Menuju konten utama

Self-Help Kian Laris, Seberapa Jauh Buku Bisa Memulihkan Mental?

Mengapa buku self-help semakin diminati? Simak pandangan pakar tentang biblioterapi, kesehatan mental, risiko diagnosis mandiri, dan masa depan tren ini.

Self-Help Kian Laris, Seberapa Jauh Buku Bisa Memulihkan Mental?
Wansus Dr. Saleha Rodiah, Ketua Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi Unpad. tirto.id/Fuad
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Buku bertema self-help, pemulihan diri, dan pengembangan diri semakin diminati masyarakat dalam beberapa tahun terakhir. Penelusuran Tirto terhadap sejumlah penerbit menunjukkan, popularitas kategori buku tersebut tidak hanya terlihat dari meningkatnya perhatian pembaca, tetapi juga tercermin dalam angka penjualan dan jumlah judul yang diterbitkan.

Data Gramedia menunjukkan, penjualan buku kategori pengembangan diri mencapai 1,4 juta eksemplar sepanjang 2024. Angka tersebut meningkat menjadi 1,7 juta eksemplar pada 2025. Hingga Oktober 2026, penjualannya telah mencapai 1,5 juta eksemplar. Dari sisi penerbitan, jumlah judul buku self-improvement juga bertambah dari 163 judul pada 2024 menjadi 298 judul pada 2025.

Public Relations Manager Gramedia, Rezza Patria Wibowo, mengatakan kategori pengembangan diri secara konsisten masuk dalam lima besar kategori buku terlaris di Gramedia. Kategori ini juga menyumbang sekitar 10 persen dari pendapatan perusahaan setiap tahun.

Tren serupa terlihat di Mizan. Berdasarkan data penjualan sepanjang 2022–2025, buku kategori pengembangan diri dan karier yang terjual meningkat dari 25.729 eksemplar pada 2022 menjadi 49.119 eksemplar pada 2025. Sementara itu, penjualan buku kategori psikologi mencapai 24.312 eksemplar pada 2025, naik dari 22.809 eksemplar pada 2022.

Corporate Communications and External Relations PT Mizan Publika, Ditta Sekar Cempaka, menyebut peningkatan minat terhadap kedua kategori tersebut mulai terlihat signifikan dalam tiga tahun terakhir, terutama setelah pandemi COVID-19.

Meningkatnya minat terhadap buku-buku tersebut juga tercermin dalam Survei Preferensi Membaca Buku di Era Digital 2025 yang dipublikasikan GoodStats. Survei terhadap 1.000 responden itu menunjukkan 65 persen di antaranya menyukai buku kategori pengembangan diri.

Namun, di balik pertumbuhan pasar tersebut, muncul pertanyaan mengenai sejauh mana buku dapat membantu seseorang menghadapi persoalan psikologis.

Apakah membaca buku self-help cukup untuk membantu proses pemulihan? Bagaimana membedakan membaca untuk memahami diri dengan melakukan diagnosis mandiri? Dan sejauh mana penerbit bertanggung jawab memastikan buku yang dipasarkan sesuai dengan kebutuhan pembacanya?

Untuk membedah fenomena tersebut, Tirto mewawancarai Saleha Rodiah, Ketua Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi Universitas Padjadjaran (Unpad). Ia menjelaskan perkembangan minat terhadap buku self-help, termasuk kaitannya dengan biblioterapi atau terapi melalui buku.

Dalam wawancara ini, Saleha juga menguraikan batasan buku sebagai sarana pemulihan kesehatan mental, pentingnya pendampingan orang-orang terdekat, hingga peran penerbit dalam menyajikan bacaan yang sesuai dengan kebutuhan pembaca. Berikut petikan wawancaranya.

Kapan buku bertema self-help mulai populer?

Sebelum pandemi, sebenarnya sudah ada lonjakan buku self-help, tetapi belum terlalu besar. Peningkatannya benar-benar terasa ketika pandemi. Saat itu, orang-orang kebingungan karena aktivitas mereka menjadi terbatas. Sebelum pandemi, orang masih bisa bermain bola di luar, jalan-jalan, atau menonton.

Nah, ketika pandemi, orang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Mereka mungkin mulai merasa cemas karena tidak bisa lagi beraktivitas seperti biasanya. Apalagi bagi ibu rumah tangga. Setiap hari yang dilihat hanya cucian, pekerjaan rumah, dan urusan dapur.

Padahal, biasanya ketika anak-anak bersekolah, mereka punya waktu untuk diri sendiri (me-time), misalnya membaca novel. Namun, ketika anak-anak terus-menerus berada di rumah, kondisi itu juga bisa memicu stres.

Saya juga pernah menjadi narasumber dalam seminar yang diadakan mahasiswa saat pandemi. Waktu itu, banyak peserta bertanya, "Ibu, bagaimana biblioterapi?" Memang, praktik biblioterapi semakin berkembang. Orang mulai memilih untuk membantu dirinya sendiri melalui buku karena, "Ah, kalau ke profesional harus membuat janji dulu, belum lagi harus mengeluarkan dana."

Mengapa terjadi peningkatan minat terhadap buku self-help dan kesehatan mental dalam beberapa tahun terakhir?

Kalau sepengetahuan saya, ketika seseorang datang ke psikolog atau bercerita kepada teman, terkadang ada penghakiman-penghakiman yang muncul. Kadang, dari sisi manusiawi, kita tidak bisa menerima penghakiman itu. Padahal, secara pribadi, kita juga ingin orang lain memahami apa yang kita rasakan ketika kecewa, sedih, atau marah.

Nah, sekarang ternyata semakin banyak buku yang berkaitan dengan self-help. Saya pernah menemukan penerbit yang membuat seri khusus buku self-help. Misalnya, ada buku tentang terapi untuk mengelola kemarahan. Di dalamnya diceritakan beberapa kasus terkait kemarahan. Bahkan, di bagian belakang buku dijelaskan bahwa buku tersebut ditujukan bagi orang yang sedang mengalami kemarahan, kekecewaan, dan sebagainya.

Ini memang fenomena yang bagus karena orang semakin termotivasi untuk membaca buku. Namun, di sisi lain, ada hal yang perlu diperhatikan, yaitu kecenderungan melakukan self-diagnosis. Sebab, kalau berbicara tentang biblioterapi atau terapi melalui buku, sebenarnya ada tahapan-tahapan yang harus dilalui.

Saya memang bukan dari bidang psikologi, tetapi pernah melakukan penelitian bersama dosen psikologi. Waktu itu, kami meneliti bagaimana mendiagnosis kondisi anak-anak yang tinggal di panti asuhan, khususnya dari sisi konsep diri, kemudian berupaya meningkatkannya melalui koleksi buku.

Kemudian, dalam kegiatan pengabdian masyarakat yang saya lakukan baru-baru ini, salah satu narasumbernya adalah ahli biblioterapi. Namanya Ibu Herlina, seorang psikolog sekaligus dosen UPI. Beliau menjelaskan bahwa dari perspektif psikologi, kita perlu melihat terlebih dahulu kecenderungan psikologis seseorang.

Jadi, buku yang digunakan dalam biblioterapi tidak bisa sembarangan. Koleksinya perlu diseleksi sesuai dengan kebutuhan pembaca. Karena itu, meningkatnya minat baca masyarakat tentu merupakan hal yang bagus. Kita bisa melihat bahwa orang sekarang semakin tertarik membaca buku.

Namun, perlu dipahami bahwa tidak semua buku bisa digunakan untuk tujuan biblioterapi. Ada buku-buku yang memang harus melalui proses seleksi. Makanya, ada perpustakaan yang pustakawannya sudah mendapatkan pelatihan mengenai biblioterapi.

Selain itu, perhatian dan dukungan orang-orang terdekat juga diperlukan. Jadi, bukan hanya pendampingan agar seseorang tidak melakukan self-diagnosis, melainkan juga dukungan dari lingkungan sekitarnya.

Saya juga sempat terkaget-kaget ketika muncul stigma bahwa Gen Z adalah generasi stroberi, yaitu generasi yang dianggap mudah rapuh dan sebagainya. Padahal, itu merupakan stigma yang belum tentu benar.

Apakah lonjakan minat terhadap buku self-help menjadi pertanda bahwa buku digunakan sebagai coping mechanism?

Ya, karena pada dasarnya orang itu butuh eksistensi, butuh aktualisasi. Ini perlu kita syukuri karena orang peduli dengan kesehatan mental atau ada orang yang memang berpikir, "Oh, sekarang lagi, saya lagi perlu healing nih, saya perlu ini."

Jadi, saya juga berbangga hati dengan orang yang aware terhadap kesehatan mental, meskipun memang ini bisa jadi hanya suatu tren karena fear of missing out (FOMO). Apakah biblioterapi dapat menjadi alternatif untuk membantu pemulihan kesehatan mental?

Sebenarnya, biblioterapi itu bisa relevan untuk orang-orang yang memang mengalami gangguan dalam tahap ringan. Misalnya, marahnya itu bukan marah yang akut. Misalkan marahnya masih dalam tahap ringan, bukan orang yang kalau marah meledak-ledak atau sedihnya sampai menyakiti diri. Tidak, tidak akan menyembuhkan kalau itu melalui buku.

Tapi, dalam tahap ringan, buku self-help bisa membantu. Jadi, ada kriteria-kriteria tertentu. Tingkat kecemasannya bukan tingkat yang tinggi sekali, sehingga tidak harus ke psikiater.

Bagaimana seharusnya penerbit mengemas buku bertema self-help?

Bukan hanya melihat tren apa yang sedang booming, penerbit juga perlu menganalisis kebutuhan masyarakat. Jadi, perlu ada semacam penyaringan atau seleksi. Misalnya, buku seperti apa yang tepat untuk anak usia 12 sampai 18 tahun?

Pada rentang usia tersebut, kebutuhan mereka berkaitan dengan hobi, minat, dan pengembangan diri, misalnya kemampuan belajar. Sementara itu, kelompok usia 18 sampai 25 tahun mulai memiliki kebutuhan yang berbeda, seperti mengembangkan karier dan membangun relasi.

Dari situ, penerbit bisa menentukan segmentasi pembacanya. Mereka ingin menyasar kelompok usia yang mana? Jika sasarannya usia 18 sampai 25 tahun, misalnya, buku bisa diarahkan pada tema persiapan karier masa depan, membangun relasi, atau mengembangkan jejaring.

Jadi, penerbit tidak hanya memikirkan keuntungan atau mengikuti tren yang sedang berkembang. Mereka juga perlu menyeleksi buku berdasarkan kebutuhan pasar, kemudian menentukan segmentasinya dengan mempertimbangkan psikologi perkembangan pembaca.

Apakah minat terhadap buku bertema self-help akan bertahan lama?

Prediksi saya, minat terhadap buku self-help akan terus berlangsung karena pada dasarnya manusia itu dinamis. Emosi kita tidak selalu stabil, kan? Ada kalanya kita mengalami masa-masa down. Ketika berada dalam kondisi seperti itu, terkadang kita tidak memiliki teman yang bisa mendampingi. Kita membutuhkan teman yang tidak menghakimi, dan buku bisa menjadi teman seperti itu. Buku tidak menghakimi.

Saya melihat dalam satu hingga dua tahun terakhir, minat baca buku meningkat. Kalau sebelumnya kita masih asyik dengan gadget, dalam dua tahun terakhir ini orang mulai kembali lagi ke buku.

Setiap jenis buku punya pangsa pembacanya masing-masing. Anak muda sekarang, dengan adanya AI, sering disebut sebagai generasi instan. Tapi, ternyata tidak begitu. Mahasiswa-mahasiswa di program studi kami, Perpustakaan dan Sains Informasi, masih suka membaca buku-buku yang membahas hal-hal kritis.

Jadi, saya optimistis. Buku fiksi, buku-buku kritis, maupun buku self-help, insyaallah masih akan memiliki pembacanya.

Baca juga artikel terkait BUKU atau tulisan lainnya dari Muhammad Nizar

tirto.id - Decode
Reporter: Muhammad Nizar
Penulis: Muhammad Nizar
Editor: Alfitra Akbar