Mariah Carey Akui Dirinya Menderita Bipolar

Oleh: Yulaika Ramadhani - 12 April 2018
Dibaca Normal 1 menit

"Saya akan merasa sangat kesepian dan sedih, bahkan merasa bersalah karena saya tidak melakukan apa yang perlu saya lakukan untuk karir saya."
tirto.id - Mariah Carey untuk pertama kalinya memberi tahu para penggemar bahwa dia mengalami gangguan bipolar.

"Sampai baru-baru ini saya hidup dalam penyangkalan, menutup diri dan selalu takut seseorang akan membocorkan ini," katanya kepada editor-in-chief Jess Cagle dilansir People.

Mariah Carey didiagnosis menderita gangguan tersebut sejak 2001. Ia mendapat diagnosis itu setelah dirawat di rumah sakit akibat gangguan fisik dan mental.

“Beban ini terlalu berat. Saya mencari dan kemudian mendapat perawatan, saya menempatkan orang-orang positif di sekitar dan saya kembali melakukan apa yang saya sukai: menulis lagu dan membuat musik," lanjutnya.


Penyanyi yang bakal menggelar konser di Borobudur, Magelang pada 6 November 2018 mendatang ini sekarang tengah menjalani terapi dan minum obat untuk gangguan bipolar II.

“Saya minum obat yang tampaknya cukup bagus. Saya jadi tidak merasa terlalu lelah atau lamban atau hal-hal seperti itu. Menemukan keseimbangan yang tepat adalah hal terpenting,” jelasnya.

Bipolar sendiri sebenarnya merupakan salah satu gangguan kesehatan mental yang populer. Menurut laporan WHO pada 2016, ada setidaknya 60 juta penderita gangguan bipolar ini. Angka ini membuat kita mau tidak mau untuk lebih beramah-tamah dengan gangguan kesehatan mental yang namanya diambil dari istilah dua kutub (bi-polar).


Mulanya, Carey mengira dia menderita gangguan tidur parah atau insomnia.

“Tapi itu bukan insomnia normal dan saya juga tidak berbaring sambil menghitung domba seperti yang lain. Saya bekerja dan bekerja dan bekerja. Saya mudah marah dan selalu takut mengecewakan orang lain. Ternyata saya sedang mengalami sebuah bentuk 'mania'," lanjutnya.

Keadaan tersebut semakin parah ketika Carey merasa energinya menjadi kian menurun.

"Saya akan merasa sangat kesepian dan sedih, bahkan merasa bersalah karena saya tidak melakukan apa yang perlu saya lakukan untuk karir saya," lanjutnya.

Menurut Asosiasi Psikiatris Dunia (WPA), bipolar disebabkan oleh sejumlah hal. Pertama, struktur otak. Ilmuan menemukan kalau ada perbedaan ukuran otak antara penderita bipolar. Inilah yang menyebabkan kecelakaan pada kepala bisa menyebabkan seseorang mendadak menderita bipolar. Tapi temuan yang lebih umum adalah kadar senyawa kimia di otak yang tidak seimbang, sehingga obat-obatan akan sangat membantu menetralisir kondisi ini.

Penyebab kedua adalah stres dari lingkungan. Pengaruh stres yang berlebihan ternyata dapat memicu kekurangan zat kimia tertentu di otak. Penyebab ketiga, faktor genetik. Meski penelitian tentang hal ini masih berlanjut, ilmuwan menemukan kalau seorang anak dapat mengidap bipolar turunan dari orang tuanya.


Carey termotivasi untuk berbagi perjuangannya melawan bipolar dengan harapan dapat menghilangkan stigma bipolar.

"Saya berada di tempat yang sangat baik sekarang, di mana saya merasa nyaman mendiskusikan perjuangan saya menghadapi gangguan bipolar II," katanya. "Saya berharap kita bisa sampai ke tempat di mana stigma tersebut hilang dari orang-orang yang melewati semuanya sendirian. Gangguan ini bisa terasa sangat mengisolasi. Bipolar tidak harus mempengaruhi diri Anda dan saya menolak untuk membiarkannya mengontrol saya. ”


Carey bukan satu-satunya pesohor yang secara terbuka berbagi pertempuran mereka dengan gangguan itu.

Di Indonesia, gangguan bipolar mulai dikenal luas ketika pesohor Marshanda membuat heboh drama penyanderaannya di rumah sakit oleh sang ibu. Gangguan itu membuatnya mengalami perubahan emosi yang cukup ekstrem. Beberapa kali Marshanda mengunggah videonya dalam keadaan marah, tenang, sesekali bijak bak motivator.

Aktris Catherine Zeta-Jones mengungkapkan dia mengalami gangguan bipolar pada 2011 dan dilaporkan mencari pengobatan pada 2013. Demi Lovato juga mengungkapkan diagnosisnya pada 2011 dan setelah itu ia menjadi aktivis kesehatan mental, mengadvokasi perawatan kesehatan universal di Konvensi Nasional Partai Demokrat pada 2016.


Baca juga artikel terkait BIPOLAR atau tulisan menarik lainnya Yulaika Ramadhani
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Yulaika Ramadhani
Penulis: Yulaika Ramadhani
Editor: Yulaika Ramadhani
DarkLight