Yowis Ben dan Stereotip Orang Jawa di Industri Tontonan

Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 7 Maret 2018
Dibaca Normal 3 menit
Tentang "inferiority complex" saat Bayu yang Jawa ingin menaklukkan hati Susan yang tidak Jawa.
tirto.id - Atika Wijayanti tergelak tiap kali para pemeran film Yowis Ben (2018) membanyol melalui laku maupun dialog. Senin (5/3) sore ia menonton bersama pacarnya, Rizki Muhamad, di bioskop kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Kepada Tirto keduanya menyatakan puas sebab kebetulan guyonan-guyonan di sepanjang film khas Jawa Timuran, daerah asal mereka.

“Tapi kemarin teman saya bukan orang Jawa yang nonton juga ketawa mas. Katanya lucu. Asli Jakarta dia,” kata Atika.

Sosok utama yang menulis naskah sekaligus menjadi pemeran utama dalam Yowis Ben adalah Bayu Skak. Bayu adalah pembuat konten video di kanal Youtube. Pelanggannya (subscriber) per awal Maret 2018 sudah mencapai 1,5 juta orang.

Bayu dikenal sebagai Youtuber yang sering memakai Bahasa Jawa Timuran di video-videonya. Menurut unggahan di kanal Youtube dan akun media sosial miliknya, Bayu berkali-kali menegaskan bahwa ia ingin menjunjung kebudayaan Jawa melalui Yowis Ben. Oleh sebab itu, 80-90 persen dialog di film yang dibuat oleh rumah produksi Starvision Plus itu memakai Bahasa Jawa.

Yowis Ben berkisah tentang Bayu (Bayu Skak) dan asanya untuk mendapatkan hati Susan (Cut Meyriska), teman perempuannya di sebuah sekolah menengah di Malang. Kendalanya, Bayu adalah anak seorang penjual pecel dengan julukan “Pecel Boy”, berkulit sawo matang, berasal dari kalangan ekonomi pas-pasan, juga tidak populer. Sementara Susan adalah antitesanya: anak orang berada, cantik, dan jadi kembang sekolah.


Bayu kemudian membentuk grup band bernama Yowes Ben bersama empat teman terdekatnya: Doni (Joshua Suherman), Yayan (Tutus Thomson), dan Nando (Brandon Salim). Kala grupnya mulai tenar di kalangan pentas seni SMA dan Susan bisa digandeng, Bayu dihadapkan dilema untuk memilih sahabat atau pacar.

Meski konflik yang dibangun belum kuat, Yowis Ben tergolong sukses di bioskop. Dalam dua minggu sejak penayangan perdana jumlah penontonnya tembus lebih dari 500.000. Lewat akun medsosnya, Bayu mengucapkan terima kasih sebab mulanya bioskop hanya menjatah kurang dari 100 layar. Alasannya karena Yowis Ben berbahasa Jawa. Namun kenyataannya penonton tetap antusias.

Menariknya, sebelum penayangan perdananya, Yowis Ben sudah memicu polemik di kalangan warganet. Dalam sebuah video berjudul “AKU WONG JOWO”, Bayu masih tahan jika proyek filmnya membuat ia dimaki “goblok”, “sok-sokan”, dan semacamnya. Namun ia tak terima dengan komentar “Jawa goblok! TKI!”.

Bayu marah dengan olok-olok terhadap orang Jawa secara umum, sementara selama ini konten video hingga film terbarunya berupaya untuk membuktikan sebaliknya. “Pembuktian” adalah kata kunci yang sering ia ulang-ulang. Ia bangga dengan identitas Jawa, yang ditunjukkan lewat bahasa. Namun kebanggaan ini kemudian diusik oleh sejumlah warganet.

Dalam unggahan videonya yang lain, protes Bayu soal anggapan bahwa bahasa Jawa kampungan dan rendahan nampaknya bermula dari metode dagang salah satu pihak yang paling “bersalah”: industri pertelevisian Indonesia. Merekalah yang kerap menampilkan karakter orang Jawa dengan sepaket stereotip: lugu, bodoh, norak, gegabah, dan miskin. Pendek kata, inferior.


Pendiri lembaga studi dan pemantauan media Remotivi, Roy Thaniago mengingatkan bahwa stereotip tidak lahir dengan sendirinya. Pada mulanya ia dibutuhkan untuk mengkategorisasikan manusia sebab dunia sosial terlampau kompleks. Strategi ini dipakai orang untuk memahami dunia. Namun, perumah-rumahan kategori itu kemudian cenderung disempitkan dengan kategori etnis. Lalu lahirlah stereotip.

“Stereotip semacam ini bahaya, sebab bisa lanjut menjadi prasangka, dan ujung-ujungnya diskriminasi,” katanya melalui sambungan telepon, Selasa (6/3/2018).

Di serial film televisi (FTV), lanjut Roy, orang Jawa kerap ditampilkan sebagai orang “ndeso” yang inferior dibanding orang kota. Stereotip lain juga menyasar karakter orang Tionghoa, Arab, dan lain sebagainya. Etnisitas selalu tampil dalam bentuk karikatural, tunggal, dan stagnan, sehingga sulit menemukan orang Jawa dalam corak di luar stereotip.

Menurut Roy, akar permasalahannya juga disumbangkan oleh Orde Baru yang mereduksi keragaman etnisitas lewat Taman Mini Indonesia Indah beserta baju-baju daerahnya. Industri televisi pun kemudian melihat keragaman etnisitas dengan cara serupa. Cara ini baginya terbelakang, sebab tiap individu kompleks dan kerap berbeda dengan identitas kelompoknya.

“Industri pertelevisian bergantung pada cara yang instan. Tidak mau susah-susah riset, terjebak simplifikasi banyak hal. Industri hanya mengambul hal-hal yang sudah dipahami oleh masyarakat umum. Ngapain sulit-sulit membangun identitas baru. Males. Niatnya fokus ke keuntungan. Mentalitas ini bermasalah.”


Tapi apakah Bayu melalui Yowis Ben berhasil melawan stereotip negatif tersebut?

Melalui bagian utama cerita, yakni drama percintaan Bayu dan Susan, Roy justru berpendapat bahwa Bayu terjebak “inferiority complex”. “Inferiority complex” adalah kondisi psikologis ketika suatu pihak merasa lebih lemah/rendah dibanding pihak lain, sehingga harus berusaha menaikkan standarnya.

Mengacu ke filmnya, “inferiority complex” tersebut tercermin dari tokoh utama yang mencari popularitas dan kekerenan diri dengan membentuk grup band. Tanpa menjadi keren dan populer, tokoh utamanya yang pemuda Jawa tulen dan kerap di-bully di sekolah, tak akan mampu menggaet gadis pujaan.

Susan adalah perempuan yang cantik, putih, dan populer. Namun ia digambarkan sebagai gadis yang tak memegang identitas Jawa meski tinggal di Malang. Kedua teman baiknya pun demikian. Sehari-hari mereka menggunakan bahasa Indonesia. Sekalinya bicara bahasa Jawa, Susan memakainya untuk memaki Bayu: 'jancuk!'.

Dalam satu adegan, seorang teman band Bayu sempat heran mengapa sejak berpacaran dengan Susan Bayu mulai mengubah bahasa kesehariannya menjadi Bahasa Indonesia? Di titik itu, Bayu yang tergila-gila pada Susan tentu tak peduli. Ia sedang terbuai kebahagiaan yang meluap-luap sebab bisa memacari gadis pujaan yang tidak se-Jawa dirinya.

“Kenapa harus menganggap bahwa prestasi seorang Jawa adalah dengan bisa memacari anak yang gaul? Narasinya tak jauh berbeda dengan FTV dan stereotipnya itu, tapi bedanya (mayoritas dialognya) berbahasa Jawa,” terang Roy.

Tak Hanya Yowes Ben


Film-film dari sineas lokal yang memutuskan untuk memakai bahasa daerah sepanjang dialognya, untuk konteks ini Bahasa Jawa, sedang bermunculan di industri perfilman tanah air dalam beberapa tahun terakhir.

Selain Yowis Ben, ada Siti (2014) yang mengangkat kehidupan penduduk pesisir pantai selatan Yogyakarta, Ziarah (2016) yang menyoroti kehidupan seorang perempuan tua, juga di Yogyakarta, dan Turah (2016) yang mengangkat derita kehidupan warga miskin di Tegal (memakai bahasa Jawa Banyumasan).

Infografik Tutur Jawa dalam Sinema Kekinian


Kritikus film Eric Sasono menyebut film non-Jawa seperti Cahaya Dari Timur: Beta Maluku (2014) yang memakai dialek Maluku dan sama-sama memakai 'subtitle' seperti Yowis Ben. Ada juga Laut Bercermin (2011) karya Kamila Andini yang mengangkat kehidupan Suku Bajo dan Uang Panai (2016) yang beredar terbatas di Makasar.

Eric mengatakan bahwa pada zaman Orde Baru, bahasa daerah dilarang tampil dalam film nasional. Kini para sineas bebas memproduksi film sesuai dengan gayanya masing-masing, termasuk menggunakan bahasa daerah.

Para sineas, lanjut Eric, menyandarkan alasannya pada otentisitas budaya, mengikuti latar filmnya. Diharapkan pula ada kedekatan dengan penonton di daerah yang menjadi latar cerita, sebab ada kesamaan bahasa dan idiom-idiom yang sudah dikenal akrab.


Ia menyepakati pendapat Roy terkait pro-kontra Yowis Ben. Stereotip berdasarkan etnis masih ada di industri hiburan tanah air, termasuk industri layar lebar.

“Film Indonesia kebanyakan memang asyik dengan stereotip. Mungkin ini yang membuat dia (Bayu Skak) merasa perlu memberi penggambaran yang lain,” jelas pria yang sedang menempuh pendidikan tinggi di Inggris ini, saat dihubungi Tirto via telepon, Senin (5/3).

Film-film berbahasa daerah, bagi Eric, memang sedang banyak diproduksi. Faktor pendorongnya adalah kebangkitan pusat-pusat film yang berasal dari komunitas-komunitas film di berbagai daerah, terutama di Jawa. Eric melihat napas kebangkitannya di daerah-daerah di luar Jawa juga, meski belum sesukses Siti, Ziarah, atau Turah.

“Ini memang hasil kerja panjang teman-teman komunitas, lewat berbagai "latihan" seperti pembuatan film pendek, keterlibatan di festival film di dalam dan luar negeri, dan sebagainya,” pungkasnya.

Baca juga artikel terkait FILM INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Film)

Reporter: Akhmad Muawal Hasan
Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Windu Jusuf