Assassin, Pasukan Teror dari Lembah Alamut

Oleh: Tony Firman - 5 April 2021
Dibaca Normal 4 menit
Kaum Assassin bermula dari sebuah kelompok keagamaan yang berpusat di Lembah Alamut, Persia. Dikenal sebagai kelompok teroris pada Abad Pertengahan.
tirto.id - Lagi-lagi, publik Indonesia dikejutkan oleh aksi teror bom bunuh diri di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Aksi teror yang menarget Gereja Katedral Makassar itu terjadi pada Minggu (28/9/2020) pukul 10.28 WITA. Setidaknya 19 orang jadi korban peristiwa itu, sementara dua terduga pelaku bom bunuh diri tewas seketika.

Sejak Reformasi 1998, aksi bom bunuh diri terus berulang. Bom Bali I pada 2002 silam yang menewaskan 202 orang tercatat merupakan aksi bom bunuh diri pertama dalam sejarah Indonesia modern. Sejak tragedi itu sampai Bom Katedral Makassar, setidaknya ada 12 aksi bom bunuh diri yang telah terjadi dengan target beragam, seperti hotel, tempat hiburan, kedutaan asing, gereja hingga masjid di lingkungan kepolisian.

Bom bunuh diri barangkali telah menjadi salah satu metode yang jamak dijumpai dalam terorisme kiwari. Jika merunut sejarah, aksi teror semacam itu sebenarnya bukanlah fenomena baru. Pada abad ke-11 sampai 13 silam, kelompok yang digambarkan kerap melakukannya dan menciptakan teror bagi musuhnya adalah kelompok Assassin.

Kelompok Assassin semula tumbuh di wilayah Alamut di Persia—kini Iran. Para Assassin kerap dianggap sebagai militan yang sangat patuh pada pemimpin dan siap menjalankan misi pembunuhan terhadap musuh-musuhnya. Ketika berhasil menjalankan misi pembunuhan, mereka sadar tidak akan bisa lepas begitu saja karena segera ditangkap dan kemudian dibunuh atau disiksa sampai mati. Bagi para militan ini, usaha meloloskan diri adalah suatu perbuatan memalukan.

Menurut Salam Abdulqadir Abdulrahman—peneliti politik dari University of Human Development Irak, kelompok Assassin dan pengebom bunuh diri modern memiliki satu titik persamaan. Abdulrahman dalam artikel ilmiah "The Assassins: Ancestors of Modern Muslim Suicide Bombers?" (2016) menyebut, keduanya sama-sama diyakinkan bahwa aksinya itu diganjar surga setelah kematian. Para Assassin menginginkan kematian untuk dirinya sendiri ketika menjalankan misi.

Assassin memilih target operasi pembunuhan dengan spesifik. Seringkali dari kalangan elite, misalnya sultan, panglima militer, tokoh masyarakat, hakim, hingga para penentang dan penghasut. Meski para Assassin memiliki persenjataan lengkap, seperti busur dan panah, pedang, dan lainnya, senjata andalan mereka untuk membunuh adalah belati.

Inilah yang membedakan Assassin dari para pengebom bunuh diri saat ini. Pengebom bunuh diri memakai bahan peledak di tubuhnya dan meledakkannya di kerumunan orang untuk memaksimalkan jumlah korban.

Kemunculan Assassin

Assassin yang dimaksud adalah kelompok militan dari Nizari Ismaili—bagian dari Syiah Ismailiyah—yang eksis pada kurun 1090-1275. Eksistensi mereka hancur saat Mongol menginvasi Persia.

Kelompok Nizari Ismaili bermarkas di Puri Alamut yang berlokasi di Pegunungan Elburz, Iran bagian utara. Kelompok ini didirikan oleh Hassan al-Sabbah asal Qom, Iran. Dia adalah teolog sekaligus imam kelompok Nizari Ismaili sampai kematiannya pada 1124.

Bernard Lewis dalam bukunya Assasin: Kaum Pembunuh dari Lembah Alamut (2009) menyebut, Hassan menguasai puri berbenteng itu dengan metode dakwah. Sebeum itu, dia sudah membangun basis pengikut di sekitar Alamut. Kala pengaruhnya cukup kuat, Hassan menyuruh pemilik puri itu pergi dengan memberinya uang sebesar 3.000 dinar—nominal yang cukup besar pada masa itu.

Sejak 1090, Hassan menjadi penguasa atas puri yang sebelumnya masuk dalam wilayah Kesultanan Seljuq yang berhaluan Sunni. Pasukan Hassan kemudian merebut puri-puri lain di sekitarnya dan membentuk semacam “negara” kecil Nizari Ismaili.

Seturut catatan sejarawan Persia era Mongol Rasyiduddin, Hassan menghabiskan sisa hidupnya di Puri Alamut dengan membaca buku, menulis risalah dakwah, serta menjalankan pola hidup zuhud dan saleh.

Sementara itu, dalam kronik yang ditulis Kaisar Romawi Suci Frederick Barbarossa saat melawat ke Mesir dan Suriah pada 1175, para pengikut Hassan dibaiat sejak belia, tidak pernah melihat orang lain selain gurunya, dan diajarkan untuk mematuhi perkataan dan perintah pemimpinnya. Ganjaran kenikmatan surga dijanjikan sambil ditekankan bahwa mereka tidak akan mampu menyelamatkan diri jika berani menolak.

Uskup Agung William dari Tirus beberapa tahun kemudian juga mencatat, kelompok Assassin saat itu setidaknya berjumlah 60 ribuan orang. Pernah suatu ketika di hadapan beberapa utusan Sultan Seljuk, Hassan mengangguk kepada seorang fidai—orang yang bersedia mengorbankan diri—dan direspon dengan gorokan ke leher sendiri.

Lalu, Hassan memilih dua pengikutnya dan memerintahkan mereka lompat dari atas puri. Dengan kepatuhan tiada banding, kedua orang itu melompat dan mati. Hassan lantas memberi tahu utusan Seljuk itu bahwa masih banyak pengikutnya yang bersedia melakukan hal serupa.

Meski begitu, Hassan sadar belaka kekuatannya jauh lebih kecil dibanding imperium-imperium besar yang mengelilinginya. Oleh karena itu, para militan Nizari Ismaili mengandalkan metode perang gerilya, spionase, infiltrasi, dan pembunuhan yang menargetkan pemimpin musuh.

Salah satu korban kelompok ini yang terkenal adalah Nizam al-Mulk. Perdana Menteri Kesultanan Seljuk itu tewas ditikam seorang militan yang menyamar sebagai sufi pada 1092. Sejak itu, kelompok militan Nizari Ismaili makin diperhitungkan dan membuat banyak pemimpin-pemimpin musuhnya mengencangkan pengamanan pribadi.

Infografik Assassin
Infografik Assassin. tirto.id/Quita

Menikam Crusaders

Pada April 1192, setelah belati kaum Nizari Ismaili menumbangkan sejumlah pangeran dan pejabat muslim, giliran Tentara Salib yang jadi sasarannya. Kala itu, bangsawan Italia dan komandan crusader Conrad of Montferrat tengah mempersiapkan penobatannya sebagai Raja Yerusalem di Tirus. Di saat berjalan menyusuri jalan sempit di kota, dia disergap dua orang militan dan ditikam hingga tewas.

Pembunuhan tersebut meninggalkan kesan mendalam di benak para crusader dan Conrad of Montferrat bukanlah korban terakhir. Sejumlah besar kronik Eropa dari Abad Pertengahan hampir selalu mengidentifikasi kelompok Nizari Ismaili sebagai aliran yang menakutkan, pemimpinnya dituduh punya kekuatan sihir, pemakan babi, menikahi saudara perempuan, dan prasangka buruk lainnya.

Berbagai catatan tentang gaya hidup kaum Nizari Ismaili itu perlu dibaca dengan skeptis karena mencampurkan pujian, ejekan, dan cerita yang dilebih-lebihkan. Pada Abad Pertengahan itu, kelompok Nizari Ismaili perlahan mendapat julukan legendaris: Assassin.

Sebutan Assassin kemudian jadi makin lazim dalam bahasa-bahasa Eropa. Ia digunakan untuk menyebut orang-orang yang melakukan pembunuhan untuk tujuan politik atau uang. Sebutan ini ditengarai sebagai cara untuk mendiskreditkan kelompok Nizari Ismaili.

Menurut ahli bahasa dan orientalis asal Prancis Silvestre de Sacy, istilah Assassin dalam literatur Eropa berasal dari kata Arab hashishiyyin (jamak) atau hashish (tunggal) yang berarti ganja atau bisa juga untuk menyebut pemakai ganja. Meski begitu, menurut Lewis, belum ada literatur Arab yang bisa mengonfirmasi keterkaitan antara sekte Nizari Ismaili dan pemakaian ganja. Inilah tengara bahwa julukan itu sebenarnya bernada ejekan.

Perlu dipertimbangkan pula bahwa sebagian besar informasi tentang Nizari Ismaili yang mencapai Eropa pada Abad Pertengahan berasal dari dua sumber yang sama-sama memusuhi kelompok ini, yaitu muslim Sunni dan crusaders.

Tidak semua sumber itu salah, tapi cerita soal penggunaan ganja di kalangan militan Nizari tidak didukung oleh sumber-sumber langsung dari para pengarang Ismailiyah atau bahkan dari para pengarang Sunni. Pembunuhan politik yang mereka lakukan pun sebenarnya tidak unik lantaran pihak Sunni dan crusaders juga melakukannya.

Sejak pertengahan abad ke-19, kaum Assassin dengan aksinya yang melegenda itu menghilang dari catatan sejarah. Radio publik internasional The World mencatat, kelompok Nizari Ismaili modern setidaknya memiliki 15 juta pengikut.

Kepemimpinannya kini dipegang oleh Pangeran Karim Aga Khan IV yang mengaku masih keturunan Nabi Muhammad. Sosoknya jauh dari anggapan lawas tentang pemimpin sekte yang menakutkan. Aga Khan IV adalah seorang miliarder, sekuler, sekaligus filantropis yang suka membangun kampus-kampus di tempat terpencil.

Baca juga artikel terkait TERORISME atau tulisan menarik lainnya Tony Firman
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Tony Firman
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
DarkLight