Seri Pesepakbola Muslim

Ada Hikmah di Balik Nekatnya Sadio Mane

Kontributor: Ikhsan Abdul Hakim - 27 Apr 2020 18:29 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Sadio Mane adalah sosok pesepakbola muslim yang taat dan rendah hati, kendati pernah melakukan kenekatan di masa remaja demi cintanya terhadap sepak bola.
tirto.id - Sadio Mane adalah salah satu pesepakbola muslim paling berharga saat ini. Kecintaan winger andalan Liverpool ini terhadap sepak bola sangat besar. Ada kisah menarik yang pernah dilakukan Mane demi hasratnya mengolah si kulit bundar.

Pada 2008, saat masih berusia 16 tahun, Sadio Mane kabur dari Bambali, desanya di daerah Sedhiou, Senegal. Mane remaja nekat pergi dari rumah menuju ibu kota, Dakkar, karena orangtuanya tidak begitu menyukai anaknya bermain bola.

Beruntung, Sadio Mane akhirnya ditemukan dan diajak pulang ke desa. Orangtua Mane pun berjanji akan membolehkannya menekuni olahraga sepak bola.

Peristiwa tersebut dikisahkan dalam film dokumenter Made in Senegal. Film ini menceritakan latar belakang Sadio Mane yang menjadikannya sebagai sosok pesepakbola top seperti sekarang kendati sempat dilarang orangtua.


Semula Dilarang Main Bola

Lahir pada 10 April 1992, Sadio Mane dibesarkan dalam keluarga muslim yang religius dan sangat memperhatikan pendidikan bagi anak-anaknya. Alasan inilah yang melatarbelakangi ketidaksukaan keluarganya terhadap permainan sepak bola.

Tidak hanya ayah dan ibu Sadio Mane saja yang tidak menyukai sepak bola, demikian pula dengan pamannya. Mane diasuh oleh pamannya itu setelah sang ayah meninggal dunia.

"Paman saya tidak mau saya bermain karena dia berpikir sekolah lebih penting. Segala hal jadi rumit karena dia tidak menyetujuinya," kenang Mane.

Insiden pelarian ke Dakkar itulah yang membuka jalan terang Sadio Mane melalui sepak bola yang memang sangat dicintainya sedari kecil.

Legenda hidup sepak bola Senegal yang juga pernah main di Liverpool, El Hadji Diouf, merupakan sosok panutan sekaligus penyemangat bagi Sadio Mane bahwa menjadi pesepakbola tidak seperti yang keluarganya bayangkan.

Tahun 2011, Sadio Mane berkesempatan pergi ke Perancis untuk bermain di FC Metz. Awalnya, Mane sempat bermasalah dengan cedera dan cuaca dingin di negara Eropa itu. Namun, ia akhirnya memperoleh debutnya pada 14 Januari 2012 di ajang Ligue 2.


Gabung Klub Impian

Sadio Mane pindah ke Red Bull Salzburg dengan nilai transfer 4 juta euro pada Agustus 2012. Penampilan gemilangnya saat selama 2 tahun membela klub Austria itu membuat klub Premier League, Southampton, meminangnya.

Uang sebesar 11,8 juta poundsterling menjadi mahar yang harus ditebus Soton dari Slazburg. Transfer itu terwujud pada September 2014.

Karier Sadio Mane berkembang pesat di Inggris. Bersama Southampton, ia tampil gemilang dan mengukir rekor sebagai pencetak hattrick tercepat di Premier League. Tiga gol itu dibuat Mane hanya dalam waktu 2 menit 56 detik.

Pamor Mane semakin memuncak saat Liverpool memboyongnya ke Anfield pada Juni 2016 dengan mahar 34 juta poundsterling. Inilah klub impian Mane, klub legendaris yang pernah diperkuat sang idola, El Hadji Diouf.

Di bawah asuhan Jurgen Klopp selaku manajer Liverpool, Sadio Mane kian bersinar sebagai penyerang sayap.Si bocah dari desa kecil di Senegal itu kini menjelma menjadi salah satu pesepakbola paling berbakat di bumi.


Muslim yang Baik dan Taat

Meskipun berada dalam puncak karier dan digaji 100.000 poundsterling per pekan, Sadio Mane tetap menjadi pribadi yang rendah hati. Ia juga seorang muslim yang taat, serta berkaratker baik.

Dalam wawancara dengan tim media Liverpool, Mane mengatakan bahwa ia senantiasa menjalankan salat lima waktu sesuai perintah agama Islam yang dianutnya.

“Saya selalu menjadi orang yang bangun pagi-pagi, dan ketika bangun, saya akan mandi dan beribadah. Mandi, beribadah. Rutinitas yang sama setiap harinya,” ucap pemain berusia 28 tahun ini, dikutip laman resmi Liverpool.

Pada 2018 lalu, Mane sempat menyita perhatian karena membantu membersihkan toilet di sebuah masjid. Aktivitasnya itu direkam oleh seorang jemaah bernama Khalil Laher yang kemudian mengunggahnya di Twitter.

Meskipun sudah meraih kesuksesan di Eropa, Mane tetap mempedulikan kampung halamannya. Bintang The Reds ini membangun sebuah sekolah dan rumah sakit di Bambali, desa kelahirannya. Mane juga masih rutin berhubungan dengan keluarganya di rumah.

“Satu hal yang selalu saya lakukan setiap harinya adalah berbicara dengan ibu saya, paman, dan saudari saya. Mereka tinggal di rumah, jadi saya selalu berbicara dengan mereka lewat telepon. Awalnya, saya sangat merindukan rumah,” ungjap Mane.

Salah satu peristiwa yang mendorong Mane membangun rumah sakit di Bambali adalah wafatnya sang ayah. Ayahnya meninggal dunia karena penyakit dan tidak mendapat perawatan layak.


Waktu itu, kata Sadio Mane, ayahnya dirawat dengan obat-obatan tradisional dan dirujuk ke desa sebelah. Namun, nyawa sang ayah tidak tertolong.

Mane menyebut, ketiadaan rumah sakit membuat warga Bambali tidak mendapat pelayanan kesehatan yang layak.

"Saya ingat adik saya juga dilahirkan di rumah karena tidak ada rumah sakit di desa kami. Ini situasi yang sangat menyedihkan. Saya ingin membangun satu rumah sakit untuk memberi harapan kepada orang-orang," ujar Mane.

Sekitar dua dekade setelah wafatnya sang ayah, rumah sakit yang didanai oleh Sadio Mane akan dibuka di Bambali. Sebelumnya, sekolah telah dibangun di Bambali dan diresmikan pada 2019 lalu.

Ya, berawal dari kenekatan masa remaja, Sadio Mane kini menjadi sosok penyelamat bagi warga desanya di Senegal sana.

Baca juga artikel terkait SERI PESEPAKBOLA MUSLIM atau tulisan menarik lainnya Ikhsan Abdul Hakim
(tirto.id - Olahraga)

Kontributor: Ikhsan Abdul Hakim
Penulis: Ikhsan Abdul Hakim
Editor: Iswara N Raditya

DarkLight