Asal Usul Jalan Lembong

Oleh: Petrik Matanasi - 9 Juli 2016
Dibaca Normal 6 menit
Dibanding Sudirman yang Panglima Gerilya dan Nasution yang pakar gerilya, nama Adolf Lembong kalah terkenal. Padahal, Lembong merupakan salah satu gerilyawan Indonesia yang paling gemilang. Lembong tak jago kandang karena pernah gerilya di Filipina ini, tak sempat bergerilya di Indonesia meski dia pernah ikut berjuang di pihak Indonesia.
tirto.id - Kuba dan Argentina boleh bangga dengan Che Guevara. Dia bergerilya di dua negara. Indonesia sebetulnya punya sosok semacam Che. Jika membaca buku sejarah Indonesia, ada Adolf Lembong yang hanya dikenal sebagai korban keganasan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) pimpinan bekas Kapten Westerling di Bandung. Masyarakat Indonesia belum mengenalnya sebagai seorang gerilyawan.

Nama Lembong kini dikenang sebagai nama jalan di kota Bandung. Letaknya tak jauh dari Jalan Braga. Dulunya jalan itu bernama Oudhospital Weg (Bld: jalan rumah sakit lama). Selama ini, cerita Lembong sebelum terbunuh di Bandung tak terdengar sama sekali. Masyarakat hanya tahu: Lembong korban APRA Westerling.

Beruntung, Lembong pernah menulis laporan gerilyanya selama di Filipina. Laporan itu diketik dalam bahasa Inggris. Laporan itu belakangan diarsipkan oleh intel Belanda, Netherland Forces Intelligence Service (NEFIS). Arsip ini bisa ditemukan di Arsip Nasional Belanda di Amsterdam. Judulnya, Laporan kegiatan gerilya Adolf Lembong (Letnan Satu LGAF USAFFE) Agustus 1943 hingga April 1945.

Fredrik Willem, sejarawan Belanda yang melakukan riset tentang Kapten Westerling, membuka arsip tersebut tahun lalu. Selain laporan ini, NEFIS juga mengkliping artikel tentang Adolf Lembong yang ditulis Arsenio Lucson dengan judul Inside Indonesia. Artikel ini dimuat surat kabar Manila Times ediisi 15 November 1948.

Aksi gerilya Lembong di Filipina, bagi Arsenio tak jauh beda dengan kisah-kisah dalam film laga buatan Hollywood. Karena itu, Arsenio menuliskan secara singkat kisah gerilya Lembong di Filipina dan keberpihakannya kepada Republik Indonesia.
Bukan Jago Kandang

Sebelum Abdul Haris Nasution menulis Pokok-pokok Gerilya, bahkan sebelum Nasution sendiri terlibat perang gerilya, Lembong sudah terlibat dalam perang gerilya di Filipina melawan Tentara fasis Jepang. Lembong sebenarnya tak pernah berniat pergi ke Filipina. Namun, perang pasifik membawanya ke sana.

Sebelum jadi tawanan Jepang, Adolf Gustaaf Lembong adalah operator radio KNIL dengan nomor registrasi 41642. Lembong asal Minahasa. Bersama kawan-kawannya yang ikut ditawan, Lembong dijadikan heiho (pembantu tentara).

Mereka dikirim dengan kapal ke dekat medan pertempuran Pasifik. Beberapa hari dia di Rabaul lalu di Luzon, Filipina. Setelah terjalin kontak dengan gerilyawan Filipina, Lembong dan sesama heiho, mereka kabur dari kamp Jepang. Lembong dan kawan-kawannya lalu bertemu gerilyawan Filipina dan tentara Amerika.

“Jangan berkecil hati. Milikilah harapan dan terus berjalan, dan jangan bertanya ke mana kita akan pergi! Waktunya akan datang dan tujuan kita akan tercapai,” kata perwira Amerika itu dalam bahasa Inggris. Hanya Lembong yang paham bahasa Inggris di antara para pelarian itu.

Berkali-kali rombongan itu bertemu tentara Jepang. Namun, komandan Amerika itu tak mau mengambil risiko, dan mencari jalan aman sekaligus menghindari kontak senjata. Tak jarang, Lembong dan kawan-kawan gerilyanya ditolong oleh orang-orang Filipina. Selama bergerilya pernah juga Lembong menyamar sebagai penduduk lokal Filipina. Dia memasuki desa atau kota di mana tentara Jepang juga berkeliaran. Pernah Lembong mengaku sebagai penjaga kampung pada serdadu Jepang yang memeriksanya. Lembong juga pernah menyamar menjadi kondektur kereta api.

Dengan mata agak sipit dan kulit putihnya, Lembong sering dikira sebagai orang Jepang. Dia bahkan nyaris terbunuh karane dikira mata-mata Jepang. Kepada orang-orang Filipina yang ditemui, Lembong tak ragu untuk jujur soal identitasnya.

“Saya Adolf Lembong bekas tentara Belanda,” aku Lembong pada orang-orang Filipina. Dan Lembong mulai di kenal sebagian orang Filipina. Dalam kondisi terjepit, Lembong pernah dipercaya untuk memimpin sebuah regu gerilya untuk sementara waktu.

Nama Lembong mulai diperhitungkan para gerilyawan di Filipina setelah terlibat adu tembak dengan serdadu Jepang. Lembong ikut merobohkan serdadu Jepang dengan tembakan-tembakannya. Ini adalah kontak senjata pertama Lembong selama di Filipina. Setelah kejadian itu, dia dipercaya oleh komandan gerilya Tentara Amerika, Kapten Robert Lapham, dari Tentara Amerika keenam di Filipina.

Lapham lalu memberi pangkat Letnan Dua pada Lembong. Jabatannya adalah instruktur lalu merangkap perwira intelijen. Beberapa bulan kemudian, dia diangkat sebagai komandan Squadran 270. Pasukannya adalah orang-orang Minahasa yang ikut kabur bersamanya ditambah beberapa orang Filipina.

Suatu kali, Lembong dan pasukannya hanya berdiam di markas saja. Tak ada perintah menyergap Jepang atau perintah lainnya. Tak banyak pekerjaan yang dilakukan Lembong di sekitar markas gerilya. Dia merasa tak bisa berdiam diri. Tanpa menunggu lama lagi, Lembong memanggil anak buahnya.

Lembong berniat menyergap serdadu Jepang yang melintasi di jalan negara. Sembilan gerilyawan, yang kesemuanya orang Manado bekas KNIL, ikut bersamanya. Pada 6 Januari 1945 mereka berangkat ke jalan negara San Leon. Mereka tak langsung bertemu rombongan serdadu Jepang.

Malam itu, terlebih dahulu mereka mengepung gedung pusat makanan dan peralatan Jepang. Mereka cukup beruntung. Gedung itu tak dijaga tentara Jepang. Mereka ambil semua bahan pakaian dan makanan dari gudang dan membagikannya kepada orang-orang.

“Kemenangan untuk semua,” teriak Lembong dan kawan-kawan.

Esok harinya, pada 7 Januari, mereka beraksi lagi. Sebuah truk berisi serdadu-serdadu Jepang, mereka sergap. Sebanyak 27 serdadu Jepang terbunuh dalam penyergapan itu. Tak ada satupun korban pun di pihak Lembong. Mereka hanya bersepuluh. Esok paginya mereka terlibat pertempuran lagi, sebelum akhirnya kembali ke markas gerilya.

Orang-orang Manado yang terlibat dalam penyergapan truk itu antara lain Alexander Rawoeng, Jan Pelle, Marcus Taroreh, Marthin Sulu, Alexander Kewas, Albert Mondong, Hendrik Terok, Andries Pacasi ,dan William Tantang.

Setelah Squadron 270 dibubarkan, Lembong dapat promosi pada 22 Januari 1945. Pangkatnya naik jadi Letnan Satu. Dia ditempatkan di Batalyon Pertama Infanteri APO 6, di bawah komando letnan Kolonel Francis Corbin sebagai komandan batalyon.

“Aku menyebutnya Crack battalion karena batalyon ini selalu berani berhadapan langsung dalam posisi tembak tentara Jepang,” kata Lembong. Mereka terus bergerak bahkan maju meskipun ada tembakan senapan mesin, artileri juga sniper dari tentara Jepang.

Di Filipina, di masa-masa gerilya, Lembong bertemu jodohnya. Ia adalah seorang gerilyawan wanita Filipina yang sering membantu gerilyawan Minahasa. Asuncion Angel atau Cion namanya, asli Pangasinan, Filipina. Cion dinikahi Lembong 26 Oktober 1944. Belakangan, Cion setia menemani perjuangan Lembong, bahkan ikut pulang ke Indonesia.



Membebaskan Indonesia

Jelang menyerahnya Jepang, Lembong keluar dari kelompok gerilya di Filipina. Dia tetap ingat kampungnya di Amurang, Sulawesi Utara, yang masih di duduki Jepang. Lembong pun mengajukan proposal ke militer sekutu. Sekitar Juli 1945, Lembong mengusulkan sebuah penyusupan ke Sulawesi Utara.

“Jika aku jadi diterjunkan ke Minahasa dengan tujuan mengorganisasian kekuatan gerilya, aku akan mengambil beberapa orang dari beberapa distrik berbeda di Minahasa untuk ikut bergerilya bersamaku. Distrik-distrik itu adalah: Manado, Tondano, Tonsea, Tomohon, Kawangkoan dan lainnya,” usul Lembong.

Lembong berencana melibatkan kawan-kawan Manado eks KNIL yang ikut gerilya di Filipina. Mereka akan dimasukan dalam tim klandestin ke Sulawesi Utara untuk mengorganisir kekuatan gerilya anti Jepang. Dalam rencana Lembong, setelah daerah Minahasa dibebaskan, setelahnya adalah Gorontalo.

“Tim akan masuk ke Minahasa dengan tidak bersenjata dan disamarkan sebagai orang sipil biasa, orang-orangku setelah mendarat akan pergi ke kampung halaman untuk memantau situasi saat itu, menghubungi orang-orang sipil lain yang mau sukarela bergabung dengan gerilya KNL,” usulnya lagi.

Dalam usulannya, Lembong juga minta dibekali senjata api, radio, granat tangan dan logistik lainnya. Namun, rencana gerilya ini nampaknya tak terlaksana. Lembong segera bertemu dengan perwira KNIL di Filipina. Setelah melaporkan diri, dia jadi KNIL Belanda sebagai Letnan.

“Januari 1947, Belanda kembali ke Hindia dengan memboncengi pasukan sekutu Inggris, Lembong diperintahkan kembali ke Batavia,” tulis Arsenio Lucson dalam Inside Indonesia, yang dimuat di Manila Times 15 November 1948.

Hingga Juli 1947, Lembong masih sebagai Letnan KNIL. Lembong baru bergabung dengan Republik justru setelah beberapa wilayah Republik diduduki Tentara Belanda di bawah komando Letnan Jenderal Spoor dalam operasi produk yang oleh pihak Belanda disebut Aksi Polisionil pertama, dan pihak Indonesia menyebutnya Agresi Militer Belanda pertama.

“21 Juli 1947, ketika tentara Belanda melanggar Kesepakatan Linggarjati, menyerang wilayah Republik Indonesia, Lembong menyeberang dan melawan Agresor Belanda mempertahankan Ibu Pertiwi tanah airnya,” tulis Arsenio Lucson.

Paruh kedua tahun 1948, Arsenio, yang bekas gerilyawan Filipina dan belakangan pernah jadi walikota Manila itu, mengunjungi Lembong di Yogyakarta. Lembong sudah bergabung dengan militer Republik yang sudah bernama Tentara Nasional Indonesia (TNI).

“Sekarang, Adolf Lembong, salah satu Letnan gerilya Filipina, memegang komando sebuah Brigade Tentara Indoneisa, menanjak dari Kapten ke Mayor lalu ke Letnan Kolonel. Seperti Tentara Republik Indonesia yang lain, satuan-satuan seperti brigade berisikan anak-anak muda, veteran yang teruji dalam pertempuran sulit, ahli tehnik peperangan gerilya,” tulis Arsenio.

Pada Arsenio, Lembong mengaku sedih. TNI tak cukup senjata. Ada bermacam-macam senjata dari berbagai jenis yang dimiliki TNI. Mulai dari buatan Jepang, Inggris kadang Amerika. Diantaranya rampasan dari Tentara Belanda.

“Kami hanya tentara miskin. Tetapi jika Belanda menyerang kami, kami akan bertempur. Kami akan memecah dalam kelompok kecil. Tak ada komunikasi teratur, melakukan sabotase dan taktik bumi hangus. Kami akan membuat mereka merasakan apa yang Balatentara Jepang rasakan di Filipina,“ kata Lembong pada Arsenio.

Lembong sudah siap mempertaruhkan hidupnya untuk Indonesia. Dia sudah meninggalkan kehidupan mapan dan bergaji lumayan bagus sebagai Letnan KNIL.

Rupanya, Cion tak ketinggalan. Dia mau hidup susah sebagai gerilyawan lagi. Dia setia bersama Lembong di Yogya. Mereka sudah punya Adolf Lembong Junior. Ketika Cion ditanya apa yang akan dia lakukan jika Belanda menyerang dan perang pecah lagi, Cion punya jawaban yang heroik.

“Aku akan bersama suamiku ketika perang tiba, jika perlu aku harus jadi gerilyawan lagi,” jawab Cion.

Sialnya, Lembong punya kolega militer yang susah diatur macam Kahar Muzakkar. Sekitar September 1948, Kahar Muzakkar bahkan memerintahkan kompi Masud untuk menangkap Letnan Kolonel Lembong di Markas Brigade di sekitar Sayidan, Yogyakarta. Lembong dan stafnya dibawa penculik ke Klaten. Kapten Vintje Sumual pun bergerak membebaskan komandannya. Berkat campur-tangan Presiden Republik, Soekarno, ketegangan mereda. Lembong akhirnya dilepaskan.

Tanggal 28 November 1948, Lembong digantikan Joop Warouw sebagai Komandan Brigade. Lembong tak punya pasukan lagi. Dia ditempatkan sebagai perwira staf di Markas Besar Tentara. Sempat direncanakan Lembong akan dijadikan Atase militer Indonesia di Filipina, dengan Sam Ratulangi sebagai duta besarnya. Di Filipina, Lembong akan mengorganisir pembebasan Sulawesi Utara dari pendudukan tentara Belanda lewat Filipina.

Rencana itu tak kunjung terwujud. Pada 19 Desember 1948, tentara Belanda menyerang Yogyakarta yang menjadi ibukota Republik Indonesia. Para pejabat tinggi Republik termasuk Soekarno, Hatta, Agus Salim dan lainnya juga ditawan. Semula, Lembong yang tak punya komando pasukan juga ingin gerilya. Namun Vintje Sumul yang sudah jadi mayor menghalanginya.

“Kamu di sini saja. Tak perlu ikut kami mundur ke kampung,” kata Sumual.

“Kenapa saya tak boleh ikut? Kita ini tentara!”

“Sudahlah, ikuti saja saya punya nasehat,” paksa Sumual.

Lembong tak bisa apa-apa hari itu. Dia menuruti kata Sumual dan bertahan di dalam kota Yogyakarta. Suatu hari Lembong kena razia. Dia ditangkap dan ditawan di Ambarawa. Lembong baru bebas setelah perjanjian gencatan senjata Roem-Rojen.

Setelah Pengembalian Kedaulatan, Lembong gabung lagi ke TNI. Awal tahun 1950, Lembong ditugasi membangun pusat pendidikan militer di Bandung. Itulah kenapa pada pagi 23 Januari 1950 Lembong berangkat ke Markas Divisi Siliwangi di dekat jalan Braga Bandung.

Lembong, bersama Kapten Leo Kailalo, sedari pagi sudah ke dalam markas. Penjagaan di sana tidak kuat. Baik Lembong dan Leo, tak menduga adanya KNIL-KNIL yang mengamuk. Karena perang sudah lewat.

Tanpa diduga, KNIL-KNIL bersenjata api yang mengamuk itu sudah mengepung markas Divisi. Semua TNI yang mereka temui ditembaki hingga mati. Tak peduli bersenjata atau tidak. Desingan peluru di luar markas membuat Lembong dan Leo mencari tahu asal letusan senjata itu. Mereka berani ke luar karena tidak menduga ada KNIL-KNIL yang mengamuk.

Melihat ada seorang Letnan Kolonel TNI di depan mata, KNIL-KNIL yang mangamuk dan luar biasa benci pada TNI/APRIS, tentu serasa beroleh hewan buruan. Picu ditarik dan berondongan pelurunya membunuh Lembong dan Leo hingga bersimbah darah. Setelahnya, tanpa dosa, KNIL-KNIL itu kembali ke tangsinya lagi.

Belakangan, markas divisi Siliwangi belakangan jadi Museum Mandala Wangsit. Agar keganasan APRA Westerling, yang dicap profederalis itu tak dilupakan masyarakat, maka pemerintah Republik Indonesia menamakan jalan di depan Museum Mandala Wangsit itu sebagai Jalan Lembong.

Baca juga artikel terkait JALAN LEMBONG atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti