Menuju konten utama
Mozaik

Mata-mata Jepang di Hindia Belanda Sebelum Perang Dunia II

Telik sandi dan propaganda mempermudah Jepang dalam menaklukkan Hindia Belanda.

Mata-mata Jepang di Hindia Belanda Sebelum Perang Dunia II
Header Mozaik Mata-mata Jepang di Hindia Belanda. tirto.id/Tino

tirto.id - Setelah pertempuran di Ciater, tentara Jepang berhasil memasuki Lembang dan tinggal menyerbu Kota Bandung yang berjarak beberapa kilometer di depan. Di bawah ancaman serangan itulah Pemerintah Hindia Belanda menyerah tanpa syarat di Kalijati, Subang, pada 9 Maret 1942.

Jepang menyapu Hindia Belanda dengan sangat singkat. Hal ini tidak lepas dari strategi mereka yang dilakukan jauh sebelumnya.

Pasca Restorasi Meiji, Negeri Matahari Terbit mengirim kaum terdidik dan kalangan atas untuk bersekolah di Eropa dan Amerika Serikat. Peran mereka sangat besar karena ikut membangun Jepang di berbagai lapangan kehidupan pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Selain itu, Jepang menerapkan politik mengirim orang-orang miskin ke luar negeri. Salah satunya adalah program nanshin-ron, yakni orang-orang miskin Jepang dikirim ke bagian barat dan selatan Asia. Tujuannya untuk memberikan lapangan pekerjaan di tempat baru dan mengurangi jumlah orang miskin di negerinya sendiri.

Menurut Gusti Asnan dalam makalah berjudul “Nanshin-Ron, dan Keberadaan, Serta Aktivitas orang Jepang di Indonesia Sebelum 1942”, warga jepang yang mula-mula datang ke Hindia Belanda berjumlah 15 orang pada tahun 1875. Jumlah ini terus berkembang dengan berbagai macam keahlian dan pekerjaan.

Baru di sekitar tahun 1920, warga Jepang dari kalangan atas, pengusaha, dan orang-orang kaya memasuki Hindia Belanda. Salah satu usaha yang mereka tekuni adalah perkebunan dan perdagangan. Sebagian dari mereka mendirikan toko di kota-kota besar dan memunculkan fenomena Toko Jepang di Hindia Belanda.

Dalam artikel berjudul “Strategi Dagang dan Permasalahan Toko Jepang di Hindia Belanda Sebelum Perang Dunia II”, Stedi Wardoyo menulis bahwa dekade 1920 dan 1930 merupakan masa keemasan bagi toko-toko Jepang.

Kemudahan proses distribusi barang berdampak pada rendahnya biaya angkutan yang membuat harga jual menjadi rendah. Peningkatan nilai impor dari Jepang didorong oleh besarnya pasar dan banyaknya kebutuhan masyarakat di Hindia Belanda.

Suasana yang menyenangkan dan pelayanan tanpa diskriminasi membuat keberadaan toko-toko Jepang sangat digemari oleh masyarakat pribumi. Toko Jepang yang jumlah sangat banyak kemudian menjadi simpul pengikat.

Mereka mendirikan Asosiasi Masyarakat Jepang (Nihonjikai atau De Japanese Vereniging) tahun 1913 di Batavia yang sebagian besar anggotanya adalah pemilik atau pengelola toko.

Perkumpulan orang-orang Jepang ini bahkan sempat mendirikan beberapa sekolah. Dalam buku berjudul Life and death of Abdul Rachman (1906-49): One Aspect of Japanese-Indonesian Relationships (1976), Kenichi Goto menyebut orang-orang Jepang sempat mendirikan sekolah di Bandung pada tahun 1932.

Sekolah itu merupakan yang keempat setelah mereka membangun sekolah di Surabaya (1925), Batavia (1928), and Semarang (1929).

Saat itu, Bandung merupakan salah satu kota yang digambarkan memiliki nuansa Jepang yang kental. Menurut Sjarif Amin dalam buku Keur Kuring di Bandung (1982), beberapa toko Jepang muncul di Bandung sekitar akhir tahun 1930-an. Toko-toko ini menjual barang-barang buatan Jepang yang memiliki kualitas di bawah kualitas barang dari Eropa.

Mereka menjual barang dan peralatan rumah tangga, permen, mainan, sampai obat-obatan. Salah satu obat pembersih mulut yang terkenal bernama Djintan. Menurut Amin, Djintan merupakan singkatan dari Djenderal Japan Ini Nanti Tembak Anak Nederlan.

Salah satu toko yang terkenal adalah Toko Ogawa yang berlokasi di sudut barat laut Alun-Alun Bandung, seberang Kantor Pos--sekarang ditempati gedung Swarha.

Satu lagi toko Jepang yang terkenal adalah Tjijoda, sejenis toko serba ada yang menyediakan alat-alat keperluan rumah tangga. Kenichi Goto menggambarkan kawasan Alun-Alun Bandung sebagai Japanese Town.

Telik Sandi dan Propaganda

Kebebasan gerak para imigran Jepang dan kedekatan mereka dengan masyarakat dimanfaatkan oleh Pemerintah Jepang. Sebagian dari mereka direkrut untuk memata-matai kekuatan Hindia Belanda dan sebagian lagi mendapat tugas melancarkan propaganda politik.

Seperti diungkap Martinus Danang Pratama Wicaksana dan Yerry Wirawan dalam “Aksi dan Propaganda Jepang Sepanjang Tahun 1930-1942 Sebelum Pendudukannya di Hindia Belanda”, aksi spionase dan propaganda tersebut memberikan dampak yang besar dalam serbuan tentara Jepang ke Hindia Belanda.

Mengutip dari buku Jejak Intel Jepang: Kisah Pembelotan Tomegoro Yoshizumi (2014) karya Wenri Wanhar, mata-mata Jepang melakukan penyamaran seperti menjadi wartawan, nelayan, tukang potret, kuli, penunggu toko kelontong, mengoperasikan rumah pelacuran, hingga menjadi bintang film.

Mereka bebas berkeliaran dan memiliki akses yang besar untuk mempelajari banyak hal mengenai aspek lingkungan, sosial, ekonomi, politik dan budaya di Hindia Belanda.

Selain gerakan individu, beberapa perusahaan Jepang diyakini telah mengumpulkan peta-peta khususnya peta pelabuhan. Mereka dengan teratur melaporkan kondisi tempat mereka tinggal ke Tokyo.

Infografik Mozaik Mata-mata Jepang di Hindia Belanda

Infografik Mozaik Mata-mata Jepang di Hindia Belanda. tirto.id/Tino

Dalam buku Ten Years Japanese Burrowing in The Netherlands East Indies yang dikeluarkan Netherlands Information Bureau disebutkan, kegiatan mata-mata Jepang di Hindia Belanda dilakukan di beberapa kota seperti Surabaya, Batavia, Bandung, Palembang, Jambi, Menado, dan lain-lain.

Di Cilacap, aktivitas mata-mata dilakukan oleh kapal-kapal yang memuat barang-barang impor dari Jepang. Aktivitas ini menurut sejarawan Susanto Zuhdi sebagai gejala ekspansi imperialisme dibanding sebagai aktivitas ekonomi biasa. Untuk memata-matai Pelabuhan Cilacap, Jepang menguasai hampir 80 persen jumlah impor di pelabuhan selatan Pulau Jawa tersebut.

Dalam buku Cilacap 1830-1942: Bangkit dan Runtuhnya Suatu Pelabuhan di Jawa (2002), Zuhdi menceritakan bahwa Jepang terlihat tidak mengharapkan keuntungan dari aktivitas mereka di Cilacap. Mereka diyakini telah mengetahui fungsi pelabuhan ini dalam sistem pertahanan Jawa bagian selatan.

Selain menyebar mata-mata, Jepang juga aktif melakukan propaganda di tengah masyarakat. Mereka mendoktrin penduduk pribumi agar menjauhi pemerintah dan mendekati pihak Jepang.

Netherlands Information Bureau menjelaskan bagaimana cara-cara Jepang dalam mendekati masyarakat Hindia Belanda. Mereka antara lain memberi insentif kepada para pengusaha, memberi kesempatan bersekolah kepada para siswa, mendekati kalangan Islam, dan mempengaruhi pers serta para pemimpin politik.

Jepang juga melakukan propaganda melalui radio yang terus menyuarakan bahwa militer Hindia Belanda hanya digunakan untuk melindungi kepentingan Belanda saat mengisap kekayaan Hindia Belanda. Di sisi lain, mereka terus mempropagandakan akan membawa kemakmuran dan siap membebaskan Hindia Belanda melalui kekuatan bersenjata.

Strategi Jepang akhirnya membuahkan hasil setelah Hindia Belanda berhasil dilumpuhkan dalam waktu yang singkat. Tanggal 9 Maret 1942, pukul 15.00 WIB, Detasemen Soji memasuki Kota Bandung sebagai simbol runtuhnya Hindia Belanda.

Baca juga artikel terkait MATA-MATA atau tulisan lainnya dari Hevi Riyanto

tirto.id - Politik
Kontributor: Hevi Riyanto
Penulis: Hevi Riyanto
Editor: Irfan Teguh Pribadi