Menuju konten utama

Anna Suraya dan Perjuangan Membongkar Bahaya Asbes di Indonesia

Bagaimana atap rumah bisa berubah jadi ancaman maut bagi paru-paru? Dr. Anna Suraya membedah bahaya laten asbes bagi kesehatan publik di Indonesia.

Anna Suraya dan Perjuangan Membongkar Bahaya Asbes di Indonesia
Header Wansus Anna Suraya. tirto.id/Tino
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Selama 53 tahun, Ester Yacoba Sumakul (64) hidup di rumah berdindingkan triplek kayu, dipayungi lembaran asbes yang tersusun semrawut. Di bawahnya, terbentang lantai retak yang menjadi pijakan setiap langkah kakinya.

Rumahnya yang terletak di Kampung Ambon, Cengkareng, Jakarta Barat, didatangi rombongan menteri pada Sabtu (24/10/2026). Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Maruarar Sirait, mengatakan pengerjaannya dijanjikan mulai 10 November.

Rumah Ester hanya satu dari banyak rumah tak layak huni lainnya. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti, yang ikut dalam kunjungan, mengatakan terdapat 54 RT berstatus kumuh di Kecamatan Cengkareng.

Menurut data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2026 yang dirilis BPS, sekitar 39,4 persen rumah tangga di DKI Jakarta belum memiliki rumah sendiri. Sementara itu, 27,9 persen rumah tangga menempati rumah tidak layak huni. Amalia menyebut angka ini cukup tinggi dibandingkan provinsi lain.

Penggunaan asbes, dalam data BPS telah dicatatkan sebagai salah satu aspek untuk mengkategorikan suatu tempat tinggal dalam kondisi tak layak huni.

“Di Jakarta Barat, angkanya mencapai 57,6 persen. Artinya, lebih dari setengah rumah di DKI Jakarta, termasuk di Jakarta Barat, atapnya menggunakan asbes yang dalam hal ini tidak layak untuk kesehatan penghuninya,” kata Amalia di Kampung Ambon, Jakarta Barat, Sabtu (24/10/2026).

Secara keseluruhan, 54,59 persen rumah tangga di DKI Jakarta menggunakan asbes sebagai bahan atap rumah. Angka ini menempatkan Jakarta di posisi kedua setelah Kepulauan Bangka Belitung, yang mencapai 56,70 persen.

Statistik Kesejahteraan Rakyat 2026

Besarnya penggunaan asbes di kawasan permukiman membuat persoalannya tidak berhenti pada kelayakan bangunan. Material ini juga menyimpan risiko kesehatan, terutama ketika seratnya terlepas ke udara dan terhirup manusia.

Bahaya tersebut sempat disinggung Presiden Prabowo Subianto dalam peresmian revitalisasi Stasiun Semarang Tawang, Semarang, Kamis (30/7/2026).

“Orang-orang muda sudah terkena kanker paru-paru padahal dia tidak merokok. Dari mana? Ya dari karat, dari asbes, dari macam-macam bahan kimia,” ujar Prabowo.

Di balik kesadaran pemangku kebijakan yang telah terbangun, ada usaha keras menahun seorang dokter di baliknya. Dokter spesialis kedokteran toksikologi okupasi, Anna Suraya, adalah salah satu sosok yang sejak awal getol meneliti dampak asbes di Indonesia.

Ketertarikan Anna bermula pada 2016 ketika bertemu dengan sejumlah buruh pabrik asbes yang mengeluhkan gangguan pernapasan hingga nyeri dada.

Keluhan para pekerja itu kemudian membawanya mendalami keterkaitan paparan asbes dengan kanker paru di Indonesia. Pada 2021, Anna meraih gelar Ph.D. dari Ludwig-Maximilians-Universität (LMU), München, melalui disertasi mengenai paparan asbes dan kanker paru di Indonesia.

Kemudian pada 2025, bersama timnya, Anna menerbitkan peta risiko paparan asbes pertama di Indonesia.

Dampak asbes sendiri memanglah nyata. Anna menyebut WHO telah menetapkan seluruh jenis asbes sebagai bahan karsinogenik atau penyebab kanker.

“WHO sudah menetapkan—tentunya WHO menetapkan berdasarkan penelitian-penelitian—bahwa asbes itu menyebabkan kanker. Jadi, kita terkena serat asbes saat ini, mungkin kemudian dia menyebabkan pengerasan paru, atau disebut asbestosis, dan di kemudian hari dia juga berisiko untuk menderita kanker paru,” jelas Anna kepada Tirto, Rabu (28/10/2026).

Meski demikian, keberadaan asbes pada atap rumah tidak serta-merta menjelaskan seberapa besar paparan yang diterima penghuninya. Risiko kesehatan berkaitan erat dengan serat asbes yang terlepas ke udara oleh beberapa pemicu.

Lantas, dalam kondisi seperti apa asbes di rumah beralih menjadi ancaman bagi penghuninya?

Untuk menelusuri persoalan di balik asbes yang selama ini menjadi solusi atap rumah rakyat, Tirto berbincang dengan Anna Suraya tentang risiko paparan asbes dan perjuangannya selama satu dekade mendorong pengakuan asbestosis sebagai penyakit.

Saat ini bahaya asbes kian menjadi sorotan pejabat publik. Ibu salah satu yang lama memperhatikannya, apa yang melatarbelakangi?

Saya tahun 2016 itu memimpin focus group discussion (FGD) yang dihadiri oleh salah satu ahli asbes dari Jerman. Nah, waktu itu juga teman-teman dari Serikat Pekerja itu mengajukan pertanyaan dan membawa problem bahwa banyak pekerja-pekerja di pabrik asbes itu mengalami gangguan pernapasan, sulit bernapas, nyeri dada. Begitu saya lihat sebetulnya orangnya itu penampakannya itu mirip ya, kurus-kurus gitu. Nah, di FGD itu memang dihadiri oleh banyak dokter-dokter. Namun memang saat ini saya bersedia untuk membantu mempelajari apa yang terjadi dengan teman-teman tersebut ya.

Sejak itulah kemudian saya, ya kalau dokter kalau dimintain pertolongan ya itu sudah salah satu amanah untuk kita kemudian membantu, walaupun saya sama sekali saat itu tidak memiliki sama sekali pengalaman dalam memecahkan atau dalam mendiagnosis penyakit terkait asbes. Tapi kemudian saya mendapatkan dukungan yang besar setelah saya belajar dari berbagai artikel, berbagai sumber. Kemudian saya juga berkesempatan kuliah di Jerman, bertemu dengan para ahli dari Korea, dari Jepang. Di situ saya mulai yakin.

Kemudian saya juga melakukan penelitian di Rumah Sakit Persahabatan bersama-sama dengan Profesor Aziza [Aziza Ghanie Iksan], Profesor Elisna [Elisna Syahruddin]. Kami kemudian mengamati pola-pola kanker paru di Indonesia dan memang kemudian kami mendapati adanya pola-pola kanker paru disertai dengan asbestosis pada kasus-kasus kanker paru di Indonesia.

Mengapa akhirnya Ibu mengambil fokus ke asbes dan asbestosis?

Itu seperti air mengalir, ya. Ada permintaan pasien, kemudian ada rasa tanggung jawab ketika kita menyelesaikan masalah, kita harus sungguh-sungguh mempelajarinya, yang membuat saya kemudian mengambil Ph.D. dengan penelitian di bidang asbes. Karena itu sebagai salah satu tanggung jawab saya. Untuk menjadi sungguh-sungguh, kalau ada masalah ya, harus diselesaikan dengan ilmu pengetahuan.

Bagaimana penerimaan berbagai lembaga saat itu? Adakah penolakan?

Selalu ada yang kontra dan itu sangat wajar. Jadi, ya kita hadapi saja, karena kita memang baru sama-sama belajar. Jadi, kalau ada yang menolak, ya kita jelaskan dengan baik. Kita berikan argumen-argumen, kita berikan buktinya.

Akhirnya dengan pemberian bukti-bukti tersebut, selama 10 tahun ini, kita memperlihatkan hasil yang signifikan bahwa apa yang kita lakukan itu menjadi perhatian dan dipercaya oleh masyarakat.

Kapan asbes yang dijadikan sebagai atap ini bisa menjadi bahaya bagi penghuni rumah?

Ilustrasi Asbes

Ilustrasi Asbes. foto/Istockphoto

Asbes sendiri sebetulnya mineral alami yang ada di alam, yang saat ini di Indonesia mayoritas digunakan untuk membuat atap. Nah, kapan dia berbahaya? Dia berbahaya ketika asbestos tersebut seratnya itu terlepas di udara.

Kapan dia [asbestos] terlepas di udara? Yang pertama, misalnya waktu pekerja sedang melakukan pembuatan atau memproduksi bahan-bahan mengandung asbes, misalnya membuat atap.

Kalau dia sudah menjadi atap, kapan serat itu terlepas? Bisa ketika pekerja konstruksi melakukan pekerjaannya, misalnya memasang, melepas, merenovasi. Nah, kemudian orang yang tinggal di rumah itu bisakah terkena seratnya? Bisa juga kalau asbesnya itu sudah lapuk, atau retak, atau terkena penggusuran, atau saat renovasi, atau saat bencana alam, dan sebagainya.

Nah, kalau dia [asbes] utuh, tidak terlepas seratnya, berbaya kah? Kalau dia utuh, seratnya tidak terlepas, berarti tidak ada bahaya yang tersebar di udara.

Penyakit yang disebabkan mineral asbes ini sebenarnya penyakit apa?

Yang pertama, asbestosis itu sebetulnya sebenarnya adalah penyakit fibrosis atau pengerasan pada jaringan paru yang disebabkan oleh serat asbes.

Dampaknya seperti apa asbestosis itu? Jadi, paru kita itu kan seperti balon, ya, dia lembut, mudah mengembang-mengempis. Nah, ketika terkena serat asbes, paru yang seperti balon itu menjadi mengeras, sehingga kemampuan mengembang dan mengempisnya menjadi terhambat. Begitu juga jaringan-jaringan di sekitar balon itu, itu juga menjadi mengeras yang membuat penderitanya akan mengalami kesulitan untuk bernapas.

Mengapa ini berbahaya banget? Ya berbahaya kalau kita mengalami kesulitan bernapas. Dan WHO sudah menetapkan—tentunya WHO menetapkan berdasarkan penelitian-penelitian—bahwa asbes itu menyebabkan kanker. Jadi, kita terkena serat asbes saat ini, mungkin kemudian dia menyebabkan pengerasan paru, atau disebut asbestosis, dan di kemudian hari dia juga berisiko untuk menderita kanker paru. Kanker paru atau kanker mesothelioma. Mesothelioma itu adalah kanker yang disebabkan oleh asbes.

Apa yang membuat Ibu melihat masalah asbes sebagai sesuatu yang urgent?

Karena sesuatu zat itu apabila dia bisa menyebabkan kanker, dia tidak terlalu bergantung pada jumlah. Jadi, kalau tubuh kita memang bereaksi buruk, artinya bereaksi untuk memproses zat di luar itu menjadi kanker, kita akan mudah terkena kanker.

Yang menjadi konsen saya adalah kalau yang terkena itu anak-anak. Artinya sejak muda, sejak kecil dia terpajan, yang akhirnya membuat dia lebih mudah, untuk terkena kanker.

Presiden menyinggung kanker paru pada anak muda nonperokok dan menyebut asbes sebagai salah satu kemungkinan sumbernya. Apakah data Ibu mendukung klaim itu?

Terkait presiden menyinggung tentang kanker paru pada anak muda non-perokok, dan menyebut asbes sebagai salah satu kemungkinan sumbernya, dalam penelitian saya, saya hanya menyebutkan bahwa saat ini memang untuk kanker paru di Indonesia itu dimulai di umur yang sangat muda dibanding kanker paru pada negara lain.

Misalnya, di Jepang, kanker paru itu dimulai reratanya itu di usia 70 tahun ke atas. Nah, pada penelitian saya kemarin di tahun 2017-2018, itu rerata kanker paru di Indonesia dalam penelitian saya itu 58 tahun. Jadi memang lebih muda.

Peta kerentanan asbes yang Ibu buat juga memakai kerentanan gempa bumi. Bisa dijelaskan sedikit?

Di pemetaan saya, mengapa saya menggunakan juga kerentanan asbes itu dihubungkan dengan potensi gempa bumi? Karena gempa bumi itu menyebabkan kehancuran pada bangunan-bangunan. Kalau bangunan itu mengandung asbes, menjadikan asbes itu seratnya tersebar di udara, yang kemudian bisa menjadi salah satu bagian yang kita hirup, dan itu manusia bisa terkena.

Data BPS kini menaruh asbes dalam kategori tersendiri, dan rumah beratap asbes dikategorikan tidak layak. Apakah kondisinya pada 2016 sudah seperti ini?

Ilustrasi penggunaan atap asbes dan seng

Ilustrasi penggunaan atap asbes dan seng. foto/iStock

Saat itu belum. Sejak beberapa tahun yang lalu BPS, kemudian Bappenas, juga sudah menerapkan bahwa salah satu kategori rumah layak huni itu adalah tidak menggunakan asbes. Nah, ini salah satu kabar baik, kita merasa diperhatikan. Perjuangan kita untuk menjaga masyarakat, masyarakat pekerja, anak-anak, relawan bencana, kita menjaga mereka dari pajanan bahan-bahan berbahaya yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan mereka di kemudian hari. Dan itu menjadi perhatian dan kami bersyukur bersyukur bahwa apa yang kita lakukan itu menjadi satu trigger untuk perubahan.

Sepuluh tahun berlalu, apa yang menurut Ibu berubah menjadi lebih baik?

Kalau dalam 10 tahun ini, banyak sekali berubah lebih baik, ya. Bahwa asbestosis, kanker paru yang disebabkan oleh asbes, kemudian diagnosis penyakit terkait asbes termasuk mesothelioma juga sudah mulai dikenal dengan baik di kalangan masyarakat, di kalangan dokter, di kalangan pemerintahan, juga NGO. Jadi, semakin meluas. Di kalangan masyarakat relawan bencana juga lebih aware untuk melindungi dirinya. Dalam 10 tahun ini, kami merasakan satu perubahan yang sangat besar.

Apakah masih ada masalah soal diagnosis, pencatatan penyakit, atau hal lain yang perlu dibenahi?

Terkait dengan diagnosis, pencatatan, dan yang lain, memang masih harus dibenahi, tapi saya sangat optimis dengan berjalannya waktu, kita akan terus-terus menjadi lebih baik.

Memang tidak bisa langsung kelihatan di depan mata kita. Hal-hal seperti itu bisa membuat kita putus asa, tidak mau berjuang lagi karena merasa perjuangan kita itu tidak ada hasilnya.

Tapi, kalau kita cukup mensyukuri setiap perubahan, setiap hasil yang baik, sedikit demi sedikit, kita sangat optimis ke depan akan menjadi lebih baik.

Apa momen paling berat dalam sepuluh tahun ini? Apa yang membuat Ibu bertahan?

Saya itu karena saya dokter, saya menikmati sekali proses-proses belajar, kemudian mempublikasikan hasil, kemudian membuat buku dan melihat buku saya menjadi bahan training, kemudian juga bahan pelajaran untuk orang lain, itu sangat menggembirakan. Jadi, kalau ditanya masa berat sama masa menggembirakannya, akhirnya lebih banyak masa menggembirakannya.

Tapi yang terasa itu adalah ketika harus maju ke pengadilan [saat itu menjadi saksi ahli]. Saya merasakan satu situasi yang sangat tidak nyaman berada di lingkungan pengadilan, kemudian ditanyakan sesuatu yang menurut pendapat saya logik, kemudian dimentahkan dengan cara-cara advokasi yang tidak logik, hanya karena kepentingan-kepentingan yang kurang jelas. Jadi saya kesulitan deal with argumen-argumen argumen yang tidak logik.

Pada akhirnya, apakah Ibu mendorong pelarangan total asbes?

Apakah saya mendorong untuk pelarangan asbes total? Karena saya dokter ahli di bidang K3, di K3 itu ada namanya hierarki pencegahan. Itu sangat jelas, bahwa hierarki pencegahan paling efektif itu adalah eliminasi. Artinya apa? Ya sudah, kalau satu zat dikatakan berbahaya, apalagi bahayanya itu kanker, maka cara terbaiknya adalah eliminasi untuk tidak berhubungan dengan barang tersebut.

Baca juga artikel terkait BAHAYA ASBES atau tulisan lainnya dari Khizbulloh Huda

tirto.id - News Plus
Reporter: Khizbulloh Huda
Penulis: Khizbulloh Huda
Editor: Siti Fatimah