Anak-Anak Eks PRRI-Permesta: Sejarah Sukses Keluarga "Pemberontak"

Operasi penumpasan Pemberontakan Rakyat Semesta (Permesta). FOTO/Wikicommon
Oleh: Petrik Matanasi - 15 Februari 2019
Dibaca Normal 4 menit
Beberapa anak tokoh PRRI-Permesta bisa menjadi orang terkenal. Ada yang pengusaha, seniman, politikus, bahkan tentara.
tirto.id - Berseberangan dengan pemerintah bukan kejahatan, apalagi demi pembangunan yang merata, yang tidak terkonsentrasi di pusat saja. Itulah kenapa banyak perwira menengah dan tokoh sipil di daerah kemudian bergerak. Mereka bersatu dan menyatakan pendapatnya.

Di Makassar pada 2 Maret 1957 muncul suatu pernyataan yang dikenal dengan nama Piagam Perdjuangan Rakjat Semesta atau Perdjuangan Semesta, yang dikenal sebagai Permesta.

“Singkatan Permesta untuk Piagam Perjuangan Semesta ciptaan G. Kairupan, seorang pejabat Kantor Penerangan,” tulis R.Z. Leirissa dalam PRRI, Permesta: Strategi Membangun Indonesia tanpa Komunis (1991: 95).

G. Kairupan adalah salah satu penandatangan dalam piagam Permesta di Makassar itu. Orang ini bukanlah ayah Brigadir Jenderal Glen Kairupan. Ayah Glen bekerja di Departemen Pekerjaan Umum Jakarta kala itu.

Penandatangan dengan jabatan penting dalam piagam Permesta adalah Gubernur Andi Pangeran Pettarani dan Panglima Tentara & Teritorium Wirabuana Letnan Kolonel Ventje Sumual. Di bawahnya ada Letnan Kolonel Andi Mattalata, Mayor M. Jusuf, Mayor Sjamsoedin, Mayor Dee Gerungan, Mayor Eddy Gagola, Mayor D.J. Somba, dan lainnya.

Berdasarkan daerah asal, perwira Wirabuana terbagi dalam dua kelompok, yaitu utara dan selatan. Mereka yang berasal dari Sulawesi bagian selatan biasanya beretnis Bugis-Makassar dan beragama Islam. Mereka yang berasal dari Sulawesi bagian utara biasanya orang Minahasa dan sekitarnya, termasuk Sangir. Kebanyakan dari mereka beragam Kristen Protestan.

Banyak perwira dari utara ini angkat senjata, tapi tidak dengan mereka yang dari selatan. Mereka bersimpang jalan di tahun 1958, meski sempat bersatu pada 1957. Tak heran, para perwira dari selatan belakangan melanjutkan karier militernya. Bahkan ada yang jadi jenderal seperti M. Jusuf dan Andi Mattalata. M. Jusuf bahkan belakangan jadi Panglima ABRI. Mereka yang tak jadi jenderal salah satunya adalah Letnan Kolonel Sjamsoedin Koernia—tokoh pergerakan kawan Manai Sophiaan.


Sementara itu di Sumatra pada 1958, datanglah mantan menteri Sumitro Djojohadikusumo, yang sudah berseberangan dengan pemerintah pusat. Ia bahkan dituduh korupsi. Sumitro bergabung dengan Saladin Sarumpaet, Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Letnan Kolonel Ahmad Husein, dan Kolonel Simbolon. Mereka dikenal sebagai tokoh penting dalam Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang dideklarasikan pada 15 Februari 1958, tepat hari ini 61 tahun lalu.

Mereka kemudian jadi menteri-menteri PRRI. Sumitro sempat jadi Menteri Perhubungan dan Saladin menjadi Menteri Pertanian dan Perburuhan.

Baik Permesta dan PRRI tidak bisa jaya dalam waktu lama. Apalagi PRRI, yang dalam hitungan bulan kena gebuk tentara dari Jawa. Sementara Permesta punya daya tahan lebih baik dari kolega Sumatra mereka. Pada awal 1960-an mereka baru menyerah.


Ada yang Jadi Jenderal

Melanjutkan hidup adalah keharusan. Itu yang dilakukan Sumitro Djojohadikusumo di luar negeri. Pelariannya membuat anak-anaknya bersekolah di negeri orang, termasuk anak ketiganya, Prabowo Subianto Djojohadikumo. Sumitro dan keluarganya baru bisa pulang ke Indonesia setelah Sukarno lengser.

Dari Sumitro, Prabowo kemudian mengenal orang macam Soe Hok Gie, mahasiswa Jurusan Sejarah UI dan aktivis penentang Sukarno. Hok Gie tentu punya cerita dan kesan soal Prabowo, yang dipanggilnya Bowo.

Suatu kali Jopie Lasut, teman Hok Gie, bercerita padanya. “Dia [Jopie] bercerita tentang kelakuan Bowo yang curi 3 AK untuk bikin rame-rame GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) yang sedang memperingati menteri-menterinya yang tewas dalam perjuangan melawan KAMI,” tulis Hok Gie pada 14 April 1969 di buku Catatan Seorang Demonstran (1998: 279).

Di bulan berikutnya, pada 25 Mei 1969, Hok Gie mencatat, “Bagi saya Prabowo adalah seorang pemuda (atau kanak-kanak) yang kehilangan horison romantiknya. Ia cepat menangkap persoalan-persoalan dengan cerdas tapi naif” (hlm. 314).

Prabowo kemudian menempuh jalan berbeda dari orang yang menyebutnya naif itu. Prabowo tidak kuliah di universitas, melainkan masuk Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) di Magelang. Banyak yang menyebut masuknya Prabowo disponsori oleh Mayor Jenderal Sutopo Yuwono, yang pernah jadi Kepala Bakin era Soeharto.

Prabowo masuk pada 1970 dan lulus pada 1974. Dia seharusnya lulus bersama dengan Glen Kairupan, Susilo Bambang Yudhoyono, dan Agus Wirahadikusumah yang masuk sama-sama dengannya. Tapi Prabowo lulus setahun lebih lambat. Prabowo diwisuda sebagai letnan dua bersama Sjafrie Sjamsoeddin, anak Sjamsoeddin, salah satu penandatangan piagam Permesta yang mentok pada pangkat letnan kolonel.


Bersama Sjafrie, Prabowo kemudian masuk Kopassandha (belakangan berganti nama jadi Kopassus). Sjafrie adalah perwira Kopassus yang “mengamankan” bekas tokoh DI/TII Teungku Daud Beureueh dari Aceh ke Jakarta pada 1978. Prabowo sendiri pada masa-masa di Kopassus itu pernah dikirim ke Timor Timur (kini Timor Leste) dan bertugas di Penanggulangan Teror (Gultor), bersama “abang” Luhut Panjaitan. Tentu saja hal penting yang diingat dari Prabowo adalah dirinya yang menantu daripada Presiden Soeharto.

Keduanya lama berkarier di Kopassus dan berkawan. Kivlan Zen dalam Konflik dan Integrasi TNI-AD (2004) menyebut Mayor Sjafrie pernah datang ke rumah Prabowo pada 1985 ketika Jenderal Benny Moerdani dicurigai hendak mendongkel Soeharto. Mereka bahkan bersama-sama bertemu B.J. Habibie di IPTN Bandung pada 21 Desember 1991, dua minggu setelah ICMI berdiri. Waktu Soeharto naik haji, mereka juga mengantisipasi Benny Moerdani yang katanya akan bikin gerakan (hlm. 71-79).

Pada 1998 baik Sjafrie maupun Prabowo sudah menggapai bintang di pundak alias jadi jenderal. Sejak Maret, Prabowo sudah jadi letnan jenderal dengan jabatan Panglima Kostrad. Sementara itu, dari tahun sebelumnya, Sjafrie dengan pangkat mayor jenderal sudah jadi Panglima Kodam Jakarta Raya. Keduanya tentu saja orang penting di Jakarta di tahun kejatuhan Soeharto itu.

Prabowo adalah contoh sukses dari anak mantan tokoh PRRI dan Sjafrie adalah contoh sukses dari anak mantan penandatangan piagam Permesta di masa Orde Baru. Setelah 1998, karier militer keduanya mentok. Prabowo malah diberhentikan. Sjafrie beruntung, dia pernah ditarik jadi Wakil Menteri Pertahanan di zaman SBY.


Masuk Dunia Seni

Beberapa anak tokoh PRRI-Permesta ada yang terjun ke dunia usaha, ada juga yang terjun ke dunia politik di zaman Orde Baru dan sesudahnya. Salah satunya Edwin Kawilarang, anak Alex Kawilarang, yang terjun ke Golongan Karya. Selain politikus, Edwin juga menjadi pengusaha yang membawahi beberapa perusahaan. Anak tokoh lain yang jadi politikus cum pengusaha adalah Hashim Djojohadikusumo, bos Arsari Group yang menaungi banyak perusahaan. Hashim ialah anak daripada Sumitro Djojohadikusumo.

Beberapa tokoh PRRI-Permesta memang jadi pengusaha di zaman Orde Baru. Pemerintah Orde Baru cukup merangkul mereka dengan baik sehingga mereka bisa hidup nyaman. Dunia usaha memungkinkan mereka lebih dari sekadar bertahan hidup, meski tidak sampai taraf konglomerat. Golongan yang jadi pengusaha tidaklah terkenal. Mereka kalah populer dengan anak-anak tokoh PRRI-Permesta yang jadi seniman.

Ratna Sarumpaet tentu lumayan tersohor. Lepas dari aksi-aksi kontroversialnya belakangan ini, di dunia teater Ratna cukup diakui publik. Di zaman Orde Baru, ketika banyak anak tokoh PRRI-Permesta lainnya adem ayem, Ratna menulis naskah teater bertajuk Anak-anak Kegelapan yang menyinggung tragedi 1965—karya yang membuatnya sulit dekat dengan Soeharto.

Kata Chrisye dalam Chrisye: Sebuah Memoar Musikal (2007) yang disusun Alberthiene Endah, waktu sekolah Ratna sangat suka menulis puisi dan sangat percaya diri membacakannya di hadapan orang-orang. Ibunda aktris Atiqah Hasiholan ini dikenal pula sebagai aktivis kemanusiaan (hlm. 58).





Selain Ratna, Donny Fattah Gagola tidak kalah sangar. Donny sukses menjadi dirinya sendiri. Dia adalah pemain bass dari band yang merupakan raksasa rock Indonesia, God Bless. Dia membangun band itu bersama Ahmad Albar dari awal, sejak pertengahan 1970-an. Album pertama mereka yang bergambar wajah Ahmad Albar dianggap salah satu album rock terbaik Indonesia.

Sebelum ada Ian Antono, Donny pernah mengisi posisi gitar. Mereka berdua tetap ada di God Bless. Bersama Ian Antono, Donny tergolong orang yang paling lama memperkuat God Bless. Beberapa musisi andal silih berganti mengisi God Bless pada posisi keyboard atau drum.


Donny tidak masuk tentara seperti ayahnya, Mayor Edy Gagola—penandatangan nomor 34 piagam Permesta. Di luar seragam militernya, Edy Gagola bisa main musik seperti Donny. Selain Donny, anak Edy Gagola lain yang bermusik adalah Rudy Gagola. Rudy dan Donny pernah membuat proyek musik D&R.

Anak tokoh penandatangan Permesta lain yang terjun ke dunia seni adalah Andi Sitti Meriem Nurul Kusumawardhani Mattalatta, anak dari Mayor Jenderal Andi Mattalata. Sebagian nama tengahnya mirip putri keraton cantik yang cerdas dan tersohor pada era 1940-an, Gusti Nurul. Andi Mattalata tampaknya pernah melihat atau mendengar nama Gusti Nurul waktu terlibat revolusi di sekitar Yogyakarta dan Solo.

Andi Meriem Mattalata memang berparas menarik. Tapi bukan cuma itu modalnya. Perempuan yang pernah jadi juara menyanyi ketika masih belasan tahun ini begitu sohor di dunia musik pop era 1970-an. Dia dikenal dengan lagu "Mutiara dari Selatan" (1976), yang diciptakan salah satu guru musiknya, Iskandar. Belakangan Andi Meriem dijuluki sesuai judul lagu itu.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight