Diplomasi Musik Amerika

Amerika Pakai Musik Klasik untuk Propaganda Perang Dingin

Penulis: Sekar Kinasih, tirto.id - 8 Jan 2023 08:00 WIB | Diperbarui 9 Jan 2023 06:39 WIB
Dibaca Normal 5 menit
Pada awal era Perang Dingin, pemerintah AS mengekspor pementasan musik klasik ke luar negeri untuk memperkuat citranya di mata publik dunia.
tirto.id - Kapten Jack Tueller asal Amerika Serikat bukan sekadar pilot pesawat tempur, melainkan juga musisi trompet andal. Ketika bertugas selama Perang Dunia II di Eropa, instrumen berwarna emas mengilat tersebut ikut menemaninya di dalam kokpit. Saat sedang tidak terbang, Tueller akan meniup alat itu untuk menghibur pasukan Sekutu yang beristirahat.

Suatu malam di musim panas 1944, dua minggu setelah 300 ribu pasukan Sekutu dikerahkan dalam invasi “D-Day” di pantai Normandia, Prancis, Tueller diperintahkan agar tidak bermain musik lagi untuk sementara. Suara trompetnya dikhawatirkan membuat seorang sniper Jerman tahu titik persembunyian pasukan.

Tapi Tueller tidak mau patuh. Dia pikir, musik mungkin akan melunakkan hati si sniper. Dia memainkan melodi dari lagu Lili Marlene—tembang romantis tentang kerinduan seorang serdadu di medan perang pada kekasihnya—yang dipopulerkan oleh aktris legendaris Jerman, Marlene Dietrich.

Pertaruhan Tueller ternyata berbuah hasil. Malam itu tidak ada tembakan dari si penembak jitu. Pagi berikutnya dia bahkan tertangkap dan menjadi tahanan Sekutu.

Si musuh lalu bertanya-tanya tentang pemain trompet semalam. Ketika Tueller didatangkan, sniper Jerman itu menangis di hadapannya dan berkata: “Saya tidak bisa menembak karena jadi teringat pada tunangan saya… ibu dan ayah saya…” Mereka pun berjabat tangan. Tueller menganggap sniper Jerman di depannya bukan musuh atau penjahat. “Karena musik telah melembutkan makhluk yang bengis,” kenangnya sekian dekade kemudian.

Kisah di atas menjadi salah satu momen paling manusiawi dan membuat terenyuh dalam Pertempuran Normandia, peristiwa yang selama 12 minggu membuat lebih dari 500 ribu orang luka-luka, meninggal, atau hilang.

Permainan trompet Tueller juga membuktikan bahwa musik, seperti disampaikan pujangga Amerika abad ke-19 Henry Longfellow, adalah “bahasa universal umat manusia.” Atau, sebagaimana menurut profesor filsafat Kathleen Higgins dalam buku The Music Between Us (2012), musik merupakan jembatan antarmanusia. Ia adalah bentuk komunikasi lintas budaya yang dapat menciptakan solidaritas karena mampu menembus sekat-sekat perpecahan politik.

Kekuatan musik yang begitu dahsyat sudah tentu mustahil diabaikan oleh para elite, terutama seiring dimulainya ketegangan geopolitik baru: Perang Dingin antara blok komunis pimpinan Uni Soviet dan blok kapitalis yang dinakhodai AS. Dalam perang yang tujuannya disebut-sebut untuk “merebut hati dan pikiran” publik dunia itu, musik menjadi salah satu produk budaya yang dijadikan instrumen diplomasi, atau gamblangnya sarana propaganda.


AS Propaganda Lewat Diplomasi Musik

Konsep tentang propaganda melalui diplomasi budaya pernah dirumuskan oleh Departemen Luar Negeri AS pada 1953 atau bersamaan dengan dimulainya administrasi Presiden Dwight D. Eisenhower. Demikian dicatat Danielle Fosler-Lussier dalam buku Music in America’s Cold War Diplomacy (2015).

Konsep tersebut diilustrasikan dalam bentuk aliran air di dalam pipa. Di bagian atas pipa tertulis “kebijakan luar negeri AS” sebagai produk yang akan diolah, sementara di kanan-kiri pipa utama terdapat cabang-cabang kecil berisi “faktor penentu” seperti “program-program lain oleh pemerintah AS”, “kegiatan lembaga swadaya masyarakat”, atau “sarana komunikasi”. Di bagian ujung pipa—wujudnya menyerupai sambungan air terjun—mengeluarkan hasil olahan informasi yang ditargetkan untuk “kelompok pemirsa” di “Negara X”.

Dalam konsep ini, jelas bahwa di mata otoritas AS program edukasi dan pementasan seni budaya di luar negeri juga berguna untuk mempromosikan nilai-nilai sosial budaya dari “tanah kebebasan”. Selain itu juga dalam rangka mempermulus proses penerimaan kebijakan luar negeri Washington di negara sasaran kampanye.

Ekspor pertunjukan seni budaya ke penjuru dunia resmi dimulai pada 1954 di bawah program bertajuk Cultural Presentations atau Pergelaran Budaya. Awalnya proyek tersebut disokong oleh Dana Darurat Presiden untuk Urusan Luar Negeri, lalu sejak 1956 memperoleh anggaran tetap dari Deplu.

Demi mempertahankan kualitas produk yang diekspor, Deplu membentuk panitia khusus yang bertindak sebagai penasihat bernama Advisory Committee on the Arts (ACA). Deplu juga meminta bantuan dari sejumlah petinggi organisasi seni pertunjukan American National Theatre and Academy (ANTA) untuk menyeleksi seniman atau artis yang akan disponsori.

Anggota ACA dan ANTA adalah orang-orang elite berkedudukan sosial tinggi. Dari mulai filantropis, kepala museum, komposer musik, sampai profesor seni.

Rekomendasi dari ANTA kemudian dievaluasi oleh banyak pihak: mulai dari Deplu sendiri, kantor urusan “diplomasi publik” era Perang Dingin (United States Information Agency), Departemen Pertahanan, badan intelijen (CIA), perpustakaan nasional (Library of Congress), kantor pemerintah federal untuk urusan arsitektur bangunan (Commission on Fine Arts), sampai lembaga edukasi kerja sama swasta-pemerintah seperti Smithsonian Institution dan National Gallery of Art.

Dimulai dari Musik orkestra

Musik klasik merupakan produk budaya yang paling sering diekspor pada awal Cultural Presentations. Grup orkestra top seperti New York Philharmonic (orkestra tertua di AS, didirikan pada 1842), Boston Symphony Orchestra, dan solois dari Metropolitan Opera sudah diterbangkan ke Eropa sedininya pada 1955-1956.

Kenapa musik klasik diprioritaskan? Karena itu dinilai sebagai hiburan “berkualitas tinggi” atau “elite” dan merupakan cerminan negara yang matang dan dewasa. Menariknya anggapan itu juga merupakan narasi propaganda Uni Soviet.

Washington bahkan sempat meragukan efektivitas musik klasik sebagai alat propaganda karena itu bukan produk “asli” AS melainkan Eropa. Kekhawatiran lain karena audiensi musik klasik sedikit. Di mana-mana, penikmat musik klasik adalah minoritas yang berasal dari keluarga elite berpendidikan tinggi. Demikian juga musisi orkestra yang jumlahnya juga terbatas.


Karya seniman AS juga menghadapi persaingan ketat dari Uni Soviet. Situasi ini kentara di Jepang yang masyarakatnya tergolong kritis terhadap seni pementasan. Mereka suka membandingkan-bandingkan persembahan dari AS dengan Soviet. Ketika itu Soviet rutin menggelar pementasan paling terkenalnya ke Jepang, misalnya Bolshoi Ballet dan Moscow Art Theatre.

Karena ketatnya persaingan, penyelenggara festival musik besar di Tokyo dan Osaka jadi sangat selektif. Mereka hanya berminat menerima tiga grup orkestra paling bagus dan terkenal saja (Boston, Philadelphia, New York). Mereka juga pernah kecewa berat ketika Kedubes AS mendatangkan Little Orchestra Society, grup dari New York yang namanya tidak familier di telinga orang Jepang.

Kendala lain adalah soal selera penduduk lokal yang memang berbeda dan sulit diubah. Ini misalnya terjadi di Kamboja.

Pada pengujung dekade 1950-an, diplomat AS di Phnom Penh kebingungan setelah pementasan musik mereka tidak pernah disambut antusias. Sebagian pemirsa meninggalkan ruangan hanya beberapa menit setelah John Sebastian (pendiri band rock The Lovin' Spoonful) memainkan harmonikanya. Mereka juga tidak betah dengan penampilan dari sekolah paduan suara bersejarah Westminster Choir. Penampilan penyanyi alto Marian Anderson juga direspons negatif oleh publik yang rupanya tidak menggemari gaya operatiknya.

Di balik beragam dinamika di lapangan, pentas musik klasik dari AS tetap dianggap efektif mendulang simpati dan respek dari masyarakat di luar negeri. Meskipun jumlahnya terbatas, penikmat musik klasik adalah kalangan berpengaruh—istilahnya sekarang influencer—yang komentar-komentarnya berpotensi menggiring opini publik dan media arus utama.

Selain itu, masih dikutip dari buku Fosler-Lussier, dengan disuguhi penampilan orkestra, masyarakat alias target propaganda di “Negara X” merasa sudah dihargai oleh otoritas AS sebagai warga yang berselera tinggi dan pantas untuk menikmati suguhan berkualitas nan bergengsi.

Pementasan orkestra juga dipandang berhasil meningkatkan gengsi kota yang menerimanya. “Baghdad sekarang masuk dalam peta musik dunia berkat AS,” demikian ucap seorang akademisi di Irak setelah ibu kota negara itu didatangi penyanyi sopran dari Metropolitan Opera, Eleanor Steber.

Respons positif lain adalah “Negara X” bangga karena sudah dianggap sebagai “teman Amerika”. Menurut seorang diplomat AS di Lahore, Pakistan, warga setempat merasa sudah “diikutsertakan” alias tidak dilupakan oleh Paman Sam karena disuguhi penampilan mengesankan dari Minneapolis Symphony Orchestra.

Infografik Diplomasi musik klasik dari Amerika Serikat
Infografik Diplomasi musik klasik dari Amerika Serikat. tirto.id/Fuad


Diplomasi Sarat Kontradiksi

Di samping mengirimkan pementasan ke luar negeri, diplomasi budaya AS juga meliputi “bantuan pembangunan”—merujuk pada proses transfer ilmu pengetahuan tentang seni budaya oleh para pakar ke berbagai negara sasaran. Ahli seni dan musik dalam skema ini disokong oleh program American Specialists yang aktivitasnya kadang beririsan dengan Cultural Presentations. Mereka dikirim untuk memimpin konser atau memberikan kuliah tentang kesenian.

Salah satu di antaranya adalah aktor musikal Gene Kelly. Dia dikenal lewat film peraih penghargaan terbaik Oscar An American in Paris (1951) sekaligus menyutradarai film musikal populer Hello, Dolly (1969). Kelly pernah memberi kuliah umum di Afrika Barat tentang gerakan tari modern gaya Amerika.

Ada pula William Strickland, konduktor yang disebut-sebut paling sering tur ke luar negeri dibandingkan musisi AS lain. Strickland berjasa membangun kerja sama dengan komunitas orkestra di Jepang, Korea, Filipina, Vietnam, sampai negara Nordik. Dia mempromosikan musik Amerika dengan menjadi konduktor tamu, melatih konduktor dan grup-grup orkestra, sampai merilis album bersama mereka.


Dalam konteks propaganda Perang Dingin, upaya Strickland bisa dibilang sukses. Kontribusinya dapat menginspirasi pecinta musik klasik dan musisi di negara-negara sasaran. Mereka merasa mampu mengembangkan industri musik klasik jadi maju dan berkualitas seperti di AS dan Eropa. Mereka merasa bisa jadi bangsa dengan selera musik tinggi dan kemampuan bermusik hebat.

Meskipun hanya diyakini oleh segelintir minoritas, pandangan demikian tetap saja memperkuat citra AS sebagai adidaya yang peduli terhadap (perkembangan seni musik) negara-negara lain.

Tentu saja tidak bisa dimungkiri bahwa diplomasi musik sarat dengan kontradiksi. Musik terang-terangan dieksploitasi sebagai alat untuk membentuk persepsi tentang keunggulan AS, padahal ia diyakini oleh para penikmatnya sebagai entitas yang apolitis. Ia menjadi sebuah bahasa universal yang mampu menumbuhkan sikap respek terhadap budaya lain, terlepas apa pun ideologi negaranya.

Paradoks itu pula yang senantiasa mengiringi keberlangsungan Cultural Presentations.

Pada 1962, pemerintah AS sendiri membuat laporan yang isinya menyayangkan betapa misi tersebut “sia-sia dan tidak pantas”. Alasannya karena tujuannya condong untuk menyaingi propaganda Soviet alih-alih membina pemahaman antarbudaya yang bersifat kontinu.

Terlepas dari itu, program Cultural Presentations tetap bertahan dan populer, terlebih setelah diperkuat oleh musisi-musisi jaz berkulit hitam. Kejayaannya baru memudar pada awal dekade 1970-an seiring anggarannya mulai berkurang.

(Bersambung...)

Baca juga artikel terkait PERANG DINGIN atau tulisan menarik lainnya Sekar Kinasih
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Sekar Kinasih
Editor: Rio Apinino

DarkLight