Menuju konten utama

Aplikasi Investasi Saham dan Investor Pemula yang Berguguran

Sejak pandemi Covid-19, masyarakat banyak yang terperangkap ke dalam perdagangan saham paling berisiko.

Aplikasi Investasi Saham dan Investor Pemula yang Berguguran
Ilustrasi Investasi. FOTO/iStockphoto

tirto.id - "intraday (perdagangan harian atau day trading) merupakan ilmu pengetahuan tersendiri, selayaknya kimia atau astrologi, yang memiliki serangkaian prinsip yang telah diuji secara ketat," ujar Andy Borowitz, satiris The New Yorker sekaligus penulis The Trillionaire Next Door: The Greedy Investor's Guide to Day Trading (2000).

Menurut Borowitz, sebagaimana para dokter yang menghabiskan bertahun-tahun di Fakultas Kedokteran sebelum memiliki kemampuan melakukan operasi jantung, seseorang seharusnya juga belajar dulu aturan dan tata cara melakukan intraday. Jika tidak, maka hanya menghabiskan uang tabungan di internet dalam jual beli saham.

Sejak pandemi Covid-19, tak kurang dari 20 juta orang di seluruh dunia terjun untuk pertama kalinya menjadi pemain intraday. Mereka melakukan jual beli saham harian tanpa pengetahuan mumpuni dengan memanfaatkan aplikasi bernama Robinhood dan sejenisnya.

Aplikasi ini dibuat oleh imigran asal Bulgaria dan India bernama Vladimir Tenev dan Baiju Bhatt. Mereka mengaku "mereformasi keuangan untuk semua". Alasannya, misalnya, tak menarik komisi apapun dari masyarakat yang hendak melakukan jual beli saham dan uang/aset kripto serta menawarkan proses intraday yang mudah.

Masyarakat yang kebingungan karena terperangkap kebijakan lockdown, seperti dipaparkan Nathaniel Popper untuk The New York Times, akhirnya hampir semuanya terperangkap ke dalam perdagangan saham paling berisiko.

Dalam tiga bulan pertama pandemi berlangsung, pemain intraday zaman Covid-19 rata-rata memperdagangkan saham sembilan kali lebih banyak dibandingkan pemain saham biasa. Mereka juga membeli dan menjual 88 kali lebih banyak opsi-opsi paling berisiko dibandingkan pemain saham kawakan.

Padahal, merujuk studi yang dilakukan Brad M. Barber dalam "The Cross-Section of Speculator Skill: Evidence from Day Trading" (Journal of Financial Markets, 2014), "semakin sering investor memperdagangkan saham, semakin buruk kemungkinan pengembalian mereka dan pengembaliannya akan jauh lebih buruk ketika mereka terlibat dengan pilihan-pilihan berisiko."

Terlebih, jika investor tak hanya bermain saham, tetapi juga uang/aset kripto.

Di sisi lain, kehadiran jutaan investor zaman pandemi berhasil mengerek nilai pelbagai saham. Pada 2021 awal, nilai S&P 500, indeks yang terdiri dari saham 500 perusahaan dengan modal besar dan kebanyakan berasal dari Amerika Serikat, melonjak hingga 27 persen. Sedangkan Nasdaq mengalami kenaikan hingga 21 persen.

Hal ini menciptakan iklim yang menyenangkan untuk berinvestasi. Pelbagai perusahaan rintisan atau startup yang terjun ke pasar modal, melakukan aksi penawaran saham perdana (IPO) guna bertransformasi dari status sebagai perusahaan privat--yang dipompa uang melimpah kapital ventura (VC)--menjadi perusahaan publik.

Sejak 14 Juli 2021, Paytm (fintech, India), Nubank (fintech, Brazil), dLocal (fintech, Uruguay), Bukalapak (ecommerce, Indonesia), Grab (ride-hailing, Singapura), serta GoTo alias "Gojek dan Tokopedia" (ride-hailing & ecommerce, Indonesia), hadir di bursa saham untuk pertama kalinya guna menyapa para investor, termasuk investor baru zaman pandemi. Suatu fenomena yang sebetulnya menggelitik.

Becermin pada prospektus yang diterbitkan, khususnya Grab dan GoTo, ada beban yang terlampau tinggi dan menggembosi pendapatan, yang membuat saham-saham yang diterbitkan sangat berisiko, terlebih bagi investor baru.

Dalam prospektusnya Grab mengaku menghamburkan uang. Berturut-turut dari 2019, 2020, dan 2021, senilai $2,3 miliar (sekitar Rp33 triliun), $1,2 miliar (Rp17,2 triliun), serta $740 juta (Rp10,6 triliun). Ini adalah bentuk insentif/bonus/diskon yang diberikan kepada konsumen dan mitra untuk mendongkrak popularitas.

Sementara GoTo mengklaim menghabiskan uang senilai Rp4,4 triliun sepanjang 2021 sebagai bentuk promosi kepada konsumen. Tahun-tahun sebelumnya mereka juga menggelontorkan uang senilai Rp5,1 triliun pada 2020, Rp6,4 triliun pada 2019, dan Rp2,8 triliun pada 2018.

Tak hanya saham yang terkerek, tapi juga uang/aset kripto. Lewat aplikasi seperti Coinbase, sekeping Bitcoin yang bernilai di kisaran $7.000 sesaat sebelum Covid-19, meroket ke angka $67.566 per keping pada awal 2021.

Namun, sebagaimana diutarakan John Cassidy dalam The New Yorker, melejitnya saham-saham dan pelbagai uang/aset kripto itu hanyalah gelembung, epic bubble, yang diprediksi banyak analis, termasuk Jeremy Grantham (ahli ekonomi dari GMO Boston) dapat meledak seketika.

Memasuki tahun 2022, gelembung tersebut akhirnya pecah. Indeks saham S&P 500, misalnya, terjungkal hingga 8,3 persen.

Pelbagai saham startup yang mencoba peruntungannya di tengah pandemi pun akhirnya melempem. Hal ini salah satunya dimulai oleh kegagalan TerraUSD menjaga dirinya dari ketidakstabilan melalui tangan Luna--aset kripto saudaranya. Memaksa Bitcoin, misalnya, jatuh ke posisi $20.000 per keping usai berada di puncak posisinya, $67.566.

Situasi tak karuan ini hampir serupa dengan apa yang menimpa dunia pada akhir 1990-an/awal 2000-an. Banyak investor pemula zaman pandemi akhirnya mengalami kerugian besar.

Mereka tak hanya kehilangan tabungan, tetapi juga nyawa. Seperti yang dialami Alex Kearns, pemuda berusia 20 tahun asal Nebraska, AS, yang mengakhiri hidupnya gara-gara merugi dalam berinvestasi.

Namun, di tengah situasi seperti ini semangat berinvestasi seakan tak pudar. Tak hanya dari sisi masyarakat, tetapi juga dari penerbit aplikasi. Akhir Agustus 2022, aplikasi bernama Nanovest yang serupa Robinhood serta Coinbase, muncul untuk pertama kalinya di Indonesia dan mengklaim telah memiliki 650 ribu pengguna terdaftar.

Tak sekadar dapat melakukan jual beli saham yang ada di Bursa Efek Indonesia (BEI), Nanovest pun memungkinkan penggunanya untuk membeli saham luar negeri, khususnya AS, seperti Tesla atau Apple. Nanovest juga menjadi medium jual beli NanoByte (NBT) serta lebih dari 2.000 uang/aset kripto lainnya.

Billy Suryajaya, Direktur Operasional Nanovest menyebut bahwa musim dingin dunia kripto sebagai peristiwa yang "menyulitkan bagi siapapun, bukan hanya pelaku [investasi] dunia, tapi juga Indonesia."

Tak kan berakhir seperti misalnya Celsius dan Voyager yang mengajukan kebangkrutan ataupun Coinbase yang harus melakukan rasionalisasi perusahaan, Billy mengklaim bahwa Nanovest "mencoba tidak hanya [bertindak] sebagai exchange [platform jual beli] semata."

Selain gimik personalisasi digital berupa NanoAvatar, aplikasi ini juga mencoba merangkul para investor pemula dengan diiming-imingi syarat murah berinvestasi, hanya mulai dari Rp5.000.

Mereka, para investor pemula itu, adalah target pasar yang disebut Borowitz rawan merugi atas ketidaktahuan cara berinvestasi.

Baca juga artikel terkait INVESTASI SAHAM atau tulisan lainnya dari Ahmad Zaenudin

tirto.id - Teknologi
Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Irfan Teguh Pribadi