Wu-Tang Clan: Tendangan Kung-fu yang Menggebrak Hip-hop Amerika

Aksi Wu-Tang Clan dalam Virgin Festival di Pimlico Race Course, Baltimore, Maryland, AS. REUTERS/Bill Auth
Oleh: Faisal Irfani - 3 April 2018
Dibaca Normal 4 menit
Jauh sebelum Kanye West sesumbar dengan kerajaan bisnis dan hip hop-nya, Wu-Tang lebih dulu melakukannya.
Kritikus rap veteran, Bonz Malone, yang pernah bekerja untuk Island Records pada 1990an mengatakan mulanya ia tidak mengerti apa yang ingin Wu-Tang Clan sajikan ketika RZA—leader Wu-Tang—datang menghampirinya.

“Aku harus jujur,” katanya dalam film dokumenter Wu: The Story of the Wu-Tang Clan (2007). “Aku tidak paham mengenai apa yang coba mereka lakukan.”

“Waktu itu aku tertawa begitu keras mendengar RZA mengatakan bahwa State Island adalah shaolin dan ia memberi nama kelompoknya dengan ‘Wu-Tang Clan.’ Dan aku seperti, ‘What the hell?’”, kenang Malone.

Namun, RZA tak ambil pusing. Sejak awal kemunculannya, ia dan Wu-Tang Clan sudah menegaskan tentang rencananya untuk menghentak kancah hip-hop New York.

“Kami tidak memikirkan, ‘Yo, kita akan mengambil alih dunia,’” ujar Raekwon. “Bukan itu. Kami hanya ingin dihormati di New York. Kami hanya percaya pada apa yang kami percayai dan kami berlari dengan hal itu.”

Kalimat Raekwon terbukti ketika nomor “Bring da Ruckus” maupun “Protect Ya Neck” yang kental akan kata-kata slang dari State Island hingga nilai-nilai filosofis yang terinspirasi film kung-fu 1980an meledak di pasaran. Impian mereka untuk jadi nomor satu di New York perlahan tercapai dengan menggeser pamor Dr Dre dan Snoop Dogg yang lebih dulu moncer.


Wu-Tang Clan dibentuk pada 1992 oleh RZA, GZA, dan Ol’ Dirty Bastard di State Island, New York. Awalnya, mereka terjun ke ranah break dancing sebelum akhirnya beralih ke dunia hip-hop. Untuk mewujudkan ambisinya itu, RZA bekerja sampingan dengan berjualan mariyuana. Uang hasil penjualan lantas digunakan untuk menutup biaya rekaman.

RZA lalu mengajak bergabung Ghostface Killah, U-God, Inspectah Deck, Method Man, Masta Killa, dan Raekwon yang merupakan teman sepermainan. Nama Wu-Tang Clan kemudian dipilih sebagai nama kolektif. Inspirasinya adalah film keluaran 1981 berjudul Shaolin and Wu-Tang serta kecintaan RZA akan budaya kung-fu.

“Aku jatuh cinta dengan seni bela diri. Dari situ aku mulai menonton film bela diri, meniru tiap gerakan, dan mulai mengumpulkan majalah maupun buku tentang bela diri,” ujarnya dalam satu kesempatan. “Awalnya, bela diri hanya seperti kemampuan bertarung tanpa senjata. Tapi, perlahan spiritualitasnya bergema denganku saat aku remaja.”

Tak sekadar jadi inspirasi nama, kesukaannya terhadap kung-fu berimbas pada musikalitas Wu-Tang Clan secara keseluruhan. Musik-musik Wu-Tang Clan, selain bertumpu pada perbendaharaan kata slang juga dibangun atas mitologi kung-fu yang dapat dijumpai di banyak nomor.

Materi pertama yang direkam Wu-Tang adalah “Proteck Ya Neck.” Untuk merekam lagu itu, masing-masing anggota musti iuran 100 dolar karena tidak ada label yang ingin memproduksi materi itu. Di lain sisi, mereka harus berkendara dari Virginia sampai Ohio guna mempromosikan sendiri “Proteck Ya Neck” ke radio-radio lokal.

Pengorbanan mereka terbayar. Nomor ini laris di pasaran; dari toko kaset sampai radio-radio State Island dan sekitarnya. Keberhasilan tersebut menuntun mereka pada kontrak bersama Loud Records.


Pada 1993, mereka mengeluarkan album debut, Enter the Wu-Tang (36 Chambers) yang terjual jutaan kopi dan duduk di 50 besar tangga lagu. Enter the Wu-Tang melahirkan nomor-nomor bernas macam “C.R.E.A.M.” sampai “Can It Be All So Simple.” Di album ini, mereka mencoba menyajikan narasi ghetto yang dipadukan dengan filosofi seni bela dari serta instrumentasi yang terdengar samar-samar namun memikat—terlebih beat-beat yang keluar dari mulut RZA.

The Guardian mencatat album Enter the Wu-Tang merupakan album yang mengubah wajah hip-hop. Album tersebut, tambah The Guardian, adalah album penting di era 1990an.

Alasannya: Enter the Wu-Tang mampu membuat hip-hop terdengar begitu eksplosif dengan lirik-lirik seputar realita jalanan, kecemasan, ketakutan, perang ego, hingga mimpi akan kehidupan yang baik. Singkat kata, Enter the Wu-Tang melampaui konteks hip-hop di zamannya. Mereka telah melahirkan hip-hop ke dalam dimensi baru dan kemudian menjadikannya abadi serta tak tergantikan.

Sedangkan The AV Club mengeluarkan pernyataan senada. Menurutnya, kemunculan Wu-Tang Clan telah merevolusi hip-hop tak hanya sebagai musik tapi juga jembatan antara kesuksesan komersial, pengakuan publik, dan ragam budaya yang berdiri sendiri. Wu-Tang Clan, catat The AV Club, “membuka jalan bagi banyak musisi hip-hop” untuk mengikuti langkah mereka.

Di lain sisi, NME menyandingkan album Enter the Wu-Tang "sejajar dengan apa yang dilakukan Public Enemy dalam kancah hip-hop era 1980an" dan menyebutnya seperti "Never Mind the Bollocks, Here’s the Sex Pistol-nya (album Sex Pistols keluaran 1977) dunia hip-hop."


Kendati meneken kontrak dengan Loud, Wu-Tang—atau lebih tepatnya RZA—membebaskan masing-masing personel untuk menjalani karir solo dan menjalin kerjasama dengan label lain. Sebagai gantinya, mereka rela mendapatkan uang muka lebih sedikit dari Loud.

Langkah tersebut berbuah manis. Pada 1994, Method Man merilis Tical yang sukses secara komersil dengan nomor-nomor andalan macam “I'll Be There for You/You're All I Need to Get By.” Kemudian, Raekwon melepas Only Built 4 Cuban Linx… (1995) dan Immobilarity (1999) yang sama-sama meraih keberhasilan komersil.

Sedangkan Ol’ Dirty Bastard mengeluarkan Return to the 36 Chambers: The Dirty Version (1995) dan Nigga Please (1999). Ghostface Killah dengan Ironman (1996) dan Supreme Clientele (2000), Inspectah Deck dengan Uncontrolled Substance(1999), GZA punya Liquid Swords (1995) serta Beneath the Surface (1999), hingga U-God yang melepas Golden Arms Redemption (1999).

Album-album solo di atas kebanyakan diproduseri oleh RZA. Tak hanya memproduseri anggota Wu-Tang Clan, RZA tercatat juga membantu rekan-rekan satu lingkaran Wu-Tang seperti Shyheim, GP Wu, Killah Priest, Sunz of Man, Cappadonna, Killarmy, LA the Darkman, di samping merekam dua album bersama Gravediggaz.

Kontribusi RZA terhadap perjalanan Wu-Tang bisa dikata begitu besar. Ia tak cuma jadi leader, tapi juga jadi pembimbing, penentu kreasi, hingga pengambil keputusan bagi masa depan Wu-Tang—dan mungkin anggota yang lainnya.



Pengalaman masa remajanya yang diisi dengan menjual ganja turut memengaruhi perspektif RZA akan musik. Di kepalanya, musik tak hanya soal mengolah ide namun juga mengenai mencari keuntungan dan bisnis. Ditambah lagi momen kala ia diperlakukan dengan tidak baik oleh label rekaman membuat dirinya semakin terpacu untuk membuat Wu-Tang tak mengalami hal yang sama.

Dalam kurun waktu lima tahun, Wu-Tang telah mendapatkan kesuksesan besar. Mereka bukan lagi semata kolektif hip-hop, namun menjelma sebagai kerajaan bisnis yang punya banyak profit. Album-album solo tiap anggota, gim Shaolin Style, hingga clothing line bernama Wu-Wear yang diminati anak muda adalah beberapa contohnya hasil usaha mereka.

Walaupun demikian, kesuksesan mereka dibarengi dengan keterlibatan masing-masing anggota dengan aksi kriminalitas. Pada 1999, Ghostface Killah didakwa empat sampai enam bulan penjara akibat insiden penyerangan dan perampokan.

Anggota lainnya, Ol’ Dirty Bastard, bahkan lebih parah. Ia pernah ditangkap karena mengancam membunuh mantan pacarnya, menyerang petugas keamanan di salah satu klub musik blues, sampai ketergantungannya akan obat-obatan—yang menjadi penyebab kematiannya pada 2004.

Di tengah masalah-masalah itu, Wu-Tang Clan masih bisa merampungkan album macam Wu-Tang Forever (1997), The W (2000), dan Iron Flag (2001).


Akan tetapi, seperti dicatat Angus Batey dalam “Wu-Tang Forever: The Making and The Breaking of The Clan” yang terbit di The Quietus, citarasa album-album mereka pasca debut perdana tidak lagi sama. Batey menerangkan, faktor penyebabnya adalah Wu-Tang Clan berhenti berproses sebagai kolektif dan berubah menjadi “kendaraan yang digunakan oleh sepuluh musisi solo.”

Meski mereka berupaya mempertahankan DNA klasik yang diusung sejak masa pendirian, tapi, hal tersebut tidak mampu menghilangkan fakta bahwa nomor-nomor di album Wu-Tang setelah Enter the Wu-Tang adalah representasi dari tiap personel; bukan hasil dari kolektivitas.

Mengenai hal ini, RZA mengakuinya. Menurutnya, Wu-Tang tidak lagi terlihat seperti Wu-Tang kala merekam album Wu-Tang Forever pada 1997. “Di masa ini, kami terlibat pertengkaran satu sama lain. Masing-masing dari kami merasa tidak cocok. Saya pernah berkata, ‘Kita memperlakukan satu sama lain seperti saudara.’ Tapi, saya sadar bahwa ketika kita tumbuh, ada hal yang berubah. Sekarang masalahnya adalah saya berurusan dengan sembilan jenderal di dalam tubuh Wu-Tang,” akunya.

Raekwon juga mengeluarkan pendapat senada. Menurutnya, cepat atau lambat masalah seperti itu pasti bakal muncul dalam perjalanan karir Wu-Tang. “Bagaimana kamu bisa berjalan dengan sembilan MC di satu album?” tanyanya sedikit retoris dalam wawancara pada 2004 silam.

Batey menganalogikan problem Wu-Tang Clan seperti bus. RZA adalah pengemudi dan personel lainnya adalah penumpang. Ketika RZA, atau dalam hal ini pengemudi, merasa tidak nyaman dan mulai kehilangan fokus tujuan, maka berpengaruh pada penumpang lainnya. Dampaknya yakni para penumpang turun ke jalan serta menunggu bus dan pengemudi lainnya mengambil keputusan untuk mereka.

Pada akhirnya, menyimak kiprah Wu-Tang di ranah hip-hop adalah menyaksikan bagaimana sekelompok orang yang tumbuh bersama-sama membangun musik mereka sebagai identitas. Tak sekedar identitas kolektif, tapi juga identitas hip-hop itu sendiri. Wu-Tang Clan merupakan contoh ketika komitmen kuat mampu mengubah sesuatu menjadi lebih besar.

“[…] intinya adalah Wu-Tang datang secara bersama-sama. Kami telah bersumpah untuk menjaga persaudaraan satu sama lain. Ibaratnya, ketika Anda bersama dengan saudara Anda, Anda tidak akan kalah,” ucap RZA kepada The New York Times.

Baca juga artikel terkait MUSISI DUNIA atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani
(tirto.id - Musik)

Reporter: Faisal Irfani
Penulis: Faisal Irfani
Editor: Nuran Wibisono
DarkLight