tirto.id - Vasektomi adalah prosedur bedah kecil untuk pria sebagai metode kontrasepsi jangka panjang dengan cara memotong dan menyegel saluran vas deferens (saluran kecil yang mengangkut sperma dari testis ke uretra) sehingga sperma tidak dapat bercampur dengan semen (air mani) dan mencegah kehamilan secara efektif.
Prosedur vasektomi umumnya dilakukan menggunakan bius lokal yang prosesnya sendiri hanya memakan waktu sekitar 15–30 menit, dan pasien dapat pulang pada hari yang sama tanpa perlu rawat inap. Setelah vasektomi, produksi hormon testosteron dan fungsi seksual (libido, ereksi, volume ejakulasi) tidak berubah, hanya saja semen tidak lagi mengandung sperma.
Tingkat kegagalan vasektomi sangat rendah, yakni kurang dari 1% setelah dua hingga tiga kali pemeriksaan semen negatif yang menjadikannya salah satu metode kontrasepsi paling efektif. Meskipun demikian, vasektomi tidak melindungi terhadap infeksi menular seksual (IMS), sehingga penggunaan kondom tetap dianjurkan jika memiliki hubungan dengan risiko IMS.
Selain tingkat kegagalan, risiko dari prosedur vasektomi juga termasuk rendah dengan tingkat komplikasi kurang dari 1% di mana umumnya, hanya berupa pembengkakan, memar, atau nyeri ringan yang membaik dalam beberapa hari hingga minggu. Kebanyakan pasien kembali beraktivitas ringan dalam 1–2 hari dan pulih sepenuhnya dalam 10 hari.
Setelah proses vasektomi, volume ejakulasi tidak berkurang secara signifikan karena cairan semen berasal dari kelenjar prostat dan vesikula seminalis, bukan dari sperma. Namun demikian, setelah prosedur, diperlukan proses menunggu (biasanya 8–12 minggu atau sampai 20 ejakulasi) dan minimal dua pemeriksaan semen (lebih dari 3 bulan pasca operasi) untuk memastikan tidak ada sperma tersisa sebelum sepenuhnya berhenti menggunakan metode kontrasepsi tambahan.
Apakah Vasektomi Bersifat Permanen?
Sebenarnya, secara teknis, vasektomi dirancang sebagai kontrasepsi permanen karena memutus jalur sperma dan kemungkinan tersambung kembalinya sangat rendah. CDC (Center for Desease Control and Prevention) juga menggolongkan vasektomi sebagai metode kontrasepsi permanen seperti halnya tubal sterilization (ligasi tuba) pada wanita, dan menekankan bahwa metode tersebut dibuat dengan tidak dimaksudkan untuk bisa dikembalikan lagi.
Namun bagi pria yang berubah pikiran, tersedia vasectomy reversal yang merupakan prosedur yang memerlukan mikroskop operasi untuk menyambung kembali vas deferens atau membuat bypass melalui epididymis jika terjadi sumbatan sekunder. Keberhasilan proses sperma kembali ke saluran yang seharusnya tersebut berkisar 80–97% apabila dilakukan dalam 10 tahun pertama setelah vasektomi, dan persentase penurunan terjadi sedikit demi sedikit seiring bertambahnya jarak dari proses vasektomi.
Walau demikian, karena vasektomi dari awal memang diatur sebagai kontrasepsi yang bersifat permanen, maka sangat penting untuk melakukan konsultasi matang terlebih dahulu dengan pasangan dan ahli kesehatan untuk memahami dampak yang akan dialami dalam jangka panjang, serta untuk mempertimbangkan memilih opsi kontrasepsi lain sebelum mengambil keputusan.
Apa Efek Samping Vasektomi?
Vsektomi sendiri tergolong aman, namun terdapat beberapa risiko atau efek samping yang terjadi pada sebagian orang yang menjalaninya, yaitu:
– Post-vasectomy pain syndrome (PVPS): kondisi nyeri kronis pada testis atau skrotum yang muncul pada 1–2% pasien. Penyebabnya belum sepenuhnya dipahami, namun dapat diatasi dengan terapi rutin, obat penghilang rasa sakit, atau pada kasus beratnya dengan melakukan tindakan bedah ulang.
– Sperm granuloma: gumpalan kecil (seukuran kacang) yang terbentuk akibat kebocoran sperma di ujung vas deferens. Biasanya tidak berbahaya dan akan terserap tubuh, namun dapat menimbulkan nyeri ringan.
Selain dua kondisi tersebut, terdapat beberapa efek samping lain yang terjadi setelah vasektomi di mana sebagian besar pasien merasakan nyeri ringan, mengalami pembengkakan atau memar di area skrotum selama beberapa hari hingga minggu. Beberapa orang juga mengalami rasa tidak nyaman di testis atau epididimis selama 2–12 minggu pertama, yang biasanya mereda dengan sendirinya.
Risiko perdarahan di lokasi sayatan juga kemungkinan terjadi namun relatif rendah dan biasanya dapat segera ditangani dengan penanganan medis sederhana. Selain itu, infeksi luka dari hasil operasi vasektomi jarang terjadi dan masih bisa dicegah dengan menjaga kebersihan dan mengikuti instruksi perawatan setelah operasi.
Penulis: Fajri Ramdhan
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id


































