Apa yang Dipelajari di Sekolah Film?

Oleh: Windu Jusuf - 31 Maret 2017
Dibaca Normal 4 menit
Para mahasiwa studi film, dari kampus di Jakarta maupun Yogyakarta, perlu merogoh kocek belasan hingga puluhan juta buat kelak mengejar karier profesional selepas lulus.
tirto.id - Fidel Putra Gosal uring-uringan. Mahasiswa tahun ketiga jurusan film Binus International ini tengah bersiap-siap untuk proses pitching film pendeknya yang ketiga, sebagai tugas pamungkas semester enam. Jika sukses, filmnya akan dibiayai kampus. Dua semester lalu, ia membuat film berjudul Cabut—tentang petualangan tiga siswa SMA yang bolos sebelum hari lulus. Semester ini ia diharuskan membuat film genre, film dengan formula tertentu: horor, fiksi ilmiah, atau laga. Pilihan jatuh pada horor dengan sentuhan fiksi ilmiah; ia akan memodifikasi kisah klasik Frankenstein, seorang ilmuwan yang berusaha menghidupkan mayat di dalam laboratorium.

“Aduh, aku enggak tahu budgetku cukup atau enggak,” keluhnya.

“Enggak bisa disiasati treatment-nya?” tanya saya.

“Agak susah.”

Ongkos produksi film mau tak mau menjadi subjek yang dipelajari di sekolah film. Film boleh pendek tapi biaya di lapangan, jika proses syuting terulur, bisa membengkak.

“Produksi terakhir, tabunganku terkuras,” demikian Fidel.

Di kampus yang sama, praktikum pada semester awal tidak membutuhkan anggaran besar. “Tahun pertama kuliah dari yang tidak sampai Rp5 juta, naik pesat menjadi belasan hingga puluhan juta di tahun-tahun berikutnya,” ujar Cynthia Rulin, alumni prodi film Binus International, yang bekerja sebagai kru film lepas. Cynthia adalah mahasiswa angkatan pertama dari prodi yang dibuka pada 2010 itu.

Bobby Prasetyo menyebut angka Rp100 ribu dan Rp200 untuk tugas-tugas tertentu. “Untuk tugas aktif, kami biasanya habis sekitar Rp3-10 juta, karena mayoritas tidak melakukannya secara berkelompok agar dapat lebih bebas berkarya,” ucap Bobby yang berkuliah di jurusan Televisi dan Film, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, pada 2004-2009. Kakak kelas Bobby, Ifa Isfansyah, sutradara Garuda di Dadaku (2009) dan Sang Penari (2011), menyebut angka yang lebih kecil, Rp500 ribu - Rp1 juta.

Wahyu Tri Purnomo masuk Fakultas Film dan Televisi (FFTV) IKJ pada 1998. Ipong, demikian ia akrab dipanggil, menghabiskan Rp40 juta untuk tugas akhir. Uang itu berasal dari patungan. Ia juga menyebutkan bahan baku, alat produksi, dan perangkat pascaproduksi disediakan kampus.

Julia Pratiwi, adik kelas Ipong, mengatakan, "Waktu angkatan saya, dari fakultas memberikan anggaran tunai sebesar Rp6 juta untuk tiap kelompok. Ada beberapa kelompok yang mengejar budget mengikuti anggaran yang diberikan fakultas. Ada juga beberapa yang menambahkan. Rata-rata berkisar dari 10 hingga 15 juta.”

Anggaran praktikum pada umumnya tidak seluruhnya tercakup dalam komponen biaya kuliah per semester, meski sekolah tetap menyediakan fasilitas untuk produksi di lapangan dan editing. Menimbang tingkat inflasi, tampaknya semakin ke sini semakin tinggi biayanya. Corak film yang diproduksi pun ikut menentukan besaran biaya produksi. Misalnya fiksi ilmiah, yang dalam tradisinya memang memakan anggaran besar untuk produksi: Set, properti syuting, dan special effects. Hanya segelintir judul saja yang dibikin dengan anggaran terbatas.

Iuran semester pun bervariasi di tiap kampus dan angkatan. Ketika masuk FFTV IKJ pada 2012, Julia Pratiwi merogoh kocek Rp27 juta. Per semesternya, ia harus membayar Rp7,5 juta. Pada 1998, Ipong membayar 5 juta atau 6 juta untuk masuk ke kampus yang sama. Per SKS, ia hanya perlu membayar Rp10 ribu. Angkatan Cynthia Rulin di Binus International wajib membayar Rp6,5 juta per semester dan Rp900 ribu per SKS. Angkatan Ifa Isfansyah di jurusan Televisi ISI paling murah: biaya pendaftaran Rp100 ribu, tanpa uang masuk, SPP Rp360 ribu.

Dari Kelas ke Festival

Sejak 2013, Ifa Isfansyah mengepalai sebuah sekolah film di Yogyakarta. Namanya Jogja Film Academy (JFA). Dengan enam dosen tetap dan 26 dosen lepas, Ifa mengatakan sistem pengajaran JFA disesuaikan kultur sinema digital dan aspek-aspek budaya setempat.

“Saya percaya sinema itu global tapi sekaligus lokal. Perkembangannya sangat dipengaruhi oleh daerah di mana budaya sinema itu tumbuh,” ujar Ifa. Jogja Film Academy saat ini menggelar program D3 untuk 35 mahasiswa. Sebagai kampus yang baru dibuka pada 2013, JFA belum menghasilkan alumni.

Kurikulum jurusan film dan animasi Universitas Media Nusantara (UMN) menekankan tiga hal. “1. Craft, 2. History & Theory dan 3. Bisnis,” tutur Kus Sudarsono, kepala prodi film, melalui surel. Bisnis yang dimaksud adalah bisnis kreatif. Selain belajar teknik pembuatan film, mahasiswa juga dituntut belajar memasarkan karyanya. Hal-ihwal bisnis ini pula ditekankan oleh jurusan yang sama di Binus. Menurut Kus, sektor yang paling banyak membutuhkan tenaga kreatif saat ini adalah industri animasi. “Sebagian besar alumni langsung terserap studio-studio animasi yang tersebar di Indonesia, selebihnya menjadi freelancer, masuk industri televisi dan berwirausaha.”

Sebagai kampus film tertua, FFTV IKJ duduk di peringkat atas dalam jumlah alumni (sekitar 1.000), mahasiswa baru (190-200 mahasiswa S1 dan D3) serta kuantitas pengajar (31 dosen tetap, 87 dosen lepas, 6 dosen kehormatan, dan 24 asisten dosen).

Dari segi peminatan, FFTV IKJ pun paling luas. Kepada saya, Arda Muhlisiun menuturkan saat ini ada tujuh bidang kerja utama film Indonesia yang butuh tenaga kerja. “Penulisan skenario, penyutradaraan, manajemen dan produksi film, tata kamera, tata artistik, tata suara, editing,” katanya. Untuk mengembangkan bidang-bidang tersebut sesuai kebutuhan dunia kerja, Wakil Dekan I FFTV IKJ itu pun menjelaskan bahwa program studi tertua film di Indonesia ini bertambah jadi 13 peminatan: dokumenter, animasi, fotografi, iklan audio visual, musik film, dan kajian film.

Prodi film Binus International aktif memasukkan film karya mahasiswa ke festival lokal dan internasional. Tak sedikit pula mahasiswa yang rajin mengirimkan karya mereka ke festival dan kompetisi. Kilau Kerikil, tugas akhir Iqbal Fadly, mahasiswa angkatan pertama prodi film Binus, masuk dalam daftar nominasi film pendek pemenang Festival Film Indonesia 2015. Tak hanya itu, festival dan kompetisi dipandang sebagai cara memperluas ekspos publik terhadap jurusan.

Dalam perhelatan Apresiasi Film Indonesia (AFI) 2016, UMN mendapat penghargaan khusus Apresiasi Lembaga Pendidikan. Menurut keterangan penyelenggara AFI, penghargaan ini diberikan kepada “lembaga penyelenggara pendidikan formal dan non-formal yang secara konsisten berkontribusi terhadap perkembangan dalam sektor perfilman indonesia.” Di ajang yang sama, beberapa karya mahasiswa dan pengajar UMN diganjar penghargaan untuk Film Pendek Kategori Mahasiswa/Pelajar, Film Animasi Kategori Mahasiswa/Pelajar, Film Animasi Kategori Umum, serta Film Panjang non Bioskop. Penghargaan yang terakhir diberikan untuk film Istirahatlah Kata-Kata yang disutradarai Yosep Anggi, pengajar prodi film UMN.

Infografik HL Hari Film

Dunia Selepas Lulus

“Seperti freelancer pada umumnya, kadang-kadang telepon saya berdering sendiri,” jawab Bobby Prasetyo ketika ditanya pekerjaannya sekarang. Sutradara yang filmnya, Sowan, meraih penghargaan di Indonesian Film Festival, Melbourne (2004), sedang menggarap film panjang berjudul Cinta Dua Kodi.

Ipong, yang menggeluti penataan suara, bercerita bahwa awal kariernya diawali dari magang di studio mixing milik alumni. “Dari situ saya bisa berkenalan juga dengan beberapa orang yang mengenalkan saya dengan orang lain di industri film.” Saat itu ia tidak terlalu menghiraukan tarif. Ia mengejar pengalaman, yang tidak bisa didapat dari kampus.

“Dari segi teknis pengerjaan dan peralatan, tentu ada perbedaan jauh sekali dari yang saya pelajari di kampus dengan di dunia pekerjaan. Terkadang saya harus belajar lagi untuk beradaptasi dengan sistem kerja dan peralatan yang saya pakai di studio profesional, karena di kampus tidak pernah berlatih dengan sistem kerja dan peralatan itu,” ujar Ipong. Senada dengan Ipong, Cynthia Rulin mengatakan ia sempat mendapat proyek dari dosen.

Lain halnya dengan mahasiswa kajian film. Berbeda dari mahasiswa produksi film, mahasiswa kajian film mempelajari sinema sebagai fenomena kebudayaan. Keahlian yang mesti dikuasai bukanlah berurusan dengan kamera, mesin editing, atau perekam suara, melainkan analisis teks, menulis untuk jurnal humaniora, dan aktivitas-aktivitas penelitian terkait. Produk yang dihasilkan adalah riset dengan topik-topik seperti sejarah film pada suatu periode, konstruksi gender dalam film tertentu, atau warisan sensor terhadap film-film pasca-Orde Baru.

Kuspujiati, alumni FFTV IKJ pada peminatan kajian film, saat ini mengajar di almamaternya sebagai dosen lepas, selain mengisi posisi yang sama di Binus International untuk kuliah Film Theory dan Film and Society. Ia sempat melanjutkan sekolah ke Sorbonne, Paris. Sebagai mahasiswa kajian film, selain belajar teknis produksi, ia juga belajar sejarah film, teori film, estetika film, sosiologi film, filsafat film, dan semiotika film.

Jejak Kuspujiati diikuti oleh Julia Pratiwi, yang saat ini bekerja sebagai peneliti lepas dan asisten dosen di almamaternya. Setelah lulus, ia merasa perlu memperbaharui pengetahuan untuk menambal kekurangan antara sekolah dan dunia nyata. “Di sekolah, saya lebih banyak belajar kajian film yang sifatnya tekstual. Pemahaman kontekstual tentang ekosistem film di Indonesia dan perkara regulasi terkait justru tidak terbangun,” ucapnya.

_____

Foto oleh Dok. FFTV IKJ

Baca juga artikel terkait FILM NASIONAL atau tulisan menarik lainnya Windu Jusuf
(tirto.id - Indepth)

Reporter: Windu Jusuf
Penulis: Windu Jusuf
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan
DarkLight