Aruna & Lidahnya: Sajian Mantap Khas Edwin dengan Bumbu Pas

Oleh: Aulia Adam - 30 September 2018
Dibaca Normal 4 menit
Ada baiknya, Anda jangan menonton dengan perut kosong.
tirto.id - Bayangkan seseorang yang dingin, selalu muram, dan misterius mendadak jadi kocak, bawel, dan hangat. Perubahan itu bisa jadi menyenangkan, atau mungkin bikin ngeri. Tergantung siapa yang merespons. Tapi, yang jelas perubahan karakter begitu pasti punya efek kejut.

Sensasi itu yang saya rasakan saat menonton Aruna & Lidahnya, film terbaru Edwin. Jika pribadi Edwin koheren dengan film-filmnya, maka kali ini ia memang tampil amat kontras.

Selalu ada kesan dingin, muram, dan misterius dalam film-film Edwin sebelumnya. Isu-isu yang ia pilih juga datang dari iklim gelap dan atmosfer getir. Misalnya, diskriminasi pada etnis Tionghoa di Indonesia dan represi militer dalam Babi Buta yang Ingin Terbang (2009), kapitalisme dalam Kara, Anak Sebatang Pohon (2005), atau menguliti kultur kekerasan dalam budaya patriarki lewat Posesif (2017).


Bukan berarti ia tak pernah menyelipkan humor dalam karya-karya bernas itu. Hanya saja, bungkusannya selalu gelap dan pahit. Jenis-jenis kelakar yang bikin kita tertawa-meleceh, bukan tersenyum malu-malu seperti ketika merasa ada kupu-kupu yang terbang dalam perut.

Aruna & Lidahnya jadi anomali karya Edwin tersebut. Tak dinyana, ia juga jago meracik film komedi romantis yang bikin hati hangat. Lebih spesial, karena Edwin menyajikannya dengan bumbu-bumbu khas tangan dinginnya—membuat film ini bukan jadi romcom biasa.

Bumbu pertama yang paling menonjol adalah karakter yang kokoh. Empat tokoh utamanya terbangun dengan motivasi jelas dan dirakit teliti.

Ada Aruna (Dian Sastrowardoyo), perempuan lajang usia 30-an sebagai protagonis utama; Bono (Nicholas Saputra), sahabat kental Aruna yang seorang chef; Nadezhda (Hannah Al Rashid) seorang penulis buku kuliner; dan Farizh (Oka Antara), kawan lama Aruna yang masih ditaksirnya. Mereka semua medioker belaka. Orang-orang dewasa di usia kepala tiga yang hidupnya dekat dengan penonton kelas pekerja—menengah ibukota.

Cara Edwin mendeskripsikan karakter-karakter ini amat rapi. Ia tak cuma bertumpu pada dialog-dialog atau cara para aktor menginterpretasikan karakter mereka. Edwin juga teliti merancang penampilan, kostum, dan tabiat-tabiat kecil empat karakter utama ini tanpa perlu dijelaskan panjang lebar lewat dialog.

Misalnya, lewat kemeja-kemeja warna-warni Bono yang khas jenama-jenama fast-fashion (H&M, Pull&Bear, Zara), kita bisa merasakan sifatnya yang simpel dan supel. Atau lewat kemeja-kemeja polosnya yang selalu berwarna muram: abu-abu, biru tua, abu-abu lagi, kita tahu kalau Farizh adalah orang yang kaku, masa bodoh, dan sedikit keras kepala ala-ala kebanyakan pria maskulin dalam budaya patriarki.

Bahkan, lewat dua potong adegan tidur Nadezhda yang selalu mengangkat kakinya ke atas dinding—yang cuma lewat sepintas lalu dan tak disenggol sebaris dialog penjelas apa pun—kita jadi paham mengapa penulis cantik itu tetap kurus meski doyan makan. Bicara tentang Nad, Hannah Al Rashid harus disebut khusus karena peformanya yang ciamik. Aktingnya jadi salah satu faktor paling kuat yang bikin film ini bagus. Dibanding Dian Sastro yang karakternya tak terlalu beda dengan Cinta dari AADC, Hannah lebih menunjukkan gradasi kemampuan akting yang variatif. Tapi, jangan salah. Aruna tetap tampil menggemaskan di film ini. Terutama karena teknik breaking the fourth wall yang dipakai Edwin. Unsur komedi film ini jadi lebih menonjol, persis teknik yang dipakai Ryan Reynolds dalam Deadpool (2016) dan Deadpool 2 (2018).



Pernak-pernik ini makin menguatkan empat karakter utama tersebut—yang sebenarnya lewat dialog-dialog mereka dan peforma para aktornya sudah amat kuat.

Chemistry Aruna, Bono, dan Nadezhda adalah pemikat utama film ini. Tingkah pola, cara mereka bercakap, menimpali, dan berinteraksi amat sangat natural. Nyaris seperti tak membaca naskah. Rasanya seperti menonton tiga orang kawan sedang makan di sebuah restoran, persis di meja sebelah Anda. Isi bincang-bincang mereka juga terkesan ngalur-ngidul, terdengar amat ringan, meski sebenarnya tidak juga. Persis percakapan sehari-hari.

Tentu saja perlu mata jeli untuk bisa menangkap peforma senatural itu. Emosi yang muncul selepas melihat cakap-cakap hangat ketiga sahabat itu mengingatkan saya pada emosi yang sama ketika menonton The Florida Project karya Sean Baker. Dalam film tentang perjuangan ibu muda-miskin membesarkan anak semata wayangnya itu, Baker menangkap terlalu banyak adegan Moone (si bocah karakter utama) yang nyaris seperti tak berakting. Caranya menyoraki helikopter, terjedut dinding, memaki Bobby (Willem Dafoe), atau terkejut ketika pria asing masuk ke kamar mandinya sangat amat meyakinkan. Film itu nyaris terasa seperti dokumenter, karena dialog dan peforma yang amat natural.



Aruna & Lidahnya memang tidak seperti dokumenter. Ia lebih terasa seperti acara kuliner di televisi (in a good way), dan para pengisi acara memang berdialog tanpa naskah. Seperti acara kuliner pula, semua makanan yang muncul dalam layar dijamin bikin produksi air liur bertambah banyak.

Selain dialog Aruna dan kawan-kawan yang jadi pencuri pertunjukan, cara Edwin mepresentasikan makanan-makanan khas Nusantara ini juga tak selow. Ada baiknya, Anda kenyang dulu sebelum pergi menonton. Sebab, tak ada yang lebih menyiksa ketimbang menonton film ini dengan perut keroncongan.

Infografik Misbar Aruna dan Lidahnya


Khas Edwin


Plot utama Aruna & Lidahnya sebenarnya bukan tentang makanan. Perjalanan ini bermula karena pekerjaan Aruna sebagai ahli wabah memaksanya menginvestigasi kasus flu burung yang sempat ramai di media. Kecintaannya pada memasak dan makanan, membuat Aruna melibatkan Bono dan Nad dalam perjalan ini. Farizh jadi efek kejut, karena muncul tiba-tiba saat perjalanan mau dimulai.

Ini membuat konflik Aruna & Lidahnya bukan cuma seputar makanan, tapi juga cinta, bahkan konspirasi. Jadi, dialog natural tadi—yang tercecer di sepanjang film—sebenarnya sama sekali tak ringan-ringan amat. Ada banyak diskusi yang diselipkan Edwin. Mulai dari korupsi sampai perkara reproduksi dan kontrasepsi.

Semangat menguliti budaya patriarki yang diskriminatif pada perempuan (pesan yang sering muncul dalam film-film Edwin) juga kuat diukir pada dua perempuan tokoh utama.


Aruna yang wataknya lebih konservatif dari Nad sempat punya adegan turun dari mobil kawan-kawannya untuk pindah ke mobil Farizh—tentu setelah disuruh laki-laki yang ditaksirnya itu. Di atas mobil, tempat Farizh pegang setir, Aruna sempat disuruh pakai sabuk pengaman, yang kemudian diturutinya lagi. Namun, diskusi mereka berubah panas ketika Farizh mulai masuk ke ranah privat Aruna tentang pekerjaannya. Aruna mulai mendebat, dan dalam gerakan tak sadar diri melepas lagi sabuk pengamannya—tanda kalau ia tak bisa diatur-atur, terutama tentang hal yang dia pahami lebih baik ketimbang orang lain.

Sikap protektif Farizh adalah apa yang ingin dikritik Edwin. Dalam adegan itu, ia ingin menggambarkan bahwa pria sering kali lancang bersikap protektif pada hal-hal yang bukan urusannya, bahkan meski tak diminta sekalipun. Sabuk pengaman juga jadi simbol, betapa Farizh yang sebenarnya tak punya relasi jelas dengan Aruna tetap ingin menguasai sang puan.

Adegan-adegan tersirat begitu ada banyak, khas Edwin yang memang terkenal dengan film-film penuh bahasa simbolik. Misalnya, petasan di mulut gadis Tionghoa yang diperankan Ladya Cheryl di film Babi Buta, atau ketombe dalam kopi dalam A Very Slow Breakfast, atau patung Ronald McDonald yang tiba-tiba jatuh dari langit menimpa sebuah gubuk di kaki gunung di film Kara, Anak Sebatang Pohon.

Bicara tentang patung Ronald yang jatuh, Aruna & Lidahnya juga punya adegan mirip, ketika burung yang sedang terbang tiba-tiba jatuh ke atap gubuk. Edwin memang tampaknya lebih eksploratif dan berani menyempilkan sekuen-sekuen absurd sebagai ciri khasnya dalam film ini, bila dibandingkan dengan Posesif, film komersil pertamanya.

Adegan-adegan mimpi Aruna jadi penandanya.

Tapi, yang paling bikin film ini istimewa sebenarnya adalah segmentasi umur tokoh-tokoh utamanya. Film-film Indonesia amat jarang merekam orang-orang sepantaran usia Aruna untuk dijadikan film-film komersial. Genre romcom Indonesia sering kali diisi cerita-cerita remaja atau orang-orang dewasa yang keremaja-remajaan. Sehingga konflik dan cara bertuturnya serupa belaka. Misalnya dialog-dialog gombal ala bocah Dilan, yang juga akhirnya diekor beberapa romcom teranyar macam Rompis (2018).



Aruna & Lidahnya jelas beda. Meskipun secara umur saya lebih dekat dengan Dilan atau Roman, tapi kelakar dan humor Aruna, Bono, Nad, dan Farizh lebih nyambung dan dekat dengan dunia nyata di sekitar saya. Dialog mereka bukan cuma natural, tapi nyata. Bumbu-bumbu romansanya pas, tidak berlebih. Bikin menonton petualangan Aruna dan kawan-kawannya jadi santapan yang gurih.

Baca juga artikel terkait FILM INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id - Film)


Penulis: Aulia Adam
Editor: Nuran Wibisono