Menuju konten utama

Apa Perbedaan dan Persamaan Hikayat dan Cerpen?

Hikayat dan cerpen merupakan dua jenis karya sastra yang memiliki kekhasan masing-masing. Simak perbedaan dan persamaan hikayat dan cerpen.

Apa Perbedaan dan Persamaan Hikayat dan Cerpen?
Ilustrasi Cerpen. foto/istockphoto

tirto.id - Karya sastra di Indonesia memiliki bentuk dan jenis yang beragam, mulai dari puisi, novel, hikayat, hingga cerita pendek (cerpen). Di antara bentuk sastra tersebut, hikayat dan cerpen sering kali dianggap mirip.

Hikayat dan cerpen kadang dianggap serupa karena menyajikan cerita fiksi yang mengandung unsur tokoh, alur, dan latar. Namun, di balik kemiripan itu, keduanya memiliki perbedaan mendasar dalam hal struktur, fungsi, dan konteks budaya yang melingkupinya.

Sebelum memahami tentang persamaan dan perbedaan hikayat dan cerpen, sebaiknya ketahui dulu pengertian keduanya. Pengertian hikayat adalah karya sastra lama Melayu berbentuk prosa yang berisi cerita, undang-undang, dan silsilah bersifat rekaan, keagamaan, historis, atau biografis.

Sementara, pengertian cerpen adalah karya sastra berbentuk prosa fiksi yang ringkas dan padat, biasanya kurang dari 10.000 kata, yang menceritakan satu kisah yang berfokus pada satu tokoh dan satu peristiwa tunggal.

Memahami perbedaan dan persamaan hikayat dan cerpen menjadi hal penting agar pembaca mampu mengenali karakteristik khas dari masing-masing karya sastra tersebut. Hikayat maupun cerpen memiliki peran penting dalam menggambarkan kehidupan manusia dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat.

Hikayat mencerminkan kekayaan tradisi lisan dan budaya di masa lalu, sedangkan cerpen tercipta dari kebutuhan sastra di zaman modern untuk menampilkan realita kehidupan yang lebih ringkas dan personal. Agar lebih mengenal perbedaan dan persamaan hikayat dan cerpen, simak pembahasan di bawah!

Persamaan Hikayat dan Cerpen

Ilustrasi Hikayat

Ilustrasi Hikayat. FOTO/iStockphoto

Jika dilihat dari bentuk dan fungsi sastra, hikayat dan cerpen memiliki beberapa kesamaan. Keduanya sama-sama merupakan karya prosa fiksi naratif, yaitu karangan yang menceritakan kisah rekaan atau imajinatif. Dalam kedua cerita ini, sering muncul tokoh-tokoh heroik, peristiwa luar biasa, dan pesan moral yang disampaikan lewat alur dan dialog. Berikut ini penjelasannya.

1. Keduanya Berbentuk Teks Narasi Fiksi

Baik hikayat maupun cerpen tidak sekadar menyampaikan fakta, tetapi mengisahkan peristiwa yang dibangun berdasarkan imajinasi pengarang. Karena itu, cerita dalam kedua karya ini sering menampilkan konflik, kejadian luar biasa, dan tokoh yang kuat secara emosional atau simbolik.

2. Terdapat Unsur Intrinsik yang Membangun Keseluruhan Cerita

Hikayat dan cerpen sama-sama memiliki unsur intrinsik yang membangun keseluruhan cerita. Unsur-unsur seperti tema, tokoh, latar, sudut pandang, alur, dan gaya bahasa berfungsi menciptakan kesatuan makna yang utuh. Misalnya, dalam hikayat penggunaan Bahasa Melayu klasik menonjolkan nuansa tradisional, sedangkan dalam cerpen, gaya bahasanya disesuaikan dengan karakter dan konteks cerita.

3. Penggunaan Gaya Bahasa dan Konjungsi

Dalam kedua jenis karya ini, pengarang menggunakan kata hubung, deskripsi, dan narasi untuk menuntun pembaca memahami alur cerita. Gaya bahasa berfungsi memperkuat suasana dan makna, sedangkan konjungsi membantu menjaga kesinambungan antara satu peristiwa dengan peristiwa lain.

4. Memiliki Tujuan yang Sama

Keduanya juga memiliki tujuan yang serupa, yaitu memberi hiburan dan menyampaikan nilai-nilai kehidupan kepada pembaca. Hikayat banyak menonjolkan nilai moral, sosial, dan religius, sedangkan cerpen menyoroti sisi kemanusiaan dan realitas kehidupan sehari-hari. Namun pada dasarnya, keduanya sama-sama menjadi media refleksi tentang perilaku manusia dan nilai-nilai dalam kehidupan.

Dari persamaan ini, dapat disimpulkan bahwa meski berasal dari masa dan tradisi berbeda, cerpen dan hikayat tetap memiliki struktur dan fungsi naratif yang sama. Keduanya mengajarkan pembaca untuk memahami kehidupan melalui kisah dan imajinasi. Hikayat menjadi awal dari tradisi bercerita yang kelak melahirkan bentuk sastra modern seperti cerpen.

Perbedaan Hikayat dengan Cerpen

Ilustrasi Cerpen

Ilustrasi Cerpen. foto/istockphoto

Meskipun memiliki kemiripan, terdapat beberapa perbedaan hikayat dan cerpen yang cukup jelas dari segi bentuk, bahasa, tema, dan nilai yang terkandung. Perbedaan paling utama terlihat pada latar budaya dan masa kemunculannya.

Hikayat merupakan karya sastra lama yang berkembang pada masa Kerajaan Melayu, sementara cerpen adalah karya sastra modern yang tumbuh bersama perkembangan media dan kehidupan masyarakat saat ini. Berikut penjelasan lengkapnya.

1. Penggunaan Bahasa

Dari sisi penggunaan bahasa, hikayat menggunakan bahasa Melayu klasik yang kini dianggap arkais atau jarang digunakan. Istilah seperti “maka tersebutlah kisah” atau “syahdan” sering muncul sebagai ciri khas gaya hikayat. Sebaliknya, cerpen menggunakan Bahasa Indonesia modern yang lebih komunikatif dan mudah dipahami pembaca masa kini.

2. Tema Cerita

Perbedaan cerita hikayat dan cerpen juga dapat dilihat dari tema dan isi ceritanya. Hikayat umumnya berfokus pada kisah pahlawan, raja, atau tokoh sakti dengan kekuatan luar biasa. Cerpen, sebaliknya, memiliki tema yang lebih luas dan bebas, mulai dari percintaan, keluarga, hingga masalah sosial. Oleh karena itu, cerpen lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari pembaca.

3. Alur dan Panjang Cerita

Dari segi alur dan panjang cerita, hikayat biasanya memiliki alur yang lebih panjang, kompleks, dan sering berbingkai (memuat cerita di dalam cerita). Cerpen hanya menampilkan satu konflik utama dengan sebuah alur yang sederhana dan padat. Perbedaan ini membuat cerpen bisa dibaca dalam satu waktu yang lebih singkat, sedangkan hikayat membutuhkan waktu lebih lama karena panjang dan memiliki banyak detail.

4. Identitas Pengarang

Pengarang hikayat biasanya anonim, sebab karya ini berasal dari tradisi lisan yang diturunkan secara turun-temurun. Berbeda dengan cerpen, pengarangnya selalu disebutkan secara jelas dengan membawa gaya penulisannya masing-masing.

5. Latar Cerita

Dari segi latar cerita, hikayat cenderung bersifat istana-sentris, menggambarkan kehidupan kerajaan dan lingkungan sekitarnya. Sedangkan cerpen bersifat terbuka, bisa berlatar kota, desa, bahkan ruang batin tokoh itu sendiri. Hal ini menjadikan cerpen lebih fleksibel dan dekat dengan realitas masyarakat modern.

6. Nilai-nilai yang Dibawa

Hikayat membawa nilai moral, sosial, budaya, pendidikan, dan religius yang kuat. Cerpen lebih menyoroti nilai moral dan sosial dengan sudut pandang yang lebih personal. Hikayat bertujuan menanamkan kebaikan dan keteladanan, sedangkan cerpen lebih fokus pada refleksi dan kesadaran diri tokohnya.

7. Perbedaan Logika Penceritaan

Dari segi logika cerita, hikayat kerap mengandung unsur mustahil dan keajaiban, seperti tokoh yang memiliki kesaktian atau peristiwa ajaib. Cerpen justru menampilkan kejadian realistis yang bisa terjadi dalam kehidupan manusia biasa. Karena itu, hikayat cenderung fantastis, sedangkan cerpen bersifat rasional dan dekat dengan realitas.

8. Pesan Moral

Sementara dalam pesan moral, hikayat biasanya secara eksplisit menyampaikan amanat di akhir cerita agar pembaca dapat meneladani tokohnya. Cerpen tidak selalu demikian, pesannya sering disisipkan secara halus melalui tindakan atau dialog tokoh. Pendekatan ini membuat cerpen terasa lebih reflektif dan tidak menggurui.

Dari penjabaran di atas dapat disimpulkan bahwa perbedaan hikayat dan cerpen terletak pada konteks budaya, bentuk, dan cara penyampaian pesan. Hikayat menampilkan tradisi sastra lama dengan nuansa religius dan simbolik, sedangkan cerpen menggambarkan kehidupan manusia modern dengan cara yang lebih realistis.

Dengan memahami perbedaan dan persamaan hikayat dan cerpen, pembaca dapat mengetahui bagaimana karya sastra Indonesia berkembang dari tradisi lisan menjadi tulisan modern.

Hikayat memberi gambaran tentang masa lalu dan nilai budaya, sedangkan cerpen mencerminkan kehidupan masa kini dengan segala kerumitannya. Meski berbeda zaman, keduanya memiliki misi yang sama, yaitu menceritakan kisah manusia dan memberikan makna pembelajaran di baliknya.

Apabila tertarik untuk membaca artikel lain tentang karya sastra, Tirto memiliki kumpulan artikel dengan topik serupa. Silakan klik tautan di bawah ini.

Kumpulan Artikel tentang Karya Sastra

Baca juga artikel terkait BAHASA INDONESIA atau tulisan lainnya dari Ario Gemawang

tirto.id - Edusains
Kontributor: Ario Gemawang
Penulis: Ario Gemawang
Editor: Elisabet Murni P