Ancaman Kematian Pekerja Kreatif

Oleh: Arman Dhani - 26 Februari 2017
Dibaca Normal 5 menit
Berkali-kali pekerja kreatif, misalnya di bidang periklanan, diberitakan meninggal karena terlalu keras bekerja.
tirto.id - Mark David Dehesa, seorang brand strategist muda yang bekerja untuk agensi iklan Ogilvy & Mather Filipina Meninggal minggu lalu. Ia diduga kelelahan bekerja dan mengalami pneumonia. Ia menghabiskan kurang dari setahun bekerja untuk divisi humas dari Ogilvy’s Manila. Kematiannya kembali memantik perdebatan tentang keseimbangan antara pekerjaan dan hidup yang wajar bagi pekerja industri kreatif, mengingat ini bukan kali pertama pekerja industri ini meninggal karena kelelahan.

Sebelumnya ada empat kasus kematian yang diduga karena beban kerja berlebihan bagi pelaku industri periklanan ini. Seperti Li Yuan, yang juga Ogilvy & Mather, diduga meninggal karena kelelahan, meski ini kemudian dibantah oleh manajemen perusahaan. Seperti yang ditulis Bussines Insider, manajemen Ogilvy & Mather menyebut Li Yuan tidak bekerja non stop selama sebulan seperti yang diberitakan banyak media. Malahan ia sempat libur seminggu untuk istirahat. Di hari pertama masuk kerja itulah Li Yuan terindikasi kurang fit lantas kemudian ditemukan meninggal karena serangan jantung.

Kematian Li Yuan pada 2013 ini membuat industri periklanan Cina terpukul. Laporan awal kematian Li disebutkan ia mengalami serangan jantung karena stres dan kelelahan akut akibat bekerja terlalu lama. Fenomena kematian di Cina akibat kelelahan merenggut lebih dari 600.000 orang per tahun. Fenomena ini disebut sebagai guolaosi. Ini tidak hanya terjadi di Cina saja, namun juga ada di Korea dan Jepang. Pada 2015 lalu, kematian salah satu pekerja agensi iklan di negara itu juga membuat publik risau. Lagi-lagi, ia diduga bekerja kelewat berat.

Matsuri Takahashi, seorang pekerja kreatif dari Dentsu, diduga melakukan bunuh diri pada Desember 2015. Kematiannya ini dianggap sebagai karoshi, atau kematian akibat terlalu letih bekerja. Matsuri memang mendapatkan beban kerja lebih dari tugasnya. Kepala agensi tempat Matsuri bekerja memutuskan untuk mengundurkan diri karena merasa bertanggung jawab atas insiden ini. Dalam pesan kematiannya, Matsuri meninggalkan pesan untuk ibunya yang bertuliskan “Mengapa semua ini harus dibuat rumit?”

Pemerintah Jepang melalui kementerian kesehatan mengidentifikasi 93 kasus percobaan bunuh diri dan kematian akibat bunuh diri sebagai karoshi, atau disebabkan karena beban kerja berlebih. Angka itu lebih kecil dibanding laporan kepolisian Jepang yang menyebut ada 2.159 kasus percobaan bunuh diri yang terkait karoshi.

Pemerintah Jepang menyebut bahwa kasus hukum terkait karoshi meningkat sebanyak 1.456 dalam 12 bulan periode yang berakhir pada Maret 2015. Ini angka yang signifikan, mengingat hanya ada 1.576 kasus dalam rentang waktu empat tahun dari 2004 sampai dengan 2008.

Bahaya Stres Bekerja

Di Indonesia, kasus kematian akibat kelelahan bekerja juga terjadi pada Mita Diran yang terjadi pada Desember 2013 lalu. Mita diduga kelelahan akibat bekerja sepanjang 30 jam nonstop tanpa tidur. Kasus ini sendiri menarik perhatian karena industri periklanan di Indonesia juga mengalami ancaman laten kematian akibat kelelahan.

Zulika Sambadha, seorang pekerja agensi periklanan, menyebut bahwa ancaman kelelahan ini memang nyata. Sebenarnya, beban kerja dan waktu luang bisa diatur. Namun, menurut Zulika, beban kerja dan waktu luang adalah dua hal yang kerap tak bisa dikendalikan di dunia agensi.

“Kalau soal masalah pekerjaannya sih, itu kembali lagi ke orangnya mungkin ya. Kalau gue merasa berat kalau deadline lagi tight dan banyak banget yang harus diurus,” katanya.

Tapi Lika membenarkan bahwa beberapa pekerja industri kreatif memiliki dedikasi yang berlebih pada pekerjaannya. Misalnya untuk mengelola sebuah brand, ia mesti mengurangi jatah istirahat karena mempersiapkan kampanye. Untung, sejauh ini ia belum pernah mengalami bekerja nonstop puluhan atau belasan jam tanpa tidur.

“Tapi ya ada temen kantor gue yang tidur cuma sejam karena besok paginya harus presentasi dan materinya baru kelar subuh. Sampai mandi di kantor,” katanya.

Ancaman berbahaya dari kelelahan bekerja adalah berkurangnya waktu istirahat. Kematian akibat kelelahan bekerja biasanya terjadi akibat tak cukup tidur, kurang makanan bernutrisi, kondisi pekerjaan yang rawan stres, pola makan yang tidak teratur, dan depresi akibat tenggat. Saat kematian Mita terjadi, Lika merasa ada yang salah dari kematian itu.

It could've been me, it could've been people that I know. Balik lagi, tergantung load kerja dari agensi itu sendiri. Kadang deadline yang tight, terus pressure [dari diri sendiri],” katanya. Semestinya perusahaan dan klien bisa belajar dari tragedi kematian ini.

Kematian akibat kelelahan ini semestinya bisa dicegah. Misalnya, sesama rekan kerja harus saling mengingatkan agar tak bekerja berlebihan, koordinator tim yang membuat distribusi beban kerja dengan benar, dan juga perusahaan menjamin kesejahteraan pekerjanya dilindungi dengan menyediakan jaminan kesehatan serta waktu istirahat.

Pekerja usia muda juga tak terhindar dari risiko penyakit jantung. Faktor risiko jantung antara lain pola hidup, stres tinggi, lingkungan tidak sehat, dan pola makan salah yang berujung pada obesitas. Ancaman bekerja berlebihan lainnya bisa terjadi akibat kardiomiopati hipertrofik, yakni otot jantung yang menebal dan cenderung kaku karena terlalu diforsir berlebihan. Banyak faktor yang menyebabkan hipertrofik, tetapi ia lebih sering terjadi karena diakibatkan faktor genetik.

Infografik Agency Life

Kesehatan Terancam, Asmara Terancam

Kehidupan pribadi pekerja kreatif seringkali juga terancam akibat manajemen waktu yang berantakan. Pekerja sektor ini kerap mesti berurusan dengan klien selama 24 jam sehari dalam seminggu. Usai jam kerja, mereka mesti direpotkan dengan revisi atau tugas dadakan. Ellena Ekarahendy, seorang desainer grafis yang beberapa kali bekerja untuk industri periklanan, menyebut bahwa para pekerja kreatif seringkali tak mampu merawat dirinya sendiri.

“Kadang gue merasa bisa menjaga hubungan dengan klien daripada dengan pasangan sendiri,” katanya.

Ellena juga mengingatkan selain kelelahan fisik dan kelelahan mental, pekerja kreatif ini juga mengalami kelelahan afeksi. “Secara emosional sudah sangat letih, karena desainer grafis harus menghadapi banyak klien, dan harus bisa menjawab kebutuhan apa dan hasil desain [harus] bisa menjawab kebutuhan itu,” katanya.

Sebagai pekerja, ia mesti memuaskan klien. Untuk itu ia membentuk sebuah hubungan yang dekat antara relasi klien dan pekerja untuk mendapatkan produk yang sesuai dengan permintaan klien. Ini kemudian menguras kehidupan si pekerja tadi sehingga tak memiliki kehidupan personal.

Keletihan afeksi, kelelahan mental, dan kelelahan fisik sebenarnya bukan hal yang baru atau asing di dunia periklanan. Ini menghisap daya hidup banyak orang dalam industri ini dan tak punya waktu untuk merawat diri sendiri. Di sisi lain, sebagai pekerja Ellena kerap dituntut untuk selalu tampil prima dan bisa dipercaya.

Tuntutan untuk selalu bisa memuaskan klien membuat jam kerja menjadi konsep yang asing. Ellena selalu membawa komputer jinjing ke mana pun, agar setiap ada revisi atau pekerjaan baru, ia bisa mengerjakannya sesegera mungkin. Termasuk saat permintaan itu datang di luar jam kerja dan menyita waktu istirahatnya.

“Sampai di rumah, gue tetap buka laptop untuk memastikan pekerjaan udah selesai, atau misalnya saat liburan lo bawa laptop agar kalau ada revisi lo bisa mengerjakan,” katanya.

Desainer grafis mengalami ancaman kesehatan yang serius. Mereka banyak bekerja dalam kondisi duduk, sementara duduk terlalu lama bisa sangat berbahaya. Menurut riset dalam Journal of the American College of Cardiology edisi Juni 2013, diketahui bahwa perempuan yang duduk selama 10 jam atau lebih dalam sehari berisiko tinggi terkena gangguan jantung dibanding perempuan yang duduk hanya lima jam.

Saat duduk, darah mengalir lebih lambat dan membakar lemak lebih sedikit. Akibatnya, asam lemak lebih mudah menyumbat jantung Anda. Tak hanya merusak jantung, pada 2012 Diabelotogia menemukan kerusakan pankreas pada orang-orang yang sering duduk lama. Kerusakan ini memicu pankreas memproduksi lebih banyak insulin dalam tubuh yang justru menyebabkan diabetes.

Kerja Berat, Minim Apresiasi

Mega Arnidya, adalah pekerja kreatif periklanan yang telah bekerja selama tujuh tahun di industri ini. Ia paham betul bahwa bekerja sebagai 'anak agensi' bisa sangat berbahaya. Mega ingat, sebelum memutuskan untuk bekerja secara profesional dalam industri ini ia diperingatkan kawan baiknya.

"Pegang klien, telco-banking-airlines & FMCG, kalo lo single yang bisa memisahkan lo dari kerjaan lo cuma kematian. Kalo lo sudah berkeluarga, [terancam] perceraian. Tapi kalo lo sudah lolos dari itu semua, dijamin "harga" lo naik 2000 persen," Mega menirukan ucapan temannya.

Menurut Mega, siapa pun yang bekerja dalam bidang ini akan teruji dalam hal komitmen, profesionalitas, kesabaran, dan jam terbang yang mumpuni. “Let's say klien telco, servis mereka kan 24/7. Baik dari internal mereka maupun agensinya pasti fokus hidupnya selalu ke situ. Ditambah sub-brand atau produknya yang banyak, servisnya juga pasti nambah. Dari dulu sampai sekarang ini belum berubah, dan mungkin enggak akan pernah berubah,” katanya.

Mega menyadari tuntutan pekerjaannya luar biasa berat. Pihak agensi sendiri sebenarnya punya pengawasan untuk menjamin setiap pekerjanya tidak bekerja kelewat batas.

Mega sendiri pernah mengalami kondisi di mana ia mengalami gangguan kesehatan serius. Ia mengalami sakit pencernaan dan syaraf di kepala.” Near death experience seringkali bikin kami, buruh agensi, berpikir ulang tentang hal ini. Pada akhirnya akan balik ke diri masing-masing, tujuannya mau apa, dan mau sampai kapan di industri ini,” kata Mega. Bekerja di Industri kreatif memang pada satu titik tidak membuat kita bahagia, tapi ia bisa menjanjikan kehidupan yang baik.

Para pekerja industri kreatif atau anak agensi menyadari beban kerja dan bayaran yang didapat kerap tidak sepadan. Ancaman penyakit akibat kelelahan, kehidupan personal yang berantakan, dan masa depan yang tidak pasti adalah beberapa di antaranya, tapi mereka tak bisa keluar atau tak mau keluar dari pekerjaan ini.

“Banyak yang bertahan karena pingin dapat awards sebagai ajang pembuktian diri, banyak juga yang bertahan karena memang sudah kadung comfort zone. Enggak dikit juga yang bertahan karena gaji dan bonus serta tunjangan lainnya,” kata Mega.

Namun, uang tak bisa dilihat sebagai segalanya dalam industri ini. Mega menyebut anak agensi punya potensi untuk mengalami gangguan kesehatan mental. Ini terjadi karena mereka mesti menuruti keinginan klien yang kadang tak bisa dipahami, beban kerja yang berlebihan, tenggat yang mepet, dan kurangnya afeksi personal.

“Banyak banget kok cerita teman-teman agensi yang tampaknya sudah kena gangguan mental. Saking stresnya menghadapi deadline, beban kerja, dan tuntutan klien. Kalau sudah nemu yang kaya gitu, pasti teman dekatnya memaksa dia untuk liburan. Ada juga yang pada akhirnya ya sudahlah, kerja saja," kata Ega.

Pemerintah sendiri memiliki regulasi tentang jam kerja. Pasal 77 ayat 1 UU No.13/2003 mewajibkan setiap pengusaha untuk melaksanakan ketentuan jam kerja. Ketentuan jam kerja ini telah diatur. 7 jam kerja per hari atau 40 jam kerja per minggu untuk kantor yang memberlakukan 6 hari kerja per minggu. Atau, 8 jam kerja per hari atau 40 jam kerja per minggu untuk sistem kantor 5 hari kerja seminggu.

Apabila melebihi ketentuan waktu kerja tersebut, waktu kerja biasa dianggap masuk sebagai waktu kerja lembur sehingga pekerja/buruh berhak atas upah lembur.

Namun, pada praktiknya hal ini tidak berlaku bagi para pekerja industri kreatif. Mereka mesti siap bekerja 24 jam sehari tujuh hari seminggu. Tentu ada waktu selang untuk tidur dan istirahat, tetapi terkadang anak agensi kerap membuat diri mereka sendiri sengsara.

“Sudah beban kerja yang banyak, ditambah tekanannya baik dari klien atau bahkan dari tim sendiri, mereka bikin standar ketinggian, bahkan enggak masuk akal,” katanya.

Pengawasan dari pemerintah juga kurang, misalnya jaminan untuk bisa mendapatkan cuti haid, jam kerja sesuai regulasi pemerintah, atau uang lembur. Menyadari beban kerja berat ini, Mega berharap ada intervensi mencegah kematian akibat kelelahan.

“Mungkin kita butuh bikin tempat konsultasi/penyuluhan khusus anak agensi,” katanya.

Wadah itu menurutnya penting agar pekerja agensi bisa bercerita perihal beban kerja mereka secara bebas, mengeluarkan kerisauan dan rasa cemas tanpa takut dipecat karena omongan mereka. Psikolog atau psikiater bisa mendengar keluh kesah mereka secara gratis, dan biaya konsultasi dibayar oleh negara atau perusahaan. Dengan adanya fasilitas ini, bukan tidak mungkin stres akibat beban kerja bisa dikurangi dan hidup mereka lebih damai.

Baca juga artikel terkait BURUH atau tulisan menarik lainnya Arman Dhani
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Arman Dhani
Penulis: Arman Dhani
Editor: Maulida Sri Handayani