Waspadai Masalah Kejiwaan pada Ibu Hamil

Oleh: Patresia Kirnandita - 10 September 2017
Dibaca Normal 4 menit
Bukan hanya kondisi fisik saja yang mesti diperhatikan saat hamil dan setelah melahirkan, tapi juga kesehatan jiwa.
tirto.id - Masa kehamilan, di samping merupakan momen membahagiakan bagi si calon ibu, juga adalah periode penuh kerentanan. Saat hamil, ia mesti memperhatikan benar-benar pilihan tindakannya yang kelak berimbas terhadap kesehatannya sendiri, tumbuh kembang si janin, dan proses melahirkannya.

“Hindari minum kopi, makanan atau minuman berpemanis lainnya”, “Makanan pedas juga sebaiknya tidak dikonsumsi ibu hamil”, atau “Jangan mengangkat beban atau melakukan aktivitas berat” adalah contoh-contoh nasihat yang sering dilontarkan kepada ibu hamil.

Selain itu, ada pula sederet pamali untuk ibu hamil seperti tidak boleh menggunting rambut atau menyaksikan gerhana bulan karena bisa membuat anak cacat. Nasihat dan mitos yang beredar ini muncul dengan tujuan menjaga kondisi fisik ibu hamil dan bayinya.

Fokus terhadap kesehatan fisik si ibu memang lebih banyak ditemukan dalam artikel-artikel terkait kehamilan. Padahal, ada yang tak kalah krusial untuk disoroti ketika seseorang tengah mengandung, tetapi kerap luput dari perhatian ibu hamil atau orang-orang sekitarnya: kesehatan mentalnya.

Aneka dampak negatif terhadap bayi yang dilahirkan bisa bermula dari keadaan psikologis ibu hamil yang tidak prima. Apa saja bentuk problem mental yang rentan dialami ibu hamil dan faktor-faktor apa saja yang mendorongnya?

Merawat Kesehatan Mental Ibu Hamil

Dalam situs The Royal Womens Hospital disampaikan, sekitar 15 persen perempuan berpotensi mengalami depresi atau kecemasan selama hamil. Gejala yang lumrah ditemukan pada ibu hamil yang depresi di antaranya perasaan mudah tersinggung, marah, dan ingin menangis tanpa sebab yang jelas, kehilangan gairah untuk melakukan hal-hal yang tadinya dianggap menyenangkan, serta gangguan tidur.

Rasa lelah luar biasa dan kesulitan berkonsentrasi juga bisa menjadi indikator lain ibu hamil mengalami depresi. Selain itu, mereka juga bisa memiliki keinginan menyakiti diri atau bahkan niat bunuh diri.

Tidak semua ibu hamil menyadari bahwa dirinya tengah dilanda depresi. Kalaupun mereka mulai merasa ada yang tidak beres dengan kondisi psikisnya, tidak serta merta mereka mengungkapkan apa yang terjadi pada dirinya kepada orang sekitar atau pakar psikologi.

Mereka tidak ingin dipandang lemah atau tidak stabil oleh pasangan, keluarga, atau teman-teman yang umumnya menganggap kehamilan adalah masa-masa yang membahagiakan dalam hidup perempuan, demikian pendapat Natasha Biljani, psikiater dari Priory Hospital Roehampton, Inggris.

Ada beberapa hal yang memicu terjadinya depresi pada ibu hamil.

Salah satunya adalah rekam jejak medis yang menyatakan dirinya atau keluarganya pernah mengalami masalah mental serupa. Ketika kehamilan terjadi tanpa direncanakan, ibu hamil juga lebih rentan mengalami depresi. Berbagai informasi tentang hal-hal ideal (yang kadang tidak realistis) dalam menjadi seorang ibu menjadi tekanan tersendiri yang pada akhirnya membuat perempuan mengalami masalah mental ini. Kondisi depresi bisa semakin parah apabila ibu hamil mengetahui ada gangguan pada janinnya.

Tentu saja hari-hari yang dijalani ibu hamil jauh lebih berat dibanding perempuan lainnya, apalagi bagi mereka yang masih mesti bolak-balik ke kantor atau mengurus rumah tangga dan anak-anaknya yang lain. Karena itu, dukungan moral dari lingkungan sekitar menjadi faktor penting yang mampu menghindarkannya dari keadaan depresi.

Konflik dengan pasangan yang pada keadaan tak hamil tak begitu membikin stres, bisa saja berefek dua kali lebih dahsyat bagi mental perempuan pada saat ia hamil.

Sehubungan dengan konflik rumah tangga, sebuah penelitian di Afrika Selatan juga menyatakan hal ini merupakan salah satu pemicu munculnya ide bunuh diri pada ibu hamil di sana. Penulis penelitian ini, Simone Honikman dari Cape Town University bersama koleganya, juga melihat faktor lain yang mendorong ide bunuh diri pada ibu hamil seperti status sosial-ekonomi, banyaknya anak yang dimiliki, kurangnya makanan, serta rekam jejak percobaan bunuh diri pada masa lalu.

Di Afrika Selatan, lebih dari 40 persen populasi hidup di bawah garis kemiskinan. Keluarga-keluarga tak mampu di sana sering kali kehabisan uang untuk membeli makanan jauh sebelum akhir bulan atau saat gajian. Keadaan kurangnya makanan ini berefek secara psikologis menurut Honikman et. al. Dari studinya, mereka menemukan bahwa ibu hamil yang kurang makan empat kali lipat lebih berpotensi memiliki perilaku ingin bunuh diri.

Depresi pada ibu hamil tentu juga berefek terhadap si jabang bayi. Konsumsi antidepresan bisa berpengaruh terhadap janin dan perkembangannya setelah lahir. Sementara bagi mereka yang depresi dan tidak mengonsumsi obat-obatan, rokok dan alkohol bisa menjadi pilihan ‘pengobatan’ masalah mental yang pada akhirnya malah merusak tubuh sendiri dan si bayi.

Baca juga: Buah Simalakama Korban Perkosaan yang Hamil

Sejumlah studi juga menunjukkan dampak jangka panjang dari keadaan depresi pada ibu hamil. Anak yang dilahirkan kelak berkemungkinan mengalami problem sosial dan emosional seperti agresivitas atau masalah perilaku lain. Selain itu, ada pula yang melihat bahwa keadaan depresi ibu hamil berimbas terhadap kemampuan berbahasa dan skor IQ anak.

Baca juga: Apa Skor IQ Bisa Naik-Turun?

Selain itu, mereka juga mendapatkan temuan bahwa perempuan berstatus ekonomi rendah yang telah memiliki anak banyak mengalami kewalahan dan putus asa saat menantikan kelahiran bayi bungsunya.

Di Indonesia, jamak diamini anggapan bahwa banyak anak berarti banyak rezeki. Jika berkaca dari hasil studi Honikman et. al. ini, dapat dipahami bahwa kondisi banyak anak justru dapat mendatangkan mudarat bagi orangtua. Pasalnya, tanggung jawab yang diemban akan bertambah, belum tentu seiring dengan penghasilan mereka. Biaya hidup yang makin lama makin membengkak potensial membuat suami dan istri menjadi stres, depresi, bahkan memunculkan niat bunuh diri.

Infografik Jaga kesehatanmu ya bumil

Pasca-melahirkan: Momen Rawan

PR untuk memperhatikan kesehatan mental terus berlanjut saat bayi lahir. Gejala seperti perubahan suasana hati, menjadi cengeng, cemas, serta perasaan ingin meledak bukan hal langka ditemukan pada ibu hamil. Gejala-gejala seperti ini dikenal dengan baby blues. Perubahan hormon pada ibu melahirkan dianggap menjadi salah satu penyebabnya.

WHO mencatat, sekitar 13 persen ibu melahirkan mengalami gangguan mental, umumnya depresi. Di negara-negara berkembang, persentasenya bahkan bisa mencapai 19,8%. Sejalan dengan temuan penelitian Honikman, WHO juga menyatakan bahwa depresi yang mengarahkan pada ide bunuh diri pada perempuan rentan terjadi setelah kelahiran bayinya. Tidak cuma ide bunuh diri saja yang timbul sebagai efek depresi pasca-melahirkan. Kesulitan merespons kebutuhan bayi pun menjadi tanda lain seorang ibu mengalami depresi.

Salah satu ibu yang sempat mengalami depresi pasca-melahirkan ialah penyanyi Alanis Morissette. Kepada People, ia menceritakan pengalaman depresi setelah melahirkan yang terjadi berulang kali. Pertama kali Morissette menyadari ia memiliki gejala depresi pasca-melahirkan atau post-partum depression (PPD) adalah setelah Ever Imre, putranya yang kini berusia 6,5 tahun, lahir.

Nyeri fisik, insomnia, serta bayangan kejadian buruk akan menimpa keluarganya dihadapi Morissette selama berbulan-bulan kemudian. “Ada hari-hari di mana saya bahkan tidak bisa bergerak. Saat kecil, saya berandai-andai memiliki anak dan hidup bersama pasangan yang luar biasa. Masalah-masalah setelah memiliki anak tidak pernah saya antisipasi sebelumnya,” aku Morissette setelah melahirkan anak bungsunya, Onyx Solace.

Pelantun "Ironic" ini lantas mengambil langkah pengobatan dengan mendatangi terapis. Selain itu, kondisi mental setelah melahirkannya berangsur-angsur reda berkat olahraga secara rutin dan menumpahkan emosi lewat musik. “Saya menulis banyak lagu selama tiga bulan terakhir, bisa sampai satu lagu per hari. Saya merasa harus menulis lagu karena jika tidak, saya akan meledak,” ungkapnya.

Depresi yang dialami Morissette setelah melahirkan juga sempat berdampak terhadap relasinya dengan pasangan. Kadang, Mario Souleye, pasangannya, kecipratan emosi Morissette saat keletihan mengurus anak pada malam hari. Pada situasi sensitif semacam itu, hal-hal kecil pun dirasakan Morissette sebagai penguatan terhadap dirinya. Misalnya, genggaman tangan pasangan yang dianggap sebagai pengalaman yang begitu intim dan berarti.

Bagi mereka yang tengah menanti kehadiran bayi atau baru melahirkan, penting untuk mengecek diri apakah beban yang dirasakan adalah stres ringan atau sudah mengarah ke depresi. Seperti diketahui, depresi merupakan pembunuh diam-diam yang berimbas besar bagi kehidupan seseorang dan pihak-pihak sekitarnya.

Sementara bagi yang tengah mendampingi ibu hamil dan pasca-melahirkan, kepekaan dan kepedulian lebih perlu ditujukan kepadanya. Bisa saja hal remeh menjadi pemantik konflik besar di kemudian hari, dan tanpa pengertian orang-orang sekitar ibu hamil dan pasca-melahirkan, destruksi fisik dan mental ibu dan bayi sangat mungkin terjadi.

Baca juga: Menemani Pasangan yang Sedang Depresi

Baca juga artikel terkait KEHAMILAN atau tulisan menarik lainnya Patresia Kirnandita
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Patresia Kirnandita
Penulis: Patresia Kirnandita
Editor: Maulida Sri Handayani