Senartogok:

"Rilisan Fisik Membuat Musik Terekam dan Tak Pernah Mati"

Oleh: Husein Abdulsalam - 2 Januari 2018
Dibaca Normal 5 menit
Meski dunia digital berkembang begitu pesat, musik serasa tidak lengkap tanpa rilisan fisik.
tirto.id - Setelah malang melintang sebagai penyanyi folk dan pengamen jalanan, pada Desember 2016 Sutarjo menjajal kecakapannya sebagai produser dan beat maker penyanyi rap, Joe Million, dalam album Vulgar.

Album itu naik daun. Oleh Rolling Stone Joe Million dijuluki “Penghardik dari timur Indonesia, penerus Morgue Vanguard”. Sementara Vice mendaulatnya sebagai salah satu rilisan lokal terbaik 2016.

Tidak lama kemudian, bersama dengan beberapa kawannya, laki-laki bernama panggung Senartogok itu mendirikan label rekaman independen Maraton Mikrofon (MarMik). Johan EP, buah karya musisi hiphop Rand Slam, menjadi album pertama yang dirilis MarMik pada 2017. Total jenderal ada 13 album yang dirilis MarMik hingga akhir Desember 2017.

Dengan semangat merekam ranah hiphop lokal yang semakin membuncah, Senartogok turut menjadi salah satu penggagas didirikannya label rekaman independen Defbloc. Pada November 2017, Defbloc dan Grimloc Records meluncurkan album kompilasi rap Pre-Text for Bumrush. Rolling Stone Indoneisa pun memasukkannya dalam 20 Album Terbaik Lokal 2017.

“Sebenarnya MarMik itu dibuat sebagai sarana untuk kawan-kawan belajar merilis album. Lintas genre, tidak hanya hiphop. Untuk yang hiphop nanti lewat Defbloc,” ujar Sutarjo kepada Tirto.

Reporter Tirto Husein Abdulsalam berbincang dengan Senartogok melalui sambungan telepon. Dengan logat Batak yang khas, Senartogok berkisah seputar strateginya mengelola MarMik dan Defbloc, label rekaman sudah mampu melahirkan karya-karya cadas di usia yang belum seumur jagung. Berikut petikannya.

Dari sekian banyak album yang dirilis itu, mana yang proses pengerjaannya paling berat?

Sebenarnya semua berat. Tetapi yang paling aku rasa berat itu album Vulgar (2016) Joe Million. Karena itu baru awal, aku juga belum punya pengalaman yang banyak.

Jika produksi lebih dari 200 CD itu dikatakan label rekaman, mungkin itu yang pertama. Hampir semuanya berat untuk Vulgar. Mulai dari mengumpulkan dana, bikin desainnya, kami harus belajar lagi bagaimana layout CD nya, belajar mixing dan mastering, terus mencari orang yang bisa mencetak CD dan halaman sampulnya. Kebetulan yang Joe Million itu saya yang menangani sendiri.

Waktu itu kan bingung. Akhirnya Joe mencari tempat mencetak CD bokep di Jakarta. Dia tanya jaringannya dari mana, akhirnya dapat. Di Pasar Kota Kembang, Bandung, kan juga ada tuh jaringan pencetak CD bokep dan CD bajakan. Ternyata mereka sangat membantu.

Sampai sekarang masih cetak CD di sana?

Disesuaikan saja. 'Kan kami nggak hanya merilis album, kadang single juga. Kaya single Maraton Mikrofon yang untuk Kamisan itu kami cetak 50 keping di tempat itu karena 1 kepingnya cuma Rp1500.

Di mana sih tempatnya?

Rahasia negara. Itu jaringan personal. Aku saja sampai hari ini belum pernah bertemu orangnya.

Tetapi itu salah satu saja lho ya. Total ada tujuh tempat. Salah satu lainnya ada juga studio Elora-nya Bang Erwin. Di sana lebih proper.


Menurut Anda bikin rilisan fisik masih penting bagi musisi?

Pengalaman personal. Waktu kecil, semuanya aku rekam. Aku lagi nyanyi, aku rekam via kaset. Aku punya demo ciptaan sendiri juga aku rekam.

Kejadiannya itu waktu 2006, tamat SMA. Waktu aku belajar bikin rekaman. Aku bongkar kaset-kaset lama. Dari situ aku mengenal istilah ripping untuk mengkonversi data kaset ke data digital. Bayangkan betapa bahagianya aku mendengar suara yang aku rekam pada 1999.

Dari situ aku disadarkan bahwa rekaman fisik itu penting untuk mendokumentasikan. Sebagai musisi jelas juga sebagai pengarsipan. Nggak selalu harus dirilis. Bisa saja untuk dokumentasi pribadi. Rilisan fisik membuat musik terekam dan tak pernah mati.

Bisa diceritakan bagaimana gagasan Maraton Mikrofon bisa muncul?


Awalnya, MarMik ini namanya Propagasi Record. Itu divisi di Perpustakaan Jalanan Bandung yang mewadahi mereka yang suka musik dan mau merilis album. Untuk yang hiphop nanti lewat Defbloc.

Semua memang berawal dari Joe Million, karena ketika album Joe Million dirilis, aku punya pemikiran baru: membuat album fisik itu penting. Terus terlalu percaya diri karena Joe Million waktu itu lagi dibincangkan, aku pikir nggak ada salahnya untuk dibikin rilisan fisiknya.

Dari situ muncul Rand Slam yang punya inisiatif untuk buat album. Akhirnya dia rilis Johan EP. Terus kawan-kawan protes, “Masak kami dibikinan, abang nggak?” kata mereka. Ya sudah, akhirnya aku bikin album Supersenar.

Terus yang keempat itu Rekam Jejak. Dia langsung menghubungi aku lewat email. Aku nggak tahu dia siapa, anonim. Dia juga nggak mau albumnya dijual. Akhirnya kami jual sebagai donasi kawan kami, namanya Sabrina, yang sedang terkena musibah. Lumayan berhasil, semua ludes.

Lalu kami garap albumnya Kwalik Mega yang bekerjasama dengan Insthinc. Awalnya si Insthinc minta dibikinin halaman sampul, akhirnya dia bilang langsung saja bikin sama CD nya.

Ada juga dari Densky9 yang sebelumnya sudah cetak dalam bentuk kaset. Kita coba jual, sepertinya asik. Abis itu ada Anonymous Alliance juga, dia ingin dirilis albumnya. Kita juga pernah bikin album kompilasi Perpustakaan Jalanan yang albumnya dijual untuk donasi Omah Jujur, Rumah Lentera, dan sebagainya. Lalu kami rilis Def Bloc dan Rimajinasi. Begitu seterusnya, setiap album punya cerita.

Berapa orang yang mengelola Maraton Mikrofon?

Kalau dibagi-bagi, yang pertama harus ada itu modal, terus ada orang yang mengerjakan layout, mixing dan mastering, cetak CD, cetak sampul, terus promosi. Itu semua diatur. Yang mengerjakan itu nggak selalu dari Maraton Mikrofon atau dari kalangan hiphop. Misalnya, ada Usie yang sehari-hari sebagai arsitek bantu suplai foto. Itu spontan saja, tetapi selalu ada.

Aku sebenarnya sebagai koordinatornya saja.

Untuk rapper, dia fokus pada materi albumnya saja. Karena kita kan bicara produk atau konten. Jadi mereka aku fokuskan agar bikin materi yang bagus.

Beat sebagian besar aku yang buat. Tetapi itu menyesuaikan dengan artisnya, mungkin 70 persen beat di albumnya Johan, Anonymous Alliance, atau Joe Million itu aku yang buat. Tetapi kalau kaya Densky9, karena dia beat maker, jadi beat-nya dari dia semua.

Bagaimana cara mencukupi dana untuk pembuatan album-albumnya?

Sistemnya dana turunan sih. Awalnya dari album Vulgar-nya Joe Million itu. Dananya dari aku, Joe, dan Rand Slam. Nah, setelah laku terjual, keuntungannya kami putar lagi untuk buat album Johan EP. Keuntungan dari Johan EP kami putar lagi untuk bikin album Supersenar. Begitu seterusnya.

Kami juga ada sistem lumbung dana. Jadi kas Maraton Mikrofon tidak boleh kurang dari Rp1 juta. Karena dengan Rp1 juta bisa digunakan untuk mencetak 100 kopi. Jadi, seperti lumbung atau baitul mal ala Nabi Muhammad.

Pernah dia kurang, pernah juga dia berlebih. Kalau berlebih kami cetak CD lebih banyak untuk album berikutnya. Misalnya, album Supersenar itu dicetak 200 kopi. Ada yang saldonya kurang, misalnya pada saat pengerjaan album Kwalik Mega. Karena harus mencetak ulang CD itu kami rugi Rp 1 juta. Hasilnya, saldo jadi tinggal sekian ratus ribu rupiah saja. Aku tambal dengan menjual zine, merchandise, dan sebagainya.

‎Satu album itu diproduksi berapa kopi, rata-rata berapa persen yang terjual, dan apakah itu menguntungkan?

Minimal 100 kopi. Biaya cetaknya Rp 1 juta. Itu disiasati. Yang pasti, CD itu harus dari percetakan. Itu tidak bisa diganggu gugat. Misalnya 100 keping biaya cetaknya Rp7000 per kopi, berarti total biaya Rp 700 ribu.

Itu kan belum sama wadahnya. Aku cari yang jual wadah CD di Pasar Kota Kembang. Ada toko yang jual dengan harga Rp2000 per wadah, sementara toko lain Rp5000. Ya bagaimana caranya duit sisanya, Rp300 ribu, bisa buat menutupi biaya lainnya.

Bagaimana dengan hasil penjualannya?

Semuanya laku. Cuma main di waktu saja. Ada yang penjualannya cepat, ada yang lambat. Itu juga tergantung promosi dan harga. Semakin murah, semakin banyak orang mau beli.

Ada yang promonya cepat, seperti Rand Slam atau Joe Million, karena aku lagi banyak datang ke acara-acara dan banyak yang beli di tempat acara itu. Pas yang peluncuran Anonymous Alliance kebetulan lagi nggak banyak acara jadi cukup lambat penjualannya.

Pembagian keuntungannya seperti apa?

Lebih mengejar balik modalnya sih. Misalnya untuk pengerjaan albumnya Juta. Si Juta kasih Rp 5 juta, terus kami tambah Rp 1 juta. Total ada Rp 6 juta untuk mencetak 500 kopi. Nah target kami tuh bagaimana menjual album itu sampai memenuhi BEP (Break Even Point).

Misalnya, BEP jatuh di angka 140 kopi yang harus terjual. Jadi kalau satu kepingnya kami jual Rp50 ribu dan habis 140 kopi, 'kan bisa dapat Rp7 juta. Nah Rp5 juta kami kembalikan ke Juta. Yang Rp2 juta dimasukkan kas.

Yang penting kami kembalikan dulu duit yang dikeluarkan penyanyi rapnya. Kalau itu sudah beres, penjualan di luar 140 CD nya kami jadikan sumber keuntungan. Untuk tahun ini sampai ada 20 rilisan, seluruh keuntungan dari tiap penjualan album akan kami akumulasikan, lalu nanti kami bagi-bagi untuk semua rapper Maraton Mikrofon.


Secara ekonomi, bisa hidup nggak sih dari rap?

Aku menyarankan ke mereka, jangan sampai rap itu jadi pekerjaan. Rap jadi sampingan saja. Justru rap yang menambal pekerjaan utama. Kaya Rand Slam kan mengajar. Kalau aku kan sambil mengamen dan jual zine.

Hari ini Maraton Mikrofon belum bisa jadi basis ekonomi kawan-kawan. Karena target kami lebih ke distribusi. Mungkin tahun bisa kami targetkan untuk mengejar keuntungan.

Kalau anak-anak, mimpinya sih beli alat-alat dahulu, speaker monitor, misalnya. Target awal distribusi, target kedua pemenuhan infrastruktur.

Mungkin saja setelah itu, 2 tahun lagi bisa kami mainkan royalti, misalnya kami kontrak para penyanyi rap itu biar karya mereka semakin proper. Artinya memang Maraton Mikrofon tidak dibangun dengan berdasarkan modal. Semangatnya untuk tetap bisa menghasilkan karya dalam bentuk fisik.

Ada nggak bedanya main folk dengan main hiphop?

Kalau di folk aku lebih menjadi pengelana. Kalau di hiphop aku lebih bermasyarakat. Hiphop membuatku berhubungan dengan masyarakat dan membangun kolektivitas. Folk membuatku lebih avonturir, artinya aku cukup bawa satu gitar untuk bisa main di Kulon Progo, open speech di Tugu Yogyakarta, atau aksi teatrikal di Majalengka. Kalau di hiphop aku dituntut untuk lebih kolektif.

Kalau ada lembaga pemerintah atau perusahaan yang mau mendanai Maraton Mikrofon, apa bakal diterima?

Nggak lah. Lagipula tidak mungkin. Lagu kami segmented soalnya. Untuk mencetak 200 sampai 500 keping aja kami sudah bisa. Untuk apa minta tolong mereka?

Kalau diundang untuk manggung di acara mereka bagaimana?

Nggak tahu ya kalau kawan-kawan bagaimana, kalau aku sudah jelas nggak, selama ada negara dan korporasi. Bahkan waktu ICW dan KPK mengundang, aku aja masih ragu loh, apakah ideologinya cocok apa nggak. Untungnya acara itu bentrok dengan acara yang di Bandung, jadi aku nggak datang.

Apa jadinya musisi tanpa rekaman fisik?

Ya sebenarnya tidak masalah, kayak aku kemarin-kemarin itu. Cuma ya ketika kamu rindu lagu-lagu lama. Karena penciptaan lagu kamu di masa lalu bisa jadi yang paling bagus. Ketika kamu punya rekaman fisik bisa kamu rip atau salin ulang. Bahkan secara pribadi, aku rindu karya-karya yang aku buat pada 2003. Aku nggak bisa buat lagi yang semacam itu.

Baca juga artikel terkait MUSIK INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Husein Abdulsalam
(tirto.id - Musik)

Reporter: Husein Abdulsalam
Penulis: Husein Abdulsalam
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight