Gusti Nurul yang Dipuja Banyak Tokoh Besar Indonesia

Gusti Raden Ayu Siti Nurul Kamaril Ngasarati Kusumawardhani. FOTO/Istimewa
Oleh: Petrik Matanasi - 21 November 2017
Dibaca Normal 2 menit
Selain cantik dan berdarah ningrat, Gusti Nurul juga berpendidikan; banyak para pembesar jatuh hati padanya.
tirto.id - Rabu, 24 Maret 1954, beberapa lelaki terpelajar dan berpengaruh di negeri ini harus gigit jari. Harapan mereka untuk meminang seorang perempuan ningrat, terpelajar, berparas ayu, resmi pupus pada hari itu.

Mereka harus menerima kenyataan jika Gusti Raden Ayu Siti Nurul Kamaril Ngasarati Kusumawardhani alias Gusti Nurul resmi menikahi lelaki pilihannya. Lelaki yang beruntung meminang gadis Mangkunegaran adalah Raden Mas Sujarso Surjosurarso.

Meski bukan pejabat tinggi negara macam Sukarno atau Sjahrir, juga bukan bangsawan seberpengaruh Hamengkubuwana IX, namun Sujarso Surjosurarso juga tak bisa dipandang enteng. Sebagai tentara, dia bukan perwira militer sembarangan.

Sebagai lulusan Akademi Militer Kerajaan Belanda di Breda, seperti ditulis Harsya Bachtiar dalam Siapa Dia Perwira TNI-AD (1989), Jarso pernah beberapa tahun berdinas di tentara kerajaan Belanda. Dia pernah ditempatkan di Proef Batalion Vechtwagens di Bandung dan selanjutnya pindah lagi ke Batalion Infanteri di Bogor.

Baca juga: Bubarnya Angkatan Perang Hindia Belanda: KNIL

Setelah proklamasi kemerdekaan, dia bergabung TNI. Dia adalah orang pertama yang jadi kepala Inspektorat Kavaleri Angkatan Darat, dengan pangkat letnan kolonel. Pada saat menyandang pangkat itu pula dia menyunting Gusti Nurul dan bikin hampir semua laki-laki gigit jari.

Gusti Nurul adalah orang Indonesia yang wajahnya pernah masuk majalah legendaris Life. Majalah terbitan Amerika Serikat ini edisi 25 Januari 1937 memajang foto Gusti Nurul menari di hari pernikahan Putri Juliana dan Pangeran Bernard. Pada hari pernikahan itu, 6 Januari 1937, Gusti Nurul yang baru berusia 15 tahun menari di hadapan Ratu Belanda beserta pejabat-pejabat dan tamu kenegaraan.

Gusti Nurul datang bersama ayahnya yang juga menjadi tamu kenegaraan. Di zaman belum ada mini compo itu, menurut Rudolf Mrazek dalam Engineers of Happy Land (2006), “penari itu diiringi gamelan yang disiarkan tanpa kabel dari Istana Sultan Yogyakarta.”

Gusti Nurul, menurut Martha Tilaar dalam Kecantikan Perempuan Timur (1999), adalah pakar dalam pengetahuan kosmetik tradisional dan jamu. Bahkan Martha Tilaar, pakar dan produsen kosmetik tradisional, juga belajar padanya. Soal jamu dan kosmetik itu tampaknya dipelajari Gusti Nurul sejak muda. Tak heran jika ia terkenal. Tak hanya tariannya, tapi juga parasnya yang elok.

Sebelum menikah dengan Jarso, ada gelagat seorang raja di kota sebelah hendak menyunting Gusti Nurul. Ketika ayahnya, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara VII (1885-1944), masih hidup, pernah ada orang yang hendak meminangnya.

Kepada Gusti Nurul, ayahnya pernah bercerita. “Telah datang utusan dari Yogyakarta, dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang menanyakan tentang aku. Tujuannya ingin meminangku untuk menjadikan istri,” aku Gusti Nurul dalam Goesti Noeroel: Straven naar Geluk Mengejar Kebahagiaan (2014).

Gusti Nurul tentu tahu jika Sultan HB IX sudah punya istri. Gusti Nurul keberatan. Pantang baginya, seorang perempuan berpendidikan tinggi di zaman kolonial, dimadu seperti dialami Kartini.

Baca juga: Kardinah, Adik Tiri Kartini yang Jadi Korban Revolusi Sosial

Beberapa pangeran dari Keraton Surakarta juga menaruh hati padanya. Salah satunya Kolonel Gusti Pangeran Haryo Djatikusumo—Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) pertama. Mereka yang jatuh hati pada Gusti Nurul memang banyak yang sudah beristri.

“Aku tak bisa menerima cinta mereka. Penyebabnya hanya satu, aku tak mau dimadu,” aku Gusti Nurul dalam memoarnya.

Di luar bangsawan-bangsawan Jawa, daftar penggemar Gusti Nurul tampaknya juga diisi Presiden Sukarno.



“Menurut kabar beberapa orang, Bung Karno pun menaruh simpati padaku. Namun aku sendiri tak pernah mendengar pernyataan ungkapan isi hari Bung Karno. Tapi, saya mendengar dari Bu Hartini, istrinya. Menurutku, Bung Karno hanya sebatas mengagumi saja,” lanjut Gusti Nurul.

Setelah tentara Belanda angkat kaki, Gusti Nurul pernah diundang ke Istana Cipanas. Ia datang bersama ibunya, Gusti Kanjeng Ratu Timoer. Di istana, pelukis Basuki Abdullah diminta Sukarno melukis Gusti Nurul. Setelah Gusti Nurul menikah dengan Surjosurarso, Bung Karno sering bilang: “Wah, aku kalah cepat dengan suamimu.”

Di antara para penggemar Gusti Nurul, Sutan Sjahrir adalah yang paling unik. Sjahrir bukan orang Jawa, padahal saingan-saingan Sjahrir hampir semuanya pembesar dan bangsawan Jawa. Di masa revolusi, Sjahrir adalah Perdana Menteri Republik Indonesia Pertama.

Baca juga: Sebelum Sutan Sjahrir Jadi Pahlawan Nasional

“Setiap rapat kabinet digelar di Yogyakarta, ia selalu mengutus sekretaris pertamanya, Siti Zoebaidah Oesman, ke Pura Mangkunegaran untuk khusus mengantar hadiah yang dibelinya di Jakarta. Bersamanya juga terlampir sepucuk surat tulisan tangan Sutan Sjahrir,” aku Gusti Nurul. Hadiah dari Sjahrir itu biasanya sutra, tas, atau jam tangan. Gusti Nurul rajin membalas surat dari Sjahrir.

Meski tampak jatuh hati, Sutan Sjahrir yang dikenal sebagai pentolan Partai Sosialis Indonesia (PSI) itu tak pernah menyambangi Gusti Nurul ke Pura Mangkunegaran. Sjahrir pernah mengundang Gusti Nurul berserta ibu dan kakaknya ke Linggarjati. Mereka menginap di rumah tempat berlangsungnya Perundingan Linggarjati.

Baca juga: Linggarjati: Perjanjian di Rumah Tua Seorang Janda

Setelah Gusti Nurul menikah pun Sjahrir tampaknya masih "penasaran". Sjahrir pernah datang ke rumah. Tapi Jarso tidak cemburu. Gusti Nurul mengaku, “Setiap kami foto bersama, Sjahrir selalu mengambil posisi ada di dekatku, sementara Mas Jarso justru mengambil posisi tidak di dekatku.”

“Mas Jarso tahu tentang pria-pria yang menaksirku,” aku Gusti Nurul.

Setelah menikah dengan perwira ber-NRP 13751 itu, yang pernah jadi kepala persenjataan kavaleri pertama itu, Gusti Nurul tak tinggal di Pura Mangkunegaran lagi. Dia ikut suaminya ke mana pun berdinas. Bahkan ketika Jarso jadi Atase Militer di Washington DC.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight