Waspada Risiko Kanker pada Diet Tinggi Protein

Oleh: Dinda Silviana Dewi - 22 Januari 2020
Dibaca Normal 1 menit
Protein mengendalikan hormon pertumbuhan IGF-I, yang membantu tubuh kita tumbuh tetapi telah dikaitkan dengan kerentanan kanker.
tirto.id - Karbohidrat, lemak, dan protein, adalah nutrisi yang penting bagi tubuh. Namun saat melakukan diet, banyak orang yang mengabaikan karbohidrat, lemak, dan hanya berfokus pada protein untuk memenuhi kebutuhan gizinya.

Hal tersebut tidak dibenarkan terlebih sebuah penelitian merilis bahwa ada resiko tinggi untuk terkena kanker akibat diet tinggi protein.

Penelitian tersebut melibatkan 62.582 pria dan perempuan dengan 17,8 tahun masa tindak lanjut (median 9,7) termasuk 3.059 kasus kanker prospektif. Analisis regresi Cox dilakukan untuk skor LCHP berdasarkan jumlah desil yang disesuaikan energi dari karbohidrat (menurun) dan asupan protein (naik) berlabel 1 sampai 10, dengan skor yang lebih tinggi mewakili diet yang lebih rendah karbohidrat dan protein yang lebih tinggi.

Hasilnya, untuk skor LCHP terendah hingga tertinggi, 2 hingga 20, asupan karbohidrat berkisar dari median 60,9 hingga 38,9 persen dari total asupan energi. Baik protein (terutama sumber hewani) dan khususnya asupan lemak (baik jenuh maupun tidak jenuh) meningkat dengan meningkatnya skor LCHP.

Analisis lain sebagian besar konsisten dengan hasil utama, meskipun skor LCHP dikaitkan dengan risiko kanker kolorektal berbanding terbalik pada perempuan dengan asupan lemak jenuh tinggi, dan positif pada pria dengan skor LCHP lebih tinggi berdasarkan protein nabati.

Dari penelitian tersebut, sebanyak 3.059 kejadian, kasus kanker prospektif tanpa diagnosis kanker sebelumnya, kecuali kanker kulit non-melanoma, diidentifikasi melalui hubungan dengan cabang regional dari registrasi kanker nasional, dengan kanker spesifik lokasi yang ditentukan menurut International Classification of Diseases sebagai berikut: prostat, payudara, colorectum, saluran pernapasan, saluran kemih, limfoma non-Hodgkin, endometrium, melanoma ganas, leukemia, pankreas, ovarium, lambung, multiple myeloma dan sel ginjal.

Namun seperti ditulis Futura dalam lamannya, konsumsi protein lebih tinggi yang berbahaya bagi orang berumur di bawah 50 tahun, dapat menguntungkan bagi usia lanjut di atas 60 tahun.

Protein mengendalikan hormon pertumbuhan IGF-I, yang membantu tubuh kita tumbuh tetapi telah dikaitkan dengan kerentanan kanker. Tingkat IGF-I menurun secara dramatis setelah usia 65, yang menyebabkan potensi kelemahan dan kehilangan otot.

Jadi, asupan protein tinggi selama usia paruh baya menjadi sangat berbahaya, tetapi melindungi bagi orang dewasa yang lebih tua: mereka yang berusia di atas 65 yang makan diet protein sedang atau tinggi kurang rentan terhadap penyakit.

Tidak ada jumlah yang pasti seberapa banyak protein yang harus dikonsumsi setiap hari. Health Harvard menuliskan rekomendasi yang umum dikutip adalah 56 gram / hari untuk pria, 46 gram / hari untuk perempuan. Namun rekomendasi akan berbeda sesuai dengan kebutuhan kalori, usia, dan berat badan setiap orang.

Seperti banyak hal lain, mengonsumsi sesuatu terlalu banyak selalu berakhir dengan tidak baik. Begitu juga dengan konsumsi protein terlalu tinggi. Selain mempertinggi resiko terkena kanker, Health Harvard menuliskan kondisi tubuh akibat memakan protein terlalu berlebih:

- Kolesterol tinggi dan risiko penyakit kardiovaskular lebih tinggi

- Penyakit ginjal dan batu ginjal

- Penambahan berat badan

- Sembelit atau diare


Baca juga artikel terkait KANKER atau tulisan menarik lainnya Dinda Silviana Dewi
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Dinda Silviana Dewi

DarkLight