tirto.id - Perasaan hangat menyelimuti Dea ketika membaca halaman demi halaman buku Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring karya Andreas Kurniawan.
Kata-kata di dalamnya tidak lagi sekadar menjadi rangkaian abjad dan kalimat. Lebih dari itu, kata-kata tersebut menjelma seperti sebuah pelukan hangat.
“Masih ingat betul sensasi seperti dipeluk, saya rasakan saat pertama kali membaca buku ini. Perasaan duka bukan hanya divalidasi, tapi juga ditenangkan dengan penjelasan secara ilmiah tentang siklus berduka dan cara penanggulangannya,” kata perempuan asal Jabodetabek itu kepada Tirto, Senin (26/10/2026).
Bagi Dea, buku yang mengisahkan pengalaman Andreas saat kehilangan anaknya itu terasa seperti obat untuk membantu meredakan duka. Setelah membacanya, ia merasa lebih mampu memahami dan menghadapi kehilangan.
Ia juga memperoleh pemahaman mengenai sejumlah konsep dalam menghadapi kehilangan, mulai dari menjalani masa berduka hingga berdamai dengan keadaan.
Pengalaman itu terasa relevan bagi Dea. Beberapa tahun sebelumnya, ia sempat dilanda perasaan kalut setelah sang ibu meninggal dunia. Kondisi tersebut bahkan memunculkan keinginan untuk mengakhiri hidup.
“Rasa empati dan simpati saya terhadap manusia, terutama orang-orang yang berduka, menjadi jauh lebih tinggi hingga saat ini,” imbuhnya.
Meski merasa terbantu memahami dan memproses duka, Dea tidak menampik bahwa buku bukan satu-satunya hal yang dibutuhkan. Ia tetap memerlukan bantuan profesional. Baginya, interaksi langsung dengan tenaga profesional lebih efektif untuk mengelola persoalan sekaligus memahami penyebab trauma maupun depresi.
“Karena setiap orang memiliki kondisi dan ketahanan mental yang berbeda-beda,” tuturnya.
Editor Buku Nonfiksi Gramedia Pustaka Utama, Nadira Yasmine, yang pernah menangani penerbitan buku Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring, mengatakan Andreas memiliki pendekatan tersendiri dalam menulis. Selain mengangkat pengalaman pribadi, Andreas mampu menyampaikan kisah dengan cara yang mudah dipahami pembaca.“Dia good storyteller. Jadi, bacanya enak. Dia pintar kiasan. Makanya ada tutorial mencuci piring, kita juga bisa membilas duka. Pakai kiasan-kiasan yang gampang dipahami,” kata Nadira kepada Tirto di kantor Kompas Gramedia, Jakarta, Senin (2/11/2026).
Nadira menceritakan, keinginan Andreas menulis buku tentang duka muncul beberapa tahun setelah anaknya meninggal dunia. Namun, ia sempat ragu karena buku bertema kehilangan sudah banyak diterbitkan.
Untuk memberikan referensi pendekatan penulisan, Nadira menyarankan Andreas membaca Maybe You Should Talk to Someone karya Lori Gottlieb.
“Bukunya penulis terapis di Amerika. Cara dia nulis adalah bercerita dan dia ngambil contoh dari empat tokoh pasiennya dia,” imbuhnya.
Andreas kemudian mulai menulis buku tentang pengalaman menghadapi duka. Menurut Nadira, proses pengerjaannya hanya berlangsung selama 23 hari. Buku tersebut diterbitkan pada Desember 2023.
Pada awal penerbitannya, penjualan buku berjalan perlahan. Nadira menyebut, judul yang menarik perhatian pembaca dan ulasan dari komunitas turut mendorong popularitasnya.
“Waktu itu pelan-pelan [terjual], jadi mungkin banyak teman-teman buku review juga penasaran karena judulnya catchy. Itu jadi baru meledak, terus cetak ulang,” ceritanya.
Berdasarkan data penerbit Gramedia, buku karya Andreas tersebut masuk dalam tiga besar buku paling populer dengan angka penjualan 20 ribu eksemplar per Oktober 2026. Data penjualan tahunan mencatat 23 ribu eksemplar terjual pada 2024, kemudian meningkat menjadi 32 ribu eksemplar sepanjang 2025.
Tren serupa terlihat pada kategori buku pengembangan diri. Penjualan buku bertema tersebut mencapai 1,4 juta eksemplar sepanjang 2024, meningkat menjadi 1,7 juta eksemplar pada 2025. Hingga Oktober 2026, penjualannya mencapai 1,5 juta eksemplar.
Dari sisi penerbitan, jumlah judul buku bertema self-improvement juga meningkat dari 163 judul pada 2024 menjadi 298 judul pada 2025. Hingga Oktober 2026, tercatat 147 judul diterbitkan.
Menurut Nadira, meningkatnya perhatian terhadap buku-buku tersebut menunjukkan pembaca semakin terbuka membicarakan persoalan kesehatan mental.
“Pembaca sekarang sudah sangat lumayan melek kesehatan mental. Itu sesuatu yang perlu kita rayakanlah, karena dengan ini kita jadi lebih aware bahwa semua kesehatan itu penting, nggak cuma kesehatan fisik. Harapannya, teman-teman jadi enjoy. Banyak banget ilmu yang bisa diambil dari buku-buku nonfiksi, apalagi ketika buku itu ditulis oleh ahlinya,” ujar Nadira.
Memahami Diri Lewat Pengalaman Masa Lalu
Ketertarikan terhadap buku bertema pemulihan diri tidak selalu muncul ketika seseorang sedang berada dalam kondisi sulit. Ada pula pembaca yang menemukan buku semacam ini setelah melewati pengalaman traumatis. Bacaan tersebut kemudian membantu mereka memahami kembali pengalaman masa lalu.
Pengalaman itu dirasakan Hanifa. Beberapa tahun silam, setelah melahirkan anak pertamanya, pekerja kantoran sekaligus ibu rumah tangga di Bandung ini mengalami gejala baby blues. Ia merasakan suasana hati yang berubah-ubah dan berbagai perasaan campur aduk setelah persalinan.
Hanifa mengaku tidak pernah membayangkan masa setelah melahirkan akan terasa begitu berat. Perasaan resah dan gamang menyelimutinya. Pengalaman tersebut bahkan meninggalkan trauma hingga membuatnya tidak ingin kembali menjalani kehamilan.
“Kayak autopilot rasanya, terus hormon berantakan parah, kehilangan jati diri, bahkan aku trauma sama kehamilan sampai sekarang, jadi aku nggak mau hamil lagi,” kata perempuan berusia 34 tahun itu kepada Tirto, Senin (26/10/2026).
Trauma tersebut membekas dari tahun ke tahun. Namun, kondisi Hanifa kini semakin stabil. Tahun lalu, ia menemukan buku Ibu, Kamu Tidak (Gila) Sendirian yang diterbitkan Noura Books pada 2025.
Meski membacanya ketika kondisi mental sudah lebih baik, Hanifa tetap merasakan manfaat dari buku karya Lucia Priandarini, Fransisca Kumalasari, dan Rinda Amalia tersebut. Buku itu memberikan ruang baginya untuk memahami kembali pengalaman pascapersalinan.
Buku tersebut memuat kisah para ibu mengenai baby blues dan kesehatan mental setelah melahirkan. Melalui cerita-cerita di dalamnya, Hanifa merasa mendapatkan validasi tanpa penghakiman atas kondisi yang pernah dialaminya.
Ia merasa tidak sendirian karena ada ibu-ibu lain yang pernah mengalami situasi serupa.
“Terus bisa ngerasain bahwa kamu tuh nggak sendirian, gitu. Pokoknya 30-an cerita yang sebenarnya relate kok, yang semua ibu tuh sebagian besar mengalami,” kata perempuan asal Bandung itu.
Pengalaman tersebut membuat Hanifa semakin memahami pentingnya kesehatan mental. Baginya, membaca buku self-help bukan hanya membantu mengenali diri sendiri, tetapi juga memahami kondisi orang lain.
“Selain memahami diri sendiri, juga memahami teman-teman. Kalau secara internal, pengin berdamai sama pengalaman sendiri. Tapi kalau secara eksternal itu pengin bisa lebih memahami untuk teman-teman yang berada di kondisi tersebut,” ungkapnya.
Editor Nonfiksi Noura Books, Zahra Tsabita, mengatakan buku Ibu, Kamu Tidak (Gila) Sendirian berangkat dari keresahan mengenai pengalaman para ibu yang menghadapi baby blues. Buku tersebut kemudian mendapat respons dari banyak ibu yang merasa memiliki pengalaman serupa.
“Memang impact-nya gede banget untuk ibu-ibu baru. Di buku itu ngejelasin cerita-cerita langsung dari belasan ibu, cerita langsung bagaimana mereka mengalami baby blues,” ungkap Zahra kepada Tirto di kantor Noura Books, Jakarta, Jumat (30/10/2026).
Menurut Zahra, para penulis mengangkat pengalaman setelah persalinan sekaligus proses penerimaan terhadap kondisi tersebut. Gagasan penerbitan buku ini muncul setelah editor sebelumnya menelusuri fenomena baby blues di masyarakat.
“Dia [editor] mulai kayak ngulik tentang baby blues apa segala macam. Kebetulan editornya sudah punya anak, jadi paham kayak gimana perasaannya, feels-nya. Terus, Mbak Rini [penulis buku] menawarkan naskah tentang itu,” ucapnya.
Proses penerbitan buku tersebut berlangsung cukup panjang. Salah satu pertimbangannya adalah berbagai pengalaman yang perlu diangkat, mulai dari trauma ibu setelah persalinan hingga dampaknya terhadap kesehatan mental ayah.
Zahra menjelaskan, persoalan kesehatan mental pascapersalinan tidak hanya dapat dialami ibu. Ayah juga berpotensi mengalami kondisi serupa. Karena itu, buku tersebut turut membahas tanda-tanda yang perlu dikenali serta langkah yang dapat dilakukan.
Penjelasan Zahra mengenai kemungkinan ayah mengalami postpartum blues juga didukung penelitian Claire Baldy dan sejumlah peneliti lainnya yang diterbitkan pada 2023. Studi terhadap 303 ayah di Prancis menemukan, 17,5 persen responden mengalami gejala postpartum blues.
Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa semakin kuat gejala yang dialami, semakin besar pula kemungkinan terganggunya ikatan emosional antara ayah dan bayi (father-to-infant bonding).
“Jadi yang bisa kena baby blues tuh juga bukan cuma ibu, tapi ayah juga bisa kena. Di situ juga dijelasin, tentang, gimana tanda-tanda ayah udah kena baby blues? Terus habis itu, apa yang bisa ayah lakukan untuk hal tersebut?” imbuhnya.
Menanggapi meningkatnya minat terhadap buku pemulihan diri, Zahra mengatakan penerbit mempertimbangkan kredibilitas penulis, relevansi pembahasan, kedalaman riset, dan keberlanjutan isu sebelum menerbitkan sebuah naskah.
“Jadi, kayak memang yang kami pikirkan sih sekarang lebih ke arah, ‘oke, gimana cara risetnya’ supaya lebih mendalam lagi. Maksudnya kayak gimana kami fokus aja bahwa buku ini memang bagus, buku ini memang berkualitas, buku ini yang orang-orang butuhkan,” ungkapnya.

Mencari Ruang Aman Lewat Bacaan
Pengalaman Dea dan Hanifa memperlihatkan bagaimana buku dapat menjadi sarana memahami persoalan emosional sekaligus memberikan perasaan bahwa seseorang tidak sendirian. Namun, meningkatnya minat terhadap buku-buku tersebut tidak serta-merta menunjukkan semakin besarnya persoalan kesehatan mental di masyarakat.
Ketua Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi Universitas Padjadjaran (Unpad), Saleha Rodiah, menilai salah satu faktor yang mendorong masyarakat memilih buku untuk memahami persoalan emosional adalah keinginan menghindari stigma dan penghakiman sosial.
"Kalau sepengetahuan saya ini kan kalau misalkan kita datang, misalkan katakanlah ke psikolog, kemudian juga misalkan ke teman itu kan suka ada penghakiman-penghakiman," ujar Saleha saat dihubungi Tirto, Selasa (4/11/2026).
Selain menghindari penghakiman, privasi juga menjadi alasan seseorang memilih membaca secara mandiri. Sebagian orang tidak ingin orang lain mengetahui kerentanan emosional mereka ketika menghadapi kekecewaan, kesedihan, atau kemarahan.
Menanggapi fenomena tersebut, industri penerbitan mulai menghadirkan buku dengan tema yang semakin spesifik. Sejumlah penerbit bahkan mencantumkan persoalan emosional yang dibahas pada bagian punggung sampul.
"Jadi di situ misalkan terapi untuk marah ya, tercerita beberapa kasus tentang marah, kemudian di belakangnya juga memang ada. Jadi di punggung bukunya itu dituliskan kalau ini buku ditujukan untuk marah, ketika kondisi sedang marah, kecewa, dan sebagainya gitu," jelasnya.
Meski demikian, Saleha mengingatkan risiko self-diagnose atau diagnosis mandiri ketika seseorang mengandalkan bacaan untuk memahami kondisi psikologisnya.Ia menjelaskan, terapi berbasis buku atau biblioterapi memiliki tahapan ilmiah dan membutuhkan pemilihan bahan bacaan yang sesuai dengan kondisi pembaca. Seseorang tidak bisa sembarangan memilih buku dan menganggap seluruh isinya cocok untuk mengatasi persoalan yang dihadapi.
Saleha mencontohkan, sejumlah perpustakaan dan komunitas literasi, seperti pojok baca di Cianjur, melatih kader khusus untuk membantu pembaca memilih bahan bacaan sesuai kondisi emosional mereka.
Menurutnya, biblioterapi dapat membantu proses self-help bagi individu yang menghadapi persoalan emosional ringan, seperti kecemasan atau kemarahan dengan intensitas rendah. Namun, metode ini tidak dapat menggantikan penanganan profesional bagi orang yang mengalami gangguan mental berat atau akut.
Saleha juga menyebut tren buku pengembangan diri telah muncul sebelum pandemi Covid-19. Namun, popularitasnya meningkat ketika pandemi berlangsung. Pembatasan aktivitas dan tekanan psikologis saat itu turut mendorong kebutuhan masyarakat mencari sarana pemulihan mandiri.
"Iya, kalau sebelum pandemi sebenarnya sudah ada [tren buku self-help]. Sebelum pandemi, cuma memang boom-nya itu ketika pandemi. Orang kan bingung ya kalau pandemi,” imbuhnya.
Sementara itu, pegiat literasi, Raihan Immadu, menilai meningkatnya minat terhadap buku self-help dan self-improvement dipengaruhi rekomendasi orang lain, rasa penasaran, hingga keinginan meningkatkan kapasitas diri.“Ditambah karena mayoritas buku self-improvement ini mudah dipahami. Beda dengan buku sejarah, filsafat, politik. Bahasanya enggak bertele-tele, dan enggak begitu tebal secara halaman, jadi faktor penting kenapa orang-orang mulai baca buku bertemakan itu,” kata Raihan kepada Tirto, Rabu (4/11/2026).
Menurutnya, buku juga kerap dipilih sebagai sarana melepas penat setelah menjalani rutinitas sehari-hari.
“Sumpek sama rutinitas, target, deadline. Sehingga orang-orang jadiin buku sebagai pelarian untuk mengobati 'stress'. Dan kecenderungan orang yang biasa baca buku kan, membaca buku yang dia suka aja,” kata pemilik lapak buku Bacadipamulang itu.
Ia membagi kecenderungan tersebut menjadi dua: membaca untuk sejenak melupakan beban kehidupan dan membaca untuk memperoleh pemahaman serta melakukan perubahan melalui bacaan nonfiksi.
“Pertama karena ingin menghilangkan beban dengan melupakannya sejenak. Kedua, menghilangkan beban dengan melakukan perubahan langsung lewat bacaan-bacaan nonfiksi,” sambungnya.

Kesehatan Mental dan Tekanan Ekonomi
Di balik pengalaman pembaca yang merasa terbantu oleh buku, terdapat persoalan akses terhadap layanan kesehatan mental. Bagi sebagian orang, buku menjadi pilihan ketika biaya dan kondisi kehidupan belum memungkinkan mereka mendapatkan bantuan profesional.
Pengalaman Dea memperlihatkan persoalan tersebut. Sebulan setelah sang ibu meninggal dunia, kontrak kerjanya tidak diperpanjang perusahaan. Ia kemudian menganggur dalam waktu cukup panjang. Kehilangan pekerjaan setelah kehilangan anggota keluarga membuat tekanan emosional yang dialaminya semakin berat.
“Masih banyak alokasi dana yang perlu lebih saya prioritaskan. Waktu itu juga belum terlalu aware tentang pentingnya mental help langsung dari profesional, makanya pilih buku sebagai alternatifnya,” ceritanya.
Selama menganggur, Dea tidak aktif mencari pekerjaan baru. Ia memilih merawat sang ayah yang sedang sakit. Pada saat bersamaan, ia mengaku kehilangan semangat hidup dan sempat memiliki keinginan untuk mengakhiri hidup.
“Gak aktif apply kerja karena mau fokus ngerawat bokap aja dan emang sudah gak ada semangat hidup juga. Saat itu gak punya pemasukan sama sekali. Enggan buat minta uang apalagi buat berobat ke psikolog,” imbuhnya.
Dea juga merasa tidak memiliki ruang aman untuk menceritakan kondisi kesehatan mentalnya kepada keluarga. Ia memperkirakan respons yang akan diterimanya adalah nasihat untuk lebih banyak beribadah dan bertobat.Dalam situasi tersebut, membaca buku menjadi salah satu pilihan yang dapat ia lakukan. Bacaan tentang kedukaan membantunya memahami pengalaman emosional, meski tidak menggantikan kebutuhan mendapatkan bantuan profesional.
Setelah melewati masa-masa sulit, Dea akhirnya memutuskan mencari bantuan psikolog. Keputusan itu baru dapat diwujudkan setelah ia kembali memiliki penghasilan, sekitar setahun setelah sang ibu meninggal dunia.
“Niatan buat berobat itu akhirnya baru kewujud begitu saya punya penghasilan lagi, tepatnya setahun setelah ibu meninggal,” terangnya.
Pengalaman Dea memperlihatkan bahwa pilihan membaca buku tidak selalu semata-mata didorong preferensi atau tren. Dalam kondisi tertentu, keterbatasan ekonomi dan akses layanan profesional turut memengaruhi cara seseorang mencari bantuan.Gambaran mengenai persoalan kesehatan mental dan keterbatasan akses layanan juga terlihat dalam sejumlah survei. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang dirilis Kementerian Kesehatan mencatat, 61 persen anak muda dengan depresi pernah terpikir mengakhiri hidup dalam sebulan terakhir. Namun, hanya 10,4 persen di antaranya yang mencari pengobatan.
Sebelumnya, Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022 menemukan satu dari tiga remaja Indonesia (34,9 persen) mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir. Meski demikian, hanya sebagian kecil yang mencari bantuan ke fasilitas kesehatan.
Survei Tirto juga menunjukkan rendahnya akses tersebut. Hanya 25,68 persen responden mengaku pernah mengakses layanan kesehatan mental, sementara 42,16 persen menyatakan belum pernah mengaksesnya.
Ekonom CORE Indonesia, Dipo Satria Ramli, mengatakan kondisi ekonomi dapat berkaitan dengan kesehatan mental masyarakat. Sejumlah faktor yang berpotensi memengaruhinya antara lain sulitnya memperoleh pekerjaan, pemutusan hubungan kerja (PHK), dan tekanan biaya hidup.Data ketenagakerjaan menunjukkan jumlah pengangguran di Indonesia masih berada di atas tujuh juta orang. Mengutip data sementara Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mengenai pengangguran terbuka periode Februari 2026, terdapat sekitar 7.243.605 orang atau 4,68 persen dari total angkatan kerja yang belum terserap pasar kerja.
Pada Februari 2025, jumlah pengangguran tercatat sebanyak 7.278.307 orang atau 4,76 persen dari angkatan kerja. Sementara pada Februari 2024, jumlahnya mencapai sekitar 7.194.862 orang, dengan tingkat pengangguran terbuka sebesar 4,82 persen.
“Kalau ada seseorang yang memang harus memilih antara beras atau konseling, saya rasa itu bukan masalah kegagalan prioritas. Tetapi di ekonomi kita memang ada sesuatu yang salah,” kata Dipo saat dihubungi Tirto, 10 April 2026.
Ia menjelaskan, pendapatan masyarakat harus berhadapan dengan kenaikan harga barang dan jasa akibat inflasi. Sementara itu, kenaikan upah belum tentu mampu mengimbangi kenaikan biaya hidup sehingga daya beli tertekan.“Gaji riil di Indonesia itu kurang baik. Jadi, saya mau bilang buat di Indonesia untuk mereka yang bekerja sebenarnya bukan salah mengatur uang, tetapi memang uangnya tidak cukup to start with, untuk hidup yang layak,” imbuhnya.
Menurut Dipo, kebutuhan layanan kesehatan mental tidak bisa dipisahkan dari kemampuan ekonomi seseorang. Kesehatan mental juga berpengaruh terhadap produktivitas, sehingga akses terhadap layanan tersebut perlu menjadi perhatian.
Di tengah keterbatasan finansial, buku dapat menjadi pilihan yang relatif lebih terjangkau dibandingkan berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. Namun, bacaan tidak dapat sepenuhnya menangani persoalan kesehatan mental yang dipengaruhi kondisi personal maupun tekanan ekonomi.
Dipo menilai pemerintah perlu memperluas penyediaan layanan kesehatan mental yang terjangkau. Kebutuhan tersebut semakin mendesak di tengah kondisi ketenagakerjaan yang masih diwarnai PHK.
Berdasarkan data Kemnaker, selama Januari hingga Oktober 2026 terdapat 72.336 tenaga kerja yang dilaporkan mengalami PHK. Jawa Barat menjadi provinsi dengan jumlah PHK tertinggi, yakni sekitar 20,31 persen dari total laporan. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2025, ketika terdapat 79.035 tenaga kerja yang dilaporkan mengalami PHK.
Meski begitu, Dipo menilai angka resmi PHK belum tentu menggambarkan keseluruhan kondisi di lapangan. Sebab, terdapat pekerja yang kehilangan pekerjaan, tetapi tidak tercatat dalam laporan pemerintah.
“Tetapi yang di PHK itu sebenarnya angka resmi aja, sedangkan di luar misalnya, ada pegawai yang tidak melaporkan tidak masuk di angka itu,” ucapnya.
Menurutnya, ketidakpastian pekerjaan dan upah layak masih menjadi persoalan yang dapat memengaruhi kondisi psikologis masyarakat. Situasi tersebut juga perlu dibaca bersama tekanan biaya hidup yang dihadapi rumah tangga.Dipo menegaskan, buku tidak dapat menjadi solusi tunggal untuk mengatasi persoalan kesehatan mental akibat tekanan ekonomi maupun pengalaman personal. Masyarakat yang mengalami gangguan mental tetap membutuhkan penanganan tenaga profesional.
“Beberapa negara ini sudah menyediakan layanan kesehatan mental yang terjangkau lah minimal. Mungkin tidak perlu gratis. Saya rasa ini sudah menjadi kebutuhan yang sangat-sangat penting, terutama untuk kelas menengah dan anak-anak muda,” ucap Dipo.
Ia menilai masyarakat, terutama kelompok usia muda, menghadapi ketidakpastian ekonomi yang berpotensi memperburuk kondisi kesehatan mental. Sebagian dari mereka belum pernah mengalami tekanan ekonomi sebesar saat ini, mulai dari gejolak pasar hingga kenaikan harga pangan.
“Saya rasa ini sebenarnya memperburuk kesehatan mental. Ini harga yang harus dibayarkan masyarakat kita pada situasi ini,” ucapnya.
Penulis: Muhammad Nizar
Editor: Alfitra Akbar
Masuk tirto.id




































