Yogyakarta Dinilai Layak Jadi Kota Warisan Budaya

Reporter: Yuliana Ratnasari - 30 Okt 2016 21:00 WIB
Dibaca Normal 1 menit
Kotta Yogyakarta dianggap telah layak dijadikan “Kota Berwarisan Budaya”. Yogyakarta memenuhi kriteria yang ditetapkan UNESCO. Yogyakarta memilik, dinilali memiliki kekhasan dan keistimewaan dalam penataan kota
tirto.id - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwana X menilai Kota Yogyakarta layak menjadi "Kota Warisan Dunia" karena kekayaan budayanya serta konsep filosofi tinggi yang mendasari terbentuknya kota itu.

"Dengan konsep filosofinya yang tinggi, Yogyakarta kiranya memiliki potensi untuk diakui sebagai Kota Warisan Dunia," kata Sultan dalam sambutan yang dibacakan Wakil Gubernur DIY Paku Alam X di Monumen Serangan Oemoem 1 Maret Yogyakarta, Minggu (30/10/2016).

Menurut Sultan, untuk diusulkan menjadi Kota Warisan Dunia, Yogyakarta memenuhi kriteria yang ditetapkan The United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) karena Yogyakarta memiliki kekhasan dan keistimewaan dalam penataan kota yang didasari konsep sumbu filosofi Keraton Yogyakarta meliputi Tugu Golong Gilig/Pal Putih-Kraton-Panggung Krapyak.

Nilai filosofis dari Panggung Krapyak ke Utara, kata dia, melambangkan perjalanan manusia sejak dilahirkan hingga dewasa, menikah sampai melahirkan anak. Sementara itu, dari Tugu Golong Gilik ke Selatan melambangkan perjalanan manusia untuk menghadap kepada Tuhan Yang Maha Esa.

"Filosofi ini menjadi dasar atau fondasi yang kuat berlandaskan pada sistem religi, sistem kebudayaan, dan sistem sosial, serta interaksi antara ketiganya," kata Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat itu, seperti yang dikutip Antara.

Sultan mengatakan bahwa DIY memiliki aspek keunggulan yang khas dari sisi kebudayaan yang telah diakui secara nasional dan dituangkan dalam Undang-Undang Keistimewaan DIY.

“Secara internasional tersirat dalam Liga Kota Bersejarah serta banyaknya kunjungan wisatawan mancanegara ke DIY,” ujar pengunjung,

Tata ruang Kota Yogyakarta, menurut dia, terbentuk pada pusat keraton dengan poros utama mulai Alun-Alun Utara sampai dengan Tugu Pal Putih, dilanjutkan dengan komunitas-komunitas sosial secara berlapis-lapis ke arah pinggiran kota, membentuk "Inti Kota Lama".

Dengan tumbuhnya pusat pendidikan, pusat perdagangan, pusat transportasi, pusat rekreasi, pusat produksi jasa, serta pusat permukiman, menurut dia, memicu perkembangan tata ruang kota baru dengan beberapa pusat kegiatan.

Sebagai kota pariwisata terbesar kedua setelah Bali, Sultan berharap kota Yogyakarta dapat terus meningkatkan potensinya melalui upaya sinergis antara pemerintah terkait, pelaku wisata, serta masyarakat.

"Kami berharap bisa bersinergi dalam perencanaan terhadap perubahan kota Yogyakarta dalam upaya menjawab berbagai perkembangan zaman dan kondisi lingkungan yang terjadi," kata Sultan.

Baca juga artikel terkait DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA atau tulisan menarik lainnya Yuliana Ratnasari
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Yuliana Ratnasari
Penulis: Yuliana Ratnasari
Editor: Yuliana Ratnasari

DarkLight