Menuju konten utama

The Florida Project sebagai Kritik Atas Cara Mendidik Anak

Sekali lagi Sean Baker menunjukkan betapa ia memandang dunia dengan cara yang amat humanis.

The Florida Project sebagai Kritik Atas Cara Mendidik Anak
The Florida Project. FOTO/A24

tirto.id - Sean Baker adalah sutradara yang pada 2015 silam jadi perbincangan berkat film Tangerine yang pengambilan gambarnya cuma pakai tiga iPhone 5s. Tahun ini, ia kembali merilis film baru bertajuk The Florida Project—yang meski digarap dengan bujet lebih besar dan mengundang nama besar aktor macam Willem Dafoe—rupanya tetap jadi perbincangan dan dirayakan para kritikus.

Kisah yang disodorkan Baker masih di seputar masyarakat marjinal. Setelah mengangkat hidup transgender PSK dalam Tangerine, imigran ilegal dalam Take Out (2004), dan pedagang kaki lima dari Ghana dalam The Prince of Broadway (2008), Baker kali ini menyoroti kehidupan orang miskin pinggiran kota. Sosok yang dihadirkan seorang ibu muda yang jadi orangtua tunggal dari seorang putri berumur enam tahun.

Bocah itu bernama Moone (Brooklyn Prince), tinggal di sebuah motel ungu bernama Magic Castle, yang susah payah dicicili sang Ibu, Halley (Bria Vinaite), $35 per malam. Halley bekerja serabutan demi membayar uang sewa. Mulai dari pramusaji, jual parfum, sampai menjajakan diri. Yang terakhir itu susah payah dihindarinya, sampai akhirnya tak terelakkan lagi. Meski begitu, Halley tak pernah menunjukkan segala drama kemiskinan itu pada sang anak. Moone justru terlihat sangat bahagia sepanjang film.

Kritik pada Cara Mendidik Anak yang Berlebihan

Hubungan keduanya baik-baik saja, jika definisi ‘baik-baik saja’ hanyalah relasi saling mencintai. Tapi, jika indikator itu ditarik dari nilai-nilai norma sosial masyarakat tertentu, jawabannya bisa berbeda.

Mulut Halley tak pernah mengerem kata-kata kotor, meski Moone sedang bermain di sebelahnya. Bahkan, ketika Moone terbukti nakal beberapa kali—misalnya meludahi mobil orang lain—Halley tak pernah memarahi putrinya. Terkadang, Halley cuma mengulangi nasihat orang-orang yang menganggap Moone nakal dengan senyum mengejek. Alih-alih bersikap seperti orangtua pada umumnya, Halley justru hadir sebagai kawan Moone yang berusaha memaklumi dan tidak rewel melarang ini-itu. Caranya mendidik Halley memang beda.

Meski dengan keterbatasan ekonomi, Halley terbukti punya cara kreatif mendidik anak.

Hubungan Halley dan Moone tampil sebagai kritik Baker pada fenomena “Helicopter Parenting”—istilah untuk perhatian berlebihan orangtua (bisanyanya kelas menengah ke atas) pada anak-anak mereka. Sebagai orangtua tunggal yang miskin, tak seperti film bertema serupa lain, Halley justru tak hadir sebagai karakter dramatis yang ringan tangan, atau acuh pada perkembangan anaknya. Lewat karakter Halley, sutradara yang mengikuti pendidikan film di Universitas New York ini ingin menunjukkan bahwa cara menjadi orangtua tak pernah baku dan satu jalur belaka.

Sindiran itu kentara sekali ia tampilkan lewat helikopter-helikopter yang sesekali melintasi Magic Castle, dan disoraki Moone serta kawan-kawannya. Cara mendidik Halley yang kontras dengan helicopter parenting nyatanya tak bikin Moone kehilangan masa anak-anaknya.

Moone, sang tokoh utama, justru selalu ceria, tak jadi bocah miskin dramatis yang kehilangan akal untuk kreatif bermain sepanjang hari. Meski nakal dan pemberontak, Moone tak pernah sekali pun membantah sang ibu. Ia juga tak pernah merengek meminta sesuatu yang berlebihan. Moone cuma pernah sekali marah besar: ketika petugas dinas sosial mencoba memisahkannya dari Halley, yang karena ‘kemiskinannya’ dinilai tidak layak jadi orangtua.

Yang bikin The Florida Project istimewa adalah lakon para aktornya, terutama Moone. Semuanya tampil begitu natural, hingga di suatu titik penonton akan yakin kalau Moone, Halley, dan lingkungan mereka terlalu dokumenter-ish untuk disebut film lepas. Satu hal yang justru bagus. Bukti bahwa Baker, seperti dalam Tangerine, memang terbukti masih peka menangkap ekspresi otentik para aktornya. Satu-satunya hal yang bikin kita sadar, bahwa The Florida Project ialah film rekaan belaka adalah suasana kompleks motel yang nyaris adem-ayem belaka.

Baker memproyeksikannya tanpa preman, narkoba (kecuali cimeng), bully, atau kekerasan domestik. Sesuatu yang sesungguhnya sulit dilepas dari cerita kemiskinan di Amerika Serikat.

infografik florida project

Brooklynn Prince adalah Kunci

Secara sengaja, Baker menjabarkan The Florida Project lewat mata Moone. Sebagian besar sudut kamera nyaris selalu dibikin setara dengan pandangan sang bocah. Ia ingin membawa penonton — terutama mereka yang sudah dewasa —untuk lebih santai dan melihat masalah dengan sederhana. Persis bagaimana para bocah tak ambil pusing kerumitan orang dewasa.

Punya beban seberat itu, pilihan sineas yang bulan ini akan berusia 47 tahun ini jatuh pada aktor Brooklynn Prince sangatlah tepat. Penampilan Prince cemerlang dalam debut ini.

Entah Baker menangkap terlalu banyak adegan Moone yang nyaris seperti tak berakting, atau si bocah memang jago alang-kepalang, tapi rasanya susah memilih adegan terbaik Moone. Caranya menyoraki helikopter, terjedut dinding, memaki Bobby (Willem Dafoe), atau terkejut ketika pria asing masuk ke kamar mandinya sangat amat meyakinkan.

Dalam lima tahun terakhir, tak banyak aktor anak-anak yang mencuri perhatian. Dua yang paling menonjol adalah Jacob Tremblay yang menampilkan kualitas sandiwara bukan main dalam Room (2015), yang kemudian dilanjutkannya Before I Wake (2016), The Book of Henry (2017), dan Wonder (2017). Empat film itu punya genre dan tantangan berbeda, tapi Tremblay terbukti jago mengambil lampu sorot.

Aktor cilik lain adalah Iain Armitage, yang berhasil menarik perhatian lewat peran kecil di drama seri Big Little Lies, yang kemudian jadi portofolionya untuk dapat peran utama dalam Young Seldon—sebuah prekuel dari The Big Bang Theory.

Melihat kualitas Prince, rasanya The Florida Project jelas bukan film terakhir kita melihat karier aktingnya. Macam Tremblay dan Armitage, Prince cocok disejajarkan jadi aktor-aktor cilik yang karya-karyanya patut ditunggu.

Baca juga artikel terkait FILM KELUARGA atau tulisan lainnya dari Aulia Adam

tirto.id - Film
Reporter: Aulia Adam
Penulis: Aulia Adam
Editor: Windu Jusuf