muda, tetapi kasus yang menimpa Adjie ini adalah ironi karena dia dikenal pribadi yang sehat. Tubuhnya proporsional karena rutin berolahraga. Diapun pemilih ketat dalam soal asupan konsumsi makanan.

Ada pula putra Menteri Kelautan dan Perikanan RI Susi Pudjiastuti, Panji Hilmansyah yang meninggal secara mendadak. Panji yang baru berusia 31 tahun meninggal dalam tidur. Keluarga menduga Panji mengalami gagal jantung. Namun, ada pula yang menyebut Panji terkena serangan jantung.

Cerita-cerita di atas adalah ultimatum bagi kaum muda sekarang untuk mengantisipasi penyakit jantung yang bisa hinggap kapan saja.

Berdasarkan estimasi Kementerian Kesehatan tahun 2013, sebanyak 39 persen penderita jantung di Indonesia berusia 44 tahun ke bawah. Menariknya, 22 persen di antaranya berumur 15-35 tahun, yang merupakan masa fisik produktif dalam kehidupan manusia.

Jumlah penderita jantung tertinggi ada pada kelompok usia 45-65 tahun, dengan persentase 41 persen. Selisih yang tak berbeda jauh antara umur 45 ke bawah dan 45 ke atas jadi penegas bahwa tren risiko penyakit jantung datang pada usia muda semakin meningkat.

Faktor lain yang mesti diwaspadai adalah tingginya persentase pengidap jantung koroner di usia muda. Hampir 27 persen kasus jantung koroner di Indonesia terjadi pada kelompok usia 35 tahun ke bawah – dengan 12 persen di antaranya dialami orang 25 tahun ke bawah.

Mayoritas penderita penyakit jantung koroner disebabkan aliran darah ke jantungnya terhambat oleh lemak. Penimbunan lemak di dalam arteri jantung ini dikenal dengan istilah aterosklerosis dan merupakan penyebab utama penyakit jantung koroner.

Selain dapat mengurangi suplai darah ke jantung, aterosklerosis juga dapat menyebabkan terbentuknya trombosis atau penggumpalan darah. Jika ini terjadi, aliran darah ke jantung terblokir sepenuhnya dan serangan jantung pun terjadi. Faktor pemicu aterosklerosis meliputi kolesterol yang tinggi, merokok, diabetes, serta tekanan darah tinggi.



Tingginya angka jantung koroner tak lepas dari angka obesitas pada kelompok di bawah 30 tahun yang juga meningkat. Diperkirakan 30 persen orang di bawah 30 tahun di Indonesia mengalami kegemukan. Tingginya angka obesitas berdampak ancaman penyakit kardiovaskular yang juga mengambung,

Hal ini diamini Direktur Rumah sakit Umum Daerah dr Pirngadi Medan, dr Amran Lubisini. Dia mengatakan kasus penyakit jantung saat ini terus meningkat dan justru sekarang yang diserang kalangan usia muda berumur 30-an. "Sementara kalau dulu dalam literatur kedokteran, biasanya risiko jantung menyerang usia 40 tahun untuk laki laki, sedang perempuan di atas 55 tahun," katanya.

Ia mengatakan penyebab usia muda terserang penyakit jantung ini di antaranya karena pola hidup, stres tinggi, lingkungan tidak sehat, dan pola makan salah yang berujung pada obesitas. “Kalau dibandingkan tahun 2012, jumlah penderita penyakit jantung saat ini meningkat sekitar 20 sampai 30 persen, dan mayoritas adalah anak muda,” katanya.

Menjaga asupan makanan dan mengontrol berat badan agar tetap ideal itu penting, tetapi bukan berarti anak muda bisa terbebas sepenuhnya dari ancaman serangan jantung, Terbukti dari kasus yang menimpa Irena dan Adji Masaid.

Sebuah statistik memaparkan kasus kematian yang menimpa olahragawan di Amerika Serikat. Sebanyaj 16 persen diantaranya adalah serangan jantung dadakan. Faktor penyebabnya adalah kardiomiopati hipertrofik, yakni otot jantung yang menebal dan cenderung kaku karena terlalu diforsir berlebihan. Banyak faktor yang menyebabkan hipertrofik, tetapi yang lebih sering terjadi karena diakibatkan faktor genetik.

Jika memiliki orang tua atau keluarga terdekat yang mengidap jantung kita harus sedikit waspada. Karena itulah pentingnya memeriksakan kesehatan jantung sejak dini. Meski masih berusia muda, jangan segan melakukan medical check-up ke dokter.

Di luar itu, seseorang yang terlihat sehat tidak bisa diartikan dia 100 persen sehat total. Stres yang berlebihan juga bisa jadi penyebab serangan jantung dadakan. Stres yang sangat mendadak dan cukup berat dalam waktu singkat itu bisa menyebabkan banyak hal yang terjadi dan mengganggu sistem-tubuh terutama pembuluh darah dan menyebabkan hipertensi.

Baca juga artikel terkait JANTUNG atau tulisan menarik lainnya Aqwam Fiazmi Hanifan
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Aqwam Fiazmi Hanifan
Penulis: Aqwam Fiazmi Hanifan
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight