Akibat Tidur dengan Kipas Angin Menyala: Dehidrasi, Alergi, & Asma

Ilustrasi Kipas Angin di Kamar. FOTO/iStock
Oleh: Tony Firman - 11 Agustus 2018
Dibaca Normal 2 menit
Di Semenanjung Korea, ada mitos lama yang dipercayai bahwa menggunakan kipas angin dapat menyebabkan kematian.
tirto.id - Berada di garis khatulistiwa membuat iklim Indonesia hangat dengan matahari yang bersinar terik. Hanya ada dua musim yang menghampiri seluruh wilayah Indonesia, kemarau dan penghujan. Saat musim kemarau dan cuaca sedang panas sepanjang hari, sebagian manusia akan terganggu tidurnya karena merasa gerah.

Sementara banyak penelitian yang menunjukkan buruknya kualitas tidur sebagai penyebab berbagai penyakit kronis di tubuh. Mulai dari tekanan darah tinggi, stroke, gagal jantung, serangan jantung, diabetes, dan penyakit lainnya.

Laporan riset Nick Obradovich berjudul "Nighttime temperature and human sleep loss in a changing climate" (2017) yang dimuat di majalah Science, menyebutkan bahwa pemanasan global turut mengurangi jam tidur manusia. Yang paling terdampak adalah lansia, kalangan kelas bawah yang tidak mampu membeli AC, atau penduduk di daerah tropis.

Di luar problem perubahan iklim yang menyebabkan peningkatan suhu, menggunakan kipas angin saat tidur guna menghalau gerah jamak dipraktikkan di berbagai belahan dunia. Kipas angin sekaligus menjadi solusi hemat bagi mereka yang tak mampu memasang AC yang membutuhkan sumber daya listrik lebih tinggi.

Tapi apakah kebiasaan tidur dengan pancaran kipas angin di musim panas punya dampak kesehatan bagi tubuh?

Len Horovitz, seorang ahli paru-paru dari Lenox Hill Hospital, New York City, AS, menegaskan bahwa menggunakan kipas angin semalam suntuk agar tidur lebih nyenyak bukanlah pilihan yang terlalu buruk. "Tidak ada apa-apa, kipas angin bukanlah racun," kata Horovitz dilansir dari Live Science.


Terkait gangguan pernapasan dan penumpukan debu akibat paparan kipas angin, Horovitz menyarankan agar menjaga jarak aman dan ideal antara kipas angin yang menyala dengan tempat tidur Anda. Menurut Horovitz, kipas seharusnya tidak diarahkan langsung ke tubuh supaya pengguna terhindar dari paparan debu dan potensi alergi.

Efek samping yang mungkin dirasakan pengguna kipas angin ketika tidur adalah penguapan air dari mulut dan saluran hidung, atau mata dan mulut yang biasanya terbuka sedikit saat tidur sehingga menyebabkan rasa kering dan haus ketika bangun tidur. Kulit pun bisa terasa kering.

Menurut Horovitz, udara dingin sebenarnya dapat menyebabkan kontraksi otot. Paparan udara di malam hari dapat menyebabkan leher terasa kaku ketika bangun di pagi hari. Tetapi biasanya hal ini terjadi pada kasus penggunaan AC, bukan kipas angin. Langkah aman jika menggunakan AC maka disarankan untuk tidak bertiup langsung ke tubuh dan memilih mengatur suhu di atas 20 derajat celcius.

Kembali ke kipas angin, dalam "Electric fans for reducing adverse health impacts in heatwaves" Saurabh Gupta dkk (2012) melaporkan bahwa sedikit sekali bukti yang menunjukkan bahwa kipas angin benar-benar turut menurunkan efek hawa panas di dalam ruangan.


Pasalnya, kipas angin menghirup udara yang pada dasarnya sudah panas, efek dari perubahan iklim dan gelombang panas. Akibatnya, udara yang terpapar ke tubuh sebenarnya lebih hangat dibanding suhu tubuh itu sendiri, dan ujung-ujungnya dapat merangsang lebih banyak keringat. Keringat deras inilah yang berpotensi menyebabkan dehidrasi karena tubuh kehilangan banyak cairan dan luput mengisinya karena terlelap.

Idealnya, kipas angin digunakan ketika suhu udara di bawah 35 derajat celcius. Jika Anda khawatir dehidrasi karena kipas angin, minumlah banyak air sebelum tidur.

Mitos Kipas Angin Penyebab Kematian

Sebagian orang percaya bahwa kipas angin dapat menyebabkan kematian. Kepercayaan tersebut terutama menguat menjadi sebuah mitos dalam kultur masyarakat Korea. Masyarakat di Semenanjung Korea, misalnya, mengenal istilah Kipas Angin Kematian. Istilah itu merujuk pada kebiasaan memakai kipas angin berlama-lama yang menyebabkan kematian.


Ken Jennings membagikan kisah dan penelusurannya di Slate. Tumbuh besar di Seoul, Korea Selatan, Ken Jennings melaporkan bahwa masyarakat Korsel menganggap kipas angin sebagai hal yang serius. Suatu hari di musim panas, beberapa orang Amerika mengisengi kawan seapartemennya (seorang warga lokal) dengan menyalakan enam kipas sekaligus.

Walhasil, si orang Korea memohon-mohon kepada kawan-kawan Amerikanya untuk mematikan kipas. Menurutnya, kipas sangat berbahaya karena bisa membunuh. Akhirnya ia pun tidur di lorong apartemen. Paginya, ia kaget menemukan fakta bahwa kawan-kawan bulenya masih hidup setelah memakai kipas angin semalaman.



Kepercayaan gaib itu bahkan sempat didukung oleh otoritas Korea. Pada 2006, pemerintah Korea Selatan menyebutkan bahwa satu dari lima bahaya musim panas adalah kematian sesak napas karena pemakaian kipas angin. Namun menurut Jennings, mitos tersebut berasal dari tahun 1970-an, ketika pemerintah Korea Selatan mengampanyekan warganya untuk hemat listrik. Akibatnya, penggunaan kipas angin listrik kala itu berkurang.

Tapi ada dugaan mitos tersebut sudah langgeng jauh sebelumnya ketika listrik dan peralatan seperti kipas angin masih dianggap barang baru.Pada 31 Juli 1927, sebuah surat kabar bernama Jungoe Ilbo menulis tentang bahaya dari kipas angin listrik yang dapat menyebabkan tubuh penggunanya merasakan mual, sesak napas dan kelumpuhan wajah. Artikel tersebut, catat Jennings, memuat analisis bahwa bilah kipas yang berputar kencang menciptakan kevakuman dan membuat paru-paru tidak mendapatkan pasokan oksigen yang cukup. Dengan kata lain, pseudosains.


Tidur dengan kipas angin yang menyala memang dapat menimbulkan efek samping yang mengganggu, tapi hanya beberapa orang saja yang mengalaminya. Situs kesehatan Johns Hopkins Medicine menjelaskan tidur dengan kipas angin menyala dapat membangkitkan berbagai alergi, misalnya alergi hidung (rhinitis) dan gangguan asma parah. Pasalnya, kipas angin dapat mengumpulkan debu dan kotoran dan menyirkulasikannya ke dalam ruangan.

Walhasil, jika ingin tetap menggunakan kipas angin, ruangan harus benar-benar bersih dari
debu dan kotoran.

Baca juga artikel terkait TIDUR atau tulisan menarik lainnya Tony Firman
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Tony Firman
Editor: Windu Jusuf
DarkLight