tirto.id - Di tengah upaya nasional mengakselerasi pemenuhan gizi, ABC Indonesia dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengukuhkan kolaborasi strategis guna mendukung upaya tersebut secara berkelanjutan, khususnya dalam mendorong tingkat konsumsi ikan di masyarakat.
Kolaborasi ini diwujudkan melalui pemberdayaan lebih dari 800 Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) area Jakarta, Bekasi, hingga Bogor. Sebagai bagian dari perayaan 50 tahun dedikasi, ABC Indonesia juga meluncurkan buku resep digital "Ahlinya Buat Citarasa Penuh Gizi"—sebuah persembahan yang dikurasi bersama ahli gizi untuk seluruh keluarga Indonesia.
Menjembatani Tantangan Variasi Menu dan Gizi
Langkah ini dinilai krusial mengingat pemerintah terus mendorong Angka Konsumsi Ikan (AKI) nasional, yang pada 2024 mencapai 58,91 kg/kapita/tahun. Namun, pemenuhan target gizi sering kali terhambat oleh pola konsumsi yang repetitif dan rendahnya eksplorasi olahan ikan dalam menu harian.
Lusia Mira Buanawati, General Counsel & Head of Government Affairs ABC Indonesia, menjelaskan, “Selama 50 tahun ABC senantiasa tumbuh bersama keluarga Indonesia, kami percaya bahwa pemenuhan gizi harus sejalan dengan citarasa. Sejalan dengan nilai kami ‘Do The Right Thing’, kami tidak hanya menyediakan produk, tapi memberikan solusi atas tantangan nyata di lapangan: bagaimana membuat makanan bergizi lebih disukai dan tidak monoton. Inisiatif ini adalah upaya kami untuk menjembatani tantangan variasi menu tersebut, baik di setiap dapur rumahan maupun dapur profesional SPPG.”
Dukungan KKP RI untuk Ekonomi Biru dan Generasi Emas
Kolaborasi ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah sebagai langkah konkret menuju visi Indonesia Emas 2045.
Tri Aris Wibowo, Direktur Pengolahan, Ditjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan, Kementerian KKP RI menyambut baik kolaborasi ini. "Pembangunan manusia unggul dan Generasi Emas hanya bisa terwujud jika kebutuhan protein bangsa terpenuhi. Sebagai bangsa maritim, ikan adalah sumber protein utama kita, dan kami terus mendorong ini melalui program Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan. Ini adalah inisiatif yang tidak hanya memenuhi gizi masyarakat, tetapi juga berpotensi mensejahterakan nelayan dan mendorong pertumbuhan ekonomi biru."
Transformasi Sarden: Fakta Nutrisi dan Inovasi Olahan
Program ini menyoroti ikan sarden sebagai contoh utama sumber protein yang seringkali belum tergali potensinya. Meski kaya protein, omega-3, dan mudah diakses, metode pengolahan sarden di rumah tangga cenderung seragam.
Melalui sesi lokakarya, ABC membuktikan bahwa Sarden ABC—yang diproses higienis tanpa pengawet—dapat bertransformasi menjadi hidangan premium seperti Pasta Sarden Saus Tomat dan Ikan Fillet Saus Teriyaki saat dipadukan dengan rangkaian produk ABC lainnya.
Sari Sunda Bulan, ahli gizi yang terlibat dalam program ini, memaparkan data komparatif nutrisi yang signifikan:
Protein Tinggi: Satu porsi resep ikan Sarden (53g) mengandung 9.5g protein.
Perbandingan Setara: Sebagai komparasi, fillet ikan Nila per porsi (37.5g) mengandung 10.3g protein.
Hal Ini juga menjawab tantangan mengkonsumsi ikan; bagaimana membuatnya lezat dan bervariasi. “Bila menu seperti ini dipraktikkan secara konsisten, masyarakat bukan hanya memenuhi angka kecukupan gizi (AKG), tetapi turut mewujudkan upaya diversifikasi sumber protein kualitas tinggi yang berasal dari ikan,” tambah Sari.
Dampak Nyata bagi Garda Terdepan Gizi
Manfaat program ini dirasakan langsung oleh para pelaksana di lapangan. Tangang Qisthina, Koordinator Wilayah Jakarta Selatan Badan Gizi Nasional (BGN), mengapresiasi wawasan baru yang didapatkan.
“Acara ini mengubah perspektif kami seputar tata cara penyimpanan serta pengolahan ikan dengan baik. Kami jadi tahu bahwa bahan terjangkau bisa diolah menjadi menu yang modern, bergizi, dan rasanya pasti disukai,” ungkap Tangang.
Menutup kegiatan, Lusia menegaskan visi jangka panjang perusahaan. "Bagi kami, 50 tahun adalah momentum untuk memperkuat dampak positif. Melalui buku resep dan kolaborasi ini, kami ingin memastikan bahwa 'gizi' dan 'citarasa' menjadi satu kesatuan di setiap piring makan keluarga Indonesia demi generasi masa depan yang lebih sehat," tutupnya.
Masuk tirto.id


































