Apa Itu Bipolar & Mengapa Komunitas Penting bagi Penyandangnya?

Ilustrasi Bipolar. FOTO/iStockphoto
Oleh: Widia Primastika - 30 Maret 2019
Dibaca Normal 3 menit
Komunitas dukungan dan edukasi penting bagi para penyandang bipolar.
tirto.id - Setiap tanggal 30 Maret, dunia merayakan Hari Bipolar, sebuah hari yang ditetapkan berdasarkan ulang tahun Vincent van Gogh, seorang pelukis yang meninggal karena bunuh diri pada usia 37 tahun.

Dietrich Blumer dalam “The Illness of Vincent van Gogh” (2002, PDF) mengatakan van Gogh memiliki kepribadian yang eksentrik dan suasana hati yang tak stabil. Selama dua tahun sebelum kematiannya, pelukis ini memiliki kehidupan yang luar biasa. Ia mengalami dua episode depresi yang reaktif, yang dikenal dengan nama bipolar.

Situsweb International Bipolar Foundation menceritakan Hari Bipolar Sedunia dirayakan agar dunia sadar akan gangguan bipolar dan menghilangkan stigma sosial bagi penyandangnya. Para penggagas berharap perayaan yang telah dilaksanakan sejak 2014 ini dapat memberikan edukasi kepada masyarakat dan meningkatkan sensitivitas mereka terhadap penyakit ini.

Apa Itu Bipolar?

Bipolar adalah salah satu penyakit mental yang ditandai oleh perubahan suasana hati yang ekstrem. Dikutip situs Healthline, para penyandang bipolar mengalami tiga fase di hidupnya: suasana hati yang sangat tinggi (episode mania), suasana hati normal, dan suasana hati yang sangat rendah (episode depresi). Maka, tak jarang orang dengan bipolar (ODB) mengalami kesulitan dalam melakukan aktivitasnya.


Menurut National Alliance on Mental Illness (NAMI), sebuah organisasi yang dibentuk untuk memberikan advokasi bagi penyandang gangguan mental di Amerika Serikat, ada tiga faktor yang dapat menjadi penyebab bipolar, yakni genetika, tekanan, serta struktur dan fungsi otak.

Selain itu, ada empat jenis gangguan bipolar. Ada gangguan bipolar I, ketika ODB mengalami satu atau lebih episode mania. Gangguan bipolar II terjadi ketika ODB mengalami episode depresi bolak-balik dengan episode hipomanik, dan tak pernah mengalami episode mania “penuh”.

Ada pula cyclothymia, kondisi mood kronis yang tidak stabil ketika ODB mengalami hipomania dan depresi ringan setidaknya selama 2 tahun. Terakhir adalah gangguan bipolar yang tidak memenuhi ketiganya, tapi mengalami periode peningkatan mood yang tak wajar dan signifikan secara klinis.

Pemulihan Berbasis Komunitas

Perubahan mood secara drastis yang dialami para penyandang bipolar dan munculnya stigma di masyarakat terhadap orang dengan gangguan mental dapat menjadi salah satu penyebab terjadinya bunuh diri. Maka dari itu, penting bagi penyandang bipolar untuk melakukan pemulihan, salah satunya dengan pemulihan berbasis komunitas.

Agus Hasan Hidayat (37), Wakil Ketua Komunitas Bipolar Care Indonesia, mengatakan saat ini banyak orang menganggap penyandang gangguan jiwa harus dirawat di rumah sakit. Padahal, pendekatan yang dapat dilakukan bisa promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Artinya, masuk rumah sakit adalah langkah terakhir yang bisa ditempuh.

“Nah, orang dengan bipolar, dan kalau orang di diagnosa bipolar itu kan dia pergi ke psikolog atau pergi ke psikiater. Nah, biasanya teman-teman dengan bipolar ini enggak punya interaksi sosial yang baik,” kata Agus.


Agus menyampaikan banyak penyandang bipolar yang menarik diri dari lingkungan sosial mereka, dan tak sedikit pula yang dijauhi oleh rekannya, bahkan tak diterima di keluarga. Bagi ODB, kondisi seperti ini dapat mengganggu proses pemulihan seseorang. Oleh sebab itu, ODB membutuhkan komunitas untuk mengembalikan fungsi sosial.

“Itu mengembalikan fungsi sosial dan supaya bisa berinteraksi, supaya dia bisa tetap kembali pulih. Itu sih sebenarnya. Tapi setting-nya bukan dalam bentuk rumah sakit, setting-nya di masyarakat,” ujar Agus.

Dalam mengembangkan fungsi sosial para penyandang, Bipolar Care Indonesia tak hanya memanfaatkan media sosial seperti Facebook atau WhatsApp, tapi juga interaksi sosial di dunia nyata. Melalui komunitas tersebut, ODB bisa berkumpul dan saling berbagi, tak hanya kepada sesama penyandang, tapi juga kepada orang-orang yang memiliki kepedulian terhadap kesehatan jiwa.

Komunitas Bipolar Care Indonesia tak hanya beranggotakan para penyandang, tapi juga mahasiswa psikologi, terapis kesenian, dan konselor. Meski begitu, mereka menetapkan aturan bagi anggota non-ODB, yakni tidak boleh memberikan stigma.

“Banyak teman yang merasakan mereka tidak merasa sendiri, punya teman, nggak dijudge, merasa seperti diterima sebagai manusia, dan mereka bisa sharing tanpa di-judge,” tutur Agus.

Selain sebagai tempat berbagi, komunitas juga berperan untuk memberikan edukasi bagi para penyandang. “Misalnya anger management, bagaimana perubahan mood itu kita kendalikan dengan baik, dengan cara apa, gimana ketika mereka lagi fase mania itu kita tidak melakukan perilaku impulsif,” beber Agus.



Bahaya Stigma bagi Penyandang Bipolar

Stigma dalam masyarakat memang memiliki dampak bagi penyandang bipolar, seperti riset berjudul “Effects, Experiences, and Impact of Stigma on Patients with Bipolar Disorder” (PDF) yang dilakukan oleh Viktoria R. Mileva, bersama dua rekannya.


Dalam penelitian ini, Mileva, dkk. meneliti 178 orang dengan bipolar yang direkrut melalui program penelitian rawat jalan dari Argentine Network for Bipolar Disorder di 11 klinik yang tersebar di Argentina, yang terdiri dari lima rumah sakit jiwa umum dan enam klinik rawat jalan swasta. Pasien-pasien itu memiliki rentang usia 18 sampai 83 tahun.

Dari studi ini, diketahui bahwa lebih dari 50 persen responden memiliki ketakutan akan stigma masyarakat. Bagi mereka, stigma yang muncul bisa mempengaruhi kualitas hidup dan harga diri.

Reinardo Sinaga (32), seorang penyandang bipolar, mengakui bahwa dukungan dari orang-orang di sekitar penting bagi hidupnya. Dalam hidup seorang ODB, ada berbagai aktivitas berbahaya yang dapat mereka lakukan tanpa sadar, seperti menyakiti diri sendiri (self harm) ketika fase depresi atau penggunaan narkotika dan kecanduan seks dalam fase mania.

“Ketika seorang ODB tidak ada dukungan keluarga, teman, lingkungan, itu akan memperparah dua fase itu, karena kita ODB itu selalu mencari alasan untuk membenarkan apa yang dia lakukan, padahal dia lupa,” ujar Reinardo.

Reinardo menceritakan bahwa mulanya ia menutup-nutupi gangguan yang dialaminya. Namun, akhirnya ia terbuka kepada keluarga. “Dan kemudian keluargaku melihat sendiri aku self harm, akhirnya sudahlah,” tuturnya.

Awalnya, Reinardo berpikir bahwa gangguan kejiwaan adalah sebuah aib, terlebih dengan aktivitasnya yang kerap menjadi pembicara. Ia khawatir jika masalahnya diketahui publik, reputasinya akan cedera.


“Tapi setelah mendapat dukungan keluarga, aku mikir bahwa ‘Oke, dalam tubuhku, pikiranku, aku punya sakit mental, tapi istriku sendiri yang meyakinkanku, aku tidak sakit’,” ungkap Reinardo.

Bagi Reinardo, dukungan yang baik dari lingkungan sosial dapat memperpanjang fase normal dalam hidupnya. Maka dari itu, ia pun bergabung dengan komunitas bagi penyandang bipolar. Namun, sayangnya, Reinardo hanya mengikuti komunitas di media sosial, sebab di Pontianak, kota tempat dia tinggal, belum ada komunitas tersebut.

“Jadi aku ya merasa sendiri, maksudnya sendiri. Yang punya kecenderungan sama kayak aku itu belum ada di sini [di Pontianak]. Aku juga bingung mau mencari mereka, karena kan data pasien dirahasiakan,” pungkasnya.

Baca juga artikel terkait BIPOLAR atau tulisan menarik lainnya Widia Primastika
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Widia Primastika
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight