Menuju konten utama

Apakah Ompreng MBG Produksi Cina & SNI Dipalsukan? Ini Kata BGN

Food tray atau ompreng MBG diisukan diproduksi di China dan dengan label SNI yang dipalsukan, simak kata BGN di sini.

Apakah Ompreng MBG Produksi Cina & SNI Dipalsukan? Ini Kata BGN
Petugas menyiapkan paket makanan bergizi gratis di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kamalaputi Sumba Timur 2, Kota Waingapu, NTT, Jumat (18/7/2025). ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/rwa.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Dugaan food tray atau ompreng program Makan Bergizi Gratis (MBG) diproduksi di Cina dan memuat label SNI yang palsu beredar di internet. Menanggapi isu ini, Badan Gizi Nasional (BGN) memberikan komentar.

Dugaan adanya penipuan label "Made in Indonesia" dan SNI pada ompreng MBG yang tengah beredar di media sosial didasari oleh laporan investigasi Indonesia Business Post yang dirilis Senin (25/8/2025).

Dalam laporan itu, IBP menemukan temuan bahwa sejumlah ompreng yang digunakan di Indonesia dan berlabel "Made in Indonesia" ternyata dibuat di Chaoshan, Provinsi Guangdong, Cina.

Berdasarkan investigasi IBP, beberapa pabrik di sana kedapatan mengekspor produk omprengnya ke importir Indonesia yang terkait dengan program MBG.

Tulisan "Program Makan Bergizi Gratis", "SNI", dan "Made in Indonesia" kedapatan terukir dalam ompreng yang diproduksi di Cina tersebut. Produksi ompreng di Cina itu kemudian berpotensi melanggar prinsip Organisasi Dagang Dunia (WTO).

Tak hanya itu, ompreng-ompreng impor yang beredar di Indonesia juga berpotensi melanggar ketentuan terkait standar produk berbasis baja tahan karat.

Hal tersebut dikarenakan investigasi IBP menemukan temuan bahwa ompreng berbahan baku baja tahan karat non-food-grade 201 masih terdistribusi ke Indonesia, walaupun bahan baku tipe tersebut sudah dilarang beredar oleh pemerintah.

Baja tahan karat bertipe 201 kini dianggap sebagai bahan baku yang tidak aman untuk jadi wadah makanan. Hal ini dikarenakan risiko tinggi terkikisnya zat mangan ketika bertemu makanan dengan kandungan asam.

Temuan itu membuat ompreng MBG berpotensi menyalahi standar mutu dan keamanan, membuat label "SNI" yang tertera pada wadah makanan tersebut berpotensi palsu.

Dalam laporan IBP itu, pemalsuan label "Made in Indonesia" dan penggunaan baja tahan karat 201 diduga dilakukan demi menekan harga produksi ompreng, sehingga mampu memenangkan persaingan harga dengan produksi ompreng dalam negeri.

Klarifikasi BGN terkait Dugaan Ompreng MBG Buatan Cina dan SNI Palsu

Badan Gizi Nasional, sebagai lembaga pengelola dan supervisi MBG, buka suara terkait isu ompreng MBG buatan Cina dan berlabel SNI palsu.

Mengutip Antara, Kepala BGN Dadan Hindayana menyatakan bahwa pihaknya kini tengah memeriksa dan mendalami dugaan pelanggaran terkait produksi ompreng MBG.

"Sedang check and recheck [diperiksa ulang]," tuturnya pada Selasa (26/8).

Dadan juga menuturkan bahwa BGN sejauh ini belum pernah melakukan pengadaan ompreng untuk program MBG.

"BGN kan belum pernah mengadakan [pengadaan ompreng MBG]," tuturnya menambahkan.

Sementara itu, terkait dugaan pemalsuan label SNI, Badan Standardisasi Nasional (BSN) menyatakan telah menggunakan SNI 9369:2025 tentang wadah bersekat dari baja tahan karat sebagai standar mutu ompreng MBG.

"Standar ini kami tetapkan pada 18 Juni 2025 melalui Keputusan Kepala BSN Nomor 182/KEP/BSN/6/2025. Ini merupakan standar baru hasil pengembangan sendiri yang disusun oleh Komite Teknis 77-02, Produk Logam Hilir," tutur Hendro Kusumo selaku Deputi Bidang Pengembangan Standar BSN.

Menurut Hendro, standar mutu SNI 9369:2025 diterapkan agar ompreng MBG aman digunakan, tidak mudah rusak, dan tidak mengandung zat berbahaya.

"Ini juga mendorong industri dalam negeri untuk memproduksi peralatan makan berkualitas," tuturnya.

Pada Juni 2025 lalu, BGN menyatakan bahwa sejuah ini program MBG telah disalurkan kepada 5,5 juta penerima yang terdiri dari anak usia sekolah dan ibu hamil.

Prabowo Subianto, dalam pidato kenegaraannya pada 15 Agustus 2025 lalu, menuturkan bahwa target penerima MBG pada 2026 mendatang akan meningkat menjadi 82,9 juta penerima.

Untuk mencapai target itu, pemerintahan Prabowo berencana mengalokasikan anggaran senilai Rp335 triliun untuk program MBG pada APBN 2026.

MBG sendiri merupakan program unggulan Prabowo yang selalu ia canangkan dalam kampanye Pilpres 2024 lalu. Program ini menjadi salah satu janji politik paling utama dalam periode pertama kepresidenannya.

Baca juga artikel terkait MAKAN BERGIZI GRATIS atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Aktual dan Tren
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Dicky Setyawan