Anak Muda Yogya Terancam Tunawisma

Oleh: Mutaya Saroh - 4 Agustus 2016
Dibaca Normal 3 menit
Harga rumah di Yogyakarta semakin lama akan semakin naik. Sementara itu, banyak pegawai negeri atau pegawai swasta yang ingin membeli rumah. Standar gaji yang memenuhi syarat kelonggaran dalam mencicil rumah diketahui antara Rp4,5-5 juta rupiah perbulan agar bisa ikut program kredit pemilikan rumah (KPR). Lalu, bagaimana nasib anak muda Yogya yang bergaji rata-rata standar upah minimum regional?
tirto.id - Akhir bulan lalu, Utami (24) harus pulang dari salah satu bank BUMN memendam rasa kecewa. Mimpinya untuk memiliki rumah melalui mekanisme kredit pemilikan rumah (KPR) tak bisa terwujud hari itu. Bank mensyaratkan gaji Utami minimal Rp5 juta, sementara gajinya sebagai seorang penerjemah di Yogyakarta hanya sekitar Rp3,5 juta.

Rasa kecewa itu nampak masih ada, ketika Senin awal Agustus lalu tirto.id menemuinya. “Kalo ditulis Rp3,5 juta (penghasilan) ya belum bisa ambil KPR,” kata Utami sambil menirukan gaya customer service.

Utami bisa jadi satu contoh, dari sekian banyak karyawan di Yogyakarta yang bermimpi memiliki rumah sendiri di Yogyakarta. Tapi utami lebih beruntung, gajinya Rp3,5 juta. Sementara karyawan lain, banyak yang bergaji hanya standar upah minimum regional (UMR).

Untuk diketahui besaran UMR kota Jogja ialah Rp1,4 juta, Kabupaten Sleman sebesar Rp1,3 juta. Di Kabupaten Bantul bahkan lebih rendah lagi Rp1,2 juta. Demikian pula dengan di Kabupaten Kulon Progo Kabupaten Gunung Kidul yang kisaran UMR-nya Rp1,2 juta.

Dari besaran gaji sebesar itu, masih dibagi-bagi lagi untuk kebutuhan makan, pakaian, hiburan, transportasi, dan segudang daftar kebutuhan lain.

Harga Rumah di Yogyakarta

Memiliki rumah masih merupakan mimpi bagi sebagian orang di Yogya. Harganya kini sudah selangit. Di wilayah Giwangan, Kota Yogya, kurang lebih 6 km dari Malioboro, harga rumah dengan luas bangunan (LB) 62 dan luas tanah 60 meter persegi mencapai Rp916 juta. Sedangkan untuk tipe lebih besar 75/76 menembus Rp1,1 miliar.

Contoh lainnya lagi, di kawasan Wirobrajan duit Rp1,2 miliar baru dapat rumah tipe 77/ 82 meter persegi.

Masih di kota Yogya, di daerah Sorogenen untuk tipe rumah 86/ 126 harganya sampai Rp1,3 miliar.

Bagaimana dengan di daerah Sleman, yang notabene bukan ring pertama Yogyakarta? Penelusuran tirto.id di wilayah seperti di jalan Magelang, jalan Wonosari, Prambanan harganya relatif lebih rendah dibandingkan dengan kawasan strategis seperti di jalan Kaliurang atau Jalan Palagan.

Sebagai contoh, di jalan Magelang KM 14, rumah tipe 65/140 dijual dengan harga Rp385 juta. Sementara rumah di kawasan Jl.Wonosari km 9 dijual dengan harga Rp345 juta untuk tipe 45/80. Di Prambanan, rumah dengan tipe 45/100 meter persegi dijual dengan harga Rp220 juta.

Di kawasan strategis seperti di kawasan Jalan Kaliurang Km 12,5 rumah tipe 76/176 harganya mencapai Rp525 juta. Sedangkan di kawasan strategis lain, di dekat RS Puri Husada, Jalan Palagan km 12, dijual dengan harga Rp565 juta, untuk tipe 60/120.

Sementara itu, kawasan pinggiran selatan Yogyakarta, Bantul, harganya relatif jauh lebih murah dibanding dengan di Sleman atau Kota Yogyakarta. Akan tetapi, jaraknya dari pusat keramaian dan fasilitas kurang lebih mencapai 15 km dari titik nol Yogyakarta. Misalnya, perumahan di kawasan Kasongan, dengan tipe rumah lantai satu tipe 54/122 dijual dengan harga Rp464 juta, tipe 45/117 dijual dengan harga Rp408 juta dan tipe lebih besar lagi 45/211 dijual dengan harga Rp591 juta.

Mengapa harga perumahan di Yogyakarta bisa semahal itu? Kepada tirto.id awal Agustus lalu, Rizal Safii, marketing pengembang CV Panji Utama mengungkapkan harga perumahan di Yogyakarta saat ini dipengaruhi oleh harga tanah per meter yang cukup tinggi. Ia mencontohkan, di Tempel, Sleman—perbatasan DIY dan Jawa Tengah— harga tanah kosong saja sudah mencapai Rp350 ribu per meter persegi.

“Untuk harga beli [tanah] sendiri biasanya di Sleman pun ada pengkategorian jadi ketika lebih dekat dengan kota ataupun akses ke lokasi lebih bagus harga akan lebih tinggi, di tempat kami sendiri di daerah Tempel harga beli sekitar Rp350 ribu per meter ini termasuk kawasan menengah karena dekat dengan jalan provinsi dan pusat perekonomian pasar Tempel,” jelasnya.

Dengan harga tanah sebesar itu Rizal menjelaskan, pihaknya menjual rumah tipe 45 sekitar Rp300juta, sedangkan tipe rumah dua lantai dijual dengan harga Rp950 juta, belum termasuk pajak.



Menabung Sampai Mati

Lalu, berapa lama bagi anak-anak muda Yogya dengan gaji UMR untuk bisa mendapatkan rumah, bertipe kecil dan letaknya jauh dari pusat kota sekalipun seperti di Tempel?

Hitung-hitungan tirto.id dengan gaji UMR Rp1,3 juta untuk memiliki rumah senilai Rp300 juta, butuh waktu menabung selama 230 bulan atau sekitar 19 tahun. Syaratnya gaji sebesar itu harus dialokasikan semua untuk menabung membeli rumah. Belum lagi dihitung inflasi yang mungkin terjadi selama 19 tahun ke depan.

Bila merujuk ketentuan Bank Indonesia, yang mensyaratkan down payment (uang muka) sebesar 15 persen dari harga rumah, maka setidaknya butuh Rp45 juta bagi karyawan ber-UMR Rp1,3 juta/bulan. Meski sudah memiliki DP sebesar itu, karyawan bergaji UMR tak akan sanggup membayar besarnya cicilan per bulan. Perhitungannya dengan asumsi bunga flat 12 persen setahun dan tenor maksimal 180 bulan maka angsuran per bulan sekitar Rp1,57 juta.

Sementara untuk kelayakan kredit umumnya bank mensyaratkan besarnya angsuran minimal 1/3 dari pendapatan. Artinya seseorang yang layak mendapatkan kredit KPR rumah, pendapatannya minimal Rp4,5 juta per bulan.

Di Yogyakarta—juga di kota lain—gaji sebesar itu hanya bisa diraih PNS golongan 4E dengan masa kerja 18 tahun.

Meskipun begitu, ada beberapa PNS yang tidak akan kesulitan dalam mencicil rumah di Yogyakarta. Pegawai itu, minimal harus berstatus dosen dengan gelar profesor!

Menurut Anggota Komisi XI DPR, Anwar Arifin, standar gaji seorang dosen bergelar profesor dan doktor di Indonesia ke depan minimal Rp7-8 juta setiap bulan.

Kepada Antara, Anwar Arifin menjelaskan penerimaan lain-lain yang akan diterima seorang profesor dan doktor di luar variabel tetap adalah tunjangan kehormatan.

Berikutnya, tambah Anwar, seorang profesor juga bisa memperoleh dana untuk penelitian kompetensi sebesar Rp100 juta/tahun, menulis buku (satu buah per tahun) dengan anggaran Rp25 juta, serta untuk profesor yang berusia di atas 70 tahun akan mendapatkan tambahan tunjangan profesi lagi berupa satu kali gaji pokok setiap bulannya.

Akan tetapi, berapa jumlah PNS di Provinsi Yogyakarta yang bergelar profesor? Badan Pusat Statistik (BPS) Yogyakarta mendata jumlah total pegawai negeri sipil daerah menurut tingkat pendidikan dan daerah penempatan di DIY, kuartal I-2016 sejumlah 55.412 pegawai. Dari besaran jumlah tersebut, pegawai dengan tingkat pendidikan akhir doktor hanya 4 orang, master degree sebanyak 2.297 orang, dan sarjana 24.815 orang. Sisanya pegawai lulusan DIII, SMA, SMP, dan SD.

Melihat data tersebut, PNS dosen yang memenuhi syarat untuk menjadi profesor empat orang. Empat orang inilah yang berpeluang besar bisa kredit rumah dengan mudah. Sisanya, hanya berpeluang melunasi KPR separuh hidup. Sementara ribuan lain yang bergaji UMR dan masih lajang bisa jadi terancam tunawisma!

Baca juga artikel terkait PERUMAHAN atau tulisan menarik lainnya Mutaya Saroh
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Mutaya Saroh
Penulis: Mutaya Saroh
Editor: Agung DH
Dari Sejawat
Infografik Instagram