tirto.id - Trigger warning; artikel ini memuat kisah kehilangan, depresi, dan pikiran bunuh diri. Pembaca yang merasa tidak nyaman dapat melewati bagian pembuka atau berhenti membaca sementara.
Seusai sang ibu meninggal dunia, Dea mengalami masa berduka yang berat. Ia merasa pikirannya diselimuti kabut hitam, sementara keinginan untuk melanjutkan hidup semakin memudar. Dalam kondisi tersebut, ia bahkan sempat memiliki pikiran untuk mengakhiri hidup dan menetapkan tenggat waktu bagi dirinya sendiri.
Perasaan itu terus membayangi Dea sepanjang masa berduka. Ia kehilangan semangat untuk menjalani keseharian dan hanya berusaha bertahan dengan tenaga yang tersisa. Di tengah kondisi tersebut, ia tetap bekerja dari jarak jauh di tempat tinggalnya di kawasan Jabodetabek.
“Saat itu target saya untuk tetap hidup tergantung pada tenggat masa pengobatan ayah saya saja, 6 bulan. Setelah itu saya sudah sangat siap untuk mengakhiri hidup,” ungkap perempuan berusia 31 tahun itu kepada Tirto, Senin (26/10/2026).
Hari demi hari berlalu. Dea menjalani rutinitas tanpa banyak harapan, sembari berusaha melewati masa sulit setelah kehilangan sang ibu. Di tengah situasi tersebut, ia berkenalan dengan sebuah buku bertema pemulihan diri (self-help). Perkenalan itu bermula setelah ia menonton sebuah siniar atau podcast milik Raditya Dika.
Dalam salah satu episode, Raditya menghadirkan psikiater dr. Andreas Kurniawan sebagai bintang tamu. Andreas merupakan penulis buku Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring, yang menceritakan pengalamannya menghadapi trauma dan depresi setelah kehilangan sang anak.
Wawancara tersebut memantik rasa penasaran Dea. Ia kemudian membeli buku Andreas karena merasa memiliki pengalaman kehilangan yang serupa. Terlebih, buku itu ditulis langsung oleh seorang profesional di bidang kesehatan mental.
“Kondisi itu cukup relate dengan saya yang saat itu juga tengah berjuang untuk 'hidup kembali' pasca kepergian ibu saya,” ucap Dea.
Saat itu, Dea juga masih enggan berkonsultasi secara langsung dengan psikiater maupun psikolog. Ia berharap dapat memperoleh pemahaman mengenai kondisi emosional yang sedang dialaminya melalui buku tersebut. Bahkan, ia sempat membayangkan buku itu bisa memberinya semacam 'konsultasi gratis'.
Dari buku tersebut, Dea mulai mengenali proses menerima kehilangan orang tercinta. Pengalaman Andreas dalam menghadapi kenyataan bahwa sang anak telah meninggal dunia terasa dekat dengan apa yang dialaminya setelah kehilangan sang ibu.
“Sehingga saya merasa tidak sendiri, dan saya cukup mengikuti step-step yang dr. Andreas lakukan dalam memahami dan meregulasi duka,” jelasnya.
Bagi Dea, buku tersebut memberinya perspektif untuk memahami proses berduka. Ia menemukan pengalaman yang terasa dekat dengan kehidupannya sendiri, sekaligus menyadari bahwa dirinya tidak sendirian dalam menghadapi kehilangan.
Ledakan Buku Self-Help di Indonesia
Buku bertema pemulihan diri (self-help), pengembangan diri (self-improvement), hingga kesehatan mental seperti yang dibaca Dea tampaknya semakin diminati pembaca dalam beberapa tahun terakhir. Peningkatan minat ini juga tercermin dalam Survei Preferensi Membaca Buku di Era Digital 2025 yang dipublikasikan GoodStats. Survei tersebut menunjukkan bahwa 65 persen dari 1.000 responden menyukai buku kategori pengembangan diri.
Meningkatnya minat pembaca terhadap pengelolaan emosi dan kesehatan mental juga terlihat dari popularitas sejumlah buku bertema serupa. Beberapa di antaranya adalah Filosofi Teras karya Henry Manampiring dan Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna.Novel karya Brian yang diterbitkan Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo) tersebut mengangkat isu kesehatan mental melalui kisah depresi yang dialami tokoh utamanya, Ale. Buku ini telah terjual lebih dari 250 ribu eksemplar dan mencapai cetakan ke-100 pada Mei 2026. Kesuksesan tersebut turut mengantarkan kisah Ale ke layar lebar. Film adaptasinya dijadwalkan tayang pada 12 November 2026.
Public Relations Manager Gramedia, Rezza Patria Wibowo, mengatakan tren buku self-help mulai terlihat dalam tiga tahun terakhir, terutama setelah pandemi Covid-19. Pada periode tersebut, buku-buku bertema kesehatan mental dan pengembangan diri mengalami peningkatan penjualan.
Berdasarkan data tahunan Gramedia, kategori pengembangan diri secara konsisten masuk dalam lima besar kategori buku terlaris.
“Itu [dalam] proporsi ranking departemen, kami bisa bilang lima besar itu pasti ada self-help-nya. Pertama itu biasanya novel, kemudian children books, terus ada self-improvement, ada religion, kemudian school book,” kata Rezza kepada Tirto di kantor Kompas Gramedia, Palmerah Barat, Jakarta, Senin (2/11/2026).

Popularitas kategori tersebut juga terlihat dari sejumlah buku self-help yang masuk jajaran buku terlaris Gramedia. Di antaranya karya Brian Khrisna lainnya, Setelah Melompat Aku Ingin Hidup, buku pengembangan diri terjemahan The Let Them Theory karya Mel Robbins, serta buku pemulihan diri Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring karya Andreas Kurniawan.
Rezza menambahkan, kategori self-improvement secara konsisten menyumbang sekitar 10 persen dari pendapatan Gramedia setiap tahun. Capaian tersebut relatif stabil dibandingkan sejumlah kategori buku lain yang cenderung stagnan. Menurutnya, peningkatan minat terhadap buku pengembangan diri juga tidak lepas dari keterlibatan generasi muda.
“Kami bisa menyatakan bahwa tiap tahun memang buku self-improvement ini diminati. Teman-teman Gen Z juga suka curhat melalui media sosial, terus kemudian mereka juga sudah terbuka dengan psikolog bahkan ke psikiater, mereka aware dengan kesehatan mental,” imbuhnya.
Public Relations Gramedia, Alchia Amanda Putri, menambahkan bahwa sejumlah riset menunjukkan generasi Z memiliki minat membaca yang cukup tinggi. Kesadaran mereka terhadap pentingnya kesehatan mental turut mendorong tingginya permintaan terhadap buku-buku bertema tersebut.
“Terus Gen Z [peka] terkait kesehatan mental. Sehingga banyak buku juga yang terjual di Gramedia ini tentang buku self-help,” tambah Amanda.
Editor Buku Nonfiksi Gramedia Pustaka Utama, Nadira Yasmine, yang sempat menangani buku nonfiksi “Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring” karya Andreas Kurniawan juga membenarkan, tren buku pemulihan diri kian meningkat beberapa tahun terakhir.
“[Tren buku self help] sebelum pandemi dan meledak setelah pandemi. Orang-orang di rumah sudah mulai sadar dan stres. Mungkin yang ekstrovert seperti saya, enggak bisa bertemu orang, jadi stres. Kami sudah [fokus tema] ke arah situ. Kami juga melihat ke arah pasar luar dan di sosial media,” ucapnya.
Meski begitu, Gramedia sebenarnya telah menerjemahkan sejumlah karya luar negeri yang membahas isu kesehatan mental jauh sebelum pandemi. Salah satunya Reasons to Stay Alive karya Matt Haig yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama pada 2018.
Setahun kemudian, mereka juga menerbitkan karya penulis lokal, Loving the Wounded Soul karya Regis Machdy. Buku tersebut menjadi salah satu karya terlaris bertema kesehatan mental karena menyajikan edukasi komprehensif mengenai depresi dari perspektif akademisi psikologi sekaligus penyintas.
“Terus ya karena waktu itu mental health lagi naik, dari mulai bukunya Regis, Matt Haig, terus kami ya mencoba mencari banyak penulis selain terjemahan juga penulis lokal, salah satunya tuh terus langsung ada Dr. Jimmy, ada Dr. Andreas, ada Nago,” imbuhnya.

Melihat Lonjakan Penerbit Lain
Pandangan serupa disampaikan Corporate Communications and External Relations PT Mizan Publika, Ditta Sekar Cempaka. Ia sepakat bahwa gelombang popularitas buku self-help mulai menguat setelah pandemi Covid-19.
Berdasarkan data penjualan Mizan selama lima tahun terakhir, buku yang masuk kategori pengembangan diri dan karier serta psikologi mengalami peningkatan cukup signifikan.
“Habis pandemi, setelah kami saling melihat antara penerbit-penerbit yang lain, ya, sama. Dari [penerbit] luar juga begitu. Selain Filosofi Teras, buku-buku yang bertema filsafat juga naik,” ucap Ditta kepada Tirto di kantor Mizan Publika, Gedung CIBIS Nine, Jakarta Selatan, Kamis (28/10/2026).

Sepanjang 2022–2026, penjualan buku kategori pengembangan diri dan karier sempat mencapai angka tertinggi sebanyak 49.119 eksemplar. Pada 2022, penjualan kategori ini tercatat sebanyak 25.729 eksemplar, kemudian menurun menjadi 23.607 eksemplar pada 2023.
Penjualan mulai kembali meningkat pada 2024 dengan total 44.245 eksemplar. Tren kenaikan berlanjut pada 2025 hingga mencapai 49.119 eksemplar. Sementara itu, pada 2026, penjualan tercatat sebanyak 30.528 eksemplar.
“Karena itu data (2026) masih data September, belum sampai Desember. Kalau yang lain kan datanya tadi sudah sampai tahun-tahun sebelumnya sampai dengan Desember. Ada kemungkinan masih terus. Masih akan nambah,” ungkapnya.
Pergerakan serupa terlihat pada kategori psikologi. Sepanjang 2022, Mizan mencatat penjualan sebanyak 22.809 eksemplar. Angka tersebut sempat turun menjadi 17.588 eksemplar pada 2023, sebelum kembali meningkat menjadi 22.565 eksemplar pada 2024.Penjualan kemudian bertambah menjadi 24.312 eksemplar pada 2025. Adapun berdasarkan data sementara 2026, jumlah buku psikologi yang terjual tercatat sebanyak 30.528 eksemplar.
Ditta menyebut Man's Search for Meaning karya Viktor Frankl sebagai salah satu buku terlaris Mizan dalam kategori self-help. Buku yang diterbitkan Noura Books tersebut pertama kali hadir dalam edisi terjemahan pada 2018.
Berdasarkan catatan Mizan, sepanjang 2024 hingga 2026, memoar yang mengisahkan pengalaman Viktor Frankl sebagai tahanan kamp konsentrasi Nazi selama Perang Dunia II itu telah terjual sebanyak 33.463 eksemplar.
“Baru meningkatnya itu 3 tahun terakhir. Jadi, waktu dulu penjualannya masih biasa-biasa saja. Sekarang sudah bestseller, bahkan [sempat] di atas 2.000 eksemplar per bulan untuk [penjualan buku] Man's Search for Meaning ini,” jelas Ditta.

Di luar kategori self-help, buku terbitan grup Mizan dengan penjualan tertinggi adalah novel terjemahan Animal Farm karya George Orwell. Buku yang diterbitkan Bentang Pustaka tersebut telah terjual sebanyak 66.912 eksemplar.
Posisi berikutnya ditempati buku bertema agama, Ketika Qur'an Jatuh di Hati Hamba yang Merasa Biasa: Tafsir Naratif Inspiratif Juz Amma karya Nadirsyah Hosen. Buku terbitan Bentang Pustaka itu tercatat telah terjual sebanyak 42.931 eksemplar.
Jika dilihat berdasarkan jumlah judul yang terjual selama lima tahun terakhir, kategori pengembangan diri dan karier juga menunjukkan perkembangan. Pada 2022, tercatat sebanyak 234 judul buku dalam kategori ini terjual. Jumlah tersebut meningkat menjadi 240 judul pada 2023. Penjualan judul buku mencapai puncaknya pada 2024 dengan 339 judul.
Lalu, apa yang menyebabkan buku self-help kian populer?
Imbas Kondisi Mental Masyarakat?
Editor Nonfiksi Bentang Pustaka, Triq Purnamasari, menilai buku bertema self-help maupun fiksi dengan nuansa pemulihan diri (healing fiction) sebenarnya sudah populer sejak 2018–2019. Namun, tren tersebut mencapai puncaknya sekitar 2020, bertepatan dengan pandemi Covid-19.
“Waktu pandemi, orang di rumah terus, ya kan? Di rumah terus, jadinya buku-buku kayak gini karena pure untuk improve dirinya sendiri ketika tidak bisa ngapa-ngapain,” ungkap Triq kepada Tirto di kantor Bentang Pustaka, Jakarta, Jumat (30/10/2026).
Menurut Triq, Bentang Pustaka juga merasakan peningkatan penjualan buku bertema pengembangan diri dan pemulihan diri pada 2025-2026. Berdasarkan data internal penerbit, penjualannya meningkat sekitar 42 persen.
“Di Bentang sendiri itu untuk buku-buku ini, itu sebenarnya naik itu sekitar 42 persen. Buku yang temanya self-help, self-improvement,” imbuhnya.

Bentang menggabungkan kedua tema tersebut karena dinilai saling berkaitan. Buku self-help tidak hanya berorientasi pada pemulihan kondisi emosional pembaca, tetapi juga mendorong pengembangan diri. Namun, dibandingkan beberapa tahun sebelumnya, pembahasan dalam buku-buku tersebut kini semakin beragam. Isunya tidak lagi sebatas pemulihan diri, tetapi juga menyentuh persoalan trauma hingga overthinking.
Triq menilai, meningkatnya popularitas buku bertema kesehatan mental tidak bisa dilepaskan dari kondisi masyarakat. Situasi sosial dan kehidupan bernegara, menurutnya, turut menjadi pertimbangan penerbit dalam menentukan tema maupun judul buku yang akan diterbitkan.
“Lihat kondisi kita sekarang. Apa yang terjadi dengan Indonesia saat ini, stres enggak sih, gitu kan. Iya, kami [penerbit] juga ikut stres, tapi solusi yang bisa kita berikan sebagai penerbit bukan melulu jualan buku,” ucapnya.
“Ya, kami pertama menyehatkan mental kami dulu nih pihak penerbit, apa yang harus kami lakukan. Tujuan utamanya tuh sebenarnya ya kalau di akhir bestseller terus laku, itu sebenarnya point plus. Memang semua perusahaan pasti penginnya begitu,” sambung Triq.

Meski demikian, Triq menegaskan bahwa penerbitan buku tidak semata-mata berorientasi pada keuntungan bisnis. Bentang Pustaka, menurutnya, juga mempertimbangkan manfaat yang dapat diberikan sebuah buku kepada pembaca.
“Ternyata buku itu terbukti kok, membantu secara. Dan ketika kita membeli buku itu juga pasti kan secara sadar, dari judulnya, dari blurb-nya, mereka lihat, 'Oh, ini relate sama aku.' Makin ke sini makin naik, apalagi dengan kondisi Indonesia saat ini,” ucapnya.
Sebagai editor nonfiksi, Triq mengaku tertantang untuk menghadirkan buku yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Penerbit, kata dia, perlu membaca perkembangan situasi sekaligus memperkirakan isu yang mungkin akan dibutuhkan pembaca dalam beberapa tahun mendatang.
“Editor nonfiksi tuh kita kayak tertantang bikin sesuatu yang bisa dibutuhkan pada masa ini, ya walaupun itu kita enggak tahu. Kita bukan paranormal. Tapi, kita berusaha. Kayak, 'Oh, apa yang dibutuhkan saat ini? Mungkin bisa di dua tahun ke depan.' Seperti apa kondisi? Menganalisis aja,” lanjut Triq.
Pandangan serupa disampaikan Editor Nonfiksi Noura Books, Zahra Tsabita. Menurutnya, relevansi tema buku dengan kondisi masyarakat menjadi salah satu pertimbangan penting sebelum sebuah naskah diterbitkan.
Di tengah membeludaknya buku bertema self-help, Noura juga mempertimbangkan sejumlah aspek lain, mulai dari kredibilitas penulis, kedalaman riset, relevansi materi, hingga keberlanjutan isu yang diangkat.
“Jadi, kayak memang yang kami pikirkan sih sekarang lebih ke arah, 'Oke, gimana cara risetnya' supaya lebih mendalam lagi. Maksudnya kayak gimana kami fokus aja bahwa buku ini memang bagus, buku ini memang berkualitas, buku ini yang orang-orang butuhkan,” ungkapnya.

Selain kualitas naskah, momentum juga menjadi pertimbangan dalam menentukan waktu penerbitan buku. Zahra mencontohkan keputusan Noura menerbitkan Filosofi Ngamuk karya Okki Sutanto pada 1 November 2026.
Menurutnya, situasi masyarakat dan meningkatnya perhatian terhadap isu pengembangan diri menjadi momentum yang tepat untuk menerbitkan buku tersebut. Padahal, naskahnya telah tersedia sejak 2025, tetapi baru diputuskan untuk diterbitkan pada tahun ini.
“Sampai kayak kami memutuskan bahwa, 'Oh iya, harus terbit saat ini juga.' Karena ini waktu yang tepat. Ini momentum. Self-help, self-improvement bukan melihat dari, 'Oh, karena pembacanya banyak apa segala macam?' Enggak, kadang-kadang kita melihat juga dari momentum,” sebutnya.
Catatan editorial;
Pengalaman Dea memperlihatkan bagaimana buku bertema pemulihan diri dapat menjadi salah satu sumber pemahaman bagi seseorang yang tengah menghadapi persoalan emosional. Namun, pengalaman tersebut tidak serta-merta menjadikan buku sebagai pengganti pendampingan atau penanganan profesional, terutama ketika seseorang menghadapi persoalan kesehatan mental yang serius.
Penulis: Muhammad Nizar
Editor: Alfitra Akbar
Masuk tirto.id



































