Menuju konten utama
Edusains

Apa yang Membuat Kita Gampang Ditipu Teman Sendiri?

Kasus tipu-menipu tak hanya menyasar orang asing. Tak sedikit yang sengaja menarget kawan sendiri dan justru itu yang paling potensial. Bagaimana bisa?

Apa yang Membuat Kita Gampang Ditipu Teman Sendiri?
Ilustrasi ditipu teman sendiri. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Medio dekade 2010-an silam, seorang pemilik rumah makan asal Surakarta berkenalan dengan sesama pengusaha, pedagang batik. Awalnya, pedagang batik ini selalu menunjukkan sisi baiknya. Dia kerap kali berkunjung ke rumah makan untuk sekadar jajan atau mengobrol dengan pemilik rumah makan tersebut. Tak jarang pedagang batik itu juga mengajak serta keluarganya.

Lambat laun pertemanan mereka kian erat. Sang pemilik rumah makan mulai kerap bercerita tentang masalah-masalah pribadinya, termasuk soal anak sulungnya yang tidak kunjung menyelesaikan studi strata satunya di Yogyakarta. Ketika si anak sulung sedang di rumah, pedagang batik tersebut juga tak segan menasihatinya.

Namun, pertemanan tersebut berujung petaka bagi sang pemilik rumah makan. Si pedagang batik, yang awalnya menawarkan untuk mendaftarkan hak merek rumah makan tersebut, justru mendaftarkan hak merek atas namanya sendiri, bukan atas nama sang pemilik rumah makan. Dengan kata lain, pedagang batik tersebut berniat menguasai rumah makan tersebut secara diam-diam lewat jalur hukum.

Beruntung, pemilik rumah makan mengetahui akal bulus si pedagang batik. Jadilah hal itu dimanfaatkannya dengan melakukan pencitraan ulang. Mulai dari nama, warna, logo, semua diubah total. Entah apa yang terjadi dengan si pedagang batik, yang jelas rumah makan itu sudah hendak menyongsong ulang tahunnya yang kedua puluh.

Kisah di atas adalah kisah nyata. Saya sendiri menjadi saksi matanya.

Kisah-kisah seperti itu sudah berulang kali terjadi. Ayah dari salah satu kawan terdekat saya, misalnya, pernah ditipu oleh rekan bisnisnya dalam bisnis dealer mobil sehingga rugi miliaran rupiah. Bahkan, saking seringnya ini terjadi dalam dunia bisnis, Dahlan Iskan sampai berseloroh bahwa "pengusaha sukses itu harus pernah ditipu".

Ironisnya, penipuan-penipuan seperti itu justru muncul lantaran adanya rasa percaya. Ketika sudah percaya pada seseorang, pertahanan diri manusia secara otomatis melemah. Ketika itulah kemudian muncul celah yang membuat aksi penipuan bisa dilancarkan. Sederhananya kira-kira begitu.

Apa yang Terjadi pada Otak Manusia Saat Ditipu Kawan Sendiri?

Pertanyaan itu berhasil dijawab oleh sejumlah ilmuwan dari North China University of Science and Technology lewat makalah yang diterbitkan di Journal of Neuroscience, Oktober 2025 lalu.

Para peneliti melibatkan 132 partisipan yang dibagi menjadi 66 pasang. Setengahnya merupakan teman dekat dan sisanya adalah orang asing. Dengan menggunakan teknologi pemindaian otak canggih yang disebut fNIRS hyperscanning, para ilmuwan memantau aktivitas saraf dua orang secara bersamaan saat mereka berinteraksi dalam sebuah permainan yang melibatkan kejujuran dan tipu daya. Hal ini memungkinkan peneliti melihat fenomena yang disebut Interpersonal Neural Synchrony (INS), yaitu momen ketika gelombang otak dua individu mulai selaras dan berdenyut dalam ritme sama.

Dalam eksperimen tersebut ditemukan, sinkronisasi otak antara dua teman dekat jauh lebih kuat dibandingkan sepasang orang asing. Ketika berinteraksi dengan teman, otak manusia cenderung beralih dari mode evaluasi kritis ke mode kerja sama sosial. Fokus utamanya terletak pada interaksi antara dua area spesifik: Dorsolateral Prefrontal Cortex (DLPFC), yang bertanggung jawab atas kewaspadaan serta evaluasi risiko; dan Orbitofrontal Cortex (OFC), yang mengelola persepsi terhadap keuntungan atau hadiah.

Penelitian itu mengungkapkan, saat kita berhadapan dengan orang yang sudah dikenal, aktivitas di bagian DLPFC, alias "radar" pendeteksi kebohongan atau keganjilan, justru mengalami penurunan. Sebaliknya, pada skenario yang menjanjikan hasil positif atau keuntungan, wilayah OFC si pemberi pesan dan penerimanya tersinkronisasi dengan sangat kuat.

Dalam kasus pemilik rumah makan di Surakarta, tawaran bantuan pendaftaran merek merupakan umpan yang memicu OFC-nya bekerja selaras dengan si pedagang batik. Akibatnya, sang pemilik rumah makan tidak lagi melihat adanya ancaman yang mungkin muncul dari tawaran tersebut karena, baginya, itu adalah bagian dari upaya meraih keuntungan bersama.

Pola sinkronisasi saraf tersebut bisa memprediksi kemungkinan terjadinya penipuan sampai 86,66 persen!

Artinya, sebelum seseorang menyadari bahwa dia ditipu atau dikhianati, otak sudah menunjukkan tanda-tanda kelumpuhan pertahanan kognitif yang muncul akibat kedekatan sosial. Bisa dikatakan pula bahwa penipuan semacam ini bukan cuma wujud rekayasa sosial, melainkan juga bentuk peretasan biologis.

Meski begitu, menurunkan pertahanan diri tidak membuat seseorang serta merta bisa disebut lemah, naif, bodoh, dan sebagainya. Justru di situlah letak paradoks dari hubungan antarsesama manusia. Tanpa kerentanan, atau penurunan pertahanan diri, kita tidak akan bisa menjalin hubungan dengan sesama. Bayangkan betapa melelahkannya jika kita terus-menerus menaruh rasa curiga pada orang lain.

Ilustrasi Ditipu Teman Sendiri

Ilustrasi ditipu teman sendiri. FOTO/iStockphoto

Secara biologis, otak manusia memang dirancang untuk mengelola energi seefisien mungkin. Meskipun beratnya hanya sekitar 2 persen dari massa tubuh, otak mengonsumsi hampir 20 persen dari total energi harian. Dengan begitu, mengaktifkan DLPFC terus-menerus akan sangat menguras energi.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal The Energy Metabolic Footprint of Predictive Processing (2023) menunjukkan, otak secara aktif meminimalkan aktivitas kognitif yang berat jika sebuah informasi dianggap selaras dengan prediksi atau pengalaman sebelumnya. Secara alami, otak akan mencari cara menghemat energi dengan mematikan radar deteksi jika lawan bicara sudah dianggap masuk kategori "aman".

Dengan kata lain, kepercayaan sebenarnya adalah mekanisme penghematan energi dalam otak. Kecenderungan otak untuk menghemat energi ini kemudian membentuk pola perilaku yang oleh psikolog Timothy Levine dalam bukunya Duped (2019) disebut sebagai Truth-Default Theory.

Menurut Levine, manusia memiliki "setelan pabrik" untuk secara otomatis menganggap informasi dari orang lain adalah benar. Kita baru akan "berakrobat" secara mental untuk mendeteksi kebohongan jika ada bukti yang sangat kuat dan tak terbantahkan. Tanpa setelan otomatis ini, interaksi sosial akan menjadi terlalu lamban dan melelahkan karena kita harus memverifikasi setiap kalimat yang keluar dari mulut orang lain.

Sinkronisasi saraf yang disebut dalam studi di Journal of Neuroscience, pada dasarnya, adalah manifestasi fisik dari efisiensi energi pada otak. Ketika otak selaras dengan orang lain, kita tidak perlu membuang banyak energi untuk menebak-nebak niat mereka.

Sayangnya, memang, ditipu, disakiti, atau dikhianati, secara otomatis bakal menjadi konsekuensi tak terelakkan dari sinkronisasi saraf tersebut. Meski begitu, bukan berarti kita terjebak dalam dua spektrum yang ekstrem. Ada sebuah konsep bernama epistemic vigilance 'kewaspadaan internal', yang diperkenalkan oleh ahli kognitif Prancis, Dan Sperber, yang menjelaskan bahwa manusia sebenarnya punya titik seimbang antara kewaspadaan dan keterbukaan.

Menurut Sperber, manusia sebenarnya memiliki seperangkat mekanisme kognitif untuk tetap waspada tanpa harus kehilangan kemampuan bekerja sama. Kewaspadaan bukan berarti kita mencurigai semua orang setiap saat, melainkan menjadi suatu mekanisme yang bekerja diam-diam dan baru akan aktif ketika ada informasi mencurigakan.

Selain itu, untuk menjaga agar kerentanan itu tidak menjadi bumerang, kita perlu menerapkan konsep yang disebut Brené Brown dalam Dare to Lead (2018) sebagai BRAVING. Boundaries 'batasan' jadi salah satu elemen pembentuknya. Brown menegaskan, kita hanya bisa percaya orang lain ketika kita sudah tahu persis sesuatu yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

Dahlan Iskan benar bahwa pengusaha sukses, atau manusia yang sukses secara umum, memang sesekali harus "membayar harga" kesuksesannya dengan ditipu atau dikhianati. Pengalaman inilah yang akhirnya meng-upgrade "setelan pabrik" otak kita. Kita tidak lagi percaya begitu saja hanya karena otak ingin menghemat energi, tetapi karena kemampuan otak telah diperbarui sehingga mampu melakukan penyaringan dengan lebih presisi.

Baca juga artikel terkait KASUS PENIPUAN atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - Edusains
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin